Sunday, June 28, 2009

Jalur Perdagangan Obat Kuat (Seks)



Impotensi dan ketidakmampuan dalam berhubungan seks menjadi masalah paling klasik bagi pria sepanjang masa. Tabu dan sensitif, yang menyertai persoalan ini, justru membuka peluang bagi para pengusaha (perseroan atau pun perorangan) untuk terjun ke bisnis obat “kuat” dan berbagai metode yang berkaitan dengan problem seksual. Apa saja yang mereka tawarkan? Mana obat yang teruji secara medis, mana yang hanya mitos? 

BAGAIMANA kaum Arab Sudan yang ukuran kejantannya mencapai 25 cm lebih dengan melakukan latihan yang sederhana dan mudah yang diajarkan oleh ayah-ayah mereka pada masa pubertas? Kaum pria Arab ini juga telah tercatat di World Book of Records sebagai bagian dari pemilik penis-penis terbesar di dunia.

Itulah salah satu iklan yang di internet tentang program latihan meningkatkan kemampuan kejantanan pria. Iklan tersebut juga mengungkapkan beberapa fakta bahwa rata-rata ukuran "alat vital" orang Indonesia saat ereksi hanyalah 13 cm; 90% pria tidak puas dengan ukuran ini. Merujuk pada survei yang diadakan oleh Durex Condoms, 67% wanita mengatakan bahwa mereka tidak bahagia dengan “ukuran” pasangannya. Jadi, masihkah Anda ingin mengatakan size doesn't matter?

Begitulah, masalah ketidakjantanan, entah itu persoalan ukuran penis, ketidakmampuan berhubungan badan, impotensi, lengkap dengan mitos-mitosnya, menjadi persoalan pria sepanjang masa. Berbagai riset kedokteran (bahkan juga perdukunan) dilakukan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Ini tidak saja membuka berbagai inovasi yang berkaitan berbagai penemuan obat-obatan yang berkaitan degan masalah kesehatan seksual, tapi sekaligus peluang bagi para pedagang yang menjual dan mendistribusikannya yang ujung-ujungnya adalah bisnis.

Viagra adalah puncak penemuan obat anti impotensi dalam era modern ini. Di AS dan negera-negara Eropa, viagra diyakini sebagai obat ampuh yang mampu mengatasi persoalan impotensi. Di Indonesia, tablet berwarna pink yang didistribusikan secara resmi oleh Pfizer itu juga menjadi barang yang tidak asing, yang membuat pria menjadi perkasa, mampu menaklukkan pasangannya, bahkan wanita hiperseks sekali pun.

Sebelum Viagra, banyak bahan-bahan alami (kadang-kadang bercampur dengan mitos) yang diyakini sebagai penyembuh atau pembangkit gairah seksual. Campuran darah ular kobra dengan serbuk giok hijau, misalnya, menurut mitos di China, India, serta Mesir, mampu meningkatkan potensi seksual pria. Sementara di Korea, banyak yang mempercayai ginseng sebagai minuman penambah vitalitas kejantanan.

Indonesia juga mengenal berbagai berbagai ramuan tradisional yang tidak hanya mampu mengobati penyakit yang berhubungan dengan seks, tapi juga memberikan kenikmatan syahwati. Sebutlah akar pasak bumi dari Kalimantan, tangkur buaya, atau bahkan baru-baru ini, di Mojokerto (Jawa Timur), daging biawak tiba-tiba menjadi favorit para laki-laki di sana, karena mereka yakini bisa menambah vitalitas keperkasaan mereka sebagai laki-laki. Belum termasuk berbagai makanan dan minuman yang diyakini sebagai zat afrodisiak yang mampu membangkitkan gairah seksual.

Saat ini Anda tentu tahu, setidaknya pernah mendengar merek-merek obat kuat, seperti Blue Moon, Caligula Kapsul, Cobra-X Kapsul, Hwang Di Shen Dan, Kuat Tahan Lama Serbuk, atau Tripoten. Asal tahu saja, obat-obatan tersebut menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengandung tadalafil, yaitu bahan kimia obat keras. "Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, pusing, sakit kepala, mual, diare, muka memerah, hidung tersumbat, dan hilangnya potensi seks secara permanen," kata Husniah Rubiana Thamrin Akib, Kepala BPOM.

Dari spray hingga vibrator

So, jangan sembarangan minum obat kuat. Teliti sebelum membeli, cari tahu lebih dalam sebelum mengomsusinya. Yang jelas, penyembuh impotensi atau pembangkit gairah yang loyo tidak hanya pil, tapi tersedia banyak pilihan, mulai dari spray hingga vibrator. Selain Viagra, sebetulnya tidak terhitung tablet serupa yang mempunyai khasiat serupa – paling tidak seperti diklaim produsen dan distributornya. Sebutlah Cialis. Tablet ini katanya mampu menjadikan pria tahan lama ereksi, dan bisa ejakulasi berulang-ulang. Obat kuat asal AS ini katanya sudah terbukti secara klinis dan bergaransi.

Ada lagi Levitra. Inilah obat perangsang untuk pria berbentuk tablet, berfungsi untuk membuat ereksi pada penis. Bisa digunakan oleh pria yang frustasi atau kehilangan nafsu seksual tetapi ingin melakukan hubungan intim dengan pasangan, sulit ereksi dan masalah ejakulasi dini.

Selain pil, ada minyak pelumas yang membantu melicinkan penis, ada juga spray atau cairan yang bisa disemprotkan ke alat vital pria. Dengan cairan tersebut ada efek “kebal” yang membuat tingkat sensivitas berkurang, sehingga sang pria mampu tahan lama. Ini cocok untuk penderita ejakulasi ini. Produknya rata-rata dari Eropa, ada yang berisi 15ml (bisa untuk pemakaian 20 kali), tidak berbau dan berwarna, dan tentu tidak menimbulkan rasa.

Penggetar adalah alat yang sebetulnya bukan untuk pria, tapi untuk merangsang wanita. Berbahan plastik halus, menggerakkannya memakai baterei AA. Ini bukan untuk pengobatan, tapi lebih kepada rekreasi. 

Alat yang paling populer dan sekaligus mengundang kontroversi apalagi kalau bukan vakum pembesar penis. Penis enlargement system ini adalah satu perangkat vacum tabung yang cara kerjanya adalah menarik otot penis, Jika digunakan secara rutin, demikian klaim sang penjual, akan menyebabkan pembesaran penis yang permanen.

Bagaimana mendapatkan obat kuat atau alat-alat bantu seks tersebut? Tidak susah, bahkan tidak harus dengan resep dokter. Lihat saja di beberapa ruas jalan di Jakarta, entah itu di jalan sekitar Petamburan, Tanah Abang, Dewi Sartika, atau Cawang, toko-toko yang menyediakan obat kuat berjejer. Kiosnya sih kecil-kecil, tidak bonafid, dan tampak sepi.

Tapi jangan salah, meski kelihatan sepi pembelinya ternyata lumayan banyak. Artinya, omset penjualannya cukup ok. Seorang penjual di bilangan Dewi Sartika, mengungkapkan kalau obat kuatnya berupa minyak berwarna bening yang diolesi di alat vital pria ini sangat diminati oleh pelanggannya. "Lumayan, 20-30 botol (berukuran 100 ml) pasti laku dalam sebulan," ujarnya. (Burhanuddin Abe)

Popular, Juli 2009

Gugur Satu Tumbuh Seribu



ANDA kenal dengan nama-nama ini: Raymond, Aldrin, Miko, Winky, Milinka, Tammy, Adit, atau Dree? Tidak semua tahu, tapi bagi pada clubber, nama-nama tersebut tentu tidak asing lagi. Ya, merekalah para bintang di dunia malam, para disc joeckey (DJ) yang selalu meramaikan suasana dengan kepandaiannya meramu musik.

Para DJ itulah yang dipercaya untuk mengisi acara penutupan Embassy, klub ternama yang berlokasi di Taman Ria Senayan Jakarta beberapa waktu yang lalu. Closing party perlu digelar untuk menandai berakhirnya klub tersebut pertengahan Januari lalu.

Tapi klub di Jakarta bak pepatah, tutup satu tumbuh seribu. Klub yang satu berakhir, segera muncul yang baru. Saat ini pada partygoers Jakarta sedang dibuat terpesona oleh klub-klub yang muncul belakangan, mulai dari Dragonfly, Blowfish, X2, atau yang terbaru Indochine dan Immigrant. Yang disebut terakhir mungkin yang paling istmewa saat ini, bahkan boleh disebut sebagai sebagai Jakarta's newest hot spot. Berlokasi seluas 1400 meter per segi di lantai paling atas Plaza Indonesia Extension yang baru, dari lounge venue tersebut para pengunjung bisa menikmati pemandangan Jakarta, khususnya di sekitar jalan Thamrin dan Bundaran HI, karena sebagian area memang dibuat open air.

Kota Jakarta selalu bergerak, orang-orangnya adventurous, selalu mencoba hal-hal baru, maka klub-klub yang hadir harus memberikan sesuatu yang baru bagi mereka. Itu pula yang ingin dihadirkan oleh Immigrant, yang mempunyai tagline “Becoming One for Many”.

Ya, penduduk Jakarta yang super sibuk selalu membutuhkan hiburan untuk melepaskan kepenatan, para clubber membutuhkan keriaan yang sesuai dengan jiwa mereka yang dinamis. Suasana gembira, kilatan lampu, dan dentuman musik techno yang dimainkan oleh para DJ.

Dunia gemerlap (dugem) memang kagak ade matinye. Budaya clubbing sebetulnya lahir pada akhir dekade 1980-an di Eropa yang dengan kemajuan teknologi musiknya melahirkan house music. Klub-klub di Ibiza, Italia dan London menjadi surga berdenyutnya musik jenis ini. Seiring berjalannya waktu, musik ini juga berevolusi – dari house ke trance, lalu hardcore, jungle, progressive dan drum & bass.

Dari Benua Eropa budaya ini mulai mewabah ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Klub-klub musik dan tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar, sebutlah Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Bali, bermunculan. 

Di Jakarta kita ingat ada Zodiak, Terminal One, M Club, B1 atau Poster Café. Bengkel adalah satu yang terbesar pada masanya kendati sekarang berubah konsep menjadi tempat karaoke. Masih banyak klub di wilayah Kota yang beberapa di antaranya masih eksis, sebutlah Hailai, Sydney 2000, Gudang, 1001, Millenium, Bvlgari, V2, dan juga Sands di Mangga Dua Square. Yang paling “angker” apalagi kalau bukan Stadium, yang kabarnya akan membuka cabangnya di luar Kota, tepatnya di Menara Imperium Kuningan. Dengan pengunjung yang membludak venue-venue tersebut menghasilkan rupiah yang berlimpah.

Selama ada massanya dunia clubbing di Jakarta tampaknya akan terus hidup. Entah itu di kawasan barat dengan musik yang lebih ritmenya lebh cepat, atau pun gaya selatan yang lebih stylish, bahkan cenderung “jaim” (jaga image). Selamat datang di dunia gemerlap malam! (Burhan Abe)

Appetite Journey, July 2009

In Vino Veritas (2)


POPULARITAS wine di Jakarta makin tinggi. Indikasinya tidak hanya makin banyak wine lounge yang berdiri, tapi ritual minum wine kini bak minum bir saja. Bukan berarti wine menjadi murahan, tapi wine kini tersosialisasikan dengan lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya. Dulu hanya di hotel berbintang lima saja yang menyediakan wine, atau wine lounge di kawasan Kemang yang banyak ditinggali para ekspatriat. Kini, tempat minum wine mulai meluas wilayahnya, mulai dari Mega Kuningan hingga Kelapa Gading. Bahkan ada juga di mal-mal dan plaza-plaza. Sebutlah Cork & Screw yang cabang keduanya hadir di Plaza Indonesia.

Lokasi yang disebut terakhir ini sangat strategis, karena berada di lantai dasar dan berhadapan langsung dengan Bundaran HI. Suatu sore dengan view air mancur yang indah saya dijamu oleh yang empunya, Reeza Budhisurya. Kami memilih red wine Australia. Entah mengapa akhir-akhir ini saya suka anggur asal Negeri Kangguru itu. Apalagi ketika saya mem-posting foto-foto kegiatan wine tasting di Facebook, seorang teman yang kini tinggal di Canberra memberi komentar, “Kenapa nggak mencoba wine Aussie, nggak kalah dengan produk Prancis loh!” 

Ya, selera orang memang tidak sama, dan kebetulan lidah saya paling cocok dengan wine Australia, yang lebih light. Sebelumnya saya juga merasakan red wine Australia juga di The Wine Centre, milik Sarana Tirta Anggur, yakni Mid Day Shiraz. Rasa tidak bisa bohong, kata sebuah iklan. In vino veritas, dalam anggur ada kebenaran!

Tapi saya memang bukan wine expert, apalagi sommelier, jadi setuju saja dengan pilihan penjamu, yang tentunya lebih ahli. Dari merekalah saya banyak belajar wine, dari Reeza, Suryadi yang empunya The Wine Centre, atau Yohan Handoyo yang menulis buku “Rahasia Wine”, juga dari teman baik saya Dave Graciano, yang memang berkecimpung di F&B, termasuk wine. Mereka adalah orang-orang yang tidak pelit membagi ilmunya.

“Manusia telah membuat minuman anggur sejak sekitar lima ribu tahun yang lalu,” cerita Reeza. Wow, itu berarti pada zaman Nabi Nuh wine sudah ada.

Itu memang masih debatable, meski kalau saya mendebatnya tidak punya dasar, dan juga nggak penting. Tapi yang tidak bisa dimungkiri, wine adalah minuman yang populer di dunia – mungkin hampir menyamai popularitas kopi dan teh. Negara-negara yang penduduknya banyak mengkonsumsi wine adalah Prancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Inggris, China, Rusia, dan Rumania. Jika tolok ukur yang digunakan adalah angka per kapita, daftar tersebut menjadi Luxemburg, Perancis, Italia, Portugal, Kroasia, Swiss, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Slovenia.

Tapi minum wine tidak seperti air biasa tentu, ada ritual tersendiri. Minimal, wine tidak untuk diminum sebagai “obat haus”, tapi sebagai teman makan, disebut juga sebagai social drink, sehingga wine tidak bisa diminum sendirian. Mencicipi wine sebotol sendirian, selain memabukkan, jelas kurang elok. Apalagi tujuan mencicipi wine bukan untuk mabuk-mabukan, tapi sebagai sarana bersosialisasi. Sebuah klub pecinta wine “kelas atas” yang disebut Gran Cru saja membutuhkan 13 orang (jumlah yang optimum) untuk mencicipi sebotol wine premium – maklum, harganya ada yang Rp 50 juta per botol.

Mengapa ada wine yang harganya selangit? Jawabannya tidak sederhana, karena banyak rahasia yang di seputar wine, yang untuk mengetahuinya dibutuhkan jam terbang yang tinggi. Kalau tidak, yang ada hanyalah mitos-mitos yang seringkali keliru. Misalnya, mitos bahwa makin tua tahun yang tertera di botol, makin bagus kualitas wine-nya. Padahal tidak selalu begitu, ada wine yang dirancang untuk disimpan lama, ada pula yang lebih baik cepat dinikmati. Artinya, wine yang memang untuk diminum segera, tidak bisa disimpan lama-lama, apalagi sampai bertahun-tahun layaknya collectible item. Bukan tahunnya yang tua, tapi tahun panen anggur yang bagus (golden year) pasti menghasilkan wine yang luar biasa.

Agar petualangan di dunia wine lebih seru, latihlah lidah dengan banyak mencicipi. Jangan lupa menambah ilmu tentang wine dari buku-buku dan majalah-majalah yang banyak mengulas tentang wine. Cheers

Burhan Abe

Tuesday, June 09, 2009

Consumer loans become engine that drives bank credit


THE global economic downturn was previously unimaginable, and uncertainties are still haunting businesspeople throughout the world, including in Indonesia. It is not surprising, therefore, that Bank Indonesia (BI) quickly lowered the forecasted growth rate of bank loans that were set early this year, because the business plans submitted by banks indicated lower credit targets than those set by BI. Earlier, BI expected credit growth of between 18 and 20 percent this year. "I am sure such a target cannot be achieved," said former BI Governor Boediono.

BI realizes that banks will not increase the credit flow because they are being cautious in this time of crisis, for fear of being saddled with more non-performing loans. That is why BI is not trying to persuade banks to fully open the credit tap like two years ago.

In view of the business plans submitted by banks, BI has revised this year's credit target. The banks' version set the target growth at 15.6 percent, which fully supports BI's assumption for Indonesia's economic growth at between 4 and 5 percent.

As loans will not total as much as the earlier target, BI expects growth from other sectors, such as government and public spending so that economic growth expectations can be achieved. In a survey of 41 banks, BI concluded that in the first quarter of 2009 there was 1 to 5 percent growth of new credit, which is lower than the 4 to 7 percent growth in the fourth quarter of 2008.

However, quite a number of businesspeople are optimistic that if inflation drastically drops at the end of second quarter of 2009, the flow of bank credit will be back to normal. Indeed, consumer loans account for a major part of new banks loans this year. "The demand for consumer loans will remain high as the loans are mostly from small and medium businesses that are relatively more resistant to crisis," said the head of the Stability Bureau for Financial Policy of Bank Indonesia, Wimboh Santoso, recently.

Consumer loans and home loans are still in high demand, but since they pose a larger risk for banks than business loans, they carry a higher interest rate. Last year, the growth of consumer loans reached 52 percent, which was much higher than investment and business loans. However, Wimboh predicted that in the first quarter of 2009 it would be lower than in the last quarter of 2008. "That is the normal cycle. It usually goes up in the second quarter and reaches a peak in the third quarter," he said, adding that last year a large amount -- some Rp 230 trillion - remained to be loaned out.

He also said that after the 1997 financial crisis, banks prefer to give out consumer loans rather than corporate credit even though the competition is tight in this sector, where there are lots of consumer banking products that are continuously and regularly being launched by banks.

This is one of the reasons why consumer loans keep growing despite the increasing interest rate, which does not deter people. While the business climate is unfavorable, consumer loans on the other hand keep growing, which is dangerous. "If it is not balanced with the quality of loans then it can create economic instability," said senior economist Faisal Basri.

The situation is made worse by many banks that aggressively promote consumer loans as the real sector is not giving much business to them. If things get out of control, the crisis that is plaguing the US can spread to here, he said. "If banks do not take control there will be a possibility of nonperforming loans as consumerism growth is not balanced with the consumers' purchasing power," he said. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, June 09, 2009

Monday, June 01, 2009

Deal Bisnis (dan Asmara) di Padang Golf






GOLF, tak pelak, menjadi pilihan olah raga yang mengasyikkan bagi para eksekuktif – sebagian besar pria. Tidak sekadar olah raga tentu saja, juga gengsinya, tapi yang menarik justru di luar urusan keluar keringat tersebut yang secara fisik tentu menyehatkan, banyak alasan lain yang membuat kegiatan yang satu ini terasa mengasyikkan. Tidak hanya deal-deal bisnis penting yang konon bisa terjadi di lapangan golf, tapi asmara pun bisa bersemi di padang hijau ini.

Yang terang, golf – paling tidak pembicaan tentang olah raga ini, kembali ramai. Apalagi kalau bukan dipicu oleh kasus asmara cinta segitiga antara dua pejabat tinggi yakni Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dengan mantan Ketua Komisi Pemberantan Korupsi (KPK) Antasari Azhar dengan seorang caddy cantik Rani Juliani, yang berakhir dengan penembakan terhadap Nasruddin.

Yup, golf tidak hanya mengayun stick, tapi lebih sophisticated. Ada urusan sportivitas, ada urusan bisnis, ada juga urusan seputar asmara dan “esek-esek”. Olah raga yang berasal dari tradisi Skotlandia ini sudah dimainkan oleh orang-orang di Britania Raya sejak lebih dari lima abad silam. Salah satu bagian yang penting dalam golf adalah caddy. Kata caddy ini memang berasal dari bahasa Perancis, le cadet yang bermakna sebagai “anak laki-laki”, tapi profesi ini kini banyak dilakoni para perempuan – yang belakangan menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak jarang memang, padang golf yang menyediakan caddy-caddy perempuan – selaian lapangannya yang menawan tentu saja, segera menjadi favorit bagi para pemain golf, baik yang amatir maupun profesional. Bahkan, golf tour ke sebuah negara yang dijual oleh biro perjalanan khusus, segera menarik perhatian kalau iming-imingnya adalah caddy-caddy-nya perempuan. “Memang tidak ada jaminan bahwa mereka bisa ‘dipakai’, dan itu memang urusan masing-masing personal. Tapi pegolf pria mana yang tidak bersemangat, kalau caddy-nya cantik dan seksi,” ujar Yudha Gunawan, konsultan pemasaran, yang sering mengikuti golf tour itu.

Profesional yang berkantor di segitiga emas Jakarta itu yang kerap menjuarai berbagai kejuaraan dan turnamen golf di tanah air itu tidak hanya menjajal lapangan golf domestik, tapi sering mencari tantangan baru ke luar negeri. Bisa berenam atau berdelapan dengan teman-temannya. Australia adalah salah satu destinasi yang disukai. Selain pemandangannya indah, jenis lapangannya juga unik. “Pernah saya berjalan di lapangan seluas sembilan kilometer persegi. Panas terik tak terhiraukan, apalagi saya bisa mendapat score tinggi,” ungkapnya.

Bermain di Joondalup Country Club, Australia Barat, adalah salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Yudha. Betapa tidak, ketika mengayunkan stik dalam kesejukan udara, tiba-tiba di pinggir fairway berdiri sekelompok kanguru seakan menyaksikan permainan para pegolf yang sedang unjuk kelihaian lapangan golf 27 holes ini.

Lapangan golf yang sering disebut sebagai The Whole In One – karena fasilitasnya yang lengkap dan berkelas – bukan sekadar tempat olah raga, tapi juga tujuan wisata, sekaligus tempat tetirah yang memberikan suasana damai dan asri. “Pengalaman di padang golf selalu menyenangkan, tapi cerita di luar off court pun tak kalah serunya. Olah raga ini berawal dari lapangan, tapi sering berakhir di ranjang,” ujar pria 39 tahun itu lagi sambil tertawa.

Ia tidak menceritakan secara spesifik bahwa yang memberikan “pelayanan” di luar lapangan itu adalah caddy. Tapi ia mengatakan bahwa jika para pegolf itu menginginkan servis di luar urusan olah raga, bukan hal yang susah untuk didapatkan. Para agen perjalanan yang mengatur acara semacam ini pun pasti sudah mafhum dengan kebutuhan para kliennya, yang hampir semuanya pria.

Massage parlourDi Indonesia kita memang belum mendengar ada pengelola lapangan golf atau penyelenggara turnamen golf yang terang-terangan “menjual” caddy perempuan sebagai caddy sebagai daya tariknya. “Prioritas pertama adalah penyediaan kebutuhan olah raga. Kalau ada caddy yang mencoba ‘macem-macem’ di luar urusan pekerjaan, pasti akan ada sanksinya, entah peringatan bahkan pemecatan,” ujar seorang pengelola golf course di bilangan Jababeka.

Tapi siapa yang menjamin bahwa golf course benar-benar steril dari urusan esek-esek. Apa pun bisa terjadi di padang hijau ini. Simak saja cerita Jack, sebut saja begitu. Bapak tiga anak yang berusia 42 tahun ini semula iseng-iseng saja bermain golf bersama teman-temannya, tapi kemudian ia keranjingan.

Tidak hanya olah raganya sendiri yang membuat badan semakin sehat. Tapi yang membuat ia ketagihan adalah adanya pelayanan massage parlour setelah beroalah raga. Dengan pijatan profesional dari MP tersebut, badannya yang kelelahan sehabis bergolf ria dan berjalan kaki berkilo-kilometer, langsung bugar.

Sebetulnya MP tersebut bukan bagian dari pelayanan yang ditawarkan pengelola padang golf tersebut, tapi didatangkan Jack dari luar. Jack pun tidak pernah berprasangka apa-apa sampai sang MP ternyata memberikan pelayanan lebih. Yang dipijat MP ternyata bukan hanya dengan tangan saja, tapi ada all in, dan ending-nya silakan tebak sendiri.

Memang, apa pun bisa terjadi di padang golf. Bukan hanya deal bisnis, tapi urusan esek-esek hingga skandal asmara pun bisa terjadi. Pemian olf tidak hanya konsentrasi di lubang-lubang di lapangan saja, cewek caddy pun disebut-sebut sebagai hole yang lain dari permainan olah raga bergengsi ini. (Burhanuddin Abe)

POPULAR, Juni 2009

Pamor Makanan Tradisional



ANDA tidak perlu takut akan kehilangan makanan tradisional, di tengah gempuran makanan asing yang menyerbu mal-mal di Indonesia. Setidaknya ada dua event atau festival makanan yang selalu mengangkat seni boga Nusantara saat ini. Yang pertama adalah Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) di Kelapa Gading, dan yang kedua Festival Jajanan Bango yang di Jakarta diadakan di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, akhir Mei lalu.

Sejak 2004 JFFF rutin dilakukan, dan tahun ini (berlangsung antara 13 – 23 Mei) mengusung tema Locafore, yaitu gerakan gaya hidup baru yang ramah lingkungan, dengan mengonsumsi produk dan budaya lokal. Acara ini merupakan pesta mode dan boga yang memiliki misi melambungkan reputasi Jakarta sebagai pusat mode dan wisata belanja Asia, sekaligus memajukan industri boga dan kuliner tanah air. Yang disebut terakhir inilah kita akan mengenal lebih jauh makanan Nusantara, di araea yang disebut sebagai Kampeng Tempo Doeloe kita bisa berwisata kuliner bearagam makanan khas tradisional dengan suasana ala kota Jakarta tempo dulu, lengkap dengan miniatur Monas sebagai icon Jakarta.

Yang menarik, ada tema yang diusung kali ini, yakni aneka soto Nusatara. Soto? Ya, siapa yang tidak mengenal makanan berkuah ini. Meski dengan sebutan soto, sroto, atau coto, atau apa pun, makanan khas Indonesia yang terdiri dari kaldu daging dan sayaran ini sangat popular sejak zaman baheula.

Masing-masing jenis soto mempunyai penyajian yang berbeda-beda. Soto bisa dihidangkan dengan berbagai macam lauk dan dengan tambahan lain, seperti telur pindang, sate kerang, jeruk limau, dan koya (campuran tumbukan kerupuk dan bawang putih). Nasi biasanya menjadi pendamping soto, dan menjadi menu utama orang Indonesia – bukan appetizer disajikan sebagai sup dalam budaya Barat.

