Friday, November 28, 2008

Ambisi Menaklukkan Pasar Sepatu Dunia



TERDENGAR asing, sehingga banyak orang mengira kalau Edward Forrer adalah merek global. Padahal, merek sepatu (dan tas) kulit itu benar-benar berasal dari Bandung. Memang, gerai Edward Forrer kini tidak hanya tersedia di seluruh penjuru Bandung, tapi juga menyebar di kota-kota penting di Indonesia, bahkan di manca negara, seperti Malaysia, Hawaii, dan Australia.

Edward Forrer adalah salah satu merek sepatu lokal, yang saat ini tidak hanya sanggup bertahan dari serbuan pasar asing – sebutlah produk Cina yang harganya murah, tapi juga mempunyai brand value yang bagus. Selain Forrer, merek-merek lokal yang tangguh saat ini tercatat Pakalolo, Yongki Komaladi, dan Eagle.

Memang grafik produksi sepatu di Indonesia menurun, tapi merek-merek kuat di atas tersebutlah penyelamatnya. Meski menurun, tapi kabar baiknya adalah, jumlah para wirausahawan baru di bisnis ini terus bermunculan. Tahun ini, menurut catatan Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), sudah lebih dari 100 perusahaan yang bergerak di industri persepatuan.

Orang sering tahu happy ending-nya, padahal menguatnya merek-merek lokal tersebut telah melalui proses yang panjang dan berliku. Bahkan untuk menghadapi persaingan yang ketat, Edward Forrer, misalnya, menerapkan strategi tersendiri. Selain melipatgandakan jumlah gerainya jadi sekitar 50 tahun ini dari 16 pada 2003, perusahaan keluarga ini menerapkan manajemen modern. 

Saat ini Edward Forrer – yang juga nama pemiliknya, membangun organizational learning untuk menjamin perusahaan selalu menjadi yang terdepan dalam hal inovasi. Be innovative, begitulah mottonya. Selain itu, peusahaan ini juga mengembangkan sistem pemesanan berbasis web yang inheren dengan skema produksi made to order. Melalui cara ini, Edward Forrer dapat terus menekan biaya secara efektif. Hasilnya, produsen sepatu yang memiliki 2.000 karyawan (termasuk mitra usaha) ini tetap tampil mengesankan dan menguasai 5% pangsa pasar sepatu nonsport.

Tidak ada yang tidak mungkin, begitu prinsip Edward. Semua impian bisa diwujudkan dengan kerja keras, konsistensi, serta keteguhan memegang dan menjalankan nilai. Itu pula ketika ia memutuskan menjadi enterpreneur. “Saya percaya setiap orang mempunyai gift unik yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan,” ungkap kelahiran Bandung, 25 Oktober 1966 itu. 

Menjadikan Merek Global
Merek Edward Forrer mulai dirintis sejak tahun 1989 oleh Edward Forrer sendiri. Awalnya produk sepatu hasil ciptaannya dipasarkan melalui cara door to door. Caranya dengan memperlihatkan gambar dari model-model yang pernah dirancang sebelumnya. Di samping itu, konsumen bisa memesan sendiri model yang mereka inginkan. Tak ayal lagi, Edward Forrer akhirnya punya banyak pelanggan tetap.

Begitu banyaknya pesanan, membuat pihak Edward Forrer kewalahan menanganinya. Atas dasar itu pula didirikanlah PT Edward Forrer, yang sekaligus juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga di sekitarnya. Karena model-model yang ditawarkannya selalu inovatif, Edward Forrer bisa berkembang pesat hingga saat ini.

Tak ayal, Edward Forrer adalah produk fashion dengan kualitas terbaik, terdiri dari sepatu dan tas dengan harga yang wajar serta terjangkau. Desainnya selalu baru, unik, dan modern, hadir dalam berbagai gaya khusus dipersembahkan bagi kepuasan konsumen. Untuk layanan purna jual, Edward Forrer memberikan garansi reparasi bagi pembeli produknya.

Boleh jadi, sikap itulah yang mengantarkan Edward yang lulusan SMA ini sukses meretas kiprahnya sebagai pengusaha sepatu. Gerainya tersebar di mana-mana – sepertiga gerai yang milik sendiri (termasuk yang di luar negeri), tapi selebihnya adalah milik orang lain dalam pola waralaba. Dalam menggandeng para entrepreneur tersebut, franchisor Edward Forrer memberi dukungan berupa training, di mana franchisee akan belajar langsung dalam inventory management, proses desain visual merchandise, layanan kepada pelanggan, dan manajemen keuanan dan perencanaan, perekrutan staf pegawai, seleksi produksi, proses pemesanan, konstruksi gerai, hingga grand opening.

Siapa nyana, ketika usia saya 22 tahun, Edo – demikian panggilan karabnya – hanyalah karyawan biasa, ia bekerja di sebuah pabrik sepatu. Tapi, setelah 11 bulan, dari pengalaman singkat tersebut, ia terinspirasi untuk menerapkan bakat dan keinginan untuk mendesain dan membuka usaha sepatu sendiri. “Saya ingin mengelola bisnis sendiri. Saya ingin memimpin, bekerja dengan tim, serta memecahkan problem yang ada,” ujar suami . 

Tidak mudah memang. Tapi orang harus berani melangkah untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Dengan modal keberanian dan mimpi, Edo mulai menapaki babak baru dalam hidupnya. Modal Rp 200.000 ia belikan bahan baku sepatu. Ia menawarkan desain sepatunya dengan mendatangi para kerabat, teman ataupun kenalannya. Kalau ada yang memesan, barulah ia membuatnya. Untuk pembuatannya, ia mempekerjakan dua orang tukang. “Saya mengumpulkan modal dari uang muka pemesanan sepatu,” ungkap Edo yang waktu itu harus berkeliling naik sepeda menawarkan desainnya.

Ternyata produk sepatu yang customized itu membuat banyak orang tertarik. Dengan getok tular, menyebarlah promosi produknya. Akhirnya, konsumenlah yang mendatangi rumahnya untuk dibuatkan sepatu. Waktu itu, dalam sehari ia bisa menerima 30 order sepatu. Untuk mengembangkan usaha, ia menambah produksi, sehingga bukan cuma pesanan saja yang dilayani, tapi stok produksi untuk melayani konsumen yang datang langsung, meski jumlahnya masih sedikit.

