Thursday, February 26, 2009

Available in Any Size!


MEMASARKAN busana pria eksklusif super mewah memang menyimpan cerita tersendiri. Hal ini meliputi kelas sosial, kondisi psikografis dan gaya hidup konsumen yang patut dipelajari. Ada anggapan, membeli sebuah trend busana tak sekadar menikmati fungsinya, tapi juga membeli sebuah gaya hidup.

Perkembangan mode dan tuntutan penampilan menjadikan busana bagian dari kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita, namun juga pada kaum pria. Sementara itu, berbagai model busana terkini membuat konsumen pria lebih selektif untuk memilih yang terbaik. Setidaknya hal ini diamini oleh Irawati, Public Relations Manager PT Busana Perkasa Abadi (BPA), pemegang beberapa merek top seperti Ermenegildo Zegna, Versace, Versus, dan GF Ferre.

Memang, perusahaan di Indonesia yang berbasis busana pria tak sebanyak perusahaan yang menekuni busana wanita. Apalagi khusus busana pria eksklusif. Mitos di masyarakat, lebih mudah menjual busana wanita ketimbang busana pria. Alhasil, muncul anggapan jika wanita lebih gemar bersolek daripada pria, sehingga menetaskan citra bahwa wanita lebih modis ketimbang pria. Benarkah? Tidak juga!

Sebenarnya, konsumen pria jauh lebih kalem ketimbang wanita. Dalam memilih sesuatu, mereka lebih cepat memutuskan. Hal ini tentu lebih menguntungkan daripada konsumen wanita yang jauh lebih selektif. Bahkan, ada anggapan jika kaum pria lebih impulsif, sehingga menjual busana pria lebih mudah dan menguntungkan. Sementara itu, kaum wanita melihat dari semua aspek dalan keputusannya untuk membeli, seperti potongan merek, potongan harga, model, warna, dan lainnya.

Konsumen pria? Mereka tak mau repot-repot. Jika suka, mereka langsung membelinya walau ada “harga” yang harus dibayar. Namun demikian, banyak juga dari kaum pria, khususnya kalangan eksekutif yang gandrung terhadap brand papan atas. Nah, masalah timbul ketika sebuah busana dari merek favoritnya kurang “sreg” di hati. Misalnya, ukuran atau model busana itu tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Maklum, busana yang dipajang di manekin ukurannya belum tentu sama dengan ukuran tubuhnya.

Fenomena ini kerap melanda di kalangan pria eksekutif. Bagaimana menyiasatinya? Merek busana pria papan atas menyadari betul fenomena itu. Sebut saja Ermenegildo Zegna yang tampil dengan servis bertajuk “Su Misura”. Seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, program Su Misura melayani pembelian dengan ukuran yang sesuai, tentu setelah diukur terlebih dahulu, layaknya pembuatan jas (stelan) di tailor. Bukan cuma jas, program Su Misura meliputi pembuatan produk fashion lainnya seperti jaket, celana, kaos, dasi, sepatu, hingga ikat pinggang.

Servis ini mengakomodasi keinginan konsumennya. Tentu dengan kualitas dan sistem kontrol yang baku sesuai standar. Intinya, produk yang dipesan diperlakukan sangat akurat demi kepuasan konsumen yang sudah fanatik dengan produk Zegna. Memang, secara general Zegna diperuntukkan bagi pria yang relatif konservatif namun tetap mengikuti tren.

Yang menjadi benang merah dari karakter konsumen produk papan atas boleh jadi sama, yaitu fashionable dan established. Alhasil, produk-produk yang ditawarkan pun bukan sekedar pelengkap tubuh, melainkan pembentukan citra. Harga yang harus dibayar pun angkanya kian meroket. Mulai dari kisaran ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Kesan pertama merupakan kunci terpenting bagi pebisnis. Kalau seseorang sudah “tenggelam” saat pertemuan pertama gara-gara caranya berpakaian, ini adalah tragedi! Seringkali kita menemukan seorang eksekutif yang berbusana mengesankan dari kaki hingga kepala. Namun, imej-nya menurun gara-gara dasi atau ikat pinggang yang tidak pas. Merugi? Sudah pasti! Artinya, style seseorang merupakan salah satu investasi penting. Yang jelas, asal kocek mendukung, semua bisa di-customized!

