Tuesday, November 03, 2009

50.000 Botol Wine dari 30 Negara


INDUSTRI wine di berbagai belahan bagian dunia dalam beberapa tahun terakhir ini telah tumbuh sangat cepat. Di wilayah ASEAN Singapura boleh jadi menjadi pelopor, minimal dalam menangkap peluang menyelenggarakan event yang berkaitan dengan dunia wine. “Wine for Asia” (WFA), itulah judul acara tersebut yang tahun ini memasuki tahun ke tujuh.

Event ini akan berlangsung dari 22 hingga 24 Oktober 2009 ini diselenggarakan oleh MP Wine Resources, gabungan kerjasama antara MP International dan Wine Resources. Di Suntec, yang makin populer sebagai gedung pameran di Singapura yang luas keseluruhan kini mencapai 5.800 meter persegi, hadir tak kurang dari eksibitor dari sekitar 376 perusahaan baik lokal maupun internasional. Atau ada sekitar 50.000 botol wine berbagai merek dari 30 negara.

“Kami bangga menjadi tuan rumah WFA 2009 dan kami menyambut baik seluruh pecinta wine, baik yang profesional, dari kalangan perdagangan wine serta para pelaku bisnis yang terkait di industri wine,” ujar Malcolm Tham, konsultan proyek WFA 2009.

Malcolm yang juga dosen di Science and Art of Wine dan International Wine Importer Course itu menambahkan bahwa event ini menyedot tak kurang dari 5.000 pengunjung dengan latar belakang trade dari Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia tentu saja.

Banyak benefit yang bisa dicapat dari acara tersebut. Paling tidak seperti yang diakui Richard Lieu, Director – Trade Promotions California Wines, “Acara ini penting untuk mempertemukan penjual dan pembeli, dengan pasar Asia Pasifik.”

Hal senada diungkapkan oleh Eddy Sugiri, pemilik restoran The Peak di Bandung dan beberapa wine lounges di Bandung dan Jakarta. “Saya banyak belajar dari acara ini, baik dalam hal penyelenggaraan maupu ilmu tentang wine yang makin spesifik,” katanya.

Memang, WFA 2009 tidak hanya pameran. Lebih dari itu, acara ini menawarkan one-stop platform dengan penawaran-penawaran wine terbaru, kelas-kelas, dan tentu saja kesempatan networking bagi sesama pencinta gaya hidup, khususnya wine lovers.

Beberapa event khusus dalam WFA, antara lain “Penfolds Grange Vertical Tasting”, yakni mengenal Penfolds Grange lebih dalam, dan mengapa menjadi salah satu wine paling terkenal di dunia dalam cita rasa eksklusif. Pemandunya adalah Penfolds Brand Ambassador, Jamie Sach dan penerbit dari The Wine Review, Ch’ng Poh Tiong, yang telah mengadakan vertical tasting selama lebih dari 20 tahun meliputi periode 1983, 1990, 1991, 1998, 1999, 2002 dan yang baru saja dirilis, Spectacular 2004 Vintages. Inilah pengalaman sederhana, menikmati wine dari tujuh hasil panen terbaik yang pernah diproduksi, yang menyenangkan bagi pecinta wine!

Yang juga menarik adalah “Pinot Noir Forum”. Kelas ini berbicara tentang salah satu jenis wine yang populer di dunia, juga Asia tentu saja. Dalam beberapa tahun belakangan Pinot Noir telah meningkatkan penjualannya di Asia. Masyarakat Asia telah dipresentasikan dengan gaya yang berbeda dari Pinot Noir yang datang dari region yang berbeda di seluruh dunia, seperti Burgundy, Oregon, dan New Zealand. Pembicara utama dalam forum tersebut adalah ahli Burgundy, Jean Pierre Renard.

Juga, jangan lupa, sommeliers terbaik di Asia diadakan di WFA. Diselenggarakan oleh SOPEXA dan didukung oleh WFA tentu saja, kompetisi best sommeliers pertama di Asia Tenggara ini merupakan inaugurasi event landmark untuk sommelier lokal maupun internasional untuk berkompetisi di level internasional.

Para jawara dari berbagai negara, atau pemenang dari kompetisi nasional sommelier di Indonesia, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam diadu melawan satu sama lain dalam pertarungan over blind tasting of wines and spirit, juga bagaimana menampilkan makanan bersamaan dengan wine. Sayangnya Indonesia, yang diwakili Suryanto dari Four Seasons Hotel Jakarta, kali ini belum berhasil menjadi juara.

Tidak hanya pengetahuan tentang taste. WFA juga membuat kelas dengan topik yang berkaitan dengan bisnis wine. Di antaranya “Wine Business Forum: Responding to the World Financial Crisis”. Di sini dibahas kaitan antara krisis finansial global dengan industri wine. Sementara topik “International Wine Importer Course”, melengkapi kemampuan bisnis wine-related untuk memberikan mutu terbaik bagi bisnis wine.

Profesional dan agresif
Boleh diakui, sebagai negara penjual jasa, Singapura sangat profesional dalam berbagai penyelenggaraan event internasional, termasuk WFA. Berbagai lembaga yang berkaitan dengan industri wine saling mendukung dan bekerjasama. Dua lembaga yang penting dalam WFA adalah MP Asia Pte Ltd dan Wine Resources Pte Ltd. MP Asia adalah bagian dari grup MP International (MPI) yang memiliki spesialisasi dalam mengorganisasi pameran, konferensi dan event spesial untuk beragam industri dan grup. Didirikan di Singapura pada tahun 1987 dan didukung oleh jaringan internasional, grup ini telah mengorganisasi dan menyelenggarakan sekitar 300 event nasional, regional dan internasional.

Sementara Wine Resources bisnis utamanya adalah mengorganisasi event wine dan pendidikan. Mereka berkolaborasi dengan Singapore Polytechnic dan Singapore Chinese Chamber Institute of Business untuk menyelenggarakan program tersertifikasi dalam industri wine dalm bahasa Inggris dan Mandarin.

Selain profesional mereka juga sangat agresif. Dalam pra event, penyelenggara melakukan kampanye di negara-negara penghasil utama wine untuk menarik para pecinta wine dan eksportir dalam WFA 2009. Mereka melibatkan berbagai pihak, sebutlah anggota wine bodies, asosiasi, dan agen di negara-negara utama penghasil wine untuk mencapai industri wine internasional. Di antara para klien, penyelenggara WFA 2009 telah bekerja sama dengan agensi-agensi seperti Austrade dan Sopexa untuk memasarkan event ini.

Penyelenggara juga melakukan roadshow di Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia tentu saja, untuk menarik pengunjung trade ke ajang WFA 2009, one-stop shopping venue di dalam industri wine regional.

Mengapa Singapura serius, karena industri wine memang lagi naik daun di Asia. Berdasarkan riset industri ini, wine di Asia bisa tumbuh sekitar 10-20 persen per tahun selama lima tahun ke depan, bersama dengan China, Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan Korea sebagai pemimpinnya. Nilai konsumsi di Asia (tidak termasuk Jepang) bisa bertambah dua kali lipat, mencapai US$17 miliar pada tahun 2012 dan melonjak menjadi US$ 27 miliar pada tahun 2017.

Dengan menjadi tuan rumah WFA, Singapura ingin menjadi pusat influensial bagi industri wine di Asia, di mana hal ini membuat WFA 2009 sebagai wadah bisnis untuk produsen wine di Asia Pasifik. Itu sebabnya, tidak hanya berhenti di WFA. Setelah event ini, rangkaian seminar wine dan tasting tingkat lanjutan akan diselenggarakan akan diselenggarakan. Sebutlah event serupa yang melibatkan International Congress of Chinese Cuisine & Wine Symposium di Shanghai, China.

Tawaran lanjutan post-WFA ke Shanghai, China ini jelas menarik dan menjadi nilai tambah, karena peluang untuk melakukan penetrasi lebih jauh. Asal tahu saja, China merupakan pasar wine terbesar ke sembilan di dunia. Nilai impor ke China diprediksi bisa mencapai US$ 870 juta pada tahun 2017, meningkat hampir lima kali lipat dari US$184 juta di tahun 2007. (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment