Wednesday, July 29, 2009

Going digital ...





MOBILE phones have become an inseparable part of life. Almost half of the world's population depends on them. In Indonesia, the use of mobile phones grows an average 6 percent per year. The growth of mobile phone ownership and telecommunication development in Indonesia is among the fastest in the world, along with India, China and Brazil.

A few years ago, only certain people in a few major cities used cell phones, but today usage is more widespread. People in villages and even small children now are using mobile phones for communication. The Indonesian Telecommunication Regulator Agency (BRTI) predicts that in 2011, the number of mobile phone users, both 2G and 3G, will reach more than 100 million.

Significant increases are not only seen in mobile phone usage but also in computers. Previously, PCs were expensive and could not be carried everywhere, but now there are sophisticated and low-cost notebooks, which are portable. With numerous Wi-Fi spots available in many places, notebooks are likely to be another mass product in the near future.

Based on Gartner survey company data, in 2002 the number of notebooks was only 20 percent of the total PCs worldwide. However in 2006, the figure increased to 40 percent. At the end of this decade, notebook numbers are predicted to exceed PCs.

There are several reasons behind this phenomenon. First is today's mobile lifestyle that requires many people to work while on the move. Another factor is the success of Intel Centrino in popularizing Wi-Fi connections for easy access to the Internet. Both factors have led to the production of various types of notebooks, which are affordable for many.

What is interesting is that both notebooks and mobile phones have turned into vital gadgets of communication for both voice and data. There can also be a combination or convergence of the two gadgets. For example, BlackBerry and other similar gadgets can be used for communication with a mobile phone or Internet function.

Meanwhile, the iPhone can be regarded as a mini notebook, while it can also be used as a mobile phone. It offers the following services: mobile Internet, data application, digital media and news, wallpaper, ringtone, streaming video, and much more.

Notebooks and mobile phones indeed play an important role in today's telecommunications. In a discussion last year in Jakarta, the Chairman of the Telecommunication Committee of the Indonesian Chamber of Commerce, Anindya Bakrie, said that conventional media companies had to revamp their facilities to anticipate the penetration of the Internet and mobile phones if they did not want to be left behind. "The convergence of media has become a new challenge, because there is a new potential that is untapped, the television, computer and mobile phone," said Anindya, who is also the president director of Bakrie Telecom.

Thus, almost all aspects of life, without one really feeling it, are directed toward digital convergence, which offers various new solutions for both common consumers as well as businesspeople. Therefore, it is not surprising that the Indonesian telecommunications industry, as the largest infrastructure for digital data service, is investing on a huge scale.

Just look at the market and you will see how major manufacturers are almost simultaneously rushing to launch new products, such as Sony Ericsson, Nokia, Samsung, LG and even some Chinese vendors who are releasing their latest smart phones. Of course, BlackBerry and iPhone are always renewing their sophisticated series. Cellular operators are also adding more facilities and services for customers, for example many kinds of information that can be received through SMS, or access to Internet sites, like Facebook.

Many operators are making the available smart phones smarter as an SIM card can be inserted in a digital gadget or a hybrid gadget, a combination of mobile phone and PDA, to optimize its capacity and capability. With such hybrid gadgets we can do more and such smart phones seem to have a brain that can store almost anything and see everything through its digital lens and hear everything through its microphone, and through its touchscreen it seems to feel our fingers.

Indeed, smart phones are made to make life more convenient as they allow us to better organize and manage our activities, check emails and surf the virtual world. Plus the size is no bigger than the palm of an adult's hand. Smart phones and other types of mobile phones will undergo constant innovation today and in the future and soon will become a widespread global trend. The trend is already starting. Indeed it is a changing world! (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, July 28, 2009

Monday, July 20, 2009

Memanfaatkan Peluang di Pasar yang Melemah


KRISIS global yang berawal dari Amerika Serikat dampaknya ke seluruh belahan dunia. Bisnis properti tak luput dari imbasnya. Kendati demikian, fenomena ini merupakan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis properti untuk memberikan berbagai kemudahan dan diferensiasi produk yang akan dirilis. Problemnya adalah bagaimana merangkul pasar dengan strategi jitu dan mendapatkan respon positif dari konsumen.

Guna melakukan terobosan pasar, pelaku bisnis real estate memerlukan strategi jeli untuk melahirkan produk yang inovatif dan kreatif. Setidaknya produk tersebut harus mampu mengakomodir keinginan pasar, namun bujet yang digelontorkan haruslah realistis di tengah masa sulit ini. Siasat jitu yang mengadopsi pada kebutuhan pasar adalah langkah penting demi eksistensi bisnis. Sementara itu, elemen yang terlibat di dalamnya tidaklah sedikit. Diperlukan sikap proaktif dari pebisnis untuk mempelajari pasar yang dinamis. Efisiensi juga memegang peranan penting namun tetap merilis output yang maksimal.

Secercah harapan yang bisa dirangkul itu bukan sekedar untuk bertahan di jalur bisnis, melainkan untuk bangkit menjadi sosok yang lebih kuat. Sudah sepantasnya jika pengembang juga membantu konsumen dalam mengembangkan bisnis, karena mereka sudah terlanjur basah berinvestasi.  Intinya, pebisnis di jalur ini harus mampu mengoptimalisasi produk yang efisien dan diterima pasar, khususnya para tenant. Berikut beberapa tips:

1.     Optimalisasi Lahan

Perusahaan harus peka terhadap lahan atau ruang  yang lebih akomodatif optimal. Sementara itu, ruang yang yang efektif juga tak lepas dari beberapa faktor. Misalnya, pemanfaatan ruang tersebut harus maksimal penggunaannya. Ruang yang tersedia juga harus memenuhi standar sistem informasi teknologi yang efisien sehingga format workstation bisa dihindari.  Hal ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja SDM. Meminimalisir area juga memegang peranan penting, seperti area resepsionis, ruang pertemuan, ruang mewah, ruang menunggu, ruang bersantai, yang penggunaannya bisa dialokasikan ke hal yang lebih penting dan produktif.

2.     Kelengkapan dan Akurasi Data

Kelengkapan dan akurasi data memegang peranan penting dari perencanaan portofolio dan prediksi biaya manajemen. Kemampuan untuk mempelajari dinamika dan variasi pasar sangat diperlukan demi terciptanya biaya yang efisien. Hal ini menuntut adanya data yang valid perihal harga sewa, leasing, persyaratan, kondisi bangunan, kekuatan landlord, nilai aset, pembagian wilayah, efektivitas penggunaan, namun yang paling penting adalah memaksimalkan peluang untuk meredam biaya ke arah yang lebih efisien.

3.     Bertahan di Pasar

Banyaknya tawaran dan proyeksi sewa masih bersifat fluktuatif dalam masa 12 bulan. Pasalnya, permintaannya justru cenderung negatif untuk pasokan baru dalam memasuki pasar. Ini merupakan celah menguntungkan bagi perusahaan untuk mempelajari perubahan harga sewa, nilai pasar, dan dinamika yang terjadi. Maka, diperlukan identifikasi yang komperehensif dan negosiasi cemerlang demi hasil yang maksimal.

4.     Identifikasi Surplus

Bangunan yang bisa memaksimalkan produktivitas karyawan adalah salah satu opsi terbaik dalam membentuk portofolio untuk kemudian disewakan lagi. Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan perusahaan untuk sublease (menyewakannya kembali). Misalnya, kekuatan dan fleksibilitasnya, nilai kontrak yang sesuai pasar, efisiensi operasional gedung, fitur khusus pemasaran, kualitas landlord, dan biaya yang harus disiapkan untuk sublease.

5.     Bergerak Cepat!

Merangkul pasar di tengah kondisi yang melemah adalah sebuah tantangan besar. Maka, perusahaan harus jeli memanfaatkan “langkah pertama” untuk mendapatkan lahan secara cepat dengan strategi negosiasi yang fleksibel ketika sublease tenant yang potensial sudah ditemukan.

6.     Memfungsikan Outsourcing

Ketika memasuki masa downsizing, mengeksplorasi cara-cara baru dengan outsourcing atau melakukan negosiasi ulang kontrak layanan yang ada memang memberikan keuntungan tersendiri. Misalnya, bisa meningkatkan leverage untuk menurunkan biaya-biaya. Selain itu memberikan level efisiensi yang lebih tinggi. Dan, memberikan kemampuan untuk menyesuaikan kembali layanan berdasarkan tingkat kebutuhan yang kerap berubah-ubah.

7.     Mempertahankan Penyewa

Ketika permintaan menurun dan vacancy yang bertambah, persaingan di antara landlord semakin sengit untuk mempertahankan penyewanya. Penyewa yang akan habis masa sewanya memiliki kesempatan bernegosiasi untuk melanjutkan okupansinya. Salah satu kelebihan yang bisa diciptakan adalah harga sewa yang rendah atau bahkan sewa gratis dalam periode tertentu.

8.     Meredam Biaya Okupansi

Tinjau ulang semua biaya okupansi demi mengidentifikasi area mana yang bisa dialokasikan sebagai bentuk penghematan. Perusahaan harus jeli meninjau kontrak dan mampu melihat kesempatan untuk bernegosiasi atau bahkan melakukan tender ulang yang kompetitif.

9.     Menciptakan Peluang

Di tengah iklim yang serba sulit ini, diperlukan strategi jitu sebagai bentuk kekuatan modal jangka panjang. Ketakutan terbesar landlord  adalah kredit macet dengan jumlah akun yang signifikan. Justru di sinilah kesempatan untuk membeli, lalu menjualnya atau menyewakan kembali dengan jangka waktu panjang.

10.  Apa yang Harus Dilakukan Jika Masa Sewa Berakhir?

Untuk masa sewa yang berakhir dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, pasti hanya terdapat dua pilihan. Umumnya, perusahaan harus memperpanjang sewa atau pindah ke lokasi lain. Jika sewa diperpanjang, persyaratannya pasti di level minimum. Alternatif lainnya, kontrak pembaharuan dengan syarat yang sewaktu-waktu bisa saja berhenti di tengah jalan atau berhenti di pertengahan. Hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengambil keuntungan sewa yang lebih rendah di tengah pasar yang juga menurun. (Cushman & Wakefield Indonesia)