Friday, August 07, 2009

Belajar dari Sang Maestro, Bob Sadino


BOB Sadino, siapa yang tak kenal. Pria yang setia dengan celana pendek jins dan kemeja kutung adalah sosok entrepreneur yang sukses di bidang F&B dan pasar swalayan, dengan jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Begitu mendapat kesempatan untuk mewawancarainya, jelas ada kebanggan tersendiri, selain rasa rasa was-was. Maklum, pria bernama lengkap Bambang Mustari Sadino kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933 ini dikenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan sering tak terduga. 

Benar saja, hampir semua tim Appetite Journey yang datang ke rumahnya di kawasan Cirendeu Jakarta Selatan yang asri tak luput dari semprotannya setiap kali salah merumuskan pertanyaan atau mengemukakan opini yang tidak mengena. “Goblok, kamu!”

Apa boleh buat, Bob Sadino memang maestro di bidang bisnis, sehingga apa pun yang keluar dari mulutnya adalah memang kebenaran semata. Mungkin saja ada kata-kata yang menurut awam “menyakitkan”, tapi begitulah cara Om Bob – begitu ia akrab disapa, memberi pelajaran kepada para muridnya. Bahkan salah satu judul bukunya menggarisbawahi sikapnya tersebut, “Belajar Goblok dari Bob Sadino”, terbitan Kintamani Publishing, 2007. 

Tanpa tujuan, tanpa rencana, tanpa harapan. Begitulah Om Bob menjalani usaha, juga menjalani hidupnya, “Seperti air yang mengalir saja,” tukasnya. “Buat apa saya punya rencana yang hebat-hebat? Padahal Tuhanlah yang menentukan segalanya. Dialah master planner saya,” katanya lagi.

Sikap pria berambut putih yang rada cuek ini ternyata sejalan dengan pola pikirnya yang apa adanya. Sebab, demikian Om Bob, apa yang diraihnya saat ini adalah berkat pola pikir yang apa adanya itu. Tanpa target, apalagi obsesi yang muluk-muluk, tapi yang penting adalah berbuat dan berusaha total dalam menggeluti apa saja. 

Tapi bukan berarti ia menjalani hidup yang datar-datar saja, justru seperti lirik dalam lagu The Beatles, ia harus menempuh The Long and Winding Road. Hidup pria lulusan SMA ini cukup keras dan berliku, pernah menjalani berbagai profesi, mulai dari sopir taksi hingga kuli bangunan untuk sekadar bertahan hidup. Ia juga pernah merantau selama sembilan tahun ke Amsterdam (Belanda) dan Hamburg (Jerman), sejak 1958. Sebetulnya di negeri orang tersebut ia pernah mencapai titik aman, menjadi pegawai Djakarta Lloyd yang bergaji besar. “Tapi saya meninggalkan semua kemapanan itu, dan kembali ke Tanah Air,” ujarnya.

Mengapa ia mau meninggalkan comfort zone dan memulai dari nol? “Yang saya cari adalah kebebasan,” kata drop out Fakultas Hukum UI Jakarta ini. 

Kebebasan, itulah kata kunci Om Bob saat keluar dari kantor yang diidam-idamkan banyak orang, dan berniat menjadi juragan bagi diri sendiri – dan tentu bagi banyak orang, kelak. 

Demi cita-cita meraih kebebasan itu pula yang membuat ia rela menempuh jalan hidup hidup yang tidak mulus, bersama istri tercintanya. Modal yang ia bawa dari Eropa adalah dua sedan Mercedes tahun 1960-an. Yang satu ia jual dan uangnya ia belikan sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Sedang yang lainnnya ia manfaatkan sebagai taksi yang disopirinya sendiri. 

Suatu kali mobilnya disewakan. Ternyata, bukan uang yang disetor, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya, satu-satunya yang memberikan sumber penghasilan. Sebenarnya, kalau Bob Sadino mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan penghasilan rumah tangganya. Tetapi, ia bersikeras bahwa ialah yang, karena sebagai kepala rumah tangga, yang mencari nafkah. Meski untuk itu ia rela menjadi kuli bangunan.

Menjadi kuli bangunan jelas berat. Ia pun pernah stres berat. Tapi ketika seorang temannya mengajaknya memelihara ayam, ia terinspirasi, bahwa ayam saja bisa hidup dan mencari makan, mengapa manusia tidak. 

Tidak hanya terinspirasi survival ayam, Om Bob pun mengawali wirausahanya dengan menekuni usaha ternak ayam. Pada awalnya, ia menjual telur beberapa kilogram per hari bersama istrinya, door to door. Berikutnya, dengan ketekunan dan kemampuannya menjaga hubungan baik dengan pelanggannya, usahnyanya makin berkibar. Dari hanya menjual telur merambah ke aneka bahan makanan – inilah yang menjadi cikal bakal Kemchick. Ia kemudian juga merambah agribisnis, menjual sayur mayur kepada para ekspatriat, berikutnya juga terjuna ke bisnis daging olahan – yang menjadi cikal bakal Kemfoods.

Kenapa yang dipilih selalu bidang makanan? Baginya, bisnis makanan bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya, karena itu ia tak ingin beralih ke bidang lain. “Selama pantat orang masih bolong, bisnis makanan tetap menarik,” katanya sambil tertawa.

Tak punya kunci sukses
Setiap orang yang sukse selalu mempunyai kiat atau cara dalam mencapai suksesnya. Tapi Bob Sadino selalu menyebut dirinya tak punya kunci sukses. “Buat saya, menjadi pengusaha itu tidak ada syaratnya. Ini gobloknya orang pintar saja, yang membuat seribu macam persyaratan sebelum menjadi pengusaha,” kata bapak dua putri ini enteng.

Yang jelas, Om Bob hanya percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diimbangi kegagalan, peras keringat, dan bahkan jungkir balik. “Uang adalah prioritas nomor sekian, yang penting adalah niat dan usaha, selalu bisa memanfaatkan peluang, sekaligus mengambil risiko,” kata penggemar musik klasik dan jazz ini. 

Menurutnya, kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak berpikir membuat rencana tapi tidak segera melangkah. Ketika orang hanya membuat rencana, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain, muncullah sifat sombong. Padahal, intinya sebenarnya sederhana saja, lakukan dan selalu dengarkan saran dan keluhan pelanggan. “Kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu saya selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya,” kata pria yang di usia senjanya masih kelihatan segar bugar ini.

Bob Sadino percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang banyak orang kira. Namun, selama ada niat dan komitmen yang kuat, serta perjuangan dan kerja keras, impian untuk meraih sukses dan kaya bukan hal yang mustahil. Bob Sadino adalah contoh nyata bahwa hanya bermodal dengkul, tapi berlandaskan niat dan keyakinan, serta kerja keras pantang menyerah, tanpa teori sukses ia pun bisa jadi seperti sekarang. (Burhanuddin Abe)

Appetite Journey, August 2009

1 comment:

  1. Ha..ha..saya juga pernah mewawancarai Om Bob, sama, sesekali keluar kata "Goblok" dari mulutnya

    ReplyDelete