Thursday, September 17, 2009

Jazz for West Java


GEMPA berkekuatan 7.3 skala Richter di Jawa Barat beberapa waktu yang lalu yang memprorakpandakan wilayah tersebut, menggugah para musisi jazz Indonesia untuk berbuat sesuatu. Jazz for West Java adalah wujud dari nyata kepedulian mereka, sambil ngejazz ikut membantu penggalangan dana, mengumpulkan donasi guna membantu para korban gempa.

Konser yang berlangsung di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta, Minggu (13/09/09) itu adalah hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta, Simpay Wargi Urang, WartaJazz.com, Palang Merah Indonesia, dan Farabi Music. “Insya Allah seperti halnya kepedulian kita pada korban Tsunami Aceh dan Gempa Yogyakarta, kali ini kita menggelar konser amal untuk para korban gempa Jawa Barat,” ujar Dwiki Dharmawan, salah seorang pengagas acara.

Para musisi jazz Indonesia yang tampil malam itu adalah Benny Likumahuwa, Utha Likumahuwa, Jilly Likumahuwa, Barry Likumahuwa Project, Krakatau, B3, Rio Febrian, Didik SSS, Fariz RM, Maya Hasan, Tompi, Idang Rasjidi, Andien, Budjana, Tohpati, World Peace Orchestra, Agam Hamzah, Adi Darmawan, Kulkul, Donny Suhendra, Riza Arshad, Bintang Indrianto, Yance Manusama, Tere, ES.QI.EF, Gerry Herb, Audiensi Band, Otti Jamalus Quartet, Clorophyl D’next Generation, Yeppi Romero, Oppie Andaresta, Gerald Trio, Notturno, Rio Moreno, dan banyak lagi.
Penyair Taufik Ismail ikut ambil bagian dengan membacakan karya puisinya.

Meski terkesan dadakan tapi bukan berarti acara yang dipandu Farhan itu asal-asalan. Konser lintas generasi itu justru sangat powerful, karena menggali kemampuan personal dengan style masing-masing yang unik. Ada jazz standar, latin jazz, swing, fusion, hingga pop jazzy masa kini. Krakatau yang dipimpin Dwiki Dharmawan mengeksplorasi kekuatan musik etnis, bahkan menampilkan penari topeng cirebon untuk memperkuat etnisitas tersebut. Sementara Fariz RM dan Utha Likumahuwa membawakan hits mereka di eranya, membuat suasana nostalgik. Tompi & Friends patut mendapat acungan jempol. Dalam musikalitas jazz yang kental, ia berhasil memadukan dengan sound musik tradisional Aceh yang relegius, pas dalam suasana Ramadhan.

Dalam acara tersebut juga dilelang organ milik Dwiki yang sudah dipakai sepanjang kariernya selama dua dekade lebih, lukisan Sam Bimbo, dan sepatu plus pernak-pernik milik Tere. Juga suara Adang Darajatun, sesepuh “urang Sunda”, yang malam itu membawakan lagu Sunda – diiringi Dwiki dalam irama bossas. Tak kurang Rp 250 juta dana yang terkumpul malam itu, yang semuanya diperuntukkan bagi korban gempa. (Abe)

No comments:

Post a Comment