Pasar yang sudah terbentuk mengukuhkan keberanian Edo untuk semakin mengembangkan PT Edward Forrer. Ia membuka toko pertamanya di Bandung berukuran 3 x 4 m2, yang ternyata menjadi gerbang bagi Edo meraih mimpinya. Dan, mimpi menjadi pengusaha sukses pun mampu digapainya hanya dalam waktu beberapa tahun. 

Untuk penyebaran produk, ia kembali membuka toko di Jl. Veteran. Respons konsumen luar biasa. Mereka tak hanya berdatangan dari penjuru Bandung, melainkan juga dari berbagai kota lain, terutama Jakarta. Sukses ini membuat langkah Edo tak terbendung. Ia pun mengepakkan sayap ke Bali. Berikutnya ke Jakarta, dan kota-kota potensial di Indonesia. Bahkan ke Malaysia, Hawaii, dan Australia.

Bagi Edo, melintasi batas negara bukan tanpa perhitungan. “Saya yakin dengan brand saya dan produknya,” ungkap ayah sepasang anak ini. Bahkan, Australia dijadikan kantor pusat untuk go international. Bertempat di Goldcoast, Edo pun mulai merajut mimpinya untuk menaklukkan pasar ritel sepatu dunia. The best shoes store in the world, itulah visi pemasarannya. 

Edo mengakui, karena segmen yang dibidik berbeda, standar kualitas produk Edward Forrer juga berbeda. “Australia ini akan dijadikan project model shop untuk pasar internasional,” kata Edo yang merintis pembukaan gerai di Australia pada 2003. 

Cerita Edo tidak hanya diwarani sukses melulu. Edo berterus terang, selama 18 tahun membangun bisnis Edward Forrer, beberapa kali sempat terjungkal. Penyebabnya macam-macam, mulai dari lokasi yang kurang strategis sampai SDM. “Yang penting, kita mau belajar dari kegagalan yang pernah kita lakukan sehingga kita tidak jatuh untuk kedua kalinya,” Edo menuturkan.

Menurut Edo, kunci sukses Edward Forrer adalah selalu berusaha memberikan kepuasan kepada konsumen. Harga beragam sepatu atau sandal buat perempuan dan pria serta anak-anak ini juga terjangkau berbagai kalangan. Dengan mematok harga di kisaran Rp 150-400 ribu, segmen yang dibidik Edward Forrer mulai kalangan menengah sampai menengah-atas. Selain kualitas produk, “Suasana nyaman harus hadir saat konsumen berbelanja, mulai dari keramahan petugas sampai kenyamanan tokonya,” ungkap Edo. 

Untuk membangun loyalitas konsumen sendiri, menurut Edo kuncinya adalah produk dan pelayanan. “Komunitas Edward Forrer sudah terbentuk. Mereka sudah fanatik,” katanya. Inovasi produk tak pelak terus dilakukannya. Caranya, selain dengan meng-update fashion terkini, Edward Forrer pun rajin meminta masukan dari konsumen tentang tren sepatu yang diinginkannya. 

Edo percaya bahwa bisnis adalah sebuah tool powerful untuk membangun masyarakat, baik secara ekonomi, kesehatan, pengatahuan, perspektif, keahlian dan karakter. Untuk membangun semangat karyawannya dibutuhkan servant leadership: kata dan perbuatan tidak ada gap, karena hal ini sangat membantu proses membangun bisnis yang sehat. “Dengan bisnis yang sehat otomatis akan membuat bisnis berkembang, jika bisnis berkembang, berarti cash flow positif dan berarti ada profit,” katanya.

Pengertian seperti itulah yang ia tularkan juga kepada 250 karyawannya. “Supaya mereka tahu arah perusahaan dan goal yang akan dicapai,” tukas suami Lieta Widiarti itu.

Kini, lebih dari dua windu, Edward Forrer eksis di jagat persepatuan (dan tas) kulit. Edo hampir tidak percaya bahwa produknya kini diburu para pecinta produk fashion, khususnya sepatu. Saat ini 35.000 pasang sepatu Edward Forrer diproduksi setiap bulannya. 

Namun, perjalanan memang belum berhenti. Tentu, akan banyak tantangan dan hambatan dalam menjalankan bisnis ke depan, apalagi kalau ingin menjadi merek global yang tangguh. Edo percaya, perkembangan dunia mode membuat sepatu tidak sekadar membungkus kaki, tetapi juga menjadi penyempurna dari busana yang tidak bisa dipisahkan, di sinilah kreativtas dan inovasi baru dibutuhkan. Edo optimistis, dengan kemauan yang keras dan menerapkan strategi bisnis yang jitu, target pertumbuhan 200 gerai dan penetrasi ke 12 negara dapat tercapai. (Burhanuddin Abe)

Fashion Pro, Desember 2008

Dari Musisi hingga Seniman Tato


Zaman berubah, merek-merek pun berganti. Kegemaran generasi MTV tidak sama dengan kesukaan generasi sebelumnya. Merek tidak harus tercipta dari tangan seorang desainer mode, tapi lahir dari berbagai kalangan. Berikut adalah beberapa contoh merek yang melaju pesat, bahkan tidak mustahil meninggalkan legend brand.

GIRING Ganesha Jumaryo, 25 tahun, vokalis grup band Nidji, mengaku sebagai salah satu penggemar berat sepatu Onitsuka Tiger. Dulu, ia hanya mampu beli sepatu asal Jepang itu versi palsunya. "Setelah punya penghasilan sendiri, baru saya bisa beli aslinya. Selain itu, dulu belum ada toko yang menjual Tiger di Indonesia," ujar Giring yang biasa membeli Tiger di Singapura.

Karena itu, Giring tidak alang kepalang gembiranya ketika tahu sepatu favoritnya merek Onitsuka Tiger itu ada di Jakarta. "Baru satu tahun belakangan saya beli Tiger di sini," ujar pria berambut kribo itu usai pembukaan gerai Motion di fx, mal baru yang berlokasi di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Juli lalu. 

Pembawa lagu Laskar Pelangi itu itu menyukai desain Tiger yang menurutnya unik dan nyaman dipakai. "Yang saya pakai ini dibuat hand made," tutur Giring yang memiliki lima Tiger. Dua di antaranya, selalu ia bawa setiap kali tur, agar ia bisa berganti-ganti sepatu saat manggung.

Tiger hanya salah satu brand pendatang baru yang berada di top of mind anak-anak muda sekarang. Kalau merek sepatu yang ada di benak Anda adalah Puma, Adidas, Reebok, Rockpot, tentu tidak salah. Tapi sekarang pada era generasi MTV, pilihan sepatunya lebih beragam, mereknya pun lebih variatif. Begitu pun dengan aparel pada umumnya.

Kalau Anda perhatikan anak-anak muda sekarang, jangan heran kalau menemukan merek-merek yang “asing” yang kedengaran asing – tapi sebetulnya tidak bagi para fashionista. Sebutlah True Religion, Evisu, Onitsuka Tiger, Harajuku Lover, K-Swiss, Ed Hardy, Royal Elastic, Christian Audiger, atau Paris Hilton. Merek-merek tersebut jelas bukan murahan, bahkan boleh dibilang untuk kantong ABG cukup eksklusif. Harga-harganya berkisar di Rp 800.000 ke atas.

Sebutlah Levi’s, memang benar, adalah merek jins yang legendaris. Tapi Anda akan dibilang “tidak gaul” kalau tidak mengenal merek True Religion, merek jins yang kini sedang digandrungi anak-anak muda Amerika, yang mungkin menjadi “agama baru” di sana.

Tidak hanya di AS, di era kemajuan TI di mana media internet dan TV mampu menyebarkan informasi seperti virus, merek-merek global itu tentu saja cepat mendunia. Kalau kita lihat tas belanjaan Ages Monica, misalnya, salah satu merek yang disebut di atas itu, pasti terselip. Nyatanya penyanyi muda yang sedang naik daun itu adalah penggemar merek-merek seperti True Religion, Harajuku Lovers, David & Goliath, dan lain-lain.

Bahkan Melly Goeslaw yang sering tampil aneh-aneh di panggung lebih pede memakai merek-merek seperti Royal Elastic, Christian Audiger, juga Ed Hardy. 

Gwen Stefani, David & Goliath
Waktu berganti, kesukaan akan barang dan merek pun berganti pula. Pencipta brand tidak harus seorang desainer, tapi bisa datang dari mana saja, mulai dari artis film, penyanyi, ikon dunia konsumsi, hingga seniman tato. 

Gwen Stefani adalah satu satunya. Setelah sukses dengan merek Lamb (2004), penyanyi eksentrik itu meluncurkan merek Harajuku Lovers (2005). Stefani terinspirasi mode jalanan Jepang yang berani saat melakukan perjalanan ke Tokyo pada tahun 1996, di mana ia sangat kagum dengan ekspresi diri dan gaya mode para remaja di sana. Kekaguman tersebut tidak hanya dituangkan dalam lagu "Harajuku Girls", tapi juga diwujudkan dalam sebuah fashion brand.

Insting bisnis Stefani tidak salah. Meski banyak orang meragukan bahwa ia bisa mendesain apalagi menjahit, toh gaya busana yang merupakan cerminan dirinya itu sukses di pasaran. Dibuat di Los Angeles, Harajuku Lovers tidak hanya pakaian, tapi juga tas, dompet, sepatu, aksesoris, bahkan alat tulis. Banyak selebriti yang mengenakan merek ini, di antaranya Silo Jolie-Pitt dan tentu saja putra Stefani, Kingston Rossdale.

David & Goliath, Anda tentu kenal dengan kisah tersebut, tapi di Amerika adalah salah satu merek fashion paling hot saat ini. Merek ini diciptakan oleh Todd Goldman pada 1999, awalnya berbasis di Florida, dan kini produknya tersedia di lebih dari 2.500 butik dan department store terkemuka di seluruh dunia.

Kekuatan David & Goliath terletak pada lukisan kartunnya yang unik, lucu, naif, tapi penuh rasa humor. Padanannya mungkin seperti T-shirt Dagadu asal Yogyakarta itu, tapi dipadukan dengan desain yang menawan, bukan sekadar kaus oblong. 

Menyasar pasar remaja, David & Goliath adalah fenomenal. Tidak hanya populer di Amerika, dengan dukungan pendistribusian utama di 15 wilayah di Negeri Paman Sam tersebut, tapi juga tersebar dengan baik untuk pasar global, mulai dari Kanada, Inggris, Yunani, Italia, Belgia, Belanda, Luksemburg, Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, Islandia, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Malaysia, serta Indonesia.

Seniman Tato
Kalau David & Goliath terkesan manis, apalagi pasar utamanya adalah remaja putri 16 – 24 tahun. Maka, Ed Hardy lebih “sangar”. Maklum, merek ini adalah hasil kolaborasi desainer Christian Audigier dan “The Godfather of Tattos” Don Hardy. 

Lahir di California Selatan 1945, Don Hardy adalah maestro tato terkenal, dengan spesialisasi tato tradisional ala Jepang. Penggemar karya-karyanya sangat luas, tidak hanya di AS tapi bahkan ke seluruh dunia. Tidak heran kalau kemudian Christian Audigier mengambil lisensi karya-karya Hardy untuk pakaian (2004).

Desain Ed Hardy sangat unik, dengan karakter penggunaan teknik campuran gambar-gambar yang menarik dan penggunaan warna yang lebih cerah. Koleksi ini menjadi sasaran untuk orang yang berani tampil beda dan mampu memperkuat kepribadian pemakainya. Merek yang sudah menjadi tren gaya hidup di Amerika ini banyak memikat artis Hollywood untuk mengenakan koleksinya. Mulai dari Madonna hingga Leonardo DiCaprio. Koleksinya tidak hanya terbatas pada T-shirt saja, tapi juga sepatu, kaca mata, perhiasan, jam tangan, dan bahkan energy drink.

Saat ini butik Ed Hardy tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Waikiki, Dubai, Kuwait, Tel Aviv, Dallas, Miami, Los Angeles, Tucson, Houston, New York, San Francisco, Hamburg, Tokyo, Singapura, Noosa The Sunshine Coast, Melbourne, Sydney, Riga Gold Coast, Johannesburg, hingga Cape Town. (Burhanuddin Abe

Fashion Pro, Desember 2008

Property business staying afloat amid global crisis


THE current global financial crisis has affected almost all sectors, including the property sector. Within two years the property business here will be sluggish, say analysts. Sales of condominiums, especially the apartments subsidized by the government for the lower income market, will slow down and office building sales will also decrease sharply in 2009.


