Wednesday, December 24, 2008

Anomali Bisnis F&B


SENJA jatuh di Jakarta. Jalanan di jam sibuk tersebut, seperti biasa, macetnya luar biasa. Inilah saatnya para yuppies Jakarta berhenti sejenak di suatu tempat sambil menunggu jalanan sedikit lengang. Social House, bukan, bukan tempat yang dikelola oleh LSM, seperti “rumah singgah”, misalnya. Tapi yang satu ini kini identik sebagai tempat nongkrong yang asyik saat ini. Sebuah restoran, bar, dan wine shop terbaru, yang terletak di Grand Indonesia, East Mall, lantai satu, tepatnya di dalam gerai Harvey Nichols. Yang menawan adalah view-nya, Budaran HI, lokasi paling strategis di Jakarta.

Social House hanya salah satu. Kini tidak terhitung bar-bar khusus bagi penikmat anggur, dan makanan tentu, di Jakarta. Ada venue khusus yang menyediakan wine, yang bisa dinikmati di tempat atau dibawa pulang. Ada juga konsep restoran dan wine lounge, dengan sofa-sofa modern dan cantik. Ada live music yang membuat venue tersebut sebagai tempat hang out yang mengasyikkan.

Yang jelas, wine kini lebih dari sekadar social drink, dan pasarnya memang berkembang pesat di Jakarta. Itu sebabnya, tempat-tempat minum wine kini makin banyak tersedia. Vino Embassy, Connoiseur, Cork & Screw, Vin+, Oyster, Cheese & Caviar, Portobello, Loewy, untuk menyebut beberapa nama.

Bar-bar ini mengakomodasi kebutuhan minum wine kaum urban (biasanya berusia 25 – 45 tahun) yang mulai menjadi kebiasaan, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup baru. Saat kesibukan semakin padat, bar-bar tersebut hadir dengan fasilitas kelas atas, yang membuat kaum urban bisa menikmati hidup.

Yang menarik, faktanya, tidak murah untuk berinvestasi di wine bar, setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 3,5 – Rp 6 miliar. Itu belum termasuk sewa tempat yang biasanya berada di kawasan elite Jakarta, kalau tidak di central business district Jakarta, pastilah di seputar Kemang. Kalau dihitung dengan persediaan wine-nya sudah pasti akan lebih besar lagi, sedikitnya Rp 300 juta, bahkan gerai yang sekaligus distributor, harus menyediakan dana tak kurang dari Rp 20 miliar untuk stok wine.

Selain Social House, wine bar yang paling hip saat ini adalah Loewy. Berlokasi di Oakwood, kawasan Mega Kuningan Loewy tampil catchy layaknya bistro-bistro ala Prancis yang bertebaran di New York, dengan interior bergaya retro tahun 1940-an yang diolah menjadi bernuansa modern. Mulai dari kursi-kursi Thonet yang khas, dinding batu bata berwarna putih, hingga langit-langit tembaga, semua melebur menjadi satu kesatuan.

Bukan hanya melalui tempatnya, Loewy juga menciptakan sesuatu yang exciting lewat makanan dan minuman yang disajikan. Hanya saja, untuk mendapatkan tempat duduk di sini tidak mudah. Apalagi, Loewy menjadi tujuan utama pada pencari hiburan di Jakarta saat ini. Pada jam-jam tertentu antrean pengunjung lumayan panjang, sehingga harus bersabar untuk mendapatkan kursi.

Kalau melihat fakta ini seperti anomali. Kita sering mendengar dari para pakar, bahwa krisis finansial yang melanda AS, tidak ayal lagi, menyebar ke bagian dunia yang lain, tak terkecuali Indonesia. Tidak hanya dalam sektor finansial, seperti perbankan dan pasar modal, tapi juga sektor riil, termasuk sektor bisnis wine, atau secara lebih luas, F&B.

Pengamat ekonomi Aviliani – yang belakangan menambahkan namanya dengan “Simatupang” alias “siang malam menunggu panggilan seminar”, mengatakan meski kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga tahun 2008 tercatat masih baik, namun terdapat indikasi perlambatan serta signifikan pada tahun 2009 seiring dengan adanya krisis ekonomi global.

Bagaimana tidak, industri perbankan nasional yang tadinya dapat menyalurkan kredit properti, kini harus berpikir ulang untuk meneruskan proyek bantuannya. Sementara dari sisi bunga, saat ini sedang tidak kondusif bagi bisnis apa pun. Tapi kita melihat bahwa bisnis makanan dan minuman masih tetap marak di Indonesia.

Plaza-plaza bertumbuhan, mal-mal bermunculan, dan yang mereka garap pertama kali adalah F&B – bukan department store atau yang lainnya. Foodcourt dibangun semenarik mungkin agar pengunjung bisa berbondong-bondong datang. Resto-resto tidak sekadar berkutat di makanannya saja, tapi mendandani atmosfernya agar terlihat unik dan punya diferensiasi dengan yang lain.

Mengapa bisnis F&B menarik? Jawaban bodohnya, mungkn kita bisa pinjam dari pengusaha Bob Sadino, yang mengoperasikan Kem Chick’s, pasar swalayan modern pertama di Indonesia. “Selama (maaf) pantat manusia masih bolong, bisnis makanan tetap menarik,” katanya. Logikanya, orang pasti membutuhkan makanan, dan yang bisa menyediakan kebutuhan tersebut adalah resto, kafe, atau pengusaha yang bergerak di bidang F&B.

Yang jelas, bisnis makanan memang tergolong usaha yang sangat menjanjikan. Beberapa pengusaha restoran, misalnya, bahkan berani mengklaim bahwa laba bisnis ini sangat besar, bisa mencapai 150% atau lebih. Bukan main!

Tentu, untuk mencapai pendapatan sebesar itu tida semudah membalik telapak tangan. Hanya restoran yang sudah sukses menjaring pelanggan. Boleh jadi karena yang dijual sesai dengan selera maupun kebutuhan pasar. Berikutnya adalah karena faktor-faktor penunjang lainnya, seperti lokasi yang strategis, harganya yang sesuai dengan target pasar, dan lain-lain.

Tidak mudah memang terjun ke bisnis F&B. Kita yang tidak bersentuhan langsung dengan bisnis tersebut, hanya menangkap fakta permukaannya saja. Fun dan hura-huranya saja. Tapi bukankah bisnis F&B yang berkaitan dengan lifestyle dasarnya memang demikian. Meminjam kredo orang-orang yang terjun ke bisnis hiburan, “There’s no business like F&B biz!” (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment