Monday, December 21, 2009

Berpusing-pusing ke Negeri Jiran




MALAYSIA sudah pasti bukan negara yang tidak asing bagi warga negara Indonesia. Selain jaraknya yang hanya “selemparan batu”, bangsa Malaysia, khususnya ras Melayu, mempunyai rumpun yang sama dengan bangsa Indonesia. Itu sebabnya, ketika Malaysia Tourism Promotion Board (MTPB) mengundang Appetite Journey (lagi) untuk mengunjungi negeri jiran tersebut – kali ini dengan tema “Tourism Malaysia & KLM Year End Sale Famtrip”, 1 – 5 Desember 2009, tanpa berpikir dua kali, tawaran itu kami terima dengan senang hati.

Kami bertigabelas, dua orang di antaranya jurnalis (termasuk Appetite Journey), seorang dari KLM Royal Dutch Airlines, dan sisanya (mayoritas) dari agen perjalanan. Farmtrip ini memang diorganisasikan oleh MTPB, tapi pesawatnya disponsori KLM Jakarta. Ya, program ini memang semacam hadiah perjalanan untuk pemilik jasa wisata Indonesia yang berhasil menjual tiket KLM dalam jumlah besar dalam setahun terakhir ini.

Melihat jadwal yang diberikan panitia, berikut tempat-tempat yang akan kami kunjungi, sekilas mungkin tidak ada yang luar biasa. Beberapa tempat bahkan pernah saya sambangi. Namun, selalu saja ada rasa antusiasme yang tinggi mengingat Malaysia adalah negara yang mempunyai kehidupan dinamis, selalu mengejar ketertinggalan sebagai negara berkembang menuju ke negara industri baru.

Boleh saja Malaysia tidak memiliki Candi Borobudur, tapi negara seluas 329.847 km persegi dengan jumlah penduduk 27 juta jiwa itu mempunyai artefak modern, yakni Menara Kembar Petronas, bangunan 88-tingkat yang juga dikenali sebagai KLCC (Kuala Lumpur Convention Centre). Bangunan yang dibangun tahun 1988 merupakan bangunan kembar tertinggi di dunia – sebelum dikalahkan Taipei 101 yang dibangun 2003.

Tapi yang jelas, KLCC adalah salah satu daya tarik utama para turis manca negara untuk mengunjungi Malaysia, khususnya Kuala Lumpur. Menara kembar yang sekaligus ikon negara jiran ini dirancang oleh Cesar Pelli dengan desain yang merefleksikan budaya Islam yang mengakar di Malaysia.

Tidak melulu dua menara kembar tentu saja karena di sekitar kawasan itu pula terdapat berbagai atraksi wisata yang menarik, mulai dari Aquaria – seperti Sea World di Ancol Jakarta, hingga shopping mall, salah satu yang terkenal di kawasan itu adalah Suriah. Mal ini menjadi sasaran empuk para shopaholic dari berbagai negara, termasuk Indonesia tentu saja. 

Ya, Kuala Lumpur kini menjadi destinasi favorit bagi penggemar barang-barang bermerek. Selain di KLCC, Bukit Bintang juga dikenal sebagai kawasan wisata belanja. Tidak hanya toko-toko tradisional, tapi butik-butik modern juga ada di sini. Jangan lupa, item yang banyak dicari orang Indonesia adalah sepatu merek Vincci – produk dalam negeri andalan Malaysia, yang mempunyai kualitas cukup bagus dengan harga yang relatif murah.

Tidak hanya di Kuala Lumpur sebenarnya, di Sunway Pyramid, Petaling Jaya, juga terdapat mal yang tidak kalah mewahnya. Menjelang akhir tahun mal ini menggelar berbagai acara, dan sejumlah merek menawarkan diskon yang menarik. Tidak hanya wisatawan lokal, banyak turis asing yang berkunjung ke sini. Selain banyak pengunjung asal Indonesia, daerah sekitar Sunway juga merupakan daerahnya mahasiswa Indonesia, tidak heran jika di sekitar mal ini banyak bertebaran restoran-restoran ala Indonesia.

Sebenarnya mal hanya salah satu fasilitas di area ini. Di sini ada Sunway Lagoon Theme Park yang merupakan taman bermain outdoor. Salah satu theme park yang menjadi favorit pengunjung adalah water park – ini mirip water boom di Lippo Cikarang atau taman air di Ancol Jakarta. Ada juga extreme park, scream park, wildlife park dan amusement park seperti Dufan tapi dalam versi mini. Di daerah ini pula terdapat Sunway Resort, sehingga menjadi integrated destination yang menarik untuk keluarga.