Fashion Pro, Januari 2009

Wednesday, February 25, 2009

Domestic automotive industry facing testing time


THE automotive industry in Indonesia could be facing a rough patch. The gloomy economic situation has made Gaikindo pessimistic and led it to forecast a decrease in car sales this year. Indeed, the global financial crisis has not only hit the US and Europe, but to a certain extent it has impacted the domestic automotive industry. According to data compiled by Association of Indonesian Automotive Industries (Gaikindo), total car sales for 2008 were 520,000. However, a decrease of about 30 percent is predicted. There was already an indication of a slump in the last quarter of 2008. In January 2009, only 31,634 vehicles were sold, a 20 percent decrease from December's 39,000.

The market leader in January was still Toyota, which sold 12,498 vehicles, followed by Daihatsu (4,391), Suzuki (4,267), Mitsubishi (3,727), Honda (2,039) and Nissan (1,581). Other brands are not expecting much this year. PT Ford Motor Indonesia (FMI), for example, has set a lower sales target this year of just 5,000 vehicles, down 35 percent from its 2008 sales.

FMI president director Will Angove said the company's 2008 sales were the highest since the company opened here in 2002. "Our sales went up 23 percent in 2008, compared to the previous year, totaling 6,309 units, and that was a 54 percent increase on the 2006 figure, which was 4,100 units," he said at a media gathering in Jakarta recently.

He said the company's 2008 revenue of US$177.2 million was the highest in the Asia Pacific. The highest contribution was by the Ford Ranger at 68 percent, followed by the Ford Everest at 20 percent. He said he still felt optimistic about the Indonesian market as it was much better than Vietnam or Malaysia, for example. "We are all aware that GDP growth here is still good, so the market is still promising," he said.

The slowdown in car sales, according to Angove, is a challenge in itself because decreasing demand, the weakening rupiah and price increases of 7 to 13 percent will definitely affect sales performance. One of the most critical problems faced by the automotive industry is the weakening rupiah, which in turn increases the prices of raw materials. Therefore, Indonesia's carmakers and authorized sales agents have no choice but to raise their prices. PT Toyota Astra Motor (TAM), for example, set new prices for its products at the beginning of the year. While it has not officially announced the details, Toyota said the increases were between 5 and 13 percent.

Compared to the locally assembled or manufactured vehicles, the completely built up (CBU) ones, such as Vios/Limo, Altis, Camry, Yaris, Hi-lux, Alphard and Lexus, will have a higher increase percentage. "For locally assembled ones or completely knocked down (CKD) versions, like Toyota Avanza, Rush, Kijang Innova, Fortuner and Dyna the increase will be between 5 and 8 percent," said Joko Trisanyoto, TAM marketing director, as quoted by Koran Tempo daily.

Meanwhile, PT Honda Prospect Motor (HPM) upped its prices at the end of last year. Its All New City Honda, launched in December, shocked the market with its Rp 260 million price tag for its automatic transmission model with reclining seats.

However, HPM marketing and after sales service director Jonfis Fandy said the price increase was not due to anticipation of an economic crisis. "The price is not a reflection of the crisis, but merely because it is a totally new product and we could not avoid rising costs," he said.

Obviously, what all carmakers will have to do this year is put their best marketing efforts behind the most reliable car model. Besides price, the best value for money will be the key to success this year. Certainly, it is up to the market to decide which car will perform well in 2009 sales.

During the launch of the Toyota Avanza at the end of last year, TAM president director Johnny Darmawan said the 2009 forecast was unclear. On another occasion when he introduced the Toyota Hilux D-Cab at Golf Senayan, Jakarta, he said the picture for 2009 was clearer, but he did not change the forecast of 400,000 vehicles. What did come as a surprise was his statement that "Toyota will be more aggressive this year".

This leads one to assume that the company plans to aggressively launch a number of new models in 2009. Apparently 2009 is not going to be an easy one. However, just like the ox, which is used to hard work, only those who strive diligently in this Chinese Year of the Ox will ultimately be successful. Hopefully, the results will be better than during last year, which was the Year of the Rat. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, February 25, 2009

Sunday, February 22, 2009

A trip to beautify oneself


NURLITA no longer feels comfortable with her looks. At 36, she is worried by the wrinkles appearing on her face and around her eyes. "Tell me, what woman doesn't want to look beautiful? Now, maybe only cosmetic surgery can help me solve the problem," said Nurlita, who is the marketing manager of a garment company.


Today, many things can be done to improve one's looks, from a facelift to botox and various other procedures that make one's face younger with a short recovery time. The cost is also affordable to many. Facelifts and other such surgeries are not only done domestically, but also abroad, which means that one can go on a tour and have one's face done at the same time.


Some Bangkok hospitals and beauty clinics already advertise here. They provide a wide range of services, such as tightening the facial skin, hair removal, face mark reduction, breast implants, tummy tucks and even sex changes.


Going abroad for a tour and cosmetic surgery is becoming popular, with Thailand being one of the most popular destinations for medical tours. Bangkok Dusit Medical Services Group and Bumrungrad Hospital, both located in Bangkok, are just two examples of the Thai hospitals that attract foreign tourists wanting cosmetic procedures. Every year, more than 364,000 patients from 150 countries go to Thailand on medical tours.


Singapore is probably the best prepared Asia Pacific country to tackle medical tours. What makes Singapore one of the leading medical centers in the world is its state-of-the-art facilities, professional doctors and sophisticated diagnostic equipment. Besides its world-class facilities, Singapore's clean environment also lends patients a sense of well-being that encourages a speedy recovery.


AsiaMedic Limited in Singapore is just one example of a leading one-stop healthcare provider that serves both local and foreign patients. It focuses on early prevention and detection of various diseases through sophisticated technology in its wide-ranging specialized clinics, such as AsiaMedic PET/CT Centre, Aesthetic Medical Centre, AsiaMedic Eye Centre, Orchard Imaging Centre and Wellness Assessment Centre.


Meanwhile, Excellence Healthcare is a multi-discipline American-style clinic that offers various medical services, such as general checkup, cardiology, oncology, Lasik and presbyopia surgery, aesthetic and plastic surgery, dental care and orthodontics, and obstetrics and gynecology.


Other medical centers in Singapore include eMenders Medical Specialist Group, Island Orthopaedi-c Group, Pacific Healthcare, Specialist Dental Group (Henry Lee Dental Surgery), Surgeons International Holdings Pte Ltd, The Lasik Surgery Clinic, and many more. In 2000, the World Health O-rganization (WHO) ranked Singapore's healthcare system No. 6 in the world. Apart from this recognition, 13 of Singapore's hospitals and health centers have been accredited by the International Joint Commission.


Meanwhile, Malaysia has also emerged as a destination for medical tourism. One of its targets is Indonesian patients for both health and beauty services. So, don't be surprised to see advertisements in local media promoting cosmetic procedures in, say, Penang, Malaysia.


The surgeries offered include liposuction, blepharoplasty (double eyelid surgery), nose implants, breast enlargement, facelifts, etc. The hospitals provide not only medical services but also accommodation at a four- or five-star hotel, airport transfer and local transportation for shopping and sightseeing.


The attention paid to this sector has made Malaysia the world's third most popular destination for medical tourism, both for foreign patients and investors. Data from Nuwire Investors Online on Malaysia's real estate and investment opportunities mentions that what attracts foreign investors to Malaysia are its quality products, facilities and services as well as the skills and competency in providing sophisticated medical services.


Statistics taken from Hospitals-Malaysia.org reveal that the country has a comprehensive network of hospitals, clinics and doctors, with 88.5 percent of the population living within three kilometers of a medical center or private doctor.


Along with its ongoing heavy promotion on medical tourism, Malaysia has selected 35 private hospitals to support the country's campaign for Malaysia as an attractive and appropriate destination.


Malaysia's medical tourism has increased significantly over the past several years. In 2006, the country's hospitals served 296,687 foreign patients, who brought in an income of about US$59 million (about Rp 542.8 billion).


The Malaysian Hospital Association projects the number of foreign patients will grow at an average rate of 30 percent per year until 2010. Malaysia not only offers cosmetic surgery but also a wide range of other medical services and procedures, including dental and heart operations that cost less than those in developed countries, like the US, for instance.


It is therefore no surprise that Malaysia is among the world's top five medical tourism destinations, namely Panama, Brazil, Malaysia, Costa Rica and India, respectively. So it could be said that Nurlita is making the right choice with her plan to travel to Penang in June. "I am taking leave then, and am sure I'll come back not only fresh but also beautiful," she said. (Burhanuddin Abe)


The Jakarta Post, February 22, 2009

Wednesday, February 11, 2009

In An Absolut World






JUMAT 6 Februari 2009 menjadi saat dimulainya rangkaian Absolut Vodka Party berlangsung di Minus2 Bar Jakarta. Saat ini Absolut Vodka masuk dalam keluarga besar Pernod Ricard bersama minuman seperti Chivas Regal, Martell dan lainya. 

“Absolut Vodka masuk pertama kali tahun 90-an melalui distribusi dari Seagram di mana Absolut adalah agency brand yang didistribusikan pada waktu itu oleh Seagram. Sejak tahun 20008, Absolut (tepatnya perusahaan V & S) dibeli oleh Pernod Ricard dan masuk menjadi keluarga Pernod Ricard,” jelas Edhi Sumadi, Country Manager Pernod Ricard Indonesia, beberapa saat sebelum party dimulai. 

Party yang pertama kali diselenggarakan oleh Absolut Vodka ini sengaja mengangkat tema In An Absolut World (Enjoy Different Flavour Ever Moment). Tema ini menjadi tema besar bagi setiap party-party yang diselenggarakan oleh Absolut Vodka. “Dalam membuat pesta-pesta. Tema akan tetap dengan tema yang utama, yaitu In An Absolut World. Kejutan akan datang di dunia Absolute. Maksudnya di dalam dunia Absolut, segala sesuatu bisa berbeda dengan hal-hal yang biasa. Banyak hal surprised yang tidak disangka-sangka.

Kemeriahan party yang dihadiri oleh partygoers dan pencinta minuman Vodka ini dimeriahkan dengan penampilan DJ Devina yang memang pencinta sejati minuman Absolut Vodka.Partygoers di Indonesia saat ini sudah dapat menikmati beragam rasa dari Absolut Vodka. Mulai dari Mango, Papper, Citron, Mandrin, Pears, Peach, Red Ruby, Vanilla, Kurant dan Respeberry. Dan produk utama Absolut Blue (Pure Vodka). Beberapa partygoers banyak yang mengoleksi botol-botol indah dari Absolut Vodka. (hr)

Valentine's Day


APA yang ada di benak Anda ketika mendengar kata Valentine’s Day? Hari kasih sayang? Saat yang tepat untuk menyatakan cinta? Atau, momen yang bagus untuk memberikan hadah untuk orang terkasih, yang biasanya ditandai dengan barang-barang seperti bunga, coklat, atau perhiasan?

Tidak salah memang. Karena lekat dengan kasih sayang, itu sebabnya, bulan Februari identik dengan bulan merah jambu, bulan cinta, karena di bulan inilah Valentine’s Day tepatnya tanggal 14 (menurut kalender Muhammadiyah, kelakar seorang teman).

Entah mengapa tanggal tersebut dijadikan momen keramat sebagai Hari Kasih Sayang. Banyak sumber yang mengisahkan dengan beragam versi yang berkembang. Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi paling populer adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di akhir abad ke 3 M. Pada 14 Februari 270 M Raja Claudius II menghukum mati St. Valentine yang dianggap telah menyimpang dari beberapa prinsip yang selama ini diyakininya, yakni mengajak manusia kepada agama Nasrani.

Versi kedua, Raja Claudius II memandang para lajang lebih tabah dalam berperang ketimbang mereka yang telah menikah. Karena itu dia mengeluarkan perintah larangan menikah. Tetapi St. Valentine menentang perintah ini dan terus menyelenggarakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui lalu dipenjarakan. Di penjara dia berkenalan dengan putri seorang sipir yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “yang tulus cintanya, Valentine”. 

Versi berikutnya menyebutkan, di salah satu desa terdapat tradisi Romawi. Setiap pertengahan bulan Februari para pemuda desa tersebut selalu berkumpul. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak. Setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak tersebut, dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “dengan nama Tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini”. Pada waktu itu agama Nasrani baru berkembang, lalu para pendeta penyebar agama itu mengganti kalimat “dengan nama Tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine”.

Hari tersebut kini dirayakan sebagai Hari Kasih Sayang di seluruh dunia. Hari yang diasosiasikan para pencinta untuk saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines" – antara lain berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido bersayap. 

Memang, orang yang merayakan Valentine kini tidak ambil pusing dengan latar belakang atau sejarah tentangnya. Anak-anak muda, dengan latar belakang keyakinan apa pun, juga tidak peduli siapa yang sebenarnya diperingati, tanggal 14 Februari tetaplah dianggap sebagai momen yang tepat untuk melakukan hal-hal yang barkaitan dengan pengungkapan kasih sayang.

