Thursday, May 13, 2010

Selingkuh Indah di Jejaring Sosial



HARI gini siapa yang tidak kenal Facebook? Jejaring sosial online ini seakan menyihir semua orang di seluruh dunia, pria atau pun wanita, tua atau pun muda. Maklum, inilah media virtual yang memungkinkan para penggunanya bisa berhubungan dengan orang lain, berbagi, mengisi status dan meng-upload foto-foto, dan saling menyapa satu sama lain.

Revolusi Internet agaknya membuat semuanya berubah. Kebiasaan-kebiasaan banyak orang pun di seluruh dunia ikut berubah, termasuk, sebutlah Nobelson Setiadi. Bangun tidur di pagi hari, creative director sebuah perusahaan periklanan ini langsung menyambar BlackBerry, melihat membuka Facebook, menulis status atau melihat status teman-temannya, dan memberi komentar terhadap status yang dianggapnya menarik – kadang serius, tapi tidak jarang untuk sekadar lucu-lucuan.

Begitulah aktivitas baru Andreas – dan mungkin banyak orang, yang mengasyikkan. Selain bisa memperolah informasi-informasi baru, juga teman-teman baru, dan belakangan adalah “teman kencan” baru. 

Andreas, 38 tahun, pria berkeluarga dengan dua anak itu semula tidak sengaja, akan mendapatkan selingkuhan lewat Facebook. Setiap hari ia hanya meng-approved permintaan orang-orang yang ingin menjadi “teman” di akunnya. Suatu ketika salah seorang temannya tersebut, seorang wanita cantik (kalau dilihat dari foto profilnya), mengirim pesan personal melalui inbox Andreas. “Terima kasih sudah di-approved. Salam kenal.” 

Singkat kata, dari yang semula hanya basa-basi, ternyata berlanjut ke sebuah hubungan yang lebih menggoda, yakni perselingkuhan. Tidak hanya di dunia maya, Andreas dan sebutlah Yanti, sudah berani melakukan “kopi darat”. 

Ya, inilah realitas baru bahwa perselingkuhan pun bisa berawal dari duni maya dan memakai medium jejaring sosial. Simak saja pengalaman Nobelson, 37 tahun. Konsultan TI ini bahkan tidak hanya memanfaatkan Facebook, tapi jejaring sosial lainya, tapi juga Twitter, Skype, Myspace, Google Talk, dan Yahoo Mesenger.

Semula Nobelson hanya coba-coba saja, tapi lama-lama ketagihan. Ayah seorang anak ini tidak hanya digoda, tapi ia juga mencari-cari “korban” yang ingin digodanya. Sebagian besar memang untuk iseng-iseng dan sekadar mencari hiburan di dunia maya saja, tapi tidak jarang ada yang berlanjut ke dunia “nyata”. “Cukup mengasyikkan. Enaknya, kami tidak mempunyai ikatan, suka sama suka saja,” katanya dengan mata berbinar-binar. 

Malapetaka Rumah Tangga
Boleh saja Nobelson atau pun Andreas merasa bahwa kegiatan perselingkuhannya aman, tapi sesungguhnya itu mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Paling tidak seperti yang terjadi di Inggris, selingkuh maya ternyata bisa mengakibatkan perceraian di dunia nyata.

Contoh kasusnya adalah Amy Taylor. Perempuan yang tinggal di selatan London itu mengajukan cerai setelah mengetahui suaminya berselingkuh via dunia maya, yakni game online Second Life. Jejaring sosial ini mengijinkan pemainnya membuat karakter tertentu yang disebut avatar, dan bertemu dengan avatar lain di dunia maya. "Saya melihat avatar suamiku sedang berpelukan dengan avatar seorang wanita. Suamiku mengaku sudah berkenalan di dunia maya tersebut dengan wanita AS dan dia mengatakan tidak mencintaiku lagi," ungkapnya.

