Tuesday, December 08, 2009

Pinot Noir, The World’s Most Seductive Wine



PINOR Noir naik daun. Setidaknya, di Wine for Asia (WFA) 2009 di Singapura, misalnya, untuk pertama kalinya Pinot Noir Forum digelar bersamaan dengan penyelenggaraan event wine berkelas dunia tersebut.

Bertema “Pinot Noir Wine Styles – the Traditional and the Generation NEXT”, forum yang berlangsung pada 23 Oktober lalu membawa para peserta seminar, yang terdiri dari pebisnis, distributor wine, wine enthusiasts dan undangan-undangan VIP, ke sebuah sisi lain dari red wine.

Forum ini bertujuan untuk memberikan para peserta seminar pandangan dan nuansa dari perkembangan Pinot Noir di dunia. Lebih dari 100 pebisnis wine dari negara-negara seperti Malaysia, India, Vietnam, Thailand, Indonesia, Cina dan Jepang turut berpartisipasi pada forum ini.

Adalah Pinot Noir, full-bodied red wine dengan rasa kompleks menjadi fokus para peserta seminar. Reputasi dari Pinot Noir memang selalu disejajarkan dengan wine dari Burgundy (Bourgogne), Perancis.

Hampir dari seluruh perjalanan sejarah wine mencatat sebuah landmark dari Pinot Noir. Sepanjang 50 km ke arah pegunungan Côte-d’or adalah di mana sejarah menjadi saksi dalam pembuatan vintage Pinot Noir yang telah dilakukan lebih dari 2.000 tahun silam.

Dalam forum elegan tersebut, sejajaran jenis dari kualitas teratas Pinot Noir asal wineries seluruh dunia difitur ke dalam sebuah vertical wine tasting, diskusi dan tanya-jawab yang menarik.

Sebagai moderator pada forum berkelas ini adalah Ch’ng Poh Tiong, seorang penulis wine ternama dari Wine Review. Menurut Ch’ng, Pinot Noir sebagai full-bodied red wine sudah menjadi pilihan para wine lover ataupun wine aficionado terlepas dari kepopuleran tradisionalitas Cabernet, Merlot, and Shiraz.

Sering Burgundy menjadi ikon daerah asal untuk jenis red wine Pinot Noir, disusul oleh Selandia Baru. Meskipun demikian, popularitas Pinot Noir di dunia vintage telah membangunkan konsumen Asia untuk mengeksplorasi gaya dan jenis Pinot Noir ke negara lainnya seperti Chile, Afrika Selatan, dan Jerman.

Seorang ahli Burgundy asal Perancis, Jean Pierre Rénard, hadir dalam forum ini sebagai lead speaker menjelaskan bahwa produksi Pinot Noir membutuhkan cuaca malam dan suhu udara siang yang bervariasi. “Ditambah dengan kondisi dan kualitas dari lahan yang subur, ini akan dapat memproduksi wine dengan rasa citra yang berkualitas,” paparnya.

Pinot Noir adalah wine yang terbuat dari variasi anggur hitam pilihan. Sejarah wine itu sendiri bisa ditelusuri kembali ke masa abad keempat di daerah Burgundy. Kebanyakan wine jenis Pinot Noir memiliki rasa yang berkelas jika di-harvest dan dikultivikasi di region Burgundy, Perancis, terutama di area sekitar Côte-d’or. Akan tetapi banyak daerah sejuk di pelosok dunia yang memungkinkan memproduksi Pinot Noir dengan keunggulan sendiri pada rasa, tingkat keasaman, dan tentunya kualitas yang membedakkan satu jenis Pinot Noir ke jenis lainnya.

“Pada dasarnya, Pinot Noir bisa diproduksi di seluruh daerah yang memiliki potensi untuk meng-harvest wine, kecuali di suhu panas. Negara-negara yang juga terkenal memproduksi Pinot Noir antara lain adalah Jerman, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Italy,” jelas Jean.

Dalam forum ini, hadir juga wakil pembicara dari winery (lahan pembuatan wine) seperti Alexander Stodden dari Jean Stodden Winery, Jerman; Brandon Nash dari Dhall & Nash Fine Wine Limited, Selandia Baru, dan Edoardo Fassati dari Tenuta Mazzolino, Italia. Juga tidak ketinggalan kehadiran distributor dan eksportir wine dari California, AS; Vinum Export dengan juru bicaranya Steve Messinger.

Selandia Baru adalah salah satu contoh di mana popularitas Pinot Noir terus naik dari tahun ke tahun. Dengan suhu sejuk dan temperatur laut yang mendukung, di negara selatan dari Australia ini terdapat 11 daerah lahan produksi wine. Marlborough adalah daerah lahan produksi wine terbesar di Selandia Baru dengan kurang lebih 65 perkebunan wine dan 290 cocok tanam anggur.

Popularitas wine telah meningkatkan luas lahan produksi wine dua kali lipat di Marlborough; dari sekitar 2.000 hektar di tahun 2008 menjadi 4.000 hektar sampai saat ini. Hasil vintage tahun 2009 yang terbesar adalah, Sauvignon Blanc, Pinot Noir, dan Chardonnay.

Marlborough memang terkenal dalam proses pembuatan wine secara tradisional. Sauvignon Blanc adalah vintage terbanyak. “Meskipun demikian, popularitas Pinot Noir menunjukkan angka kenaikan 9% dibanding tahun sebelumnya,” kata Brandon Nash dari Dhall & Nash Fine Wine Limited.

Daerah-daerah lain yang subur untuk produksi Pinot Noir di Selandia Baru adalah Wairarapa dan Central Otego. “Di Wairarapa, temperatur yang sejuk, curah hujan yang jarang, dan tanah subur yang dalam sangat potensial untuk produksi Pinot Noir. Sementara di Central Otego, tanah yang lembut agak chalky dan udara sejuk nan cerah merupakan aset untuk pembuatan Pinot Noir yang elegan,” jelas Brandon.

Pinot Noir yang diproduksi di daerah Tenuta Mazzolino, di lokasi pegunungan Corvino San Quirico, Italia memiliki warna merah batu ruby dengan rasa compleks yang intens dan aroma yang elegan. Menurut Edoardo Fassati dari Tenuta Mazzolino, jenis Pinot Noir ini siap untuk disimpan dalam cellar selama tahunan. “Rasa yang full, kaya dan balance dikarenakan proses aging yang lama.”

Sementara itu, Ch’ng sang moderator pada forum ini merasa antusias dengan adanya forum Pinor Noir ini bahwa sudah waktunya untuk para ahli mengedukasi publik tentang manfaat dan seni di balik wine drinking lifestyle.

Saat ditanya, apakah lidah orang Asia cocok dengan rasa sepet dari tanning yang terdapat di Pinot Noir, salah satu dari pembicara di seminar menjawab, “Survei menunjukkan bahwa sekitar 70% dari pilihan full-bodied wine yang dipilih oleh orang-orang Asia, terutama yang bermukim di Singapura adalah Pinot Noir. Para responden ini menunjukkan bahwa Pinot Noir adalah sebuah pilihan terbaik dari full-bodied red wine.

Lebih dari itu, wine drinking juga sudah menjadi sebuah gaya hidup baru dalam masyarakat Asia, baik tua maupun muda. “Ini sudah berlangsung beratus-ratus tahun. Semakin dunia berputar, kehadiran Pinot Noir di belahan bumi bukan hanya menjadi sebuah gaya hidup, tapi sebuah warisan tradisional yang diteruskan ke generasi berikutnya,” ugkap Ch’ng. (Aulia R. Sungkar)

Appetite Journey, Desember 2009

No comments:

Post a Comment