Nama-nama soto di Indonesia ada yang mengikuti kota atau daaerah asalnya, sebutlah soto betawi, soto padang, soto kudus, soto madura, soto (coto) makasar, soto banjar, soto ambengan, dan lain-lain. Ada pula yang berdasarkan bahan bakunya, sebutlah soto mie, soto daging, soto ayam, dan lain-lain. Itu baru soto, belum makanan yang lain, yang gagraknya bisa ratusan bahkan ribuan. Betapa kayanya kuliner Nusantara.

Dan yang menggembirakan, semuanya itu masih eksis. Masih ada dan menjadi menu makanan sehari-hari penduduk Indonesia. Festival Jajanan Bango (FJB), misalnya, secara riil menampilkan tak kurang dari 55 makanan yang dijual di Jakarta dan delapan kota besar di Indonesia.

Ini dia sebagian daftarnya: Nasi Campur Ajengan Bali, Ayam & Ikan Bakar Taliwang PSKD, Ayam Bakar Mas Mono, Ayam Penyet Depot Soto Sulung Suroboyo Bu Laminten, Bakso Bakar dan Ceker Senayan, Bakwan Malang Cak Uban, Baso Joni Ciragil, Bebek Goreng Yogi, Bubur Ayam Attoyibbah, Cipta Rasa Nasi Ulam Misjaya, Empal Gentong Cirebon Ibu Lili, Gabus Pucung & Pecak Gurame Bpk. Misan, Gado-gado Bon Bin, Iga Bakar Warung Melo, Ikan Bakar Nasri, Kari Umbi, Ketoprak Gandaria, Kwetiauw Aciap, Martabak Kubang, Mie Aceh Seulawah Benhil, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Nasi Pecel Bu Linawati, Nasi Timbel Proklamasi, Nasi Uduk & Ayam Goreng H. Babe Saman, Nasi Ulam Bu Yoyo, Pondok Sate Pejompongan, Rujak Juhi Petojo, Sate Bang Tohir Kalibata, Sate Tegal Abu Salim, Sop Buntut Cut Mutia, Sop Kaki Kambing Enday, Soto Kaki Sapi Mencos, Soto Kudus Otista, Tahu Petis Yudistira, Tahu Super Pong Lym, Warung Anglo, Asinan Betawi Ny. Isye, dan masih banyak lagi.

Acunngan jempol boleh ditujukan untuk JFFF dan FJB. Dengan acara-acara yang mereka selenggarakan, mereka tidak hanya mempromosikan dirinya sendiri sebagai salah satu mal bergengsi di Jakarta atau kecap nomer satu di Indonesia, tapi mereka ikut melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun temurun di mana keberadaannya saat ini kalah pamor dengan makanan siap saji dari mancanegara. Salut! (Burhanuddin Abe)

Ice Wine, Primadona asal Kanada


DALAM setiap event di Jakata, ice wine selalu mendapat banyak perhatian. Maklum, rasanya yang manis ”masuk” dengan lidah orang Indonesia. Selera memang bersifat personal, kata ahli wine Yohan Handoyo. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang satu suka dengan Cabernet Sauvignon yang rasanya sepat, tapi yang lain suka dengan Chardonnay yang lebih ringan.

Penggemar minuman anggur tentu punya pilihan favorit untuk jenis wine tertentu. Selain merek dan produsen yang mengeluarkannya, rasa tentu saja yang menjadi pertimbangannya. Orang-orang Eropa yang kental tradisi dengan wine, boleh jadi lebih menyukai wine yang tanic atau terasa sepat. Justru tanin inilah yang juga memberi kesempatan bagi sebotol wine untuk dapat memberikan potensi rasa terbaiknya ke mulut pencicipnya.

Sementara itu orang Indonesia tidak terlalu akrab dengan rasa sepat tersebut, apalagi rasa sepat bukanlah rasa yang biasa diapresiasi dalam budaya kuliner kita. Maka, yang banyak dipilih kebanyakan orang Indonesia adalah rasa wine yang tidak terlalu kompleks, light. Bahkan kalau perlu rasanya manis. Itu sebabnya, ice wine menjadi salah satu wine favorit di Indonesia.

Ice wine dikenal juga seagai dessert wine, karena cocoknya memang dipadukan dengan makanan penutup. Manisnya ice wine karena dua hal, yaitu kadar gula natural yang tinggi dalam buah anggurnya dan proses fermentasi yang berbeda. Ice wine, sebagai satu kata, atau di Jerman, eiswein adalah jenis anggur yang dihasilkan dari buah anggur yang telah dibekukan sebelum waktunya. Suhu musim dingin akan membekukan anggur tersebut, dan dipres dalam keadaan yang masih beku. Dalam proses ini air akan terpisahkan dari gula, karena titik didih air berbeda dengan titik didih gula.

