Thursday, October 08, 2009

Keunikan Latar Belakang, Nilai Historis dan Budaya


NILAI historis dan arsitektur lama yang dipertahankan oleh pengelola hotel mendapat sambutan positif dari peserta sarasehan kami.

Para reserta sarasehan segera melontarkan nama penginapan favorit yang mengerucut nyaris sama, saat membahas tentang keunikan hotel ditinjau dari sisi historis dan budaya. Nama Hotel Niagara (Lawang, 1918), Candi Baru (Semarang, 1919), Majapahit (Surabaya, 1910) dan Roemahkoe (Solo, 1938) masuk dalam catatan paling atas. ”Prinsipnya, arsitektur bangunan jangan merusak kondisi yang sudah ada,” tukas Jay Subyakto seraya menambahkan, Hotel Niagara merupakan pilihannya. ”Meski ada kisah misterius dan gaya penjaga Hotel serasa turut mengarahkan pada keangkeran, tapi keindahan bangunannya mengalahkan semua itu.”

Sedang William Wongso menyebut, memasuki dan tinggal di Hotel Majapahit serasa masuk museum. ”Kondisi tetap terjaga dan latar belakang sejarah serta peristiwa heroik membuat tempat menginap ini istimewa,” demikian pendapatnya.

Dari Ade Purnama atau biasa di sapa Adep, Hotel Candi Baru yang dulunya dikenal sebagai Bellevue menjadi pilihan utama. Apalagi, harga kamar masuk dalam kategori hemat atau sesuai budget. ”kamar-kamarnya sangat luas. Bahkan untuk kelas Suite di lengkapi ruang kerja dan meja.”

Sedang Burhan Abe menjatuhkan pilihan pada Roemahkoe karena upaya sang empunya dalam melestarikan Budaya Lokal. Utamanya soal lokasi di Sentra Batik Laweyan, hingga tetamu bisa dengan mudah berjalan-jalan ke berbagai gang yang menyediakan Batik Tulis. ”Tamu juga bisa minta disediakan kelas membatik saat tinggal disana,” imbuhnya.

Sekadar catatan dari redaksi, Hotel Candi Baru terletak di jalan Rinjani No. 21, Semarang. Merujuk pada namanya sekarang, hotel ini terletak di kawasan Candi di kawasan perbukitan, hingga pejalan dapat menyaksikan lanskap kota. Arsitekturnya bergaya kolonial warisan Belanda, dengan kedai kopi jaringan Internasional terletak berseberangan.

Sedang Hotel Niagara, mudah ditemukan pengunjung saat akan masuk kota Lawang, dari arah Surabaya. Bangunan di jalan Soetomo No. 63, Lawang yang kini berwarna kemerahan menyeruak di kanan jalan. Sang arsitektur, Fritz Joseph Pinedo asal Brazil membuat bangunan ini sebagai tempat tetirah pribadi keluarga China terkemuka, bersentuhan art nouveau.

Hotel Majapahit merupakan satu dari bangunan warisan Sarkies bersaudara yang merupakan pengusaha jaringan hotel kolonial dan bersejarah di kawasan Asia Tenggara. Penginapan di Jalan Tunjungan No. 65 Surabaya ini terkenal karena peristiwa bersejarah perobekan bendera Belanda oleh para pemuda Surabaya yang berlanjut dengan perang 10 November 1945.

Dibanding ketiga Hotel di atas, Roemahkoe yang mengklasifikasikan keberadaannya sebagai bed and breakfast tergolong bangunan paling kecil. Terletak di jalan Dr. Radjiman No. 501 Laweyan, Solo, bangunan bergaya art deco ini tadinya merupakan rumah dari saudagar batik terkemuka. (National Geographic Traveler, September 2009)

No comments:

Post a Comment