Monday, May 24, 2010

Cuz Mommy Needs to Play Too!



LENA TAN, presenter berdarah Tionghoa ini dikenal luas karena rajin nongol di layar kaca membawakan gosip-gosip terkini. Tapi siapa sangka, model berwajah cantik khas Oriental dan bertubuh langsing ini adalah ibu dari seorang anak berusia 10 tahun.

Perempuan kelahiran Jakarta, 29 April 1981 ini adalah seorang single parent, sempat menikah pada usia 18 tahun, tapi kemudian memilih bercerai. Tapi tidak seperti ibu-ibu zaman baheula, yang ketika menyandang status janda, dunia seakan-akana runtuh. Lena Tan seakan mewakili janda masa kini, yang menjalani kehidupan seperti orang-orang lain pada umumnya. Tidak hanya itu, ia bahkan dikenal sebagai ibu yang gaul dan menikmati hidup – meski mencari nafkah sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah. 

Sudah sembilan tahun Lena menjomblo, tapi status itu tidak menghalanginnya untuk melakukan berbagai kegiatan, bahkan dilakoni dengan ceria tanpa harus membebani – setidaknya yang bisa kita saksikan di layar TV. Aha, yummy mommy!

Lena tidak sendirian. Banyak ibu-ibu muda, single parent, dan mempunyai anak, yang menjalani hidupnya, dan yummy mommy adalah yang menikmati hidup – bahkan kadang-kadang terkesan hedonis. Kegiatan mereka sangat beragam, mulai mencari nafkah, aktivitas sosial, arisan, atau mungkin juga pesta. 

An attractive, healthy, and very sexy mother! Usually a young woman or sometimes a really gorgeous and hot middle aged mother. Yummy mummies usually wear trendy clothes, have great hairstyles and always look fabulous. Begitulah salah satu definisi Urban Dictionary.

Tapi yummy mommy memang tidak melulu soal busana yang trendy atau party, mereka juga pelaku utama dalam rumah tanngga, bahkan sebagian besar juga pencari nafkah yang tangguh. Di Indonesia komunitas yang mewakili yummy mommy mungkin BundaGaul.com. Situs jejaring ini ditujukan khusus untuk ibu-ibu. Menurut pengembangnya (Sanny Gaddafi dan Marlinda Yumin), jika ketahuan bukan perempuan, akunnya langsung dihapus. 

Situs ini dibuat karena banyak ibu-ibu muda yang butuh informasi, sharing, dan suka berbagi cerita pengalaman mereka. “Saya ingin mempersatukan bunda-bunda di seluruh Indonesia di dalam wadah ini untuk berbagi informasi, sharing dan keceriaan bersama baik online maupun offline,” jelas Marlinda Yumin.

Jejaring sosial online memang hanya salah satu medium saja, karena menurut Marlinda, ia ingin membuat wadah yang riil: real person and real community. Pada kenyatannya, para ibu-ibu yang tergabung dalam BundaGaul tersebut terbukti sangat antusias, saling memberi informasi antar mereka – mulai dari soal kerumahtanggaan hingga pekerjaan. 

Fenomena Single Parents

“Jangan menyerah, hidup adalah anugerah,” itulah potongan syair dari grup band d‘massive. Potongan syair ini sangat pas untuk kelompok single parents atau perempuan yang berperan sebagai orang tua tunggal. 

Menjadi orang tua tunggal bukanlah hal mudah. Salah satunya harus siap menerima reaksi dari berbagai pihak, termasuk orang tua dan keluarga. Selain itu, dengan status janda juga harus siap menerima gunjingan teman, tetangga maupun rekan kerja. 

Mereka, para single parents, harus mampu berperan ganda yaitu sebagai ayah yang fungsinya mencari nafkah, dan sebagai ibu yang berperan membesarkan serta mendidik anak. Sebagai orang tua tunggal, mau tak mau, mereka dituntut untuk bisa mengatur segalanya seorang diri. Beberapa di antaranya mengatur keuangan, bekerja dan menyediakan waktu untuk anak. 

