Thursday, October 08, 2009

Kuliner Citarasa Otentik



PISANG goreng, nasi timbal dan sambel cobek. Kuliner ”ndeso” dengan cita rasa khas dan cara penyajian sederhana, menimbulkan kerinduan tersendiri di hati pejalan yang terbiasa tinggal di kota besar, seperti Siti Kholifah atau Ifah. Produser acara “Koper dan Ransel” di salah satu stasiun televisi swasta ini tak bisa melupakan pengalaman saat menyantap kuliner macam itu di desa Wisata Bumihayu, Subang, Jawa Barat. Ia juga mengaku sangat terkesan saat menginap di eco-homestay Kemuning Resort, Sukabumi. Selain tarif murah, kuliner yang disajikan sangat otentik. Kesan yang sama juga pernah dirasakan oleh Ade Purnama, ”menginap di eco-homestay, dan menyantap makanan yang disajikan dari dapur apa adanya, wah, benar-benar nikmat sekali.”

Kuliner ini tetap di buru pejalan, seperti Burhan Abe, meski ia menginap di hotel berbintang sekalipun. Saat menginap di The Mansion atau Royal Pita Maha di Ubud, Bali, juga di Alila, Manggis, Bali, ia menyewa mobil untuk menyusuri perkampungan dan mampir di warung nasi ayam Kedewatan. Tempat menginap yang bagus, sesal Burhan Abe, jarang dilengkapi tempat makan yang memiliki spesialisasi tertentu dengan cita rasa serta cara penyajian yang otentik dan nyambung di indera pengecap. Karena itu, sumbangsih makanan dari masyarakat setempat yang enak senantiasa menimbulkan kerinduan tersendiri, sebagaimana diakui Heryus Saputro. Wartawan senior ini amat terkesan dengan pengalaman mencicipi kuliner tradisional di Sukabumi, usai arung jerang bersama Arus Liar.

Menu rumahan yang enak seperti sayur asem dan empal gepuk, diakui Riyanni Djangkaru, sebagai menu teristimewa yang pernah ia cicipi saat berada jauh dari rumah. Tepatnya di sebuah homestay sederhana tanpa pendingin udara di Ijen, sekitar 4 jam waktu tempuh berkendara dari Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, Riyanni juga mencicipi menu lain yang citarasanya tak mudah ia lupakan, ”Kopi arabika dan luwak, olahan stoberi organik, dan kentang madu-madu kukus dengan saus madu putih dari Lombok.”

Pengalaman menyeruput kopi dan menyantap makanan organik juga pernah dialami Muhammad” Ogun” Gunawan saat berada di sebuah perkebunan organik di Kalibaru, dekat Glenmore, Banyuwangi. “Bernostalgia ala Belanda.” tukas Ogun.

William Wongso memaklumi jika kebanyakan pejalan mencari menu otentik di tempat makan sederhana, dari pada restoran di hotel berbintang. Berdasarkan pengalamannya sebagai pakar Kuliner yang sering keliling Indonesia (dan mancanegara), William mengakui, ”banyak hotel berbintang mengklaim sebagai yang terbaik dari segi lokasi dan arsitektur. Tapi mutu food and beverage-nya nol!” William juga sering mendapati beberapa kerabat atau sahabatnya membawa lauk pauk atau makanan sendiri kala berpergian, karena kuatir tak mendapat kecocokan selera dengan sajian restoran di hotel. Menurut William, kebanyakan hotel menyajikan menu standar seperti American Breakfast, tanpa mengangkat keunikan kuliner tradisional, karena Chef terpaku pada sistem. Tanpa variasi menu dan citarasa yang memadai, tamu hotel akan bosan, lalu mencari menu otentik di luar hotel, atau membawa bekal makanan sendiri dari rumah.

Lebih jauh, William mengungkapkan pengalamannya menginap di Gardenia, Tomohon, Sulawesi Utara, yang memiliki sajian kuliner yang mengesankan. Juga, di Bali, serta di sebuah tempat menginap di Malibaya, Lembang, Jawa Barat, yang menyajikan menu rumahan dengan sentuhan Belanda, diolah oleh koki keluarga, secara turun temurun. Agar lekat di hati tetamu, tegas William, sajian menu di hotel harus memberi apresiasi terhadap kuliner lokal. (National Geographic Traveler, September 2009)

No comments:

Post a Comment