Thursday, October 08, 2009

Program Pelestarian Lingkungan Hidup


BERBAGAI seruan dan komentar mengalir deras saat topik membahas soal tempat menginap yang restorannya menyediakan material satwa langka atau di lindungi sebagai daya tarik utama bagi para tamu, baik yang menginap atau tidak. Terlebih bila promosi diadakan besar-besaran hingga tampil di media cetak atau papan pariwara pinggir jalan.

Sebagai seorang pakar kuliner, William Wongso menyatakan keprihatinan mendalam. ”Apalagi, bila masakan ini didasarkan pada kepercayaan atau believe,” tandasnya. Mulai manfaat sebagai obat keperkasaan sampai penunjang kesehatan diyakini dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya. Ujung-ujungnya, tentu saja kepunahan bagi satwa tertentu. ”Padahal dari segi citarasa pun tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena pertunjukannya bukan bahan pangan.”

Senada, Heryus Saputro menyatakan bisa saja bahan pangan yang dimaksud tidak termasuk kategori langka atau dilindungi, tapi cara untuk mendapatkannya dilalui dengan cara khusus yang merusak alam. Tindakan demikian, tidak dibenarkan.

Sementara Muhammad Gunawan menambahkan, ”Dalam hal ini dibutuhkan kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna penginapan. Cara menyikapi tergantung pada individu, tapi sebaiknya memang tidak merekomendasikan hotel dengan ’Keterampilan’ mengolah bahan masakan dari materi langka yang dilindungi atau terancam kepunahan.”

Pihak pengelola hotel diminta lebih peduli soal lingkungan hidup, dengan cara ikut aktif membaca atau mencari informasi berbagai satwa dan bagian lalam yang dilindungi atau hanya dapat digunakan dalam jumlah terbatas, demi mendukung keutuhan dan keseimbangan alam. Dengan memiliki daftar, usaha perluasan pemasaran satwa dilindungi pun bisa direndam sedikit demi sedikit. ”karena sebuah pasar terbentuk, bila ada permintaan dari konsumen,” imbuh Heryus. ”Bila pihak hotel menyediakan tapi tidak ada tamu yang berminat atau tertarik, nanti juga tidak disajikan lagi.”

Di lain pihak, para peserta sarasehan memberikan dukungan terhadap berbagai penginapan yang menerapkan konsep green living atau usaha-usaha mendukung pelestarian alam. Seperti ajakan kepada para tamu berupa kartu petunjuk di kamar mandi agar tidak setiap hari mengganti handuk, karena pencuciannya melibatkan deterjen dan penggunaan air. Dengan berhemat 2 – 3 hari sekali, pihak penginapan sudah memberi masukan positif terhadap upaya pelestarian.

Demikian pula beberapa tindakan penginapan yang peduli lingkungan, seperti mengganti pemakaian kantong plastik pakaian kotor (laundry bag) dengan kantong kain daur ulang. (National Geographic Traveler, September 2009)

No comments:

Post a Comment