Sunday, September 27, 2009

Hotel Terbaik 2009



BERSAMAAN dengan dilangsungkannya pemilihan Hotel Terbaik Indonesia 2009 versi online, Redaksi National Geographic Traveler juga menggelar sarasehan yang dilangsungkan di Fpod, FX Entertainment X’ntre, Jakarta. 

Dihadiri para peserta panel diskusi dari berbagai latar-belakang bidang kekhususan, seperti William Wongso (pakar kuliner), Jay Subijakto (pekerja dan penikmat seni), Muhammad Gunawan ‘Ogun’ (pendaki gunung), Amir Sidharta (pengamat seni), Riyani Djangkaru (presenter), Burhan Abe (pemimpin majalah travel dan kuliner), Ade Purnama ‘Adep’ (komunitas pejalan), Siti Kholifah (produser acara traveling di televisi) dan Heryus Saputro (jurnalis senior). 

Ada sederet penilaian yang bisa dituangkan untuk kategori sebuah tempat menginap. Dengan tidak mengadakan perbedaan berdasar klasifikasi daya tampung dan kategori hotel secara umum. 

Seperti misalnya kata ‘hotel’ yang selama ini digunakan untuk menyebut akomodasi komersial dirasa kurang tepat. Karena pada dasarnya, tempat menginap tak dapat diklasifikasikan rata atau standar begitu saja. Tapi mesti mengandung keunikan yang membuatnya berbeda, tetap disukai dan ingin dikunjungi kembali.
William Wongso, mengungkap, “Di masa depan, masyarakat ingin mendapatkan sesuatu yang pribadi. Hingga tempat menginap juga harus memiliki sebuah personality. Bukan sekadar untuk bermalam, juga bukan kategori the best.” 

Hal yang disorot mendalam, juga tingkat kepedulian penginapan akan lingkungan hidup. Berbagai seruan dan komentar mengalir deras saat topik ini dilempar pada peserta diskusi panel. Hotel dilengkapi restoran dengan masakan satwa langka atau dilindungi dianggap memprihatinkan. Terlebih bila promosi diadakan besar-besaran hingga tampil di media cetak atau papan pariwara pinggir jalan. 

Di lain pihak, para peserta sarasehan memberikan dukungan terhadap berbagai penginapan yang menerapkan konsep green living atau usaha-usaha mendukung pelestarian alam. Seperti ajakan kepada para tamu berupa kartu petunjuk di kamar mandi agar tidak setiap hari mengganti handuk, karena pencuciannya melibatkan deterjen dan penggunaan air. Dengan berhemat semisal 2 - 3 hari sekali baru diganti, pihak penginapan pun sudah memberi masukan positif terhadap upaya pelestarian. 

Demikian pula beberapa tindakan penginapan yang peduli lingkungan, seperti mengganti pemakaian kantong plastik pakaian kotor (laundry bag) dengan kantong kain daur ulang serta bisa dipakai lebih dari sekali. Atau wadah-wadah sabun mandi dan sampo dari material non-plastik yang bisa diisi kembali (refill). 

Berikut hotel favorit 2009 pilihan peserta sarasehan Hotel Terbaik 2009 National Geographic Traveler; 

Hotel Niagara (Lawang),
Hotel Majapahit (Surabaya), 
Roemahkoe Bed and Breakfast (Solo),
Hotel Candi Baru (Semarang),
Pondok SVD (Riung, Flores),
Menjangan Resort (Bali Barat),
Begawan Giri (Ubud, Bali),
Sheraton Timika (Papua Barat),
Echo Hotel (Lembah Harau, Bukittinggi, Sumatra Barat),
St Regis (Bali)
The Mansion (Ubud, Bali),
Java Cove (Pangandaran, Jawa Barat),
Ayana (Bali),
Kima Bajo (Manado, Sulawesi Utara),
Kampung Sampireun (Jawa Barat),
Lava View Lodge (Probolinggo),
Sabang Guesthouse (Sabang, Nangroe Aceh Darussalaam),
Hotel Santika Premiere, (Manado, Sulawesi Utara),
Four Seasons (Jimbaran, Bali),
Alila Icon, (Kemang, Jakarta), dan
Hotel Maya (Ubud, Bali). 

(By Ukirsari on September 7, 2009) 

No comments:

Post a Comment