Monday, April 26, 2010

Age (is) just the Number



KAPAN seorang clubber harus pensiun? Tidak ada aturan yang baku tentu, seperti pegawai negeri, misalnya. Tapi yang jelas, usia tidak pernah bohong, semakin tua usia kita makin sulit menikmati musik-musik ala klub – sebutlah house, yang kemudian berevolusi menjadi trance, hardcore, jungle, progressive, dan seterusnya.


Maklum, musik yang mulai dikenal sejak awal 1980-an yang bermuasal dari “kiblat hiburan” – sebutlah klub-klub di Ibiza, Italia, dan London, yang kemudian mewabah ke seluruh dunia itu, mempunyai ketukan yang cepat, bahkan lebih cepat dari denyut jantung kita. Itu sebabnya, orang-orang yang sudah mulai uzur agak susah mengikutinya. Untuk menyamakan ritme musik tersebut, ada yang mendorongnya pakai, amit-amit, drugs.

Tapi tentu ada perkecualian, bagi partygoers sejati, datang ke klub-klub adalah wajib hukumnya. Mungkin musiknya disesuaikan dengan eranya ketika mereka masih muda. Misalnya Classic Disco, atau party dengan tematik “Zona 80”, misalnya.

Saya punya teman perempuan, yang meski usianya sudah melewati kepala empat, tetap saja clubbing. Paling tidak, sebulan sekali, pengusaha di bidang IT tersebut, selalu menghabiskan malamnya di sebuah klub. “Boleh dong sekali-sekali saya menikmati kesenanngan bersama teman-teman, sekadar melepaskan stres,” katanya.

“Apalagi, sehari-hari saya sudah mengerjakan tugas kerumahtanggaan dengan baik. Suami tercukupi kebutuhannya, urusan anak-anak juga beres. Boleh dong saya menikmati hasil keringat saya sendiri dengan menghibur diri,” lanjut ibu dua orang anak itu. 

Perkecualian juga datang dari para pekerja yang memang berhubungan dengan dunia hiburan. Entah itu pemilik, pengelola, artis, atau bahkan pewarta, dan fotografer yang mengabadikan peristiwa tersebut. Dengan kata lain, profesilah yang membuat seseorang berhubungan dengan dunia hiburan dan dunia malam!

Dua orang teman saya bisa menjacontoh. Yang satu, sebutlah Ipiek, dikenal sebagai wartawan “tiga zaman”, sebab dari dulu selalu menulis dunia hiburan (dan musik), yang membedakan adalah nara sumbernya. Mulai dari zaman Koes Plus hingga D’Massive. Mulai dari Broery Pesulima hingga Vidi Aldiano. Yang satu lagi, sebutlah Rasyid, mewartakan dunia malam sejak zaman Ebony hingga Immigrant. Profesilah yang mengharuskannya ke luar malam setiap Jumat dan Sabtu. Ya, mereka adalah senior yang selalu update dengan dunia yang digelutinya. Tua-tua tapi keladi, kagak ade matinye!

Lalu saya teringat teman yang lain, Frans Sartono, wartawan musik senior, yang menulis be bop yang “jadul” hingga hip hop yang masa kini. Dia juga menulis seorang pendiri Prambors, Malik Syafei Saleh, yang kini berusia 56 tahun. Bayangkan usianya tergolong “pensiun”, tapi masih mampu mengelola radionya “kawula muda” alias ABG. 

”Age (is) just the number. Young is forever”. Begitulah tulisan itu terbaca di pintu masuk ruang siar Radio Prambors di lantai 20, gedung Ratu Plaza, Jakarta, yang tahun ini memasuki usia 39 tahun.

Terus terang, saya terkesan dengan tulisan tersebut, yang menurut anak gaul sekarang “gue banget”. Lalu, saya posting di Facebook. Komentar teman-teman sangat beragam, ada memberi jempol, ada yang bilang “I like this a lot!”, tapi ada juga yang berkomentar sadis, “Ini status ngeles, mencari pembenaran...” atau “tanda-tanda menolak ketuaan.” Apa boleh buat!

Jadi, pada saat usia berapa orang harus pensiun? Masing-masing perusahaan memiliki ketentuan yang berbeda. Tapi di dunia entrepreneur, umur tidak menjadi patokan utama, nyatanya Malik Syafei Saleh, salah seorang pendiri Prambors yang saya ceritakan di atas, yang telah menginjak usia 56, masih saja aktif. Martha Tilaar mengawali usaha kosmetiknya pada usia 46 tahun. Kalau mengambil contoh global, Ray Kroc ketika memutuskan mengembangkan McDonald usianya sudah 52 tahun. 

Artinya, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Pada usia berapa pun kita bisa melakukan apa saja, kalau memang pilihan hidup kita mengharuskan begitu. (Burhan Abe)

AJ Magazine, April 2010