Indeed, the macro economic indicators have worsened during the third quarter of this year. The inflation rate is currently the highest in the past three years. The rupiah value has weakened against the U.S. dollar. Bank interest rates for loans have gone up and stock prices have dropped. The U.S. financial crisis has clearly affected the Indonesian economy, especially its stock and capital market.


After large numbers of government-subsidized condominiums entered the pre-sales market last year the number gradually declined in the middle of 2008. However, new construction has started for middle and upper class condominiums. The locations of both are in premium class areas in the city, such as the Central Business District.


Actually, the overall situation is not getting better. It is understandable as banks that used to provide huge loans are now putting a brake on lending and have to think more than twice for such project loans. "No real lending, no real speculation," they say. This kind of situation will last at least two to three quarters until next year, said Arief Rahardjo, associate partner for strategic consulting of PT Cushman & Wakefield Indonesia.


Still there is another scenario that shows that the property business in Indonesia is not totally affected. Hiramsyah Thaib, president director of PT Bakrieland Development, said that while the exchange rate of the rupiah against the U.S. dollar has weakened it is estimated that foreigners will be attracted to purchase properties here. From this perspective the property business domestically is not in an entirely bad shape after all as its growth can be maintained, he added.


Expatriates, who earn in dollars, will take advantage of the situation, he said. "Here lies the great potential in property purchased by expatriates, including foreign businesspeople," he said.


Such potential has been proven by the sales of an apartment complex called The Wave Epicentrum in Kuningan, South Jakarta, developed by the Bakrie group. Out of the first construction phase of 861 units, 431 units have been sold to date with 5 percent ownership by foreigners. The apartments have just entered the initial construction stage.


According to Handoyo Kristianto, chairman of Real Estate Indonesia, the properties bought here by expatriates are less in number in comparison with those in Singapore and Malaysia, because the ownership status over there is much longer and clearer.


He added that once the government revises procedures for property ownership by expatriates the sales will automatically go up. Currently expatriates only have a usership right for 25 years, which is extendible to 70 years. "For expatriates such procedures are complicated," he said while highlighting the huge potential for property ownership not only here in Jakarta, but also in Bali and Batam.


In every difficult situation one can always find an opportunity, say the wise men. That is why in spite of the future stagnation in the marketing of condominiums and apartments developers do not seem deterred from carrying out new projects. One way is to work on a specific target or niche marketing. PT Asiana Lintas Development has taken such steps in its marketing. After successfully marketing its Nirvana Kemang Apartments it is now constructing Senopati Suites on Jl. Senopati, Kebayoran Baru, South Jakarta. "We carefully target our apartments to a select segment that has not been affected by both the economic situation or excessive number of apartments available," said Alifa Abdullah, marketing director of PT Asiana Lintas Development.


Built on 2,600 square meters of land close to Sudirman Central District Business (SCBD), Suropati Suites comprises 17 floors totaling 86 apartment units. There are various sizes of units, from 124 to 440 square meters. The price is Rp 15 million per square meter. "Until now more than 35 percent has been sold," he said.

Meanwhile, no less aggressive in its marketing is Agung Podomoro Group. One of its construction companies, PT Cahaya Mitra Sejahtera, has just completed Permata Hijau Residences in Permata Hijau, South Jakarta. The project is valued at Rp 300 billion and construction began in February 2007.


The high-rise exclusive apartment buildings are situated on a 7,000 square meter area and combine a modern minimalist architectural concept blended with a tropical park. There are two towers here, Abelia with 33 floors and Bromelia with 26 floors. "We prioritize owners' privacy as each floor consists of only two units and is served by two elevators," said marketing director of Agung Podomoro Group, Indra Widjaya Antono as quoted by Kontan.


Agung Podomoro markets only 250 units with 100 square meters for three bedrooms and 200 square meters for four bedrooms. The price of each unit ranges from Rp 1.6 to Rp 4 billion. Since the marketing launch in December 2006, 80 percent of the units have been sold. The demand is quite high, said Indra, because expatriates, for example Koreans, Americans and Australians like Permata Hijau area. "Many of them rent in this area," said Indra.


The market for Permata Hijau Residences is also targeted mostly at expatriates who have become a target market of several other developers of apartments in the area. Other apartments in the area include Simprug Teras, Simprug Indah, Permata Saphire Regency and The Bellezza, which belongs to Gapura Prima Group. Compared to other residential areas, Permata Hijau is an attractive residential destination for expatriates.


Meanwhile, Chairman of Real Estate Indonesia (REI) Teguh Satria is optimistic about the property business in the country, predicting a 25 percent growth in the sector in November and December 2008 provided there are no extreme global economic changes. (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, November 27, 2008

Monday, November 24, 2008

Red Under the Stars


MUMM Champagne kembali menggebrak Jakarta. Kali ini bertepatan dengan diresmikannya lounge di di Ritz Carlton Pasific Place Jakarta, lantai 8, Jumat 21 November 2008.


Lounge by Mumm Champagne kali ini berada di ruang terbuka, sangat, dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit seperti Gedung BEI, pusat bisnis kelompok usaha Artha Graha, perkantoran, apartemen dan hotel Ritz Carlton sendiri. Interior Mumm Champagne Lounge malam itu ditatat sangat apik. Sofa-sofa putih dan merah terang sangat sesuai dengan tema pesta malam itu.



Mumm Champagne termasuk yang terkenal di dunia. Ini merupakan sampanye yang biasa

digunakan dalam F1 Racing. Di Indonesia, penggemar sampanye ini ada, tapi segmennya kelas atas, sebagian besar kaum perempuan. Aroma buahnya sangat kental, terutama aprikot dan lemon.


Pesta kali ini dimeriahkan oleh model-model cantik seperti Indah Kalalo, Chantal, atau Laura yang membawakan busana-busana terbaik dengan Fabiola sebagai koreografernya. Peragaan busana diselingi dengan penampilan para sexy dancer yang malam itu juga menggunakan busana dengan tema senada, Party Red Under The Stars!


Tidak lupa, tampil juga DJ Devina. Seperti dalam beberapa party-party sebelumnya, DJ Devina malam itu juga ditemani oleh Angel sebagai MC. Party anyone?


Modifying a Car, Why Not?


HAVE you seen the film Pimp My Ride on MTV? The film shows how a car in very bad repair is modified into a flashy one. The owner of the car cannot even recognize his car as it has assumed a new appearance after being modified by a TV crew, or rather a modification crew. Although it is completely different, it is adjusted to suit the personality of the owner.


So, modification is nothing new. It is a smart way to get a new car without having to visit a car showroom. In other words, you simply have to repair the car and introduce some modifications according to your taste.


Paris Hilton, actress and heiress of the Hilton empire, has good taste in cars. This beautiful and sexy artist puts her trust in West Coast Customs (WCC) to modify her Bentley Continental GT.


One of the cars in Paris's collection has been modified by WCC by giving it a girly touch. The entire exterior is pink in color. Paris' car was on display in the Specialty Equipment Market Association (SEMA) held in Las Vegas, the United States, from Nov. 4 to 7.


Of course, you don't have to be Paris Hilton to have your car modified and neither do you have to wait your turn to appear on Pimp My Ride. You can modify your car yourself to suit your taste any time. Of course, you had better consult a car modification expert first. You can consult an expert about the engine, the accessories and the design so that everything suits your taste.


Modifying a car is certainly not an easy thing to do but if you can successfully modify your car you will certainly feel proud and your time, energy and money will be well used.


To modify your car, you need passion and, more importantly, technical ability, which you can discuss with a professional. Basically, the aspects to be take into account are the type of the car to be modified, the concept and its execution.


Type

If you wish to modify an automobile, you must pay careful attention to its type. Find out which category the car belongs to. In this way you will avoid any mistakes. Otherwise you may modify an SUV (sport utility vehicle) with a city car approach, for example. Each type of automobile has their own distinct style and specifications.


Originality of Idea

In every car modification, try to come up with fresh ideas. This means that the car modification is not simply a repeat of what other people have done. Originality refers to aspects from the use of new things that are rarely available, to a new modification technique or to a new model of the body or wheels.


If someone tries to apply new ideas in car modification, the cost will be high because it requires a lot of trial and error. It is often the case that you may have to sacrifice the modification items to acquire a modification master in order to gain a new model. However, if you are in search of satisfaction, it is all worthwhile.


Execution

One of the important steps in car modification is certainly the execution. The idea may be unique but if the modification technique, detail and composition are not in place, it will not be possible to execute.


Modification means demonstrating an ability to apply an idea in practice to produce a fascinating product. That's why car modification demands a high level of a artistic ability and technique. Care, earnestness and experience are the keys to ensure that the car modification will really go as planned and that the outcome will not disappoint. (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, November 25,, 2008

SUVs still the favorite in the market


THE competition in the SUV high-end segment is still quite stiff nowadays although the total market is relatively small -- only a few thousand units. Each brand offers various models with elegant designs and a wide range of facilities. While Multi Purpose Vehicles (MPV) are often referred as sedans, the current SUVs, especially the high-end ones targeted at the upper class, are often described as a sedan in the form of a jeep.


The competition is actually quite new due to a recent government decision to allow importers to bring in completely built up (CBU) vehicles, although previously some importers had already done so without such a facility from the government.


This recent development has given major importers, the opportunity to import and market their SUVs here, especially for European cars. BMW, for example, has introduced a BMW SUV with the luxury that is specifically BMW and GM has introduced its All New Chevrolet Captiva Diesel. Toyota is even offering a number of models like its Land Cruiser, which has been in the market for some time, followed more recently by Toyota Harrier and Lexus, both of which are also luxury cars. Mercedes has also brought in its latest type of Grand Cherokee Jeep, which is a medium size SUV like Ford Explorer that incorporates off-road features comparable to those of upscale Land Rover LR3.


The competition in this segment is indeed unique, because the new models and brands have not reduced the number of customers of existing SUVs, but in fact the segment has grown in size and drawn totally new buyers. Some even say, quoting a local proverb, that the market of SUV is like a well with an endless source of water. It is not surprising, therefore, that quite a number of manufacturers and importers have joined the bandwagon in marketing their SUVs in Indonesia.


Honda CRV was the first brand coming from a major maker in the SUV segment launched in the middle of 2000. The next year, 2001, saw the entry of Nissan's XTrail as well as KIA's Sportage, which was first introduced as a vehicle used by the Medan Car Rally committee in 1995. Shortly afterward, other brands like Suzuki Escudo, Ford Escape, Mazda Tribute and Hyundai Tucson followed. After a couple of years Nissan succeeded in overtaking the market position and domination of Honda CRV, which had been enjoying the middle class SUV market so far.


What is interesting is that diesel SUVs are also in demand as diesel fuel is relatively cheap. According to Harry Yanto, Business Manager of PT General Motors AutoWorld Indonesia (GMAWI), the demand for the company's Chevrolet Captiva that uses gasoline, which used to be more than a hundred units, has decreased within the last few months since this GM authorized agent released a diesel variant of Captiva in April. "The demand has turned in the other direction, meaning about 120 units of diesel Captiva per month while the gasoline-fueled Captiva only sells about 100 units," he said as quoted by Bisnis Indonesia.


Besides the less costly fuel, the growth in popularity for the diesel version is because the target market consider Chevrolet Captiva Diesel 2.0L VCDi to have more power, which is generally characteristic of diesel engines.


GMAWI markets the gasoline automatic transmission model at Rp 292 million, while the gasoline manual version's selling price is Rp 262 million. The diesel Captiva is marketed at Rp 292 million. The automatic transmission version for the diesel Captiva is not available at the moment. In Indonesia, Captiva, which is the backbone of GM's sales, faces tough competition from Honda All New CR-V, Nissan X-Trail and Toyota Fortuner.


Not wanting to miss out, Audi has also come up with a diesel variant, the Audi Q7 3.0 TDI, that carries a price tag of Rp 1.5 billion. It has a 3.0 liter engine that incorporates 233 hp with a 500 Nm torsion. Previously the company had launched its gasoline version, the Audi Q7 4,2-liter. The diesel variant has a number of superior features, such as a third generation common rail fuel injection system with a piezo inline injector that controls the amount of diesel fuel in combustion. It also has a turbocharger with variable turbine nozzle geometry located in the V6 engine to enhance the vehicle's performance.