Fase paling menyedihkan adalah kala sedang ditimpa masalah – di mana saat itu membutuhkan pasangan untuk berbagi cerita dan mencurahkan semua perasaan. Apa boleh buat, lantaran menyandang status single parent semuanya harus diselesaikan sendiri. Belum lagi apabila jatuh sakit, siapa yang akan mengurus? Tetap saja diri sendiri. 

Menurut beberapa single parent, kondisi paling menyedihkan bukan saat sakit, tapi ketika anak bertanya tentang keberadaan ayahnya. ”Ayah ke mana bu? Kok tidak pulang-pulang? Saya rindu ayah, saya mau ketemu ayah.” Dengan berbagai alasan, sang ibu berusaha memberikan jawaban yang menyenangkan perasaan anak. 

Harus diakui, untuk menjalani hidup seperti ini, membutuhkan kekuatan hati dan daya juang nan tinggi. Mengikis perasaan dendam kepada si lelaki yang notabene adalah ayah dari anaknya sendiri. Sedangkan bagi perempuan yang pernah menikah, harus siap menerima predikat janda.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi single parent. Pertama, karena pasangan meninggal dunia. Kedua, karena perceraian. Ketiga, karena bekerja di luar kota atau luar negeri. Single parent yang terpisah karena ditinggal bekerja di luar negeri akan merasa kesepian. Kebutuhan biologis tak terpenuhi, padahal, secara hukum punya hak untuk melakukan hubungan seks. Hal serupa juga dialami oleh single parent yang disebabkan suami meninggal dunia. Tidak sedikit dari mereka yang pergi ke konseling rumah tangga untuk meringankan beban hidup karena ditinggal suami. 

Hal ini diakui oleh Dian Estiandari, Marketing Manager PT Aksara Tanjung Wisata, “Saya sangat terpukul saat suami “pergi”. Hidup terasa hampa. Bahkan saya sempat gamang dan bingung. Tidak tahu apa yang akan terjadi bila hidup tanpa suami,” tutur perempuan yang akrab disapa Dian ini.

Keadaan serupa juga dialami oleh Verni Santi, Purchasing and Budget Controll Manager, di sebuah perusahaan teknologi dan informatika. Perempuan yang akrab disapa Santi ini menjadi single parent karena suami meninggal dunia, namun ia tetap tegar dan cepat menerima keadaan. Santi menjelaskan, ia tidak mau larut dalam kesedihan. 

Sekarang masuk pada single parent yang disebabkan bercerai. Secara psikologis, beban mental yang dihadapi single parent bercerai lebih berat dari mereka yang ditinggal ”pergi” suami. Single parent yang disebabkan bercerai harus menghadapi masalah hukum (hak asuh anak), masalah hubungan dengan mantan suami, mendidik dan membesarkan anak, masalah lingkungan serta keuangan. Masalah emosional juga menerpa. Mereka akan dirundung rasa kecewa, marah, mencari kambing hitam, membenci mantan suami, cemburu terhadap rival serta kerap mudah marah pada anak. Bukan hanya itu, mereka juga akan merasakan luka batin, trauma, kesepian, tak berharga dan teraniaya. 

Hal seperti ini pernah dialami oleh Lena Tan, artis dan presenter. Meski sempat kecewa atas kegagalan perkawinannya, tapi ia cepat bangkit, berusaha melupakan masa lalu, dan terus mengembangkan karir di dunia entertaiment. Dengan cara seperti itu, lukanya bisa cepat terobati. “Kesibukan memberikan semangat baru dan membuat hidup terus bergairah,” ujar janda beranak satu ini. 

Mendidik dan Menatap Masa Anak 

Selain hidup sendiri, persoalan lain yang dihadapi para single parent adalah masalah mendidik anak. Belajar pada kasus yang telah ada - sebagian ada yang pasrah dengan cara menyerahkan anak pada orangtua, mertua atau keluarga terdekat. Sebagian lain tegar dan mengambil alih semua peran suami yang telah tiada. 

Santi misalnya, semenjak suaminya meninggal dunia ia langsung mengambil alih peran suaminya. Dengan cara tetap bekerja, merubah semua ritme hidup dan pola mendidik anak. Ia menerapkan dua kepribadian yaitu sebagai bapak dan ibu.