Kasih sayang yang dimaksud memang universal, tapi di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh lelaki kepada teman perempuannya, namun jarang kepada teman lelaki lainnya -- kecuali keduanya adalah homoseksual, kale.

Di Indonesia, perayaan Valentine’s Day memang sempat mengundang banyak keraguan, karena datang dari budaya Barat. Tapi geliatnya di seluruh dunia tidak terelakkan lagi, apalagi teknologi komunikasi yang berkembang pesat sanggup menghilangkan sekat-sekat antar negara. Melalui bahasa cinta yang universal, Valentine sebagai geliat budaya bisa diterima di mana-mana. Apalagi, dalam perkembangannya Valentinte dapat dijuluki sebagai Saint of Lovers.

Tapi yang jelas, Valentine’s Day, eksistensinya makin meluas. Bukan hanya melanda pada jiwa dan kebutuhan kawula muda, tetapi sudah merasuk pada sisi kehidupan manusia secara massal. 

Tidak bisa dimungkiri, Valentine’s Day juga dianggap sebagai waktu yang tepat bagi para pelaku bisnis untuk menaikkan penjualannya dan mengeruk keuntungan yang besar. Tidak berbeda dengan saat perayaan hari-hari besar lainnya, entah itu Natal, Idul Fitri, Imlek, dan lain-lain. Lihat saja di berbagai pusat perbelanjaan berbagai produk: kartu, bunga, balon, coklat, dan pernak-pernik khas Valentine yang lain. Tempat-tempat tersebut didesain dengan hiasan hati, serta dominan warna pink.

Tidak hanya pusat perbelanjaan, hotel-hotel dan restoran-restoran ternama pun menggelar acara yang berkaitan dengan perayaan cinta. Entah itu acara yang meriah hingga paket makan malam yang romantis.

Media pun tidak ketinggalan, baik media cetak, tapi terutama radio dan televisi. Pada Valentine’s Day kemasan acara harus “pinky”, mulai dari sinetron, acara gosip, bincang-bincang, variety show, dan lain-lain. Pada akhirnya Valentine bukan soal romantisme, tapi juga budaya, bisnis, dan uang. (Burhanuddin Abe)

Bisnis dalam Balutan Cinta



SINGLE this valentine's day? Not for long... !!! Join us. What: Speed dating. Where: Portobelo, Jakarta. When: Friday, February 13th 2009. Time: 08.00 PM. Dress to impress! 

Begitulah iklan ajakan untuk merayakan Valentine’s Day sebuah kafe yang terletak di Mid Plaza Midplaza 2 Building, Jl. Jendral Sudirman Jakarta itu. Target mereka kali ini adalah orang-orang yang single and available, ready to mingle, university educated, between the ages of 25 to 40, and hold a steady job.

Portobelo hanya salah satu kafe yang memanfaatkan Valentine’s Day sebagai waktu yang tepat untuk menarik tamu lebih banyak. Seperti perayaan hari-hari besar lainnya, meski kali ini kalender tidak berwarna merah atau tidak libur, Hari Kasih Sayang yang dirayakan di berbagai negara ini adalah saat yang tepat menggandakan pendapatan. Kafe-kafe dan restoran-restoran mengemas berbagai acara yang berkaitan dengan Valentine’s Day, mulai dari romantic dinner package hingga speed dating. 

Well, Valentine’s Day boleh saja diperdebatkan di Indonesia, apakah layak dirayakan atau tidak karena tidak sesuai dengan kebudayaan. Tapi nyatanya, Valentine's Day memang tradisi yang berakar dari Katolik, tapi saat ini sudah berubah menjadi fenomena sosial budaya. 

"Valentine adalah gejala globalisasi. Gejala gaya hidup yang menyebar ke mana-mana, Jadi kalau ada yang merayakan Valentine, sesuaikanlah dengan konteks Indonesia. Sebab Valentine tidak bisa dicegah, sulit untuk dibendung, apalagi dilarang," ujar cendekiawan muslim Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Memang, orang yang merayakan Valentine kini tidak ambil pusing dengan latar belakang atau sejarah tentangnya. Anak-anak muda, dengan latar belakang keyakinan apa pun, juga tidak peduli siapa yang sebenarnya diperingati, tanggal 14 Februari tetaplah dianggap sebagai momen yang tepat untuk melakukan hal-hal yang barkaitan dengan pengungkapan kasih sayang.