Putrajaya, Kota Pintar, Kota Taman
Kuala Lumpur memang menjadi titik awal perjalanan ke Malaysia. Tapi jangan lupa area sekitarnya menawarkan pengalaman yang menarik. Selain Sunway yag disebut di atas, Putrajaya – 30 km dari Kuala Lumpur, adalah tujuan wisata yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Wilayah ini merupakan federal territory (wilayah persekutuan) Malaysia yang ketiga, setelah Kuala Lumpur dan Labuan. Di sinilah pusat kegiatan pemerintahan Malaysia dipusatkan, mirip Australia yang mempunyai Canberra. Inilah proyek ambisius mantan PM Mahathir Mohamad yang konon menghabiskan lebih 6 miliar dolar AS. Master plan Putrajaya sebetulnya sudah dimulai sejak 1993 dan saat ini hampir sebagian besar kantor pemerintahan Malaysia sudah berhasil hijrah ke “kota baru” ini.

Putrajaya bukan sembarang kota baru, tapi dengan konsep arsitektur yang cantik dan menarik. Seluruh gedung perkantoran di Putrajaya dibangun dengan gaya arsitektur negara-negara Islam, gedung-gedungnya modern tapi ada sentuhan eksotik Timur Tengah.

Area utama di Putrajaya dibagi dalam bentuk precint-precint (jalan dalam istilah Prancis) dan dijadikan kantor-kantor pemerintahan, kantor-kantor komersial, kediaman, dan fasilitas rekreasi.

Putrajaya merupakan paduan dua konsep kota pintar dan kota taman, 38 persen areanya dijadikan taman, danau, dan kawasan lembah. Tersedia pula akses menuju kawasan yang asri itu sehingga pengunjung bisa mengenal keberagaman flora dan fauna negara tropis. Terdapat 12 taman, di antaranya Taman Wetland yang merupakan taman dengan danau buatan yang besar di tengah-tengahnya. Lalu ada taman anggrek dan juga mesjid besar yang megah di pinggir danau tersebut. Anda juga harus melihat kantor perdana menterinya yang megah dan indah, yang disebut Seri Perdana.

Di Putrajaya ada tur dengan menggunakan perahu tradisional maupun kapal cruise. Kami kebetulan mendapatkan kesempatan untuk naik Cruise Tasik yang membawa berkeliling di danau tersebut, melewati jembatan-jembatan yang indah, serta melihat sebagian besar kantor pemerintahan di Putrajaya. 

Jembatan-jembatan yang ada di danaubu atan tersebut, ada 8 buah, banyak mendapat perhatian pengunjung. Maklum, bentuknya menyerupai jembatan-jembatan legendaris yang ada di dunia: mulai dari yang berarsitektur Islam seperti jembatan khasju di Iran, jembatan bergaya arsitektur Islam Moorish, hingga yang menyerupai Pont Alexandre di Paris.

Fun City Above The Clouds
Berpusing-pusing ke Malaysia kurang afdol kalau tidak berkunjung ke Genting Highlands. Inilah kawasan di dataran tinggi, mirip Puncak atau Lembang, yang merupakan merupakan salah satu tujuan wisata paling populer di dunia.

Barada di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut – merupakan puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia, Genting Highland berlokasi di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui cable car (kereta gantung) Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara. 

Genting Highlands didirikan pada awal 1960-an oleh Lim Goh Tong, imigran asal dari Fujian, Cina, yang kemudian berkewarganegaraan Malaysia tentu saja. Dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia, tempat ini merupakan satu-satunya tempat berjudi yang legal di Malaysia serta dioperasikan oleh Resorts World Bhd, anak perusahaan Genting Group. Resor ini juga memiliki beberapa hotel yaitu Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World. Hotel First World memiliki 6.118 kamar, menjadikannya hotel kedua terbesar di dunia saat ini. 

Tidak hanya judi memang, selain hotel, di kawasan ini terdapat theme park, lapangan golf, mal, simulator sky diving, gedung konser, dan lain-lain. Pendeknya, Genting menwarkan berbagai atraksi wisata, tempat bermain anak-anak maupun keluarga, outdoor maupun indoor. Beruntung kami bisa menyaksikan pertunjukan kelas dunia di Genting International Showroom, yakni Dazzle. Semacam variety show yang menampilkan musik dan tari Pussycat Dolls dan ABBA.

Ada juga penampilan magician kawakan Ernesto Planas (Kuba), yang sambil bermain sulap juga menari salsa. Ada pun Sonny Montana (Venezuela) menampilkan seni “bayang-bayang tangan” di tembok, tidak hanya menirukan bentuk binatang, tapi juga artis dunia, mulai dari Frank Sinatra hingga Michael Jakcson. Kabaret ala Las Vegas ini tampil setiap malam, sejak 04 Oktober 2009 hingga 31 Maret 2010. Memang tidak salah motto Resort World, yang mengoperasikan kawasan Genting Highlands, fun city above the clouds. (Burhanuddin Abe)

Source: Appetite Journey Magazine

No comments:

Post a Comment