Friday, November 28, 2008

Dari Musisi hingga Seniman Tato


Zaman berubah, merek-merek pun berganti. Kegemaran generasi MTV tidak sama dengan kesukaan generasi sebelumnya. Merek tidak harus tercipta dari tangan seorang desainer mode, tapi lahir dari berbagai kalangan. Berikut adalah beberapa contoh merek yang melaju pesat, bahkan tidak mustahil meninggalkan legend brand.

GIRING Ganesha Jumaryo, 25 tahun, vokalis grup band Nidji, mengaku sebagai salah satu penggemar berat sepatu Onitsuka Tiger. Dulu, ia hanya mampu beli sepatu asal Jepang itu versi palsunya. "Setelah punya penghasilan sendiri, baru saya bisa beli aslinya. Selain itu, dulu belum ada toko yang menjual Tiger di Indonesia," ujar Giring yang biasa membeli Tiger di Singapura.

Karena itu, Giring tidak alang kepalang gembiranya ketika tahu sepatu favoritnya merek Onitsuka Tiger itu ada di Jakarta. "Baru satu tahun belakangan saya beli Tiger di sini," ujar pria berambut kribo itu usai pembukaan gerai Motion di fx, mal baru yang berlokasi di Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Juli lalu. 

Pembawa lagu Laskar Pelangi itu itu menyukai desain Tiger yang menurutnya unik dan nyaman dipakai. "Yang saya pakai ini dibuat hand made," tutur Giring yang memiliki lima Tiger. Dua di antaranya, selalu ia bawa setiap kali tur, agar ia bisa berganti-ganti sepatu saat manggung.

Tiger hanya salah satu brand pendatang baru yang berada di top of mind anak-anak muda sekarang. Kalau merek sepatu yang ada di benak Anda adalah Puma, Adidas, Reebok, Rockpot, tentu tidak salah. Tapi sekarang pada era generasi MTV, pilihan sepatunya lebih beragam, mereknya pun lebih variatif. Begitu pun dengan aparel pada umumnya.

Kalau Anda perhatikan anak-anak muda sekarang, jangan heran kalau menemukan merek-merek yang “asing” yang kedengaran asing – tapi sebetulnya tidak bagi para fashionista. Sebutlah True Religion, Evisu, Onitsuka Tiger, Harajuku Lover, K-Swiss, Ed Hardy, Royal Elastic, Christian Audiger, atau Paris Hilton. Merek-merek tersebut jelas bukan murahan, bahkan boleh dibilang untuk kantong ABG cukup eksklusif. Harga-harganya berkisar di Rp 800.000 ke atas.

Sebutlah Levi’s, memang benar, adalah merek jins yang legendaris. Tapi Anda akan dibilang “tidak gaul” kalau tidak mengenal merek True Religion, merek jins yang kini sedang digandrungi anak-anak muda Amerika, yang mungkin menjadi “agama baru” di sana.

Tidak hanya di AS, di era kemajuan TI di mana media internet dan TV mampu menyebarkan informasi seperti virus, merek-merek global itu tentu saja cepat mendunia. Kalau kita lihat tas belanjaan Ages Monica, misalnya, salah satu merek yang disebut di atas itu, pasti terselip. Nyatanya penyanyi muda yang sedang naik daun itu adalah penggemar merek-merek seperti True Religion, Harajuku Lovers, David & Goliath, dan lain-lain.

Bahkan Melly Goeslaw yang sering tampil aneh-aneh di panggung lebih pede memakai merek-merek seperti Royal Elastic, Christian Audiger, juga Ed Hardy. 

Gwen Stefani, David & Goliath
Waktu berganti, kesukaan akan barang dan merek pun berganti pula. Pencipta brand tidak harus seorang desainer, tapi bisa datang dari mana saja, mulai dari artis film, penyanyi, ikon dunia konsumsi, hingga seniman tato. 

