Monday, June 01, 2009

Deal Bisnis (dan Asmara) di Padang Golf






GOLF, tak pelak, menjadi pilihan olah raga yang mengasyikkan bagi para eksekuktif – sebagian besar pria. Tidak sekadar olah raga tentu saja, juga gengsinya, tapi yang menarik justru di luar urusan keluar keringat tersebut yang secara fisik tentu menyehatkan, banyak alasan lain yang membuat kegiatan yang satu ini terasa mengasyikkan. Tidak hanya deal-deal bisnis penting yang konon bisa terjadi di lapangan golf, tapi asmara pun bisa bersemi di padang hijau ini.

Yang terang, golf – paling tidak pembicaan tentang olah raga ini, kembali ramai. Apalagi kalau bukan dipicu oleh kasus asmara cinta segitiga antara dua pejabat tinggi yakni Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen dengan mantan Ketua Komisi Pemberantan Korupsi (KPK) Antasari Azhar dengan seorang caddy cantik Rani Juliani, yang berakhir dengan penembakan terhadap Nasruddin.

Yup, golf tidak hanya mengayun stick, tapi lebih sophisticated. Ada urusan sportivitas, ada urusan bisnis, ada juga urusan seputar asmara dan “esek-esek”. Olah raga yang berasal dari tradisi Skotlandia ini sudah dimainkan oleh orang-orang di Britania Raya sejak lebih dari lima abad silam. Salah satu bagian yang penting dalam golf adalah caddy. Kata caddy ini memang berasal dari bahasa Perancis, le cadet yang bermakna sebagai “anak laki-laki”, tapi profesi ini kini banyak dilakoni para perempuan – yang belakangan menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak jarang memang, padang golf yang menyediakan caddy-caddy perempuan – selaian lapangannya yang menawan tentu saja, segera menjadi favorit bagi para pemain golf, baik yang amatir maupun profesional. Bahkan, golf tour ke sebuah negara yang dijual oleh biro perjalanan khusus, segera menarik perhatian kalau iming-imingnya adalah caddy-caddy-nya perempuan. “Memang tidak ada jaminan bahwa mereka bisa ‘dipakai’, dan itu memang urusan masing-masing personal. Tapi pegolf pria mana yang tidak bersemangat, kalau caddy-nya cantik dan seksi,” ujar Yudha Gunawan, konsultan pemasaran, yang sering mengikuti golf tour itu.

Profesional yang berkantor di segitiga emas Jakarta itu yang kerap menjuarai berbagai kejuaraan dan turnamen golf di tanah air itu tidak hanya menjajal lapangan golf domestik, tapi sering mencari tantangan baru ke luar negeri. Bisa berenam atau berdelapan dengan teman-temannya. Australia adalah salah satu destinasi yang disukai. Selain pemandangannya indah, jenis lapangannya juga unik. “Pernah saya berjalan di lapangan seluas sembilan kilometer persegi. Panas terik tak terhiraukan, apalagi saya bisa mendapat score tinggi,” ungkapnya.

Bermain di Joondalup Country Club, Australia Barat, adalah salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi Yudha. Betapa tidak, ketika mengayunkan stik dalam kesejukan udara, tiba-tiba di pinggir fairway berdiri sekelompok kanguru seakan menyaksikan permainan para pegolf yang sedang unjuk kelihaian lapangan golf 27 holes ini.

Lapangan golf yang sering disebut sebagai The Whole In One – karena fasilitasnya yang lengkap dan berkelas – bukan sekadar tempat olah raga, tapi juga tujuan wisata, sekaligus tempat tetirah yang memberikan suasana damai dan asri. “Pengalaman di padang golf selalu menyenangkan, tapi cerita di luar off court pun tak kalah serunya. Olah raga ini berawal dari lapangan, tapi sering berakhir di ranjang,” ujar pria 39 tahun itu lagi sambil tertawa.

Ia tidak menceritakan secara spesifik bahwa yang memberikan “pelayanan” di luar lapangan itu adalah caddy. Tapi ia mengatakan bahwa jika para pegolf itu menginginkan servis di luar urusan olah raga, bukan hal yang susah untuk didapatkan. Para agen perjalanan yang mengatur acara semacam ini pun pasti sudah mafhum dengan kebutuhan para kliennya, yang hampir semuanya pria.

Massage parlourDi Indonesia kita memang belum mendengar ada pengelola lapangan golf atau penyelenggara turnamen golf yang terang-terangan “menjual” caddy perempuan sebagai caddy sebagai daya tariknya. “Prioritas pertama adalah penyediaan kebutuhan olah raga. Kalau ada caddy yang mencoba ‘macem-macem’ di luar urusan pekerjaan, pasti akan ada sanksinya, entah peringatan bahkan pemecatan,” ujar seorang pengelola golf course di bilangan Jababeka.

Tapi siapa yang menjamin bahwa golf course benar-benar steril dari urusan esek-esek. Apa pun bisa terjadi di padang hijau ini. Simak saja cerita Jack, sebut saja begitu. Bapak tiga anak yang berusia 42 tahun ini semula iseng-iseng saja bermain golf bersama teman-temannya, tapi kemudian ia keranjingan.

Tidak hanya olah raganya sendiri yang membuat badan semakin sehat. Tapi yang membuat ia ketagihan adalah adanya pelayanan massage parlour setelah beroalah raga. Dengan pijatan profesional dari MP tersebut, badannya yang kelelahan sehabis bergolf ria dan berjalan kaki berkilo-kilometer, langsung bugar.

Sebetulnya MP tersebut bukan bagian dari pelayanan yang ditawarkan pengelola padang golf tersebut, tapi didatangkan Jack dari luar. Jack pun tidak pernah berprasangka apa-apa sampai sang MP ternyata memberikan pelayanan lebih. Yang dipijat MP ternyata bukan hanya dengan tangan saja, tapi ada all in, dan ending-nya silakan tebak sendiri.

Memang, apa pun bisa terjadi di padang golf. Bukan hanya deal bisnis, tapi urusan esek-esek hingga skandal asmara pun bisa terjadi. Pemian olf tidak hanya konsentrasi di lubang-lubang di lapangan saja, cewek caddy pun disebut-sebut sebagai hole yang lain dari permainan olah raga bergengsi ini. (Burhanuddin Abe)

POPULAR, Juni 2009

No comments:

Post a Comment