Presently this V6 engine is the lightest of its type, while its air intercooler with double charge functions fully. Meanwhile, its diesel catalyzed soot filter fulfills the requirements of the Euro-IV Emission Limit. Audi Q7 3.0 TDI Quatro tiptronic can produce an acceleration of 0-100km per hour within 9.1 seconds, while the top speed is 210 km per hour. The diesel fuel consumption is 10 km per liter and the vehicle has a fuel tank capacity of 100 liters. With this amount of diesel fuel it can travel from Jakarta to Surabaya, which is 952 km, without refilling on the way.


Gunadi Sindu Winata, president director of Indomobil Group, said that the automotive market in Indonesia is now waking up from its slumber and he predicted that about 520,000 units will be sold by the end of 2008. The company's Audi Q7 3.0 TDi has to compete in the high end SUV niche, which is only about 8 percent per year of the total market.


Until now there is no clear explanation as to why the SUVs, including the premium ones, are so popular here, although the price range of even the middle class SUVs is between Rp 200 and Rp 250 million. Some marketers say that the floods that often ravage the country during the rainy season is one of the reasons behind the growing popularity of SUVs which have a high ground clearance. Others are of the opinion that potholes on many of Jakarta's roads are pushing customers to opt for SUVs to avoid damage to their vehicles. Others suggest that the high position of its driver's seat makes the driver more confident. Another theory is that the SUV's sturdy design appeals to the macho driver. The real question now is will the SUV market in Indonesia keep on growing or slowly diminish in the future? (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, November 25, 2008

Thursday, November 20, 2008

Asian shopping destinations


THERE are no borders for shopping aficionados, and the number of upscale Indonesian families traveling to top Asian shopping destinations has been on the rise over the past several years, especially ahead of Christmas and New Year. Take Hong Kong, for example, a favorite shopping destination. This country offers not only a shopping experience in giant shopping centers but also provides room for small and unique boutiques to develop.


Who can resist shopping in Hong Kong? Everything is available here, ranging from bags to footwear, and items at prices that won't drain your pocket too quickly. "Whenever I go to Hong Kong, I never have enough time for shopping," said Shinta, a businesswoman.


Causeway Bay is a large shopping area most frequented by foreign tourists. Here you can find various department stores, malls and small stores selling apparel, electronics and computer equipment.


When looking for bargains, go to Tsim Sha Tsui, Kowloon. Like Causeway Bay, here there are lots of stores selling various products such as electronics, apparel, souvenirs and jewelry. The difference between these two places is that Causeway Bay seems more conventional while Tsim Sha Tsui is more hip. More importantly, though, the prices offered at Tsim Sha Tsui are relatively lower.


Hong Kong is indeed a favorite shopping destination for middle-class Indonesians. Then again Singapore, which is closer, is also a popular shopping destination. "Indonesia is Singapore's largest market and this makes shoppers from Indonesia important," said Regional Director of Singapore Tourism Board, ASEAN, Chooi Yee Choong.


Indonesians can be seen, day and night, hunting for the best offers in Singapore. In the city-state you can easily find anything you need, ranging from daily necessities to lifestyle items. Shopping, dining and nightlife is available all around Orchard Road, the most popular shopping area in Southeast Asia.


As a tourist destination, Orchard Road is well known as a place that is open almost around the clock, with foreign tourists snapping up goods on sale. Here visitors may be stunned at how products can be offered at relatively low prices.


Meanwhile, if you want unique items, try Chinatown or Little India. Chinatown is under the skyscrapers in a financial area. It is colorful and lively, with people buying Chinese spices, herbal medicine and fruit. Little India boasts the only shopping mall in Singapore that is open around the clock: Mustafa Center, an emporium plus department store plus a 24-hour Aladdin's cave. Established in 1973, you can find everything here at the lowest prices in Singapore.


Every year, Singapore organizes the Great Singapore Sale and promotes the event in Indonesia. This year was the sale's 15th. The sale lasts three months and offers fashion goods, accessories, household equipment and electronics at discounts of up to 70 percent.


The Great Singapore Sale may be over, but that does not mean there are no more discounts on offer. Christmas and New Year are ideal times to shop in Singapore as stores often offer special discounts at this time of year.


Malaysia is also an up and coming shopping destination, but it is also more than that. With its tourism tagline of "Malaysia, Truly Asia", its tourist industry continues to develop and flourish. Malaysia continues to be innovative in the marketing of its tourism products. Promotions for the Formula 1 Malaysia, culture and arts, eco-tourism, culinary experiences and shopping have been intensified.


Tourism and shopping are two separate but complementary activities for tourists, especially when a country offers unique elements not found elsewhere. It is this aspect that the Malaysian government continues to develop in boosting its tourism. In terms of supply of goods, Kuala Lumpur seems comparable with Singapore. Outlets and boutiques selling goods of international brands can be found around Petronas Twin Towers, like KLCC Suriah, and in Bukit Bintan, which is as brightly lit as Singapore's Orchard Road.


Thanks to its contribution to Malaysia's economy, the promotion of shopping tourism has been intensified from one year to the next through innovation and new packaging. To bolster shopping tourism, the Malaysian government is organizing an end of year sale, previously called the Malaysia Year-End Sale but now called Malaysia Savings Sale 2008. This 38-day event is being held nationwide from Nov. 29, 2008 to Jan. 4, 2009. "Malaysia must find innovative and fresh ways to make this country more attractive to foreign tourists," said Malaysian Deputy Prime Minister Seri Najib Tun Razak.


So, why wait? Just get your passport and money ready, and enjoy the shopping! (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, November 19, 2008

Monday, November 17, 2008

The Infotainment Parliement



TIDAK hanya menghebohkan panggung hiburan, kehadiran selebiriti juga meramaikan kancah perpolitikan. Mereka berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi legislatif dan politisi. Sekadar memanfaatkan popularitas?

ITULAH fenomena kehidupan artis sekarang. Berita-berita di media infortainmen, koran, tabloid dan majalah, sekarang bukan membeberkan tentang percintaan, perselingkungan, perceraian atau pekawinan para selebriti, tapi aktivitas politiknya. 

Misalnya tentang sosok penyanyi dangdut Saipul Jamil. Bukan hanya berita tentang perceraiannya dengan Dewi Perssik. Kegiatan politik mantan suami penyanyi dangdut nan seksi itu sempat menghebohkan media masa. Saipul dilamar PPP untuk mendampingi Ruhyadi Kirtam Sanjaya Ketua DPC PPP menjadi wakil Walikota Serang dalam pilkada 8 Agustus 2008.

