Sunday, November 16, 2008

Hidup Mewah di Apartemen Mewah


RUMAH memang penting, tapi rumah kini agaknya bukan sekadar tempat tinggal. Bagi kalangan berduit yang tinggal di kota-kota besar, hunian istimewa adalah hunian yang mempunyai fasilitas bintang lima, sekaligus praktis karena terletak di jantung kota. Dan itu hanya bisa didapat di apartemen mewah, yang belakangan bermunculan di Jakarta.


Bagi kalangan berduit dan mempunyai aktivitas padat, tinggal di apartemen mewah yang biasanya berlokasi di central business district (CBD), jelas sangat nyaman. Di samping tak perlu waktu banyak untuk mengatur ruangan yang kompak, semua urusan menjadi lebih gampang karena tersedia berbagai fasilitas, keamanan pastinya, serta pelayanan 24 jam layaknya hotel.


Bagi para eksekutif sibuk, single maupun yang sudah berkeluarga, tinggal di apartemen adalah pilihan yang tepat. Di tengah kehidupan modern yang selalu dinamis dengan mobilitas tinggi, apartemen yang berlokasi di tengah kota juga mempunyai akses mudah menuju pusat bisnis, perbelanjaan, dan hiburan, juga menjawab kebutuhan akan hunian yang strategis dengan segala kemudahan dan kenyamanannya.


Peluang itulah yang dimanfaatkan para pengembang untuk berlomba-lomba membangun apartemen mewah, bahkan super mewah! Apartemen super mewah – tepatnya kondominum yang dijual secara strata title – yang dimaksud adalah yang mempunyai luas sedikitnya 400 meter persegi. Harganya berkisar antara 1,5 – 2 juta USD per unit. Cukup mahal, namun bagi platinum society harga bukan menjadi masalah benar kalau yang dicari adalah kemewahan sekaligus kenyamanan.


Menurut catatan Provis, sedikitnya ada 6 (enam) kondominium yang tergolong super mewah di Jakarta. Yakni, Da Vinci (30 unit), Airlangga (40 unit), Four Seasons (60 unit), Pacific Place (60 unit), dan masih dalam tahap projek pembangunan yang diperkirakan selesai tahun 2010 adalah The Keraton (68 unit) dan St Regis (154 unit).


Ada beberapa hal yang mendorong pertumbuhan apartmen super mewah di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pertama, semakin diterimanya gaya hidup tinggal di rumah vertikal. Kedua, mempunyai apartemen super mewah menjadikan gengsi tersendiri.


Motivasi kebanyakan orang, selain untuk ditinggali, membeli kondominium juga untuk investasi. Bahkan berdasarkan data yang ada, umumnya mereka membeli apartemen tidak melulu untuk ditinggali, tapi lebih banyak sebagai investasi. Sebagian besar tujuannnya adalah untuk investasi seperti disewakan atau dijual lagi karena harganya akan selalu naik.


Hanya saja, khusus untuk apartemen mewah, tujuan untuk berinvestasi ini tidak terlalu relevan. Dengan harga beli yang tingi, tapi harga sewa maksimum 6.000 USD per unit per bulan, maka yield-nya terlalu kecil.


Memang, karena kondominium mewah tidak terlalu menarik untuk dijadikan investasi, dan hanya sebagai tempat tinggal yang prestisius, menjadi tantangan tersendiri bagi para pengembang yang menggarap pasar ini. Apalagi, target pasar yang dituju adalah pembeli lokal, karena masih ada pagar peraturan yang membatasi investor asing – tidak seperti di Singapura, misalnya, yang membolehkan warga negara asing untuk memiliki kondominium di sana.


Yang ditawarkan para pengembang selain lokasi yang stategis (biasanya terletak di CBD), tentu saja adalah kemewahannya (baik eksterior maupun interiornya), serta berbagai fasilitas yang lain – misalnya ketersediaan private lift, serta kelengkapan sarana yang lain. Pasar kondominium mewah memang sangat terbatas, maka laku atau tidaknya sangat bergantung pada konsep yang ditawarkan pengembang.


Sebetulnya dibandingkan dengan di negara-negara lain, harga kondominium mewah di Indonesia tidak terlalu tinggi. Paling tidak, kondominium mewah di Bangkok harganya bisa dua kali lipat dibanding kondomnium serupa dengan kualitas yang sama di Jakarta. Bahkan dibanding dengan Singapura, harga kondominium kita hanya sepersepuluhnya. Ini tentu berkaitan dengan kondisi makro masing-masing negara, yang tidak hanya berkaitan dengan infrastuktur, sarana dan prasarana, tapi juga kondisi perekonomian, sosial, serta iklim politik negara yang bersangkutan.


Nonny Subeno, partner, Residential Sales and Leasing, PT Property Advisory Indonesia (Provis)

No comments:

Post a Comment