Anggur-anggur yang dipakai untuk ice wine ini, sebutlah Sauternes, Tokaji, atau Trockenbeerenauslese, haruslah yang berkualitas tinggi, yang mempunyai bentuk yang baik hingga masa pemanenannya. Kondisi inilah membuat karaterstik ice wine yang khas, manis yang fresh dengan acidity yang seimbang.

Di Austria, Jerman dan Kanada, anggur-anggur yang secara natural beku ini memang disebut ice wine. Di negara-negara lain, beberapa winemaker menggunakan cryoextraction (yang secara teknis dibekukan) untuk menghasilkan efek seperti yang disayaratkan ice wine. Ice wine “buatan” ini kadang-kadang direferensikan sebagai "icebox wines". Misalnya Bonny Doon's Vin de Glacière.

Jenis anggur yang dipakai untuk pembuatan ice wine sangat bervariasi. Riesling, misalnya, banyak dipakai para produsen ice wine di Jerman; Vidal popular sangat popular di Inggris dan Kanada; dan juga yang menarik Cabernet Franc pun banyak dimanfaatkan untuk ice red wine. Banyak produsen, khususnya dari Dunia Baru, melakukan eksperimen membuat ice wine dari berbagai varietas anggur: yang putih seperti Seyval Blanc, Chardonnay, Kerner, Gewürztraminer, Chenin Blanc, Pinot Blanc, dan Ehrenfelser; atau merah sebutlah Merlot, Pinot Noir, dan bahkan Cabernet Sauvignon. Pillitteri Estates dari Ontario, Kanada, mengklaim sebagai winery pertama di dunia yang memproduksi ice wine Shiraz (Syrah).

Beberapa pembuat ice wine di Kanada mencoba bereksperimen dengan membuat sparkling wine dari jenis minuman ini. Sparkling ice wines mempunyai tekstur yang sama dengan sparkling wine pada umumnya, sebutlah champagne atau Asti, tetapi dengan dengan fuller body, dan secara signifikan kadar gulanya sudah pasti lebih tinggi, diseimbangkan dengan keasaman yang tinggi pula.

Sejarah pembuatan ice wine tergolong panjang. Ada bukti sejarah bahwa anggur beku yang digunakan untuk membuat ice wine sudah ada pada zaman dulu di Roma. Pliny the Elder (tahun 23-79 SM) menulis tentang beberapa varietas anggur yang mereka panen dalam keadaan beku. Keterangan mengenai anggur dan pembuatan ice wine memang tidak diketahui secara rinci. Tapi yang jelas, istilah anggur beku, anggur kering (kismis), sudah cukup familiar saat itu, dan pembuatan ice wine dalam metode yang paling sederhana juga cukup populer.

Dalam era modern, ice wine paling terkenal adalah merek Inniskillin dari Kanada, dan diberi label ”Eiswein”, termasuk salah satu produk dengan kualitas terbaik. Anggurnya jenis vidal yang tumbuh di negara tersebut. Ketika dipamerkan di festival wine di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ice wine ini menjadi salah satu primadona. Wine jenis gold label oak-aged vidal ini rasanya manis seperti madu. Harga per botolnya berkisar antara Rp1,5 juta dan Rp2 juta.

Though Pelee Island Winery and Hildebrand adalah produsen ice wine pertama di Kanada yang berproduksi secara komersial pada tahun 1983. Inniskillin Wines dikenal sebagai ice wine Kanada dengan prestasi internasional, di antaranya memenangkan Grand Prix d’Honneur tahun 1991 pada Vinexpo di Prancis, dengan ice wine Vidalnya, menempatkan Kanada sebagai penghasil ice wine penting di dunia. Produsen wine Pillitteri Estate Winery tahun the 2000-an muncul sebagai produsen ice wine terbesar di dunia. Pada November 2006 produsen ice wine Kanada yang lain, Royal DeMaria, meluncurkan lima ice wine Chardonnay dengan harga sebotolnya mencapai C$30.000, yang membuat ice wine harganya setara dengan wine-wine premium yang lain.

Ice wine yang paling populer memang berasal dari Kanada. Tapi negara-negara lain juga ikut memproduksinya, sebutlah Australia, Austria, Kroasia, Republik Ceko, Perancis, Hungaria, Israel, Italia, Luksemburg, Selandia Baru, Slowakia, Slovenia, Swedia, dan AS, paling tidak dalam jumlah kecil. Siap mencoba? (Burhanuddin Abe)
Appetite Journey, June 2009