“Ada saatnya saya harus tegas seperti seorang bapak, ada kalanya juga harus lembut layaknya seorang ibu yang penuh kasih sayang. Kalau sudah tidak bisa diatur, saya bertindak tegas seperti seorang bapak,” tutur ibu dari Alexander Ryan Timoty (4 tahun). 

Lain halnya dengan Dian. Ia tidak bisa berperan keras seperti suaminya. Alhasil, saat suami meninggal, ia mengalami kesulitan mengatur kedua anaknya. “Terutama anak paling besar (Andana). Kalau ia sudah marah dan ngambek, saya bingung sendiri. Bahkan Andana pernah kabur dari rumah karena saya tegur,” ujar ibu dua anak ini yaitu Andana (17 tahun) dan Senada (5 tahun). 

Berdasarkan data, lebih dari 70 persen orang tua tunggal dialami kaum perempuan. Bukan hanya di Indonesia, fenomena single parent juga terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Sejak dua generasi belakangan, model perkawinan masyarakat Barat tengah mengalami perubahan mendasar. Sehingga fenomena ini menjadi isu utama gerakan moral di Barat. Meningkatnya angka perceraian, gaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, bertambahnya jumlah anak di luar nikah, dan kian bebasnya hubungan seksual, telah menambah pelbagai persoalan rumah tangga di Barat.

Secara historik, persoalan ini mulai terjadi setelah revolusi industri – saat kaum perempuan mulai bekerja dan meninggalkan rumah. Semenjak itu muncullah model keluarga baru yaitu single parent. Model keluarga ini, semakin marak di Barat sejak dasawarsa 60-an. Dalam model keluarga semacam ini, anak-anak hanya hidup bersama dengan salah satu orang tua dan dalam banyak kasus mereka hidup dengan ibu. 

Sosiolog Perancis, Andre Michel mengklasifikasi keluarga Amerika Serikat dalam tiga model. Salah satunya adalah model keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anak. Sejumlah data statistik di Eropa menunjukkan, bahwa lebih dari 50 persen penduduk negara Eropa pada dekade terakhir abad ke-20 hidup dalam keluarga single parent. Selain itu, Lembaga Statistik Amerika Serikat melaporkan, jumlah keluarga single parent di Amerika Serikat pada tahun 2000 mencapai lebih dari 12 juta keluarga. Sementara itu, jumlah janda di Amerika Serikat antara 1970 hingga 2000 mengalami peningkatan serius dari tiga juta menjadi sepuluh juta janda.

Menurut beberapa meneliti sosial, fenomena single parent disebabkan maraknya hidup bersama di luar nikah, individualisme, sikap lari dari tanggung jawab, dan meningkatnya kasus perceraian. Sebagian besar keluarga single parent yang hanya terdiri dari ibu dan anak ternyata merupakan hasil dari hubungan di luar nikah. 

Kasus di Eropa dan Amerika Serikat ini, sekarang juga tengah hangat di kalangan selebriti iIndonesia. Di antaranya berita tentang kelahiran anak di luar nikah dan keputusan Sheila menjadi single parent, meski, Anji telah mengakui anak tersebut, Leticia Charlotte Agraciana Joseph, adalah anak biologisnya. Namun keputusan Sheila untuk menjadi single parent sama sekali tidak berubah. Hal itu dinyatakan Maria Joseph, ibunda Sheila. Ia berterimakasih kepada Anji karena telah mengakui Leticia adalah hasil buah cintanya dengan Sheila. Setidaknya, pengakuan vokalis Drive itu menegaskan kalau cucunya bukan anak simpanan, melainkan memiliki ayah yang jelas. Tapi tidak merubah apa pun, Sheila tetap menjadi single parent. 

Ya, menjadi single parent bisa jadi karena musibah, tapi juga terkadang piliihan. Dan yang jelas, apa pun status yang melekat pada setiap orang, kehidupan harus tetap berjalan. Mencari nafkah dan menikmati hidup, bagi yummy mommy adalah dua hal yang harus seimbang. Ya, yummy mommy mewakili ibu yang tidak ingin hanya berdiam di rumah, cuz mommy needs to play too! (Burhanuddin Abe)

ME Asia, June 2010

No comments:

Post a Comment