Monday, November 17, 2008

The Infotainment Parliement



TIDAK hanya menghebohkan panggung hiburan, kehadiran selebiriti juga meramaikan kancah perpolitikan. Mereka berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi legislatif dan politisi. Sekadar memanfaatkan popularitas?

ITULAH fenomena kehidupan artis sekarang. Berita-berita di media infortainmen, koran, tabloid dan majalah, sekarang bukan membeberkan tentang percintaan, perselingkungan, perceraian atau pekawinan para selebriti, tapi aktivitas politiknya. 

Misalnya tentang sosok penyanyi dangdut Saipul Jamil. Bukan hanya berita tentang perceraiannya dengan Dewi Perssik. Kegiatan politik mantan suami penyanyi dangdut nan seksi itu sempat menghebohkan media masa. Saipul dilamar PPP untuk mendampingi Ruhyadi Kirtam Sanjaya Ketua DPC PPP menjadi wakil Walikota Serang dalam pilkada 8 Agustus 2008.

Hal serupa juga dilakukan oleh Primus Yustisio. Aktor ganteng itu maju menjadi salah satu kandidat wakil Bupati Kabupaten Subang. Primus diusung Partai Golkar dan PAN (Partai Amanat Nasional), Partai Demokrat, Partai Karya Pembangunan Indonesia dengan nomor urut dua. Dalam pilkada yang akan berlangsung bulan Novenber, suami Jihan Fahira ini mendampingi Aryumningsih. 

Bukan hanya di eksekutif, para selebriti juga masuk ke ranah legislatif. Berdasarkan data yang dimiliki ME ada sekitar 60 artis mendaftar menjadi caleg. Di antaranya, Bella Saphira (Partai Damai Sejahtera - PDS), Wulan Guritno (Partai Amanat Nasionalm - PAN), Luna Maya (PPP), Rieke Diah Pitaloka (PDI Perjuangan), Jaja Miharja (Partai Gerakan Indonesia Raya – Gerindra), Vena Melinda (Partai Demokrat), Rachel Mariam (Partai Gerindra), Wulan Guritno (PAN), Nurul Arifin (Partai Golkar), Denada (PPP), Ikang Fawzi (PAN), Marisa Haque (PPP), Wanda Hamidah (PAN), Gusti Randa (Partai Hati Nurasi Rakyat - Hanura) dan masih banyak lagi.

Jika ditarik ke benang demokrasi. Itu merupakan bentuk kesepakatan kita dalam menjalankan nilai demokrasi yaitu kebebasan berpolitik. Kebebasan berpolitik memberikan ruang besar pada semua lapisan masyarakat untuk menjadi caleg. Suka tidak suka ini juga merupakan konsekwensi dari kehidupan demokrasi. Bahwa semua warga negara berhak untuk ikut berpartisipasi dalam politik dan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Walau tidak mempunyai pengalaman politik dan menjadi kader partai.

Berangkat dari sini munculah puluhan partai politik dan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan harapan bisa menjadi peserta Pemilu 2009. KPU pun melakukan penyeleksian, hasil seleksi memutuskan ”hanya” 44 partai politik ikut Pemilu 2009. 

Berdasarkan data ada sekitar 12.198 caleg yang akan bertarung memperebutkan 560 kursi di DPR RI. Mereka itu tersebar di 77 daerah pemilihan. Dilihat dari jumlah caleg, angkanya cukup besar sementara kursi yang perebutan sedikit. Ini tentu akan menimbulkan persaingan ketat antar caleg, termasuk antara artis yang menjadi caleg. Jadi jangan heran, untuk bisa menang mereka pun rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Untuk beli spanduk, kaos, konsumsi, menemui konstituen ke daerah pimilihan dan membayar tim sukses. 

Walau tidak mempunyai latar belakang politik, para selebriti mempunyai semangat dan rasa percaya diri tinggi. Yakin akan terpilih menjadi anggota dewan perwakilan rakyat. Tapi sayang sebagian masyarakat masih mempertanyakan kredibilitas mereka. Apa mungkin, orang (artis) yang tidak pernah bersentuhan dengan politik dan tidak mempunyai pengalaman politik jadi wakil rakyat menjalankan amat rakyat secara benar?

Pertanyaan ini muncul karena rakyat sudah mulai kecewa dengan kinerja anggota DPR. Rakyat menilai, anggota legislatif hanya memikirkan diri sendiri dan kelompok tidak memikirkan negara dan rakyat. Terbukti, sebagian dari anggota dewan rakyat yang terhormat tersebut terlibat kasus korupsi. Mereka tidak peduli dengan kesulitan ekonomi yang sedang dialami rakyat. Menyedihkan sekali!

Pesimis pada Caleg Artis
Apa mungkin seorang artis bisa menjadi wakil rakyat? Pertanyaan yang menggelitik. Maklum, karena artis identik dengan kehidupan wah, hedonis dan gonta-ganti pasangan atau kawin cerai. Paing tidak itulah yang tertangkap di tayangan-tayangan infotainmen. Yossan Afriadi, bapak dua anak, warga Depok Timur, Jawa Barat, midalnya, mempunuai pandangan tersendiri. ”Artis jadi caleg bagi saya sah-sah saja yang penting punya skill dan mampu. Tidak asal ikut-ikutan.”

Di balik penilaian miring tersebut, Ikang Fawzi, rocker 1980-an meminta masyarakat tidak melecehkan caleg dari kalangan artis. "Jangan lecehkan kami! Banyak yang tidak sadar, bahwa artis punya potensi luar biasa, mereka mampu menjadi komunikator yang baik," kata caleg dari PAN ini. 

Suami artis dan politisi PPP Marissa Haque itu menambahkan, "Setiap produk membutuhkan entertainment, produk sosial saja butuh entertainment, begitu juga produk politik. Kalau setiap hari di DPR ada infotainmen, nanti akan menjadi politiktainmen," ujar pria yang sedang menempuh Magister Management di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 

Ikang menambahkan, "saya telah menyiapkan tiga perangkat pintu masuk menjadi anggota legislatif, yaitu visi, acceptability, dan responsibility. Soal visi, artis selama ini selalu memberikan sesuatu sesuai permintaan, begitu juga menjadi politisi, memberikan sesuatu sesuai kebutuhan masyarakat. Acceptability, bagaimana masyarakat menerima kehadiran kita dan responsibility, bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakan." 

Hal serupa disampaikan oleh Wanda Hamida, tidak semua caleg artis mempunya track record yang buruk. ”Jauh sebelum menjadi politisi saya sudah aktif di dunia pergerakan mahasiswa dan kegiatan sosial. Masyarakat sudah merasakan langsung dari kegiatan sosial politik saya,” ujar mantan presenter Metro TV ini.

Wanda menambahkan, tidak ada jaminan caleg yang mempunyai latar belakang politik kinerjanya bagus. Buktinya, anggota DPR sekarang banyak terlibat korupsi. Melihat fenomena itu Lili Romli, pengamat politik dari Universitas menjelaskan, sejauh mana mereka bisa menunaikan kewajiban dalam menjalankan mandat rakyat? Layakkah mereka untuk diharapkan membawa Indonesia ke arah kehidupan sosial, politik dan ekonomi yang lebih baik? Sulit menemukan jawaban memuaskan untuk pertanyan-pertanyaan itu. Yang bisa dilakukan hanya melakukan sejumlah dugaan. Semoga mereka mampu. 

Motivasi Jadi Caleg
Kehadiran DPR seperti sebuah magnet yang mampu menarik banyak orang. Itulah yang terjadi sekarang, dengan segala kelebihan yang dimilikinya kursi DPR menjadi barang mewah yang direbutkan banyak orang. Puluhan ribu rakyat Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Jika ditanya tentang motivasi untuk mendapatkan kursi DPR. Setiap caleg mempunyai jawaban meragam.

Misalnya Meutya Hafid, presenter Metro TV, caleg dari Partai Golkar. “Meski minim pengalaman politik, tapi saya paham tentang politik dan pembangunan. Dunia yang saya geluti berhubungan langsung dengan politik. Setiap hari saya mengupas permasalahan-permasalahan politik dan bertemu tokoh politik,” ujar Meutya. Ia menambahkan, “tujuaan saya masuk parlemen agar bisa berpesan lebih besar dalam pembangunan. Perubahan lebih cepat dilakukan dari dalam daripada di luar. Untuk jangka pendek saya akan mengembalikan citra dan fungsi DPR.” 

Begitu juga dengan Wanda Hamidah, “saya bisa membuat undang-undang atau menjalankan visi-misi secara penuh, karena kekuatan yang saya miliki semakin kuat,” tutur mantan aktivis kampus 1998 yang sempat menjadi artis ini. Wanda menambahkan, “saya ingin menata Jakarta menjadi lebih bagus tidak semrawut seperti sekarang. Sampai sekarang masalah transportasi kan tak kunjung usai?” keluh caleg PAN untuk DPD DKI Jakarta ini 

Ikang Fawzi punya pandangan yang hampir sama. Banyak hal yang menyebabkan rocker yang dikenal lewat lagu Preman itu masuk politik. Salah satunya karena pengaruh lingkungan. Sebelum reformasi, Ikang sempat diminta Amien Rais mengumpulkan artis untuk berdikusi dengannya. Semenjak itu terjalin hubungan yang baik dengan Amin Rais. Tapi saat itu ia belum mempunyai orentasi ke politik, masih ingin jadi seniman dan pelaku bisnis.

Tahun 2003 bersama Dede Yusuf ia diminta PAN jadi legislatif. Ketika itu secara mental ia belum mantap. Ia menilai, masih banyak orang yang hebat darinya. Baginya politik merupakan pilihan terakhir. Akhirnya ia tetap memutuskan jadi pelaku bisnis.

Ikang menambahkan, “masalah sosial, hukum dan ekonomi belum memuaskan masyarakat. Pengalaman yang saya miliki, saya rasa sudah cukup untuk ikut berpartisipasi di legislatif. Kebetulan saya artis, jadi saya dipinang. Sebelumnya, saya juga pernah dipinang PAN untuk jadi Wali Kota Tangerang,” ujar caleg PAN – daerah pemilihan Banten. 

Caleg Instan
Bukan hanya partai baru, Pemilu 2009 mendatang akan diramaikan caleg artis yang terkesan instan. Publik berharap, kehadiran mereka mampu memperbaiki kondisi negara. Sekurang-kurangnya bisa memperbaiki citra legislatif. Namun tidak semudah yang dibayangkan. Indonesia hanya bisa dibenahi oleh orang yang punya integritas dan nasionalisme. Tidak mungkin oleh wakil rakyat yang tidak punya integritas dan nasionalisme.

Leo Nababan, Koordinator Bidang Pemenang Pemilu Sumatra Utara dan Nangroe Aceh Darusallam meragukannya, “untuk melahirkan caleg berkualitas kita harus melakukan pengkaderan. Selain itu kita juga harus memperhatikan kredibilitas, track record, moralitas, ketaatan pada Nenaga Kesatuan Republik Indonesia, UUD 1945 dan kemampuan sebagai legislator.”

Leo menambahkan, yang tak kalah penting adalah pemahaman tentang kepemimpinan. Para caleg harus dididik tentang kepemimpinan. Ini banyak tidak diperhatikan partai politik. Padahal itu masalah krusial. Partai adalah tempat penggodokan dan pembibitan kader-kader bangsa. “Jangan seperti sekarang, untuk mendongkrak suara menggunakan popularitas artis.” 

Menurut Leo, selain kemampuan dan uang, para legislator harus paham tentang teori ketatanegaraan. Agar kesenjangan antara aspirasi dengan pengambil keputusan tidak terlalu jauh. “Saya pernah menemani Pak Agung Laksono ke Cina. Di sana, untuk sampai menjadi anggota politbiro partai mereka dikader selama 15 tahun. Sementara di kita cuma beberapa minggu. Pembibitkan kader harus dimulai sedini mungkin. Tidak pas mau pencalonan saja, setor uang terus masuk jadi caleg. Caleg harus disiapkan jauh hari dan by design,” tambahnya. ”Bukan hanya karena punya uang dan hubungan khusus dengan tokoh politik terus bisa jadi caleg. Cara seperti itu akan menimbulkan kesan instan. Sesuatu yang bersifat instan bisanya tidak bagus,” tambahnya. 

Menurut pengajar pasca sarja ilmu politik Universitas Indonesia, Lilir Romli, kehadiran artis merupakan bentuk politik instan. Mereka digunakan partai hanya untuk mendulang suara. Begitu juga sebaliknya, artis juga memanfaatkan kepopuleran untuk terjun ke politik dan menjadi pejabat publik. ”Meski demikian, caleg instan harus dilihat kapasitasnya. Terutama dalam hal kemampuan berorganisasi, mengartikulasikan kepentingan di tengah masyarakat akar rumput, serta kapasitas berbicara di tingkat elite partai, media masa, maupun elite lokal,” ujar Lili saat di temui di sekretariat pasca sarjana ilmu Politik Indonesia, Salemba Jakarta.

Hal itu dibantah oleh Wanda Hamidah, tidak semua artis seperti itu. Sebagian artis juga punya kemampuan dalam berpolitik dan berorganisasi. Kemampuan yang mereka miliki tak kalah dengan para politisi. ”Saya sudah berorganisasi sejak dari mahasiswa, saya masuk PAN sudah 10 tahun. Saya menduduki jabatan penting di PAN dan terlibat dalam berbagai keputusan partai,” tambah Wanda.

ME - November 08

No comments:

Post a Comment