Peneliti di Oxford Internet Institute, Ellen Helsper, yang melakukan penelitian dampak web pada hubungan antar manusia mengatakan, layanan di komunitas online bisa melibatkan emosi angggotanya. "Keterlibatan emosi yang terjadi seolah-olah hanya jika sedang online. Namun sesungguhnya, penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa antara dunia maya dan nyata tidak terpisahkan," katanya sambil menambahkan emosi pengguna bisa terus terbawa, baik saat di dunia elektronik maupun secara fisik.

Di sinilah sebenarnya mala petaka hubungan suami isteri bisa bermula. Hasil survei MyVoucherCodes menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan mengatakan akan memutuskan pacarnya jika menggoda di jejaring sosial seperti Facebook. Penelitian itu juga mengungkapkan, hanya 19 persen laki-laki yang akan memutuskan pacarnya untuk perbuatan yang sama.

Selain itu, 22 persen wanita akan meninggalkan seorang pria jika mendapatkan pasangannya mengirim pesan seksual pada wanita lain pada layanan micro-blogging Twitter. Sebaliknya hanya 17 persen pria mengatakan akan melakukan hal yang sama. 

Belum diketahui pasti mengapa pria lebih “pemaaf” dibandingkan wanita terhadap pengkhianatan yang sama via media online. Tapi yang jelas, jejaring sosial adalah media yang sangat ampuh sebagai sarana komunikasi, untuk berbagai keperluan – termasuk perselingkuhan.

Bahkan yang menarik, kini ada jejaring sosial di Inggirs yang diciptakan untuk kepentingan perselingkuhan, namanya IllicitEncounters.co.uk. Situs jejaring sosial ini sengaja ingin memfasilitasi orang-orang yang sudah bosan dengan pasangan mereka untuk melakukan 'petualangan'. Situs ini bahkan mendefinisikan dirinya sebagai “A discreet and confidential extra-marital dating service for women and men”.

Situs yang didirikan tahun 2003 itu kini beranggotaan ratusan ribu di Inggris, dan kini melayani membludaknya permintaan untuk menjadi anggota baru. “Mungkin karena pengaruh cuaca dingin, khususnya di Cornwall, Devon, dan Dorset, orang ingin pelepasan untuk melakukan perkencanan,” ujar Sarah Hartley dari IllicitEncounters.com, kepada The Telegraph.

Melalui website bernama Ashleymadison, orang bisa mencari teman kencan, bahkan meski ia sudah atau masih berstatus menikah. Jejaring sosial ini memang kontroversial, karena ia mendorong pasangan yang sudah menikah untuk berselingkuh. Website itu juga punya slogan menggoda, yakni 'Hidup itu singkat, maka selingkuhlah'. 

Tercatat, sudah ribuan orang Australia mendaftar di situs ini. Konon, lebih dari 18.000 warga telah mendaftar, bahkan sebelum situsnya dipromosikan. Sekitar 30 persen di antara mereka adalah wanita.

Menilik jumlah yang cukup tinggi itu, Noel Biderman selaku pendiri situs tersebut menilai bahwa Australia adalah salah satu negara yang penduduknya paling tidak setia. "Mereka yang selingkuh sebenarnya masih mencintai pasangannya, hanya saja mereka takut mengatakan pada pasangan bahwa mereka memerlukan sesuatu yang lain di tempat tidur," ujarnya, seperti yang dikutip News.com.

Jelas, di satu sisi ada yang mengambil keuntungan dari kemajuan teknologi informasi. Namun di sisi lain ada pihak yang tidak senang dengan keberadaan Ashleymadison, atau situs-situs selingkuh lain, atau situs jejaring sosial yang memberi peluang untuk berselingkuh, misalnya kelompok keluarga. Tapi begitulah, dunia sudah berubah, teknologi informasi berkembang pesat, tinggal bagaimana Anda memanfaatkannya – seperti pisau bermata dua, bisa dipakai untuk hal-hal baik atau hal-hal buruk, semua ada di tangan Anda. (Burhanuddin Abe)

Majalah ME, Mei 2010

No comments:

Post a Comment