Hal serupa juga dilakukan oleh Primus Yustisio. Aktor ganteng itu maju menjadi salah satu kandidat wakil Bupati Kabupaten Subang. Primus diusung Partai Golkar dan PAN (Partai Amanat Nasional), Partai Demokrat, Partai Karya Pembangunan Indonesia dengan nomor urut dua. Dalam pilkada yang akan berlangsung bulan Novenber, suami Jihan Fahira ini mendampingi Aryumningsih. 

Bukan hanya di eksekutif, para selebriti juga masuk ke ranah legislatif. Berdasarkan data yang dimiliki ME ada sekitar 60 artis mendaftar menjadi caleg. Di antaranya, Bella Saphira (Partai Damai Sejahtera - PDS), Wulan Guritno (Partai Amanat Nasionalm - PAN), Luna Maya (PPP), Rieke Diah Pitaloka (PDI Perjuangan), Jaja Miharja (Partai Gerakan Indonesia Raya – Gerindra), Vena Melinda (Partai Demokrat), Rachel Mariam (Partai Gerindra), Wulan Guritno (PAN), Nurul Arifin (Partai Golkar), Denada (PPP), Ikang Fawzi (PAN), Marisa Haque (PPP), Wanda Hamidah (PAN), Gusti Randa (Partai Hati Nurasi Rakyat - Hanura) dan masih banyak lagi.

Jika ditarik ke benang demokrasi. Itu merupakan bentuk kesepakatan kita dalam menjalankan nilai demokrasi yaitu kebebasan berpolitik. Kebebasan berpolitik memberikan ruang besar pada semua lapisan masyarakat untuk menjadi caleg. Suka tidak suka ini juga merupakan konsekwensi dari kehidupan demokrasi. Bahwa semua warga negara berhak untuk ikut berpartisipasi dalam politik dan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Walau tidak mempunyai pengalaman politik dan menjadi kader partai.

Berangkat dari sini munculah puluhan partai politik dan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan harapan bisa menjadi peserta Pemilu 2009. KPU pun melakukan penyeleksian, hasil seleksi memutuskan ”hanya” 44 partai politik ikut Pemilu 2009. 

Berdasarkan data ada sekitar 12.198 caleg yang akan bertarung memperebutkan 560 kursi di DPR RI. Mereka itu tersebar di 77 daerah pemilihan. Dilihat dari jumlah caleg, angkanya cukup besar sementara kursi yang perebutan sedikit. Ini tentu akan menimbulkan persaingan ketat antar caleg, termasuk antara artis yang menjadi caleg. Jadi jangan heran, untuk bisa menang mereka pun rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Untuk beli spanduk, kaos, konsumsi, menemui konstituen ke daerah pimilihan dan membayar tim sukses. 

Walau tidak mempunyai latar belakang politik, para selebriti mempunyai semangat dan rasa percaya diri tinggi. Yakin akan terpilih menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Tapi sayang sebagian masyarakat masih mempertanyakan kredibilitas mereka. Apa mungkin, orang (artis) yang tidak pernah bersentuhan dengan politik dan tidak mempunyai pengalaman politik jadi wakil rakyat menjalankan amat rakyat secara benar?

Pertanyaan ini muncul karena rakyat sudah mulai kecewa dengan kinerja anggota DPR. Rakyat menilai, anggota legislatif hanya memikirkan diri sendiri dan kelompok tidak memikirkan negara dan rakyat. Terbukti, sebagian dari anggota dewan rakyat yang terhormat tersebut terlibat kasus korupsi. Mereka tidak peduli dengan kesulitan ekonomi yang sedang dialami rakyat. Menyedihkan sekali!

Pesimis pada Caleg Artis
Apa mungkin seorang artis bisa menjadi wakil rakyat? Pertanyaan yang menggelitik. Maklum, karena artis identik dengan kehidupan wah, hedonis dan gonta-ganti pasangan atau kawin cerai. Paing tidak itulah yang tertangkap di tayangan-tayangan infotainmen. Yossan Afriadi, bapak dua anak, warga Depok Timur, Jawa Barat, midalnya, mempunuai pandangan tersendiri. ”Artis jadi caleg bagi saya sah-sah saja yang penting punya skill dan mampu. Tidak asal ikut-ikutan.”

Di balik penilaian miring tersebut, Ikang Fawzi, rocker 1980-an meminta masyarakat tidak melecehkan caleg dari kalangan artis. "Jangan lecehkan kami! Banyak yang tidak sadar, bahwa artis punya potensi luar biasa, mereka mampu menjadi komunikator yang baik," kata caleg dari PAN ini. 

Suami artis dan politisi PPP Marissa Haque itu menambahkan, "Setiap produk membutuhkan entertainment, produk sosial saja butuh entertainment, begitu juga produk politik. Kalau setiap hari di DPR ada infotainmen, nanti akan menjadi politiktainmen," ujar pria yang sedang menempuh Magister Management di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 

Ikang menambahkan, "saya telah menyiapkan tiga perangkat pintu masuk menjadi anggota legislatif, yaitu visi, acceptability, dan responsibility. Soal visi, artis selama ini selalu memberikan sesuatu sesuai permintaan, begitu juga menjadi politisi, memberikan sesuatu sesuai kebutuhan masyarakat. Acceptability, bagaimana masyarakat menerima kehadiran kita dan responsibility, bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakan." 

Hal serupa disampaikan oleh Wanda Hamida, tidak semua caleg artis mempunya track record yang buruk. ”Jauh sebelum menjadi politisi saya sudah aktif di dunia pergerakan mahasiswa dan kegiatan sosial. Masyarakat sudah merasakan langsung dari kegiatan sosial politik saya,” ujar mantan presenter Metro TV ini.

Wanda menambahkan, tidak ada jaminan caleg yang mempunyai latar belakang politik kinerjanya bagus. Buktinya, anggota DPR sekarang banyak terlibat korupsi. Melihat fenomena itu Lili Romli, pengamat politik dari Universitas menjelaskan, sejauh mana mereka bisa menunaikan kewajiban dalam menjalankan mandat rakyat? Layakkah mereka untuk diharapkan membawa Indonesia ke arah kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang lebih baik? Sulit menemukan jawaban memuaskan untuk pertanyan-pertanyaan itu. Yang bisa dilakukan hanya melakukan sejumlah dugaan. Semoga mereka mampu. 