Gwen Stefani adalah satu satunya. Setelah sukses dengan merek Lamb (2004), penyanyi eksentrik itu meluncurkan merek Harajuku Lovers (2005). Stefani terinspirasi mode jalanan Jepang yang berani saat melakukan perjalanan ke Tokyo pada tahun 1996, di mana ia sangat kagum dengan ekspresi diri dan gaya mode para remaja di sana. Kekaguman tersebut tidak hanya dituangkan dalam lagu "Harajuku Girls", tapi juga diwujudkan dalam sebuah fashion brand.

Insting bisnis Stefani tidak salah. Meski banyak orang meragukan bahwa ia bisa mendesain apalagi menjahit, toh gaya busana yang merupakan cerminan dirinya itu sukses di pasaran. Dibuat di Los Angeles, Harajuku Lovers tidak hanya pakaian, tapi juga tas, dompet, sepatu, aksesoris, bahkan alat tulis. Banyak selebriti yang mengenakan merek ini, di antaranya Silo Jolie-Pitt dan tentu saja putra Stefani, Kingston Rossdale.

David & Goliath, Anda tentu kenal dengan kisah tersebut, tapi di Amerika adalah salah satu merek fashion paling hot saat ini. Merek ini diciptakan oleh Todd Goldman pada 1999, awalnya berbasis di Florida, dan kini produknya tersedia di lebih dari 2.500 butik dan department store terkemuka di seluruh dunia.

Kekuatan David & Goliath terletak pada lukisan kartunnya yang unik, lucu, naif, tapi penuh rasa humor. Padanannya mungkin seperti T-shirt Dagadu asal Yogyakarta itu, tapi dipadukan dengan desain yang menawan, bukan sekadar kaus oblong. 

Menyasar pasar remaja, David & Goliath adalah fenomenal. Tidak hanya populer di Amerika, dengan dukungan pendistribusian utama di 15 wilayah di Negeri Paman Sam tersebut, tapi juga tersebar dengan baik untuk pasar global, mulai dari Kanada, Inggris, Yunani, Italia, Belgia, Belanda, Luksemburg, Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, Islandia, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Malaysia, serta Indonesia.

Seniman Tato
Kalau David & Goliath terkesan manis, apalagi pasar utamanya adalah remaja putri 16 – 24 tahun. Maka, Ed Hardy lebih “sangar”. Maklum, merek ini adalah hasil kolaborasi desainer Christian Audigier dan “The Godfather of Tattos” Don Hardy. 

Lahir di California Selatan 1945, Don Hardy adalah maestro tato terkenal, dengan spesialisasi tato tradisional ala Jepang. Penggemar karya-karyanya sangat luas, tidak hanya di AS tapi bahkan ke seluruh dunia. Tidak heran kalau kemudian Christian Audigier mengambil lisensi karya-karya Hardy untuk pakaian (2004).

Desain Ed Hardy sangat unik, dengan karakter penggunaan teknik campuran gambar-gambar yang menarik dan penggunaan warna yang lebih cerah. Koleksi ini menjadi sasaran untuk orang yang berani tampil beda dan mampu memperkuat kepribadian pemakainya. Merek yang sudah menjadi tren gaya hidup di Amerika ini banyak memikat artis Hollywood untuk mengenakan koleksinya. Mulai dari Madonna hingga Leonardo DiCaprio. Koleksinya tidak hanya terbatas pada T-shirt saja, tapi juga sepatu, kaca mata, perhiasan, jam tangan, dan bahkan energy drink.

Saat ini butik Ed Hardy tersebar di berbagai belahan dunia, mulai dari Waikiki, Dubai, Kuwait, Tel Aviv, Dallas, Miami, Los Angeles, Tucson, Houston, New York, San Francisco, Hamburg, Tokyo, Singapura, Noosa The Sunshine Coast, Melbourne, Sydney, Riga Gold Coast, Johannesburg, hingga Cape Town. (Burhanuddin Abe

Fashion Pro, Desember 2008

No comments:

Post a Comment