Wednesday, March 04, 2009

Ala Chef


ACARA kuliner di TV yang paling saya sukai adalah “Ala Chef” di Trans TV. Terus terang, pertama-tama memang karena host-nya yang jelita, Farah Quinn. Tapi yang lebih penting, penonton bisa diajak masuk ke aura masak memasak yang cerdas, yang hasilnya adalah yummy sexy food, paling tidak begitulah kata si pembawa acara di di pengujung acara.

Sayangnya, acara yang bermutu ini ditayangkan di jam para profesional masuk kantor. Artinya, hanya orang-orang rumahan saja yang bisa menyimak pelajaran masak memasak ala chef tersebut. Sebutlah ibu-ibu dan, maaf, pembantu saja, yang mungkin menjadi target pasar acara tersebut. So, saya jarang nonton, tapi saya cukup beruntung, pernah semeja dengannya dalam sebuah jamuan makan siang di Time Square, Grand Indonesia, atas undangan teman baik saya, Hanny Gunawan, PR Manager tempat tersebut.

Yang jelas, acara kuliner dan masak memasak memang makin mendapat tempat di Indonesia. Kalau tidak, mana mungkin, acara seperti Gula-gula atau Wisata Kuliner tetap berkibar. Ada juga Santapan Nusantara, Bango Cita Nusantara, Cita Rasa William Wongso, dan lain-lain.

Yang menarik, acara-acara tersebut melahirkan chef-chef andal yang mulai dikenal masyarakat luas, minimal kategori host lagi, yang jagoannya di kuliner. Memang, salah satu rumus untuk menarik perhatian penonton adalah dengan menampilkan bintang tamu selebirti, tapi kini chef-chef itu menjelma menjadi selebriti itu sendiri. Sebutlah William Wongso, Bondan Winarro, Bara Pattirajawane, Tatang, Ragil, Rustandy, Rudy Choirudin, dan lain-lain.

Ya, chef bisa menjadi sentral sebuah acara, sama dengan restoran-restoran di negara maju, kuncinya adalah sang chef. Inilah sebuah penghargaan terhadap profesi juru masak yang di negara berkembang yang selama ini identik dengan urusan dapur, yang selalu diletakkan di “belakang”.

Saya ingat ketika mendapat undangan dari Australian Tourist Commission untuk program Epicurean Experiences Theme Tour, beberapa tahun yang lalu, saya (dan beberapa wartawan dari berbagai negara) mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa restoran terbaik di Negeri Kangguru itu. Nama besar sebuah restoran di sana tidak ditentukan oleh namanya, tapi siapa chef-nya.

E’cco Bistro, misalnya yang berlokasi di pusat kota Brisbane, meski kecil, tapi menjadi favorit penduduk Australia lantaran pemilik sekalian chef-nya, Philip Johnson, sangat populer di dunia kuliner. Philip yang asal New Zealand itu dikenal sebagai koki yang andal. Mendapat beberapa penghargaan seperti The Remy Martin Gourmet Traveller Australian Restaurant of The Year Award, serta menjadi salah satu yang direkomendasikan dalam Eating and Drinking in Australia.

Di Noosa, salah satu melting pot yang penting di Australia, kami berkesempatan menikmati makan malam di dua restoran ternama. Ricky Ricardo’s dan Berardo’s Restaurant. Resto yang pertama berlokasi di tepi sungai. Ricky yang pernah memenangkan American Express Award dan Best Sunshine Coast Restaurant itu menyajikan makanan ala Mediteranean. Sementara Berardo’s dengan pemilik yang juga sekaligus chef David Rayner menyuguhkan sajian khas Australia, mewakili salah satu gaya Noosa Cuisine. Oleh koran lokal, The Courier Mail, kedua restoran tersebut juga dipuji sebagai resto yang mempunyai makanan yang enak, suasana yang mengasyikkan, serta mempunyai wine list yang sempurna.

Rupanya bukan nama besar yang dipertaruhkan untuk sebuah resto dengan konsep fine dining, tapi sang kokilah yang sangat berperan apakah resto itu berkualitas atau tidak.

Di Indonesia kita memang dengan gampang menyebut nama-nama restoran beken, baik yang lokal maupun franchise. Tapi kita tidak tahu siapa juru masak di belakangnya. Padahal, sebuah restoran atau kafe menjadi favorit atau tidak, pertama-tama adalah rasa makanannya, berikutnya adalah ambiance, atmosfer, suasana, dan seterusnya, termasuk harga tentu saja. (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment