Thursday, November 06, 2008

Antara Singapura dan Jakarta


Dear Mr Abe,

A very warm welcome to The Fullerton Hotel Singapore. We wish you a most pleasant stay and should you require any assistance, please do not hesitate to contact us at extension 8977.

Sincerely,
Melissa Kong
Assistant Marketing Communications Manager
The Fullerton Hotel, Singapore

SEPUCUK surat itu tergeletak di meja kamar di The Fullerton Hotel, Singapura, ketika saya menginap di hotel tersebut beberapa waktu yang lalu. Hal yang biasa sebagai sapaan hangat host kepada tamunya. Tapi yang membuat saya terkesan, surat tersebut ditulis pakai tangan. Rasanya lebih personal.

Saya harus memaklumi, di negeri sekecil Singapura, yang hanya seperdelapan Pulau Bali, yang tidak mempunyai sumber daya alam, yang mereka tawarkan adalah jasa. Bukan sekadar jasa, tapi servis yang paling prima. 

Bukan hanya hotel, sebelumnya ketika naik SQ dari Jakarta, saya sudah merasakan servis yang luar biasa tersebut. Standar pelayanannya jelas, terbang selalu tepat waktu, pramugarinya tidak sekadar jual tampang, tapi juga sangat helpful melayani kebutuhan penumpang.

Singapura memang negara kecil. Tapi negeri dengan penduduk 4,6 juta itu merupakan magnet yang membuat banyak orang datang dengan beragam alasan. Lokasi yang strategis saja pasti tidak cukup, kalau tidak didukung oleh infrastruktur yang baik – kota tertata rapi dan sistem transportasi publik yang memudahkan orang untuk bergerak ke mana pun tanpa kehilangan waktu karena macet di jalan. Tapi yang lebih penting adalah, sistem manajemen pemerintahan yang profesional, serta penduduknya yang siap berkompetisi di dunia global. 

Kalau tidak mana mugkin Negeri Singa ini menjadi salah satu negeri yang paling dinamis di dunia. Pada 2007 nilai investasi aset tetap di Singapura melebihi $10 miliar. Perekonomian tumbuh ke tingkat rata-ata 6 – 7 persen per tahun sejak 2004 dan tahun ini, bahkan dalam situasi kehancuran nilai kredit, tetap tumbuh sekitar 4- 6 persen. 

Memang, kita boleh tidak setuju dengan pemerintah Singapura yang menekan demokrasi. Banyak aturan, banyak reward, tapi banyak punishment-nya. Orang menyebut fine city, bukan negeri baik, tapi “negeri denda”. Tentu, itu hanya ledekan. Tapi bagi saya pribadi, lebih baik punya aturan ketat tapi jelas manfaatnya, daripada bebas tapi seringkali tidak bertanggungjawab. 

Saya hanya berutopia, kapan Jakarta bisa meniru Singapura. Jangankan punya subway yang di Singapura dikenal sebagai mass rapid transportation (MRT), mengatur busway saja tidak pernah beres, apalagi monorail yang tidak jelas juntrungannya. 

Tidak hanya dengan Singapura, kalau dibandingkan dengan kota-kota lain Jakarta sangat ketinggalan. Bahkan, hasil survei terhadap 16 kota besar di 16 negara di Asia Pasifik oleh Cushman & Wakefield, April 2008, belum merekomendasikan Jakarta sebagai kantor pusat regional perusahaan-perusahaan multinasional. Paling tidak, ada beberapa faktor yang harus dipenuhi agar Jakarta menjadi favorit perusahaan-perusahaan yang akan membuka kantornya di Indonesia.

Riset yang melibatkan 50 responden para eksekutif perusahaan multinasional tersebut menyebutkan bahwa Hong Kong termasuk negara yang paling layak sebagai kantor pusat regional. Ini karena sistem transportasi di sana yang baik juga gampangnya mencari staf dengan mempunyai skill yang memadai. Dan yang tak kalah penting adalah, letak Hong Kong sangat strategis sebagai ’pintu gerbang’ ke China.

Singapura juga yang sangat direkomendasikan. Selain sistem transportasi yang baik serta potensi SDM yang sangat terampil, Singapura ini belakangan dikenal dengan perkembangan sains dan teknologinya. Sebagain responden bahkan menempatkan Negara Singa ini sebagai pusat R&D (reaseach & development) di Asia Tenggara.

Yang menarik, beberapa responden memilih India sebagai tempat terbaik untuk berkantor. Lokasinya yang strategis di Asia, membuat kota-kota seperti Mumbai, New Delhi dan Bangalore, patut dipertimbangkan. Dua kota yang berpotensi di negara itu adalah Hyderabad dan Pune.

Jakarta sebetulnya bukan pilihan yang salah. Familiarity kota metropolitan yang sedang berkembang ini mendapat point 32% sebagai lokasi bisnis – mulai dari lokasi perkantoran, manufakturing, distribusi, maupun gerai penjualan. Memang masih jauh dibandingkan dengan Shanghai (79%), Singapura (61%), atau Hong Kong (58%). Tapi masih di atas Sydney dan Taipei (masing-masing 29%), apalagi Osaka (21%).

Saya gembira (tapi sekaligus pesimistis) ketika Pemerintah Provinsi DKI akan mendorong Jakarta menjadi kota jasa dengan segala potensi perdagangan, arus informasi dan komunikasi global yang saat ini dimilikinya. Faktanya memang perekonomian Ibu Kota masih didominasi sektor jasa, seperti keuangan, persewaan, serta jasa perusahaan, seperti perdagangan, hotel, restoran dan industri pengolahan. Ketiganya berperan sebesar 65,16 persen. 

Hanya saja, tidak mudah memang menyamai reputasi Singapura, Hong Kong, atau Shanghai. Masih banyak PR yang harus dibenahi agar Jakarta menjadi pilihan kantor pusat regional di masa depan. (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment