Wednesday, November 12, 2008

Menangguk Rezeki dari Pesta Perkawinan


Keterbatasan waktu membuat orang-orang mempercayakan penyelenggaraan resepsi perkawinan kepada ahlinya. Itu sebabnya, bisnis wedding organizer (WO) – wedding planner (WP) kini marak, bahkan tidak mengenal resesi. Hi-end party juga mulai mendapat tempat di Indonesia, kalau tidak mana mungkin seorang Preston Bailey asal Amerika mengembangkan sayapnya ke sini. 

Burhanuddin Abe

BISNIS jasa penyelenggaraan pesta perkawinan – atau sering disebut sebagai wedding organizer (WO), kini makin marak.   Sejumlah penyedia jasa, mulai dari WO sendiri, penyedia jasa dekorasi, katering, kue pengantin, gaun pengantin, cendera mata, jasa fotografi, hiburan termasuk MC (master of ceremony) dan wedding singer, bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Tak terhitung berapa kali mereka ikut wedding exhibition, baik di hotel maupun di mal, yang frekwensinya makin lama makin bertambah. Ini memang menunjukkan betapa gurihnya bisnis penyelenggaraan pesta pernikahan akhir-akhir ini dan tidak terkira uang yang berputar di sini. Sebuah hajatan perkawinan di sebuah hotel berbintang yang melibatkan banyak pihak, menurut sumber SWA, menelan dana antara Rp 600 juta hingga Rp 2 miliar.

Di Jakarta saja, ketika musim kawin tiba, terutama di bulan-bulan yang berakhiran “ber”, kecuali Ramadhan dan Lebaran, setiap akhir pekan (Jumat, Sabtu dan Minggu) ada saja orang yang merayakan pernikahan. Balai-balai atau hall di hari-hari itu selalu penuh, ballroom hotel-hotel demikian pula – bahkan tak jarang satu hotel yang bisa menyelenggarakan dua hajatan sekaligus pada waktu yang bersamaan.

Hotel-hotel berbintang lima yang laris dipakai resepsi perkawinan saat ini adalah Hotel Mulia, Grand Melia, JW Marriot, Dharma Wangsa, Grand Hyatt, Nikko, dan Four Seasons, Ritz-Carlton (Mega Kuningan), atau Ritz-Carlton (Pacific Place). Mereka rata-rata bisa menampung 1.000-2.000 tamu, sedangkan yang paling luas saat ini dipegang oleh Ritz-Carlton Pacific Place yang mempunyai luas 3.000 m2 (bisa menampung 5.000 tamu untuk standing party). Begitu larisnya venue-venue tersebut, sehingga mempelai harus reserve enam bulan sebelumnya.

Wedding of The Year
Pesta pernikahan paling megah tahun ini siapa lagi kalau bukan pesta pernikahan Adinda Bakrie, putri pemilik PT Lapindo Brantas, Indra Bakrie, yang diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta, 24 Juli lalu. 

Pesta yang sangat megah itu dihadiri oleh tamu-tamu VIP, mulai dari pejabat negara, para pengusaha papan atas, para diplomat negara-negara sahabat, serta para sosialita Jakarta. Tak kurang dari Wakil Presiden Yusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardoyo, hingga Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa. 


Di kalangan sosialita ada Wulan Guritno, Dian Sastrowardoyo Dian Sastrowardoyo, Manohara Pinot, Janna K Soekasah, Amanda Soekasah, Indah Saugi, Elsa Kurniawan, Vashty Soegomo, Renny Sutiyoso, Ronald Liem, Rachmat Harsono, Livia Prananto, Fitria Yusuf, Tirza Tabitha, Jessica Nathalie, dan lain-lain. Wajah mereka inilah yang kerap menghiasi majalah-majalah gaya hidup.

Adinda memang termasuk dalam sosialita di negeri ini. Ia memiliki selera yang tinggi dalam segala hal, baik berupa barang maupun penampilan. Tak heran kalau resepsi pernikahannya juga diselenggarakan dengan selera high class. 

Meriahnya pesta tersebut sudah dimulai sejak gerbang hotel. Jajaran karangan bunga berdesakan di kiri kanan jalan masuk menuju pintu lobi sebelah utara. Kemegahan pun lengkap di ruang pesta. Tiga ballroom Hotel Mulia dijadikan satu dengan 15 lampu kristal ukuran besar bergantungan di atap. Pasangan mempelai duduk di pelaminan yang mewah. 

Sejumlah artis papan atas ikut meramaikan pesta tersebut. Vina Panduwinata, Christopher Abimanyu, Memes, dan Mike Indonesian Idol bergantian menyuguhkan penampilannya di atas pentas. Semua diiringi puluhan musisi yang tergabung dalam Twilight Orchestra. Pesta perkawinan yang antara lain memakai adat Lampung itu konon menghabiskan Rp 10 miliar.

Tapi itu baru tahap awal. Sebab pesta kemudian berlanjut secara lebih eksklusif di Le Meridien, Nirwana Resort, Bali, 12 Agustus lalu. Kali ini, resepsi pernikahan antara Adinda dan Seng-Hoo Ong, seorang manajer keuangan, putra dari salah satu keluarga terkaya di Singapura itu berlangsung tertutup. Artinya, pers dilarang masuk, dan para tamu pun harus rela di-screeninghandphone, sudah pasti, tidak boleh dibawa masuk. terlebih dahulu. Kamera dan 

Semua ini ini dilakukan, karena keluarga Bakrie tak ingin eksposure yang berlebihan di media seperti yang terjadi di Hoel Mulia Jakarta sebelumnya. Apalagi, pesta resepsi yang kedua tersebut tak kalah hebohnya, baik dari segi kemegahannya maupun besaran bujetnya tentu saja. Pesta tersebut memakai jasa organizer top asal Amerika, Preston Bailey, yang biaya konsultasinya saja dihargai Rp 3 miliar. Sementara untuk merealisasikan ide Bailey perlu melibatkan empat WO papan atas Indonesia – untuk urusan tamu-tamu VIP. 

Tidak terungkap berapa biaya pesta yang menghadirkan 350-an tamu itu. Apalagi, yang terlibat dalam hajatan tersebut dilarang (dengan pernyataan tertulis di atas materei) membuka rahasia, termasuk membocorkan biayanya tentu saja. Tapi yang jelas, resepsi tersebut dirancang sangat serius dan teliti. Untuk dekornya saja sudah disiapkan dua minggu sebelumnya, karena setiap detilnya tidak boleh ada yang salah. 

Untuk suguhan hiburannya tidak kalah dengan resepsi sebelumnya di Jakarta. Sebab, artis-artis yang ditanggap tergolong kelas berat, yakni Tiga Diva (yang terdiri dari trio penyanyi papan atas; Kris Dayanti, Titi DJ, dan Ruth Sahanaya), Mike Idol, dan Anggun C. Sasmi yang konon dibayar Rp 600 juta!

Hi-End Party
Yang terang, pesta pernikahan berbiaya tinggi bukan monopoli Adinda Bakrie. Di Bali sendiri sudah tidak terhitung, baik dari kalangan selebriti Indonesia maupun dunia, yang menyelenggarakan resepsi perkawinan mewah. Demikian pula di Jakarta, wedding party untuk kategori hi-end mulai menjadi tren di kalangan kaum berduit.

Paling tidak itulah yang terjadi pada sesepsi pernikahan Prajna Murdaya (32), putra dari pasangan pengusaha Murdaya Widyawimarta Poo - Hartati Murdaya, orang terkaya di Indonesia ke 13 versi Forbes dan Irene Tedja (32), putri pasangan Alexander Tedja-Melinda Tedja (pemilik Pakuwon Group), orang terkaya ke 40 di Indonesia versi Globe Asia, April lalu. Pesta pernikahan bagi kalangan atas bukan lagi sekadar acara pernikahan biasa, tapi sudah menjadi ritus pencitraan baru. 

Ya, pencitraan yang berujung pada tumbuhnya bisnis penyelenggaraan pernikahan. Pemain dalam bisnis ini memang mulai banyak bermunculan, salah satunya Engelbertus Emil Eryanto, atau yang biasa disapa Emil, yang dikenal sebagai WO pernikahan kelas atas. "Sebenarnya karena awalnya menangani pernikahan yang lumayan besar dan terus menerus diikuti oleh acara dengan tingkat yang sama, maka saya banyak dikenal sebagai WO untuk kelas atas," jelasnya. 

Berbekal pengalaman di dunia modeling dan MC, Emil memberanikan diri untuk membentuk usaha event organizer (EO) dan WO bernama Multi Kreasi Enterprise (MKE) pada 1998. Sebelum mendirikan MKE, Emil juga bekerja di salah satu EO milik orang lain, tapi melihat potensi yang juga besar di bidang ini, akhirnya ia memutuskan untuk memiliki usaha sendiri. 

Emil dikenal sebagai WO yang memiliki cara kerja yang sistematis dan detail yang baik, tak heran pasangan Prajna Murdaya - Irene Tedja, misalnya, memilihnya untuk menyukseskan acara pernikahan yang digelar di Jakarta International (JI) Expo Pekan Raya Jakarta. 

Selain WO, Emil lewat usahanya MKE juga menawarkan jasa EO dalam menangani acara product launching, misalnya, tapi dari portfolio kerjanya lebih banyak menangani pesta pernikahan. Salah satu acara di luar pernikahan yang pernah ditangani MKE adalah peresmian album rekaman SBY yang digelar dengan suasana meriah beberapa waktu lalu.

Sebagai WO, Emil menangani semua hal termasuk kerjasama dengan vendor-vendor yang digunakan dalam suatu pernikahan, mulai dari dekorator, florist, desainer baju pengantin dan tata rias. Untuk gaun pengantin, misalnya, yang direkomendasi adalah kreasi Anne Avantie, Biyan, Eddy Betty, Sebastian Gunawan, atau The Link. Tentu tidak menutup kemungkinan bahwa sang mempelai lebih suka rancangan desainer top dunia, sebutlah Vera Wang, Christian Lacroix, Carolina Herrera, Dior, atau Vivienne Westwood. Jangan tanya harganya, kalau buatan lokal sekitar Rp 30-40 juta, rancangan desainer internasional bisa tembus seratus juta rupiah. Harga itu akan semakin berlipat jika calon pengantin memesan khusus gaun yang bukan dari kategori siap pakai.

Tapi yang terang, apa pun vendor yang dipilih, Emil menyerahkan semua keputusan tersebut kepada yang punya gawe. "Tapi saya juga selektif dalam menyodorkan nama vendor kepada pengantin, karena nantinya akan bekerjasama dengan kami," jelasnya. Lebih lanjut, Emil mengatakan bahwa kerjasama yang ia lakukan murni hanya menghubungkan vendor dengan tuan rumah, di mana ia tidak lagi mengutip tambahan biaya dari tiap vendor yang ia gunakan untuk tambahan pendapatan baginya.

Untuk mendukung kelancaran acara pernikahan, Emil tak segan-segan mempelajari segala seluk beluk prosesi pernikahan pada adat yang berbeda-beda. Mulai dari adat Solo, Yogyakarta, Sunda, Minangkabau, hingga adat dari budaya asing. Emil menganggap usahanya sebagai WO ketimbang wedding planner (WP). "WP merencanakan konsep dari nol hingga matang, sedangkan WO menjalankan konsep yang sudah jadi tadi agar berjalan lancar," jelasnya. 

Mengenai bayaran yang diterima olehnya, Emil enggan untuk mengatakan dengan jelas, tapi ia mengakui bahwa dibandingkan WO lain, MKE memiliki standar harga yang lebih tinggi. "Di tengah persaingan yang ketat, saya tidak mau ikut-ikutan menurunkan harga, karena ini terkait dengan cara saya menghargai cara kerja saya dan tim," ujarnya.

Selain itu, kapasitas kerja, tingkat kesulitan acara, waktu kerja yang dijalankan, bahkan siapa konsumen yang meminta bantuannya menjadi variabel lain yang Emil gunakan dalam menentukan harga yang ia tawarkan. "Tapi saya tidak membeda-bedakan standar kerja kepada konsumen karena perbedaan skala pestanya, bagi saya mewah itu relatif," ujarnya. 

Dengan bantuan tenaga honorer lebih dari 30 orang, Emil pernah menangani pesta pernikahan dalam setahun hingga 200 acara. Kadang dalam satu hari ada dua pesta yang mereka tangani sekaligus. Bagi Emil, keberadaan WO saat ini semakin dibutuhkan, terlebih bagi para profesional maupun pengusaha waktunya terbatas. "Di sinilah peran WO yang memiliki waktu lebih dalam menghubungkan antar keluarga dan mengurangi tingkat stres yang ditanggung pasangan agar bisa menikmati acara pernikahan," ujarnya. 

Selain itu, WO juga bisa menjadi jembatan komunikasi antara kedua keluarga yang terkadang terhinggap perasaan segan jika ingin menanyakan sesuatu. "Contohnya, dalam menentukan menu makanan, warna dan bentuk dekorasi, maka kami menjadi penengah tanpa menjadikan salah satu keluarga disisihkan," ungkapnya.

Kagak Ade Matinye!
Organizer lain yang dikenal kerap menyelenggarakan hi-end wedding party adalah Tiara Josodirdjo & Associates. Tempat kerjanya berlokasi di kawasan Senopati Jakarta, menempati sebuah rumah besar yang dipakai bersama dekorator bernama Stupa Caspea. 

Perempuan yang memulai usaha WP dan WO secara bersamaan ini telah memiliki nama di kalangan pengusaha. Bentuk hajatan pernikahan seperti pesta resepsi anak Angky Handoko, mantan presiden direktur Indosiar dengan 5.000 undangan, misalnya, telah menjadi pekerjaan yang biasa bagi Tiara dan timnya. "Tim inti kami memang tidak banyak, yang pasti ada weddingmanager, wedding specialist, akuntan, dan sekretaris. Selebihnya pekerja paruh waktu yang kita gunakan pada hari H," ujarnya. 

Tiap pesta pernikahan memiliki project manager sendiri, dan Tiara tidak tidak ikut terjun langsung, tapi mengambil peran konseptor. Untuk mengelola acara yang sedemikian besar, ditambah dengan keharusan mengoordinasi vendor yang ikut serta dalam acara tersebut. "Tentu perlu totalitas, serta jam terbang yang tinggi untuk bisa menyelenggarakan acara besar dengan sukses," ujarnya.

Tiara terjun ke bisnis WO bermula dari ketidaksengajaan. Sewaktu Tiara dan suaminya menikah tahun 1996, mereka dibantu oleh Kristin Soerjadjaja, istri Benjamin Soerjadaja yang merupakan salah satu dari tiga serangkai pendiri grup Astra International di luar William Soerjadjaja dan Tjia Kian Tie. Kristin pun membantu dalam merencanakan konsep hingga pelaksanaan pesta pernikahan. "Dari sana saya merasa, kok terbantu sekali. Lalu saya coba ikut belajar dan membatu Bu Kristin walaupun belum berbentuk usaha resmi," ujarnya. 

Dari bantu membantu inilah, ternyata banyak koleganya yang mempercayakan kepadanya hingga ia kewalahan. "Dulu saya dibayar untuk mengurusi pesta pernikahan dengan imbalan tas Gucci-Prada atau kain batik," ujarnya mengenang masa lalu. Sang suami menasehatinya agar menjadikan pekerjaan membantu teman-temannya dalam urusan pernikahan menjadi bisnis yang serius, jadilah ia seperti sekarang ini. 

Tiara dikenal sebagai WO sekaligus WP, "Kami menerapkan konsep A sampai Z dalam menangani pesta pernikahan," ujarnya. Maksudnya, Tiara dan timnya akan membantu pasangan mulai dari perencanaan konsep acara, memilihkan vendor yang cocok, hingga pelaksanaan pesta. Untuk tiap pesta persiapannya bisa memakan waktu 8 bulan hingga 1 tahun. Oleh karena itu, Tiara pun dalam satu bulan biasanya menerima pesanan yang lebih sedikit dibandingkan dengan WO lainnya. "Tidak sebanyak Emil," ujar wanita yang pernah bekerja dalam usaha berlian (jewelry) di salah satu anak usaha Grup Salim itu, merendah. 

Tiara mempunyai rumus sendiri dalam pekerjaannya, "Dalam menangani pernikahan dari awal, 40% itu perencanaan konsep, 30% meneruskan konsep dengan menghubungi vendor dan 30% adalah eksekusi di hari H," jelasnya. Karena memakan porsi terbesar, maka aktivitas perencanaan menjadi hal yang penting, mulai dari penentuan desain baju, makanan, konsep acara, ambience hingga detail lainnya. "Malah, jika pengantin wanita jerawatan kadang saya juga ikut repot sendiri membantu dia," ujar Tiara yang bersama beberapa temannya sedang mengembangkan usaha spa di Jakarta itu, sambil tertawa.

Tidak hanya internasional, resepsi perkawinan tradisional pun ia kerjakan juga, meski porsinya tak lebih dari 40%. Ketika ditanyakan fee atas jasa yang ia kerjakan, Tiara enggan untuk membeberkannya, "Semua tergantung tingkat kesulitan, detail dan tanggung jawab yang kita ambil," jelasnya diplomatis.

Walaupun tidak pernah beriklan, Tiara dan timnya tidak pernah sepi dari order. Beberapa bulan ke depan, dirinya akan disibukkan dengan pernikahan anak Bambang Sumantri, serta anak Aksa Mahmud "Belum termasuk acara perusahaan yang menunggu di akhir tahun juga banyak," jelasnya.

Begitulah, meski harga BBM naik, resesi dunia mengancam, inflasi meningkat, meminjam kata seniman Benjamin Sueb (almarhum), bisnis penyelenggaraan pesta perkawinan kagak ade matinye! 

(Reportase: Fadlly Murdani)

SWA, November 2008

No comments:

Post a Comment