Motivasi Jadi Caleg
Kehadiran DPR seperti sebuah magnet yang mampu menarik banyak orang. Itulah yang terjadi sekarang, dengan segala kelebihan yang dimilikinya kursi DPR menjadi barang mewah yang direbutkan banyak orang. Puluhan ribu rakyat Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Jika ditanya tentang motivasi untuk mendapatkan kursi DPR. Setiap caleg mempunyai jawaban meragam.

Misalnya Meutya Hafid, presenter Metro TV, caleg dari Partai Golkar. “Meski minim pengalaman politik, tapi saya paham tentang politik dan pembangunan. Dunia yang saya geluti berhubungan langsung dengan politik. Setiap hari saya mengupas permasalahan-permasalahan politik dan bertemu tokoh politik,” ujar Meutya. Ia menambahkan, “tujuaan saya masuk parlemen agar bisa berpesan lebih besar dalam pembangunan. Perubahan lebih cepat dilakukan dari dalam daripada di luar. Untuk jangka pendek saya akan mengembalikan citra dan fungsi DPR.” 

Begitu juga dengan Wanda Hamidah, “saya bisa membuat undang-undang atau menjalankan visi-misi secara penuh, karena kekuatan yang saya miliki semakin kuat,” tutur mantan aktivis kampus 1998 yang sempat menjadi artis ini. Wanda menambahkan, “saya ingin menata Jakarta menjadi lebih bagus tidak semrawut seperti sekarang. Sampai sekarang masalah transportasi kan tak kunjung usai?” keluh caleg PAN untuk DPD DKI Jakarta ini 

Ikang Fawzi punya pandangan yang hampir sama. Banyak hal yang menyebabkan rocker yang dikenal lewat lagu Preman itu masuk politik. Salah satunya karena pengaruh lingkungan. Sebelum reformasi, Ikang sempat diminta Amien Rais mengumpulkan artis untuk berdikusi dengannya. Semenjak itu terjalin hubungan yang baik dengan Amin Rais. Tapi saat itu ia belum mempunyai orentasi ke politik, masih ingin jadi seniman dan pelaku bisnis.

Tahun 2003 bersama Dede Yusuf ia diminta PAN jadi legislatif. Ketika itu secara mental ia belum mantap. Ia menilai, masih banyak orang yang hebat darinya. Baginya politik merupakan pilihan terakhir. Akhirnya ia tetap memutuskan jadi pelaku bisnis.

Ikang menambahkan, “masalah sosial, hukum dan ekonomi belum memuaskan masyarakat. Pengalaman yang saya miliki, saya rasa sudah cukup untuk ikut berpartisipasi di legislatif. Kebetulan saya artis, jadi saya dipinang. Sebelumnya, saya juga pernah dipinang PAN untuk jadi Wali Kota Tangerang,” ujar caleg PAN – daerah pemilihan Banten. 

Caleg Instan
Bukan hanya partai baru, Pemilu 2009 mendatang akan diramaikan caleg artis yang terkesan instan. Publik berharap, kehadiran mereka mampu memperbaiki kondisi negara. Sekurang-kurangnya bisa memperbaiki citra legislatif. Namun tidak semudah yang dibayangkan. Indonesia hanya bisa dibenahi oleh orang yang punya integritas dan nasionalisme. Tidak mungkin oleh wakil rakyat yang tidak punya integritas dan nasionalisme.

Leo Nababan, Koordinator Bidang Pemenang Pemilu Sumatra Utara dan Nangroe Aceh Darusallam meragukannya, “untuk melahirkan caleg berkualitas kita harus melakukan pengkaderan. Selain itu kita juga harus memperhatikan kredibilitas, track record, moralitas, ketaatan pada Nenaga Kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945 dan kemampuan sebagai legislator.”

Leo menambahkan, yang tak kalah penting adalah pemahaman tentang kepemimpinan. Para caleg harus dididik tentang kepemimpinan. Ini banyak tidak diperhatikan partai politik. Padahal itu masalah krusial. Partai adalah tempat penggodokan dan pembibitan kader-kader bangsa. “Jangan seperti sekarang, untuk mendongkrak suara menggunakan popularitas artis.” 

Menurut Leo, selain kemampuan dan uang, para legislator harus paham tentang teori ketatanegaraan. Agar kesenjangan antara aspirasi dengan pengambil keputusan tidak terlalu jauh. “Saya pernah menemani Pak Agung Laksono ke Cina. Di sana, untuk sampai menjadi anggota politbiro partai mereka dikader selama 15 tahun. Sementara di kita cuma beberapa minggu. Pembibitkan kader harus dimulai sedini mungkin. Tidak pas mau pencalonan saja, setor uang terus masuk jadi caleg. Caleg harus disiapkan jauh hari dan by design,” tambahnya. ”Bukan hanya karena punya uang dan hubungan khusus dengan tokoh politik terus bisa jadi caleg. Cara seperti itu akan menimbulkan kesan instan. Sesuatu yang bersifat instan bisanya tidak bagus,” tambahnya. 

Menurut pengajar pasca sarja ilmu politik Universitas Indonesia, Lilir Romli, kehadiran artis merupakan bentuk politik instan. Mereka digunakan partai hanya untuk mendulang suara. Begitu juga sebaliknya, artis juga memanfaatkan kepopuleran untuk terjun ke politik dan menjadi pejabat publik. ”Meski demikian, caleg instan harus dilihat kapasitasnya. Terutama dalam hal kemampuan berorganisasi, mengartikulasikan kepentingan di tengah masyarakat akar rumput, serta kapasitas berbicara di tingkat elite partai, media masa, maupun elite lokal,” ujar Lili saat di temui di sekretariat pasca sarjana ilmu Politik Indonesia, Salemba Jakarta.

Hal itu dibantah oleh Wanda Hamidah, tidak semua artis seperti itu. Sebagian artis juga punya kemampuan dalam berpolitik dan berorganisasi. Kemampuan yang mereka miliki tak kalah dengan para politisi. ”Saya sudah berorganisasi sejak dari mahasiswa, saya masuk PAN sudah 10 tahun. Saya menduduki jabatan penting di PAN dan terlibat dalam berbagai keputusan partai,” tambah Wanda.

ME - November 08