Juga tidak bisa dimungkiri, Valentine’s Day juga dianggap sebagai waktu yang tepat bagi para pelaku bisnis untuk menaikkan penjualannya dan mengeruk keuntungan yang besar. Tidak hanya kafe dan restoran, pusat perbelanjaan, hotel-hotel ternama pun menggelar acara yang berkaitan dengan perayaan cinta tersebut. Tidak berbeda dengan saat perayaan hari-hari besar lainnya, entah itu Natal, Idul Fitri, Imlek, dan lain-lain. 

Lihat saja di berbagai pusat perbelanjaan menjelang Valentine’s Day ini, berbagai produk: kartu, bunga, balon, coklat, dan pernak-pernik khas Valentine yang lain, dipajang secara mencolok. Tempat-tempat tersebut didesain dengan hiasan hati, serta dominan warna pink.

Jangankan toko bunga, tidak hanya di pusat perbelanjaan mewah tapi juga di berbagai tempat, yang pasti panen. Maklum, bunga saat ini dianggap sarana yang efektif untuk menyatakan cinta. 

Tapi toko buku pun tidak ketinggalan untuk memanfaatkan Valentine’s Day untuk mnggenjot penjualannya dengan berpromosi habis-habisan. Sebuah toko buku ternama pun tak segan-segan menawarkan Valentines Day Gift Book. “Merayakan hari kasih sayang bersama kekasih adalah indah, tapi ada baiknya anda mengetahui lebih jelas apakah pasangan Anda orang yang anda inginkan? Orang yang akan berjodoh dengan anda? Jangan ragu lagi, buku ini akan membantu Anda,” begitu bunyi iklannya.

Yang pasti, Valentine Day ini tak lepas dari cokelat. Entah itu kue cokelat atau permen cokelat. Bagi yang merayakan, menghadiahkan atau menyantap cokelat sepertinya sebuah keharusan. Karena itu, jangan heran, apabila mendekati Valentine’ Day beberapa gerai kue cokelat bersaing ketat mempromosikan produk dan berbagai kreasi cokelatnya. Tentu saja, mereka pun berlomba menyodorkan pilihan harga yang bervariasi agar terjangkau bagi semua kalangan. 

Dapur Cokelat, misalnya, sudah menyiapkan 20 macam cokelat valentine dengan tema fashion. Gerai cokelat ini memasang harga mulai dari Rp 2.500 per buah sampai ratusan ribu per buah. Beberapa kue cokelat bikinan Dapur Coklat memiliki bentuk sangat unik, misalnya kue cokelat berbentuk sepatu hak tinggi. Lalu, ada pula cokelat berbentuk kotak perhiasan, lengkap dengan isi kalung cokelat mutiara di dalamnya. 

Tak mau kalah, gerai La Cokelat juga sudah menyiapkan berbagai variasi cokelat untuk menyambut Valentine Day tahun ini. Gerai milik Ellen Octavia ini mendobrak pakem cokelat valentine yang rata-rata berbentuk hati. "Untuk tahun ini, kami mengeluarkan bentuk kotak dan kartu bernama box of love dan chococard," ujar Ellen, berpromosi. Pada akhirnya Valentine bukan soal romantisme atau perayaan kasih sayang, tapi juga peluang bisnis. (Burhan Abe)

Tuesday, February 03, 2009

Pasar Tradisional


KALAU ingin mengenal sebuah kota, datanglah ke pasar tradisionalnya, begitu nasehat seorang wartawan senior. Dan kali ini saya tidak ingin melewatkannya, di kota Solo terdapat lebih dari 30 pasar tradisional. Saya memilih beberapa yang unik, yakni Pasar Gede, Pasar Kembang, Pasar Legi, dan pasar yang menjual barang-barang antik di kompleks Sriwedari.. 

Meski hadir hadir pusat-pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional tetaplah unik. Ciri khas seperti tawar-menawar, keakraban, dan keramahtamahan pasar yang tidak dijumpai di pasar modern, menjadi kekuatan utama pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern. Kontribusi pasar tradisional ternyata juga tidak kecil, sedikitnya bisa menyumbang pendapatan asli daerah, dari retribusi, lebih dari Rp 11 miliar setiap tahunnya. 

Memang, kondisi pasar tradisional dari tahun ke tahun sangat menyedihkan. Dari segi fisik, bangunan pasar yang mulai tua dan butuh renovasi berubah kusam. Kalau hal ini dibiarkan, pasar tradisional kelak hanya tinggal nostalgia….