Wednesday, October 08, 2008

Pelajaran Pertama




KETIKA asyik surfing, eh kesasar ke artikel ini, yang dimuat TEMPO tahun 1988. Inilah reportase saya pertama kali menjadi wartawan 20 tahun yang lalu. Ada baiknya saya dokumentasikan nih: 

Kembalinya Pakis Naga ke Bogor 

Tanaman pakis naga dan sejenisnya dicuri dari Kebun Raya Bogor pada malam hari. Harganya mencapai jutaan rupiah. Para pencuri ditangkap. Pakis naga jadi barang bukti. Belum kembali ke kebun raya.

SEPINTAS bentuknya memang seperti naga. Tapi nama Pakis Naga yang dicuri dari Kebun Raya Bogor itu jarang dikenal para kolektor tanaman. Tanaman langka yang berasal dari Meksiko ini sebenarnya Dioon edule lindl. Dan setelah Dioon lenyap, seminggu berikutnya hilang pula tanaman sejenis lainnya: Zamia muricata willd (berasal dari daerah tropis Amerika), Zamia loddigesii (asal Meksiko).

Itu kejadian yang kedua kalinya, setelah raibnya umbi teratai raksasa (Victona regia), September 1983. Sebenarnya, banyak yang sudah dicuri dari Kebun Raya Bogor walau bukan tanaman langka. "Tapi pencurinya belum diketahui," ucap Kapolwil Bogor, Kolonel Drs. Soekardi, orang yang membongkar kasus terakhir yang dianggap paling bernilai itu.

Dioon dan tanaman sejenisnya itu disikat pada malam hari oleh empat pemuda. Mereka sudah ditangkap. Keempat bonggol tanaman curian itu berpindah tuan dua kali. Setelah ditadah si kolektor yang dipanggil Jiong (harganya Rp 400.000) di Bogor itu lalu dijual lagi seharga jutaan rupiah pada seorang warga elite di Jakarta Selatan.

"Hasilnya kami gunakan untuk foya-foya bersama teman-teman," tutur Kusuyatna, seorang di antara maling yang sudah ditangkap tadi. Ia anak pensiunan pekerja Kebun Raya, dan tahu pohon itu mahal harganya. Tapi semua tanaman itu, sejak 18 Oktober lalu, sudah kembali lagi ke Kebun Raya. Hanya karena statusnya masih sebagai barang bukti, hingga kini belum ditanam di tempatnya semula. Yang dilakukan sekarang merawatnya di tempat lain, sembari diawasi ketat.

Namun, ada risau, apalagi bila tanaman tersebut tak bisa utuh seperti semula. "Kalau seorang peneliti ingin membandingkan Pakis Haji (Sycas rumpii) dan pakis lainnya dengan familinya yang sama, misalnya, 'kan tak bisa," ujar Undang Dasuki, staf Jurusan Biologi ITB, kepada Sigit Haryoto dari TEMPO. Ia yakin, di Indonesia tanaman itu hanya ada di Kebun Raya Bogor.

Usia tanam pohon langka tersebut antara 2 dan 3 tahun, dengan ketinggian pohon 0,40 dan 0,60 meter. Batangnya itu tak tegak begitu saja, melainkan meliuk-liuk -- ya, seperti naga -- dan bersandar di tanah. Misalnya si Dioon, berdasarkan catatan 21 September lalu, sebelum dicuri, diameternya 20 cm. Kata Undang, ketika masih muda daun pohon ini berbulu, kaku, dan panjangnya sampai 5 meter. Bijinya boleh dimakan, karena mengandung karbohidrat. Keempat tanaman dari famili Zamiaceae ordo Gimnospermae itu dibawa oleh Belanda ke Indonesia sekitar tahun 1892.

Karakternya, secara alamiah, tanaman tersebut tak gampang berkembang biak. Hingga kini di Kebun Raya Bogor cuma punya 8 tanaman besar. Dan itu memang masih diteliti terus. Menurut J.H. Baskoro, Kepala Bagian Jasa Informasi Ilmiah BPKBI (Balai Pengembangan Kebun Raya Bogor Indonesia), tanaman itu berbiak dengan biji atau tunas yang biasa tumbuh di batang bawah. Tapi perawatannya juga sulit: selain memerlukan ketekunan tersendiri, juga kesuburan tanahnya tak boleh terlalu basa.

Di samping tanaman yang sempat lenyap itu, di Kebun Raya Bogor masih ada tanaman sefamili, seperti Bonenia (asal Australia), Encephalartos (asal Afrika), Lepidozamia (asal Australia), dan Macrozamia (asal Australia). Walaupun tak sempat dicuri, nilainya setaraf Dioon dan Zamia.

"Untuk menjaga kekayaan Kebun Raya, tenaga penjaga dan pengawasnya akan ditambah," kata Dr. Sampurno Kadarsan kepada Burhanuddin Abe dari TEMPO. Siapa tahu, bila ada pengunjung yang dicurigai, terutama di malam hari, sambung Pembina Harian Unit Pelayanan Teknis BPKBI itu "Pencurian seperti Pakis Naga dan kawan-kawanya pada 21 September silam itu bisa dicegah. (Suhardjo Hs. dan Riza Sofyat)