Monday, June 01, 2009

Pamor Makanan Tradisional



ANDA tidak perlu takut akan kehilangan makanan tradisional, di tengah gempuran makanan asing yang menyerbu mal-mal di Indonesia. Setidaknya ada dua event atau festival makanan yang selalu mengangkat seni boga Nusantara saat ini. Yang pertama adalah Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) di Kelapa Gading, dan yang kedua Festival Jajanan Bango yang di Jakarta diadakan di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Senayan, akhir Mei lalu.

Sejak 2004 JFFF rutin dilakukan, dan tahun ini (berlangsung antara 13 – 23 Mei) mengusung tema Locafore, yaitu gerakan gaya hidup baru yang ramah lingkungan, dengan mengonsumsi produk dan budaya lokal. Acara ini merupakan pesta mode dan boga yang memiliki misi melambungkan reputasi Jakarta sebagai pusat mode dan wisata belanja Asia, sekaligus memajukan industri boga dan kuliner tanah air. Yang disebut terakhir inilah kita akan mengenal lebih jauh makanan Nusantara, di araea yang disebut sebagai Kampeng Tempo Doeloe kita bisa berwisata kuliner bearagam makanan khas tradisional dengan suasana ala kota Jakarta tempo dulu, lengkap dengan miniatur Monas sebagai icon Jakarta.

Yang menarik, ada tema yang diusung kali ini, yakni aneka soto Nusatara. Soto? Ya, siapa yang tidak mengenal makanan berkuah ini. Meski dengan sebutan soto, sroto, atau coto, atau apa pun, makanan khas Indonesia yang terdiri dari kaldu daging dan sayaran ini sangat popular sejak zaman baheula.

Masing-masing jenis soto mempunyai penyajian yang berbeda-beda. Soto bisa dihidangkan dengan berbagai macam lauk dan dengan tambahan lain, seperti telur pindang, sate kerang, jeruk limau, dan koya (campuran tumbukan kerupuk dan bawang putih). Nasi biasanya menjadi pendamping soto, dan menjadi menu utama orang Indonesia – bukan appetizer disajikan sebagai sup dalam budaya Barat.

Nama-nama soto di Indonesia ada yang mengikuti kota atau daaerah asalnya, sebutlah soto betawi, soto padang, soto kudus, soto madura, soto (coto) makasar, soto banjar, soto ambengan, dan lain-lain. Ada pula yang berdasarkan bahan bakunya, sebutlah soto mie, soto daging, soto ayam, dan lain-lain. Itu baru soto, belum makanan yang lain, yang gagraknya bisa ratusan bahkan ribuan. Betapa kayanya kuliner Nusantara.

Dan yang menggembirakan, semuanya itu masih eksis. Masih ada dan menjadi menu makanan sehari-hari penduduk Indonesia. Festival Jajanan Bango (FJB), misalnya, secara riil menampilkan tak kurang dari 55 makanan yang dijual di Jakarta dan delapan kota besar di Indonesia.

Ini dia sebagian daftarnya: Nasi Campur Ajengan Bali, Ayam & Ikan Bakar Taliwang PSKD, Ayam Bakar Mas Mono, Ayam Penyet Depot Soto Sulung Suroboyo Bu Laminten, Bakso Bakar dan Ceker Senayan, Bakwan Malang Cak Uban, Baso Joni Ciragil, Bebek Goreng Yogi, Bubur Ayam Attoyibbah, Cipta Rasa Nasi Ulam Misjaya, Empal Gentong Cirebon Ibu Lili, Gabus Pucung & Pecak Gurame Bpk. Misan, Gado-gado Bon Bin, Iga Bakar Warung Melo, Ikan Bakar Nasri, Kari Umbi, Ketoprak Gandaria, Kwetiauw Aciap, Martabak Kubang, Mie Aceh Seulawah Benhil, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, Nasi Pecel Bu Linawati, Nasi Timbel Proklamasi, Nasi Uduk & Ayam Goreng H. Babe Saman, Nasi Ulam Bu Yoyo, Pondok Sate Pejompongan, Rujak Juhi Petojo, Sate Bang Tohir Kalibata, Sate Tegal Abu Salim, Sop Buntut Cut Mutia, Sop Kaki Kambing Enday, Soto Kaki Sapi Mencos, Soto Kudus Otista, Tahu Petis Yudistira, Tahu Super Pong Lym, Warung Anglo, Asinan Betawi Ny. Isye, dan masih banyak lagi.

Acunngan jempol boleh ditujukan untuk JFFF dan FJB. Dengan acara-acara yang mereka selenggarakan, mereka tidak hanya mempromosikan dirinya sendiri sebagai salah satu mal bergengsi di Jakarta atau kecap nomer satu di Indonesia, tapi mereka ikut melestarikan aneka masakan tradisional yang sudah dikenal luas dan dinikmati secara turun temurun di mana keberadaannya saat ini kalah pamor dengan makanan siap saji dari mancanegara. Salut! (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment