Saturday, July 31, 2010

Dining Experience with SQ



SINGAPURA bukan negara yang asing, tapi tetap saja undangan untuk menghadiri event dari negeri tetangga tersebut selalu menarik perhatian. Pengundangnya adalah Singapore Airlines (SIA), acaranya bertajuk Singapore Airlines World Gourmet Forum, 8 - 10 Juli lalu.

Acara itu sebatulnya bagian dari peluncuran sebuah buku kuliner yang diterbitkan SIA, Above and Beyond: A Collection of Recipes from the Singapore Airlines International Culinary Panel, yang dikemas dalam sebuah acara gala dinner.

Perlakukan kepada undangan media agak sedikit berbeda. Selain mendapat kesempatan mengikuti wine dinner tersebut, sebelumnya mendapat kesempatan menengok dapur yang menyediakan makanan bagi penumpang SQ. Saya satu-satunya wartawan Indonesia yang diundang, selebihn

ya adalah 18 wartawan lainnya yang datang dari berbagai negara. Patut dicatat, separuh dari wartawan tersebut adalah freelancer atau bergagung dengan sindikat – seperti yang saya lakukan saat ini.

Siapa yang tidak ingin tahu rahasia SIA, yang sampai saat dikenal sebagai maskapai dengan pelayanan terbaik di dunia, bagaimana menyajikan menu-menu terbaiknya kepada para penumpang. Buku tersebut berisi 50 delectable recipes, yang dipersembahkan oleh sepuluh chef kelas global, yang bisa biasa berkreasi dengan menu-menu andalannya. Mereka adalah Georges Blanc (Prancis), Sanjeev Kapoor (India), Sam Leong (Singapura), Matt Moran (Australia), Yoshihiro Murata (Jepang), Alfred Portale (USA), Gordon Ramsay (Inggris), Zhu Jun (China), Nancy Oakes (USA), dan Yeung Koon Yat (Hong Kong).

Cookbook yang dikemas mewah itu memang bukan sekadar buku, tapi merupakan sumbangan SIA untuk masyarakat. Peluncurannya yang dikemas mewah diadakan di Shangri-La Hotel, Singapura, 9 Juli 2010. Hasil penjualan buku, dan beberapa barang lelang, yang terkumpul S$1,418 juta, semuanya disumbangkan untuk organisasi nirlaba Singapore’s Community Chest, yang merupakan bagian dari Straits Times Pocket Money Fund dan Business Times Budding Artists Fund.

Setelah peluncuran yang dihadiri oleh Presiden Singapura Nathan dan Mrs. Nathan, buku tersebut dijual juga di toko-toko buku, sebutlah Borders, Times Newslink, Times Travel, juga Relay di Changi Airport, Singapura. Sementara di luar Singapura, orang bisa memesan via pembelian online di www.krisshop.com, yang jika memesannya sebelum 31 Desember 2010 akan terbebas dari ongkos kirim (disponsori UPS), atau di katalog KrisShop yag ada di SQ.

Penerbitan buku tersebut, demikian Yap Kim Wah, Senior Vice President Product & Services SIA, bukanlah bagian dari bisnis SIA, tapi merupakan SIA untuk masyarakat. “Penumpang yang biasanya terbang bersama SQ, dan mendapatkan pelayanan F&B ala SQ, dapat mencobanya di rumah,” ujar Yap yang juga Chairman of Tradewinds Tours & Travel, a Board Member of the Singapore Land Authority, a Board Director of Virgin Holidays and a Member of the Quality Service Advisory Committee chaired by the Minister State for Trade and Industry.

Menurut Yap, SIA sampai saat ini memang dikenal sebagai maskapai yang mempertahankan kualitas pelayanannya. Tidak sia-sia, nyaris setiap bulan selalu ada lembaga yang memberikan award kepada ikon Singapura ini.

Memang, tidak bisa dimungkiri, dengan maraknya penerbangan model low cost carrier (LCC) yang bertiket murah, sedikit banyak ikut mengganggu pasar penerbangan berservis. Tapi untuk itu Grup SIA sudah lama menyiapkan ‘second brand’nya, SilkAir dan Tiger, sedangkan untuk SQ (sebutan lain untuk SIA) tetap mempertahankan layanan nomer satu. “Constantly redefine the travel experience and continue the pace of innovation that is a hallmark of SIA,” ujar Yap yang bergabung dengan SIA sejak 1975.

Menurut Yap, tahun 1970-an, SIA dikenal sebagai maskapai yang menawarkan headset gratis, minum gratis dan pilihan makanan di kelas ekonomi. Selanjutnya SIA juga tercatat sebagai trendsetter dalam berbagai pelayanan, yang tonggak-tonggaknya sebagai berikut; 1984 (first to fly non-stop London-Singapore), 1991 (first with inflight telephones), 2001 (first to launch inflight trial of e-mail), 2001 (first to launch audio & video on demand in all classes), dan 2004 (world’s longest non-stop flights), dan 2007 (launch customer for the A380).

Kalau di kelas ekonomi saja para penumpang mendapatkan pelayanan yang terbaik, lebih-lebih kalau kelas bisnis atau kelas utama. Untuk penyediaan makanan, misalnya, sejak September 1998, SIA memanfaatkan para chef-chef kelas dunia, yang Singapore Airlines’ International Culinary Panel (ICP). Mereka menciptakan menu-menu otentik yang dihidangkan di atas pesawat. “Makanan di atas pesawat kulaitasnya minimal setingkat di atas hidangan di darat,” ujar peraih gelar Mechanical Engineering dari National University of Singapore itu.

Good food and wines, itulah prinsip yang ingin ia diterapkan SIA. Tidak hanya makanannya yang terjaga, wine yang disajikan pun yang terbaik, bahkan untuk suit class dan firs class, wine yang dhidangkan adalah wine asal Bordeaux, Prancis, salah satu wine terbaik di dunia. “Dining experience in SIA is exquisite, elegant, and exclusive,” ujar Yap, yang mempunyai hobi scuba diving dan golf itu.

Jadi bukan tanpa alasan kalau SIA akhirnya menerbitkan buku masak memasak. Justru dengan menerbitkan buku – yang hasil penjualannya untuk disumbangkan untuk amal, bukan berarti tanpa perhitungan bisnis. Inilah salah satu cara SIA membentuk citra positif sebagai maskapai penerbangan kelas satu di dunia. (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=27


Friday, July 23, 2010

Commitment to eco-technology





THE Indonesia International Motor Show (IIMS) 2010, held from July 23 to Aug.1, is certainly an attractive event due to the exhibition and parade of various cars, including those with new concepts and fuel efficient engines.

The exhibition, held at JIExpo Kemayoran, will present the latest and most sophisticated cars from authorized agents in Indonesia, including commercial vehicles.

Twenty-two brands are participating in IIMS 2010, namely Hyundai, Daihatsu, Mazda, Audi, Isuzu, Proton, KIA, Suzuki, Chevrolet, Mitsubishi, Hino, Proton, Nissan Diesel, Fuso, BMW, Mercedes-Benz, VW, Ford, Subaru, Nissan, Toyota and Honda.


What is unique, according to IIMS 2010 executive chairman Johnny Darmawan, is the eco-technology theme of the event. Chevrolet, for example, is exhibiting under the theme “Advancing with you and Hybrid Rock!”. Meanwhile, Daihatsu will present the e:S concept eco-car and fuel cell engine. 

All Daihatsu cars have the environmentally friendly e:S technology, which is an abbreviation of eco and smart. The e:S Concept’s engine is only 660 cc and consumes only one liter of gasoline per 30 kilometers. 

Suzuki will present its latest MPV with environmentally friendly technology as well as several other hybrid products. Suzuki has also prepared the Suzuki R3, another MPV that was exhibited at the New Delhi Auto Show. 

This time IIMS 2010 will probably be an event for authorized agents and manufacturers in Indonesia to show their commitment to environmentally friendly vehicles. This worldwide trend has to a certain extent had some influence on the domestic automotive industry.

Global events also present environmentally friendly cars, such as the New York International Auto Show (NYIAS) 2010 on April 1 where some of the cars acknowledged as World Green Cars for this year were Jenewa-Toyota Prius, Honda Insight and Volkswagen Bluemotrion (Polo, Golf and Passat).

The fluctuating oil price has prompted many manufacturers to produce energy efficient vehicles. Honda Motor, for example, has been one of the most diligent makers of these types of cars over the past few years and launched a low-cost hybrid car in early 2009 in Japan, North America and Europe. 

Currently there are only a few low-cost fuel saving hybrids with low emissions on the market due to the high cost of production and the related taxes even though such cars would significantly reduce the greenhouse effect. Vehicles account for 14 percent of and are the No. 3 contributor to the greenhouse effect.

It is not only Toyota that is interested in the green car movement. Nissan with its French partner, Renault, although not too focused on producing hybrid cars, late last year unveiled an electric car that has a driving range of more than 160 kilometers on one full charge. The car is slated for launch in late 2010 in Japan, the US and Europe and will be marketed worldwide in 2012.

According to Koji Endo, an auto analyst at Credit Suisse, it will be much easier for Toyota, for example, to shift to electric cars based on its vast experience in making long lasting batteries. 

Similarly, Honda can develop its own batteries and is committed to using nickel-metal hydride batteries rather than lithium-ion ones. Meanwhile, Toyota is switching to lithium-ion batteries from its large and relatively heavier nickel-metal hydride batteries currently used. However, they are cheaper.

For battery development, Toyota is working jointly with Panasonic. This will presumably be a long partnership because Toyota hopes to produce only hybrid cars by 2020. Toyota believes in hybrid cars because they are more efficient and lighter than wide bodied cars. 

The war in battery manufacturing has indeed begun, including among European and American makers. Japanese electronics and battery producer Sanyo, for instance, has signed an agreement with Volkswagen (VW) for the development of lithium-ion batteries, which will be installed in VW hybrid cars. This Germany manufacturer has not yet launched a hybrid sedan but did produce a diesel hybrid version of the Golf this year. 

In a car exhibition in Los Angeles, the US, last year VW exhibited a hybrid van using lithium-ion batteries and hydrogen fuel-cell. VW’s premium brand, Audi, will soon launch a hybrid version this year: SUV Q7 series and the A4 variant. The city car, such as A1, will probably be produced in hybrid version.

Hence, in the near future electric cars will be super compact, while hybrid engines will be used in larger ones. Slowly but surely there will be a change from the current cars that we know to electric and hybrid ones. 

That is the common concept indicated at a number of motor shows around the world, such as the Frankfurt Motor Show, the North American International Auto Show, the Geneva International Motor Show, the Tokyo Motor Show, the Bangkok Motor Show and hopefully here at IIMS 2010. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, July 23, 2010

Wednesday, July 21, 2010

Creating green offices


ALONG with the changing times there is a new development in the trend of office interior design, equipment, furniture and accessories. Some still have the classic trend, but many go for the modern and minimalist one.

There is another trend that has caught the attention of many office owners, namely green offices, that is, those with environmentally friendly equipment. Green is in due to the issue of global warming.

One architect even said that the year 2010 will be a transitional period from purely minimalist to minimalist plus green concept. “This means that the route is toward sustainable design, meaning energy saving design,” he said.

A green office, of course, has space for plants and uses natural light as much as possible, so is less dependent on electricity, etc. The use of environmentally friendly office equipment will indicate participation in green activities, so an office not only becomes more comfortable but the green concept will reduce the possibility of environmental damage.

Currently, office equipment manufacturers are producing environmentally friendly products based on the green concept, such as furniture not made out of natural materials like wood, energy saving computers (laptops replacing desktops, for instance), compact and space saving photocopy machines as well as energy saving lights.

Actually, it is not too difficult or too costly to create an environmentally friendly office. The management and the employees should adhere to the 4R formula: reduce (reduce using products that use too much energy), reuse (use things that can be used again), recycle (recycle garbage or trash), and refuse (refuse to use products that are harmful to the environment).

Green office equipment can only be useful when the users have an environmentally friendly discipline or lifestyle. In the morning and afternoon, curtains should be opened to let in sunlight for sufficient lighting so that there is no need for electrical lighting.

The windows can also be opened wide to let in fresh air so air conditioners can be switched off.

Computers should be set on energy saving mode and the monitor switched off when not in use for an extended period of time and completely switched off when you leave the office. Printers and scanners should only be switched on when required.

Office equipment, such air conditioners, computers, televisions and so forth should be unplugged when not in use because they still consume electricity in standby mode. It is better to use an extension cord with an on-off switch so that you can conveniently switch off appliances.

Neon lamps are energy savers and should be installed where lighting is most required, although where possible, rely on natural lighting through windows. Always switch off the lights in vacant rooms such as meeting rooms, toilet areas, storage rooms and so forth.

All electronic office equipment, such as computers and air conditioners as well as lighting, consume energy for eight hours or more during office hours, so it is advisable to reduce overtime or working longer hours so that the equipment does not consume more energy.

In the case of batteries, rechargeable batteries should be used when possible, such as for clocks, tape recorders and calculators. By recharging, you can reduce waste, particularly since discarded used batteries are harmful to the environment.

Maximizing the use of modern technology is a characteristic of the green office. Doing more work online reduces paper usage. Meeting invitations, for example, can be emailed to invitees. The same goes for meeting reports, work evaluations, etc. Data files do not have to be kept in hard copy but can be saved on a computer and backup files saved on a USB or CD.

You should gradually reduce the use of photocopy and fax machines, since documents, newspaper articles, etc. can be scanned. Indeed it is rather difficult at first break the “paper habit” but it is possible step by step. A printer setting that is more environmentally friendly can also be used, such as pages per sheet.

If the figure 2 is typed in the setting, two file pages will be simultaneously printed on one page. And never forget to print on both sides of a sheet of paper. If you have lots of paper that has been printed on one side only, you can keep it for later use as memo paper. A green office, of course, has space for plants and uses natural light as much as possible, so is less dependent on electricity, etc. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, July 21, 2010

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/21/creating-green-offices.html

Tuesday, July 20, 2010

Menggarap Potensi Besar di Dunia Maya





REVOLUSI Internet membuat semuanya berubah. Kebiasaan-kebiasaan banyak orang pun di seluruh dunia ikut berubah, termasuk cara mengomsumsi media. Lihat saja keseharian Nukman Luthfie, misalnya.

Bangun tidur di pagi hari, Nukman, Online Strategist dan CEO Virtual Consulting ini langsung menyambar BlackBerry, melihat 140 karakter yang bertebaran di dunia Twitter, menulis kata-kata atau menjawab pertanyaan di jejaring informasi (information networking) tersebut. Setelah itu aktivitas beralih ke Facebook, dan melakukan aktivitas seperlunya di jejaring sosial terbesar di dunia tersebut. “Seusai itu, baru membaca portal berita seperti detik.com, kompas.com, atau vivanews.com,” katanya.

Sebagai seorang yang memang hidup dan berbisnis di dunia maya, perilaku banyak orang mengonsumsi media memang berubah total sejak media sosial lahir. Berbagai isu bisa dipantau via Twitter dan Facebook. Dengan mengikuti akun Twitter portal berita, orang bisa tahu lebih dekat dengan jenis berita apapun yang merkea pilih. Dengan demikian, mereka lebih “well-informed”.

Koran cetak memang masih dibaca, tapi hanya topik-topik penting dan rubrik-rubrik kegemaran saja. Juga mendengarkan radio, yang bisa diikuti sepanjang perjalanan menuju kantor di mobil. Nonton teve? Masih juga, tapi setelah aktivitas media sosial selesai. Kebiasaan seperti itu bukan hanya milik Nukman tentu saja. Banyak pengguna Internet, yang memakai telepon cerdas, memiliki kemiripan dalam mengonsumsi media. 

It’s a Progression Country

“Indonesia saat ini telah menjadi the Republic of the Facebook”, ujar Budi Putra, mantan wartwan Tempo, yang kini aktif di dunia online.

Tidak salah, perkembangan penggunaan Facebook oleh masyarakat Indonesia sudah mencapai pertumbuhan 645% pada tahun 2008. Prestasi ini menjadikan Indonesia sebagai “the fastest growing country on Facebook in Southeast Asia”. Bahkan, angka ini mengalahkan pertumbuhan pengguna Facebook di China dan India yang merupakan peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008).

Facebook, yang digagas Mark Zuckerberg -- seorang mahasiswa “droup out” Universitas Harvard Amerika Serikat, pada Januari 2004, adalah sebuah sarana sosial yang membantu masyarakat untuk berkomunikasi secara lebih effisien dengan teman-teman, keluarga, dan teman sekerja. Perusahaan ini mengembangkan teknologi yang memudahkan dalam sharing informasi melewati social graph, digital mapping kehidupan real hubungan sosial manusia. Siapun boleh mendaftar di Facebook dan berinteraksi dengan orang-orang yang mereka kenal dalam lingkungan saling percaya.

Daya tarik itulah yang membuat pengguna Facebook terus bertambah bak deret ukur. Data Checkfacebook.com menunjukkan, Indonesia peringkat ke-7 di dunia, bahkan Indonesia merupakan negara yang paling banyak menambah pengguna Facebook di dunia dengan lebih dari 700.000 pengguna per minggu! Di Indonesia penggunanya kini tercatat lebih 21,5 juta, sedangkan Twitter – media sosial lain yang sedang naik daun, sudah melampuai melebihi 6 juta akun. 

Tren pertumbuhan pengguna kedua media sosial ini masih akan berlanjut. Apalagi, media sosial - termasuk Kaskus, Multiply dan Plurk - pun kini menjadi bagian kehidupan sehari-hari pengguna Internet Indonesia. Bahkan, karena bisa diakses via perangkat mobile, media sosial kini nyaris seperti "telepon selular" yang selalu berada dalam genggaman konsumen.

Jangan heran, mengais rezeki di internet menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari komunitas informasi. Situs Facebook, Twitter, dan lain-lain menjadi alternatif wadah mengais rezeki di internet. Caranya pun mudah dan gratis. Kita dapat aktif berdiskusi, menawarkan solusi, menempelkan produk di dinding atau catatan di media sosial tersebut.

Selain media sosial asing tersebut, Kaskus juga menarik dicermati, salah satunya adalah forum jual beli di situs tersebut. Menurut Andrew Darwis, salah seorang pendiri Kaskus, peredaran uang di situs pertemanan itu lumayan besar. Seorang penjual kamera digital dapat memutarkan Rp 100 juta per minggu tanpa stok barang! Barang diambil dari distributor saat ada pemesanan.

Kaskus lahir pada 6 November 1999 oleh tiga pemuda asal Indonesia yaitu Andrew Darwis, Ronald, dan Budi, yang sedang melanjutkan studi di Seattle, Amerika Serikat. Situs ini dikelola oleh PT Darta Media Indonesia. Anggotanya, yang berjumlah lebih dari 1,8 juta anggota, tidak hanya berdomisili dari Indonesia namun tersebar juga hingga negara lainnya. Pengguna Kaskus umumnya berasal dari kalangan remaja hingga orang dewasa.

Kaskus, yang merupakan singkatan dari Kasak Kusuk, bermula dari sekadar hobi dari komunitas kecil yang kemudian berkembang hingga saat ini. Kaskus dikunjungi sedikitnya oleh 600 ribu orang, dengan jumlah page view melebihi 15 juta setiap harinya. Hingga saat ini Kaskus sudah mempunyai lebih dari 180 juta posting. Menurut Alexa.com, pada bulan April 2010 Kaskus berada di peringkat 313 dunia dan menduduki peringkat 6 situs yang paling banyak dikunjungi di Indonesia.

Andrew tidak setuju kalau Indonesia disebut sebagai negara berkembang. “Indonesia is a progression country,” ujarnya. 

Itu bukan semata-mata ia mengelola situs Kaskus yang menjadi “the 1st loyalists in the world for community”. Tapi faktanya, penduduk Indonesia memang tercatat sebagai salah pengguna Internet terbesar di Indonesia, dengan beberapa parameter: pengguna Facebook-nya nomer ketiga di dunia (berbeda yang diungkap Ono W. Poerbo dengan data beberapa tahun yang lalu), dengan pertumbuhan populasi digitalnya yang mencapai 60%. 

Dengan tingkat pertumbuhan dunia online yang luar biasa itulah cara memandang dunia (bisnis) juga lain, antara dulu dan sekarang. Sarana beriklan, misalnya, era 1980-an masih memakai media cetak, TV/sinema, radio, poster/billboard dll, termasuk direct marketing. Tapi kini sarananya makin bertambah dan beragam – termasuk di dunia maya alias Internet yang jangkauannya tidak terbatas oleh yuridiksi negara. 

Potensi Besar Bisnis Online

Meski penetrasi Internet di Indonesia masih kecil, bisnis online memiliki potensi besar. Hal ini ditunjang pertumbuhan pengguna Internet di tanah air yang dinilai sejumlah kalangan akan berlangsung pesat. Data dari Google Ad Planner, ada 35 juta unique user (bisa lebih dari satu user) Indonesia di Internet. Satu unique user bisa lebih dari satu user. “Artinya, pengguna Internet Indonesia sedikitnya 35 juta,” kata Nukman Luthfie dari Virtual Consulting.

Nukman yang sejak 1999 sudah menjadi pembicara di 200 event itu menambahkan, “Berdasarkan hasil riset terakhir, separuh dari pengguna Internet di Indonesia sudah pernah melakukan transaksi. Sejauh ini, sebagian besar memang baru terbatas pada pembelian e-ticket atau penggunaan jasa e-banking, tapi transaksi jual beli produk juga sudah cukup banyak." 

Itu sebabnya ia percaya bahwa potensi bisnis di dunia maya sangat menjanjikan. Bisnis online pada garis besarnya terdiri dari dua macam. Yang pertama offline bisnis yang di-online-kan, dalam artian sudah ada produk nyata yang dipasarkan dengan sebuah website. Dan yang kedua, benar-benar bisnis online, yaitu bisnis yang memang 100% dibangun di dunia maya, sebutlah Google, YouTube, Yahoo, Facebook, Twitter, dan masih banyak lagi.

Hal senada juga diyakini oleh Pontus Sonnerstedt, Senior Director Business Development Yahoo South East Asia sekaligus Indonesia Country Lead. “Ada peningkatan dari sisi jumlah pengguna Internet. Hal penting lain adalah seperti juga pasar ponsel, tarif menjadi faktor yang sangat penting bagi pengguna,” kata orang yang bertanggung jawab membesarkan Yahoo di Indonesia, mulai perancangan strategis, penjualan, kemitraan, pemasaran, hinggga pengembangan produknya itu.

Seperti ponsel, dulu masih menjadi barang mahal, tapi sekarang hampir semua orang memakainya. Demikian pula dengan Internet, tidak lama lagi, pasti akan memasyarakat lebih luas lagi. Pontus, yang bekerja untuk Ericsson dan Sony Ericsson Asia Pacific, bahkan yakin bahwa sebagian pengguna internet pun juga mobile. 

Bila dibandingkan dengan pasar lain di Asia Tenggara, demikian Pontus, Indonesia adalah negara yang besar, dan memiliki jumlah pengguna internet yang hampir sama dengan Vietnam atau Filipina. Namun, penetrasi Internet di sini jauh lebih kecil. Padahal Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita Indonesia sebenarnya lebih besar daripada Vietnam. Artinya, dengan turunnya tarif berinternet – ditambah jumlah hotspot gratis makin banyak, tentu pasar Indonesia sangat potensial. 

Pontus meyakini, beberapa perusahaan Indonesia adalah pasar terbesar. “Baik itu untuk pasar ponsel, cunsomer good, Indonesia adalah pasar terbesar di wilayah ini,” katanya, seperti dikutip VIVAnews. 

Yang jelas, industri online memiliki keunggulan dalam hal kemampuan membidik target, karena dapat mengetahui waktu, tempat, atau usia audiens mereka secara lebih terukur. Sehingga pengiklan untuk situs dan portal, misalnya, bisa berinvestasi secara lebih efisien. Inilah keunikannya, sehingga merupakan peluang bagi pemain online untuk membuktikan diri mereka di kondisi krisis global seperti ini.

Potensi pasar adalah salah satu pertimbangan utama untuk menetukan strategi bisnis, tak terkecuali di dunia maya. Menariknya, potensi pasar yang bisa digarap adalah pasar global, melampuai batas administrasi negara. Yang mesti dilakukan para pebisnis adalah, memfokuskan pada penentuan target pasar agar tepat sasaran. 

Yup, berbisnis melalui media online saat ini makin menjadi pilihan, karena modal dan biaya operasionalnya relatif kecil – dengan potensi keuntungan yang besar. Jika Anda belum kenal dengan dunia online sebenarnya tidak perlu berkecil hati, karena online hanya yang medium, yang tentu bisa dipelajari. Sebab, seperti kata konsultan manajemen Richard Branson, “Jika Anda dapat menjalankan sebuah bisnis dengan baik, Anda dapat menjalankan bisnis apa pun dengan baik – termasuk melalui medium apa pun.” (Burhanuddin Abe)

ME, July 2010

Singapore banking on medical tourism


WHAT comes to mind when someone mentions Singapore? A shoppers’ paradise? Well, you are not wrong, as this city state is truly heaven for those who love shopping at favorite shopping hubs such as on Orchard Road and shopping centers like the computer trading center Funan DigitalLife Mall, Sim Lim Square, or Vivo City, which is the largest mall there.

But it is also not wrong to call Singapore a medical tourism destination. Many high ranking officials and rich people from neighboring countries come to Singapore for medical purposes. In 2000 the World Health Organization (WHO) recognized Singapore as having the best medical services in Asia and ranked the city state number six in the world.

Patient registration and complete information about hospitals in Singapore, including telephone numbers and email addresses, is available through International Patient Service Centres. The cost of medical services used to be regulated by the government but not any longer. However, they still abide by guidelines provided by the Singapore Medical Association.

Singapore is well known for its reliable, experienced doctors and sophisticated hospitals. One of the international standard hospitals is Novena Medical Center, which is located above the MRT Novena Station next to Tan Tock Seng Hospital. This medical center is strategically located right in the heart of upper class communities, office buildings, modern malls as well as various health and medical centers with complete facilities, such as Tan Tock Seng Hospital, National Neuroscience Institute, Thomson Medical Centre, National Skin Centre and KK Women’s and Children’s Hospital.

Novena Medical Center encompasses a 140,000 square feet area with 145 medical rooms and is conveniently connected with Tan Tock Seng Hospital through a covered pedestrian bridge. Collaborating with a number of major hospitals Novena Medical Center provides its patients with the services of expert, multi disciplinary specialists to ensure the most complete, efficient and effective service.

Novena said in a statement that Novena Surgery is the first 24/7 surgery facility within the Singapore private medical sector to offer modular operating theaters with cable-less pendant systems, allowing surgeons to operate free of stray wiring and obstructions. “Our endoscopy suites are equipped with the latest bronchoscopes, GI endoscopes and high definition camera-video systems that offer unprecedented clarity,” the hospital said, adding that a mini-view X-ray machine facilitates accurate placement of surgical implants.

Not only patients from neighboring and developing countries come to Singapore. For some time now patients from highly developed countries have been frequenting the city state for medical treatment. This is because medical expertise and state of the art equipment are no longer the monopoly of a few highly advanced countries. On top of that the cost is much lower in Singapore than say the United States, for example. High quality affordable medical services have attracted numerous patients to Singapore as well as several other Asian countries.

Malaysia is one such country. For years it has enjoyed high revenue from foreign patients. The Malaysian Hospitals Association estimates that this sector will contribute as much as Rp 1.78 trillion in 2010 from about 625,000 foreign patients.

According to Eugene van de Weerd, country director of Frost & Sullivan Indonesia, medical tourism provides a significant contribution to the economy of a number of Asian countries and it is an important component in the planning and developing of the country’s medical service. “The market value of this business in Asia generally or particularly in Singapore, Malaysia, Thailand and India was about US$3 billion from 2007 to 2008 and the figure will increase to $4.4 billion by 2012,” said Weerd in a press release.

In view of this fantastic potential it is not surprising that Singapore is aggressively developing its medical tourism potential. The obvious plus point is that the country’s medical facilities are acknowledged as the best in Southeast Asia. The government along with the hospitals is continuously striving to make breakthroughs and further developments in medical research.

The main question is why Singapore? Many countries recognize the superior medical facilities both at the government and private hospitals which have sophisticated equipment and highly experienced doctors. Most hospitals in Singapore have become a benchmark in the ASEAN region and thus, have given Singapore a leading image in this sector.

Based on all these factors Singapore is well prepared to maintain its position as the region’s best center for medical treatment, especially for patients coming from ASEAN member countries while its facilities and reputation have also attracted patients from other countries. The patients who receive medical treatment here acknowledge that such high standard equipment, specialists and efficient as well as effective service are difficult to find elsewhere.

The country has a huge number of specialists and supporting medical personnel plus the latest diagnostic facilities. The rates are on a par with or lower than the rates in developed countries. The facilities and expertise available at both government and private hospitals in this city state are equal. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, July 19, 2010

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/19/singapore-banking-medical-tourism.html

Monday, July 19, 2010

'Taste', Culinary Journey in Three Hotels

BAGAIMANA rasanya berwisata kuliner di tiga hotel sekaligus? Pengalaman itulah yang ditawarkan dalam program ‘Taste’, rangkaian petualangan kuliner di The Ritz-Carlton Jakarta (Pacific Place dan Mega Kuningan) dan JW Marriott (Mega Kuningan), 8 – 29 Juli 2010. 

Ketiga venue yang berada dalam satu kepemilikan itu mempersembahkan berbagai promosi eksklusif, mulai dari makanan, minuman, bahkan hiburan yang semuanya dikemas sebagai paket “gaya hidup” ala kaum urban Jakarta. Saya dan teman-teman media berkesempatan menikmati preview-nya, mulai dari merasakan black truffle, jamur termahal ala Italia, yang disajikan oleh seorang celebrity chef, sajian Jepang Omakase, Bastille Party oleh DJ Ceet, sampai kolaborasi fashion yang akan ditampilkan dalam sebuah peragaan.

Dalam acara 'It's About Taste' yang digelar untuk kalangan terbatas, dalam hal ini pers itu, merupakan petualangan kuliner ke tiap-tiap gerai restoran di mana promo tersebut akan berlangsung. Tur eksklusif itu dipandu langsung oleh Desiree Merlina, selaku Marketing & Communications Manager The Ritz-Carlton, Jakarta dan Ina Ilmiaviatta selaku Marketing & Communications Manager Hotel JW Marriott. 

Petulangan kuliner dimulai di The Ritz-Carlton, Pacific Place, yakni Italian Black Truffle. Jamur hitam ini awalnya ditemukan di Piedmonte, tapi juga terdapat bagian selatan di Italia, yakni Umbria. Dennis Mifsud, seorang celebrity guest chef, melalui teleconference mengatakan akan menghidangkan kepada para tamu sajian eksklusifnya yang berbahan dasar truffle tersebut. Menu akan disajikan bersama wine yang disiapkan oleh John Horgan, pembuat wine terbaik dari Salitage, Pemberton, daerah penghasil wine di Australia.

Sebetulnya acara wine dinner tersebut rencananya akan digelar di akhir masa promosi, yakni 29 Juli di Pacific Restaurant & Lounge di hotel tersebut. Sebelumnya acara serupa, di awal rangkaian petulangan kuliner sesungguhnya yang ditujukan untuk umum justru dimulai dari Lobo, restoran Italia terbaik yang berlokasi The Ritz Carlton Jakarta, Mega Kuningan. Chef de Cuisine Mariano Liuzza akan menghidangkan secara khusus lima menu eksotis yang disajikan bersama wine terbaik dari Eropa.

Buat pecinta hidangan Jepang jangan lewatkan 'Omakase and Sake Pairing Dinner' di Asuka Japanese Dining. Restoran Jepang yang berada di lobby level, JW Marriott ini memang menjadi salah satu yang terbaik di Jakarta. Executive Japanese Chef, Nishiura Osamu bakal menyuguhkan produk seasonal segar yang langsung diterbangkan dari pasar ikan Tsukiji dan Fukuoka Jepang lengkap bersama sake Jepang, sebutlah Ayu Potatikomi, Hamo Sumashigitate, dan masih banyak lagi. 

Sambil menikmati kelezatan hidangan yang tersedia, seroang Master Sake dari Jepang memberikan penjelasan mengenai sake yang disajikan bersama menu Omakase seperti Sake Fukumitsuya Kagatobijunmai dan Sake Takobi Junmai Koshininatsuume Niigutajunmai.

Sementara itu Blu Martini yang terkenal dengan 88 jenis Martini akan menjadi tuan rumah dari acara " X-cite Your Sense" pada 22 Juli 2010. Acara yang satu ini akan memadukan fashion dan seni meracik minuman atau cocktail. Seorang perancang busana muda berbakat Kleting Titis Wiganti, akan menampilkan label KLE-nya. Sedangkan Joseph Boroski, seorang MixsultantTM, bersama Liquid Chef dari Blu Martini, akan membuat kreasi cocktail unik dengan sentuhan molecular yang cita rasanya unik.

Tidak ketinggalan, dalam program ‘Taste’ ini juga ada cooking class di Lobo, yang diberi tajuk Pasta VS Pastry. Chef Mariano Liuzza membagikan tiga resep rahasianya dalam pembuatan pasta dan juga saus “al dente” dan Pesto alla Genovese. Sedangkan Chef I Made Kona mendemonstrasikan pembuatan tiramisu yang lezat. Hmmm… 

Jangan lupa pada 26 Juli, jam 10.00 – 12.00 WIB, Pearl Chinese Restaurant di JW Marriott yang banyak menggaet gelar Best Chinese Restaurant, akan mengadakan kelas memasak dengan praktek langsung di dapurnya. Executive Chinese Chef John Chu akan membagikan resep favoritnya yang selama ini dirahasiakan. Ia akan menunjukkan kepada para tamu bagaimana cara memasak hidangan ala Kanton dengan gaya modern. 

Petualangan selanjutnya berlangsung di Mistere Live, salah satu tempat hang out terbaik di Jakarta saat ini yang berlokasi di The Ritz Carlton, Mega Kuningan. Di sini ada penampilan DJ Ceet (baca: “Cee-Tee”) dari Perancis yang sudah dikenal di berbagai belahan dunia. DJ yang kini menjadi resident DJ di salah satu klub terkenal di Hong Kong ini siap menggoyang lantai Mistere. Selain DJ Ceet, home band Mistere SOS & DJ Djohan tentu saja tidak ketinggalan, akan ikut memeriahkan suasana. Bon appetite, and happy party! (Burhan Abe)

Tuesday, July 06, 2010

Eksotisme Hidangan Sang Nyonya


KULINER Singapura tidak jauh dengan Indonesia. Itu sebabnya, ketika berkunjung ke Negeri Singa tersebut, lidah sudah tidak asing lagi dengan makanan setempat. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer. Agaknya makanan Malaysia tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama makanan pokoknya nasi.

Secara garis besar masakan Singapura terdiri atas tiga jenis utama, yakni masakan China, Melayu, dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, sebutlah makanan Eropa dan Mediterania tersedia pula. Apa saja kayaknya tersedia di negara pulau itu.

Pada suatu kesempatan ke Singapura saya ingin mencoba makanan Nonya -- suatu istilah dalam bahasa Melayu lama yang digunakan sebagai tanda hormat kepada wanita dengan kedudukan sosial yang tinggi --, agaknya tidak salah kalau saya (dan gang media) memilih True Blue di Armenian Street. Inilah restoran per

anakan yang mengusung nuansa kemewahan klasik, yang tercermi mulai dari dekorasi cantik hingga barang-barang pernik lainnya.

True Blue Cuisine yang berlokasi di sebelah Museum Peranakan itu berdiri pada November 2003. Ini memang bukan sekadar restoran, karena interiornya juga dirancang sesuai dengan sejarah kebudayaan peranakanan.

Di sini saya terkesan dengan perabotan antik, mulai dari lemari, meja, kursi, dan lain-lain. Beberapa perabot ternyata dijual, juga ada beberapa kebaya antik ala Nyonya tradisional, yang juga dijual di situ.

Dengan suasana yang sempurna untuk menikmati citarasa unik budaya Nyonya ini, saya mencoba berbagai masakan tradisional peranakan, seperti otak-otak, ayam buah keluak, yaitu hidangan ayam yang dimasak dengan saus kacang yang kental, serta itek tim, sup klasik yang dibuat dengan bebek, tomat, paprika, sayuran asin dan plum asam awetan yang dididihkan perlahan. Sedangkan dessert khas Nonya adalah kue dengan rasa kelapa dan aneka kue manis.

“Kami yakin, cara terbaik untuk menikmati makanan ala peranakan adalah makan di restoran ini, di mana atmosfer kebudayaan peranakan masih terjaga. It’s a living heritage,” ujar pemilik dan chef True Blue Cuisine, Benjamin Seck.

Beruntung saya dapat kesempatan mencicipi makanan peranakan di restoran yang tepat. Makanan Nonya memang berbeda dengan makanan Melayu atau pun China, meski unsur keduanya sangat kental mempengaruhi citarasa makanan ini.

Mengutip YourSingapore.com, citarasa makanan Nonya datang dari kaum peranakan, keturunan para imigran China awal yang menetap di Penang, Malaka, Indonesia, dan Singapura, untuk kemudian menikah dengan kaum Melayu setempat.

Rahasia kelezatan masakan peranakan ini adalah “rempah” yang terkandung di dalamnya, yaitu kombinasi bumbu dengan ukuran dan tekstur yang sangat spesifik, yang kemudian ditumbuk dalam lumpang atau cobek, yang menghasilkan menjadi pasta.

Makanan Nonya juga banyak menggunakan cabai, terasi, dan santan sebagai bahan penting saat memasak. Cara memasak mereka mencampurkan bahan-bahan dengan teknik memasak di wajan ala China, ditambah bumbu-bumbu yang digunakan oleh komunitas Melayu dan Indonesia untuk menciptakan hidangan yang memiliki rasa kuat, aromatik dan pedas. Hmmm… (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=24

Thursday, July 01, 2010

Culinary Legends of Batavia


Re-discover Batavian favorite recipes such as Soto Betawi, Sop Kaki Tanah Abang, Semoer Daging Betawi, Kerak Telor and much more. All are prepared by Chef Syaiful Bahri and his team for you to enjoy @ Asia Restaurant, The Ritz-Carlton, Jakarta.

SAYA pasang flyer tersebut di wall FaceBook saya, lengkap dengan gambar suasana Betawi tempo dulu. Ternyata banyak yang menanggapi positif, jempol-jempol diberikan, bahkan ada teman berasal dari Filipina, yang pernah tinggal di Singapura dan Jakarta memberi komentar, “Another great reason to visit Jakarta!”

Di tengah serbuan makanan asing, makanan legendaris Betawi di Jakarta ternyata masih mendapat tempat di hati masyarakat, terutama pecinta kuliner. Dan memang tidak salah kalau holet sekelas The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta menggagas festival makanan bertema Culinary Legends of Batavia di salah satu restorannya, Asia, sekalian menyambut haru ulang tahun Kota Jakarta yang ke 483. Hmmm… Jakarta ternyata lebih tua dari usia negara Indonesia.

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kulinari Betawi? Pasti banyak, meski beberapa di antaranya sangat susah dicari. Chef de Cuisine Syaiful Bahri dan tim kulinernya sudah menyiapkan hidangan Betawi. Aneka resep terbaik para leluhur saat Jakarta masih bernama Batavia pada abad 16 silam, ada di sini.


Beruntung saya dan para wartawan kuliner dan gaya hidup mendapat kesempatan megikuti pembukaan festival makanan tersebut acara yang berlangsung pada 16 hingga 25 Juni 2010.

Daftar makanan yang dihidangkan memang banyak, dan setiap hari sangat bervariasi. Sebutlah Sop Kaki Kambing Tanah Abang, Macaroni Dutch (macaroni met ham en kaas), Bitter Ballen with Mustard Honey Sauce, Sayur Besan, Pepes Ikan Salem Mangga Muda, Gado-gado, Oseng-oseng Kangkung Jamur, Terik Daging Ayam Opor Kuning Jambal Pete Goreng Pedas, Tongseng Kambing Kwitang Kambing Bumbu Kecap Benteng, Gulai Sotong Muara Karang, Ayam Bakar Tanah Abang Nasi Goreng Udik, Kerak Telor "Bang Somad", Gabus Pucung dan Saus Semur, Beer Pletok, dan masih banyak lagi.

Jangan lupa, sambil bersantap pengunjung bisa mendengarkan alunan musik khas Betawi, seperti Jali-Jali, Keroncong Kemayoran, Ondel-ondel, Lenggang Kangkung, dan lain-lain. Juga musik gambang kromong dengan penyanyi legendaris H. Benyamin Sueb.

Tidak hanya makanan dan hiburan memang, karena pernik-pernik pajangannya juga ikut menyesuaikan dengan suasana Betawi. Asia Restaurant sendiri disulap menajdi kota tua Batavia, dengan meletakkan barang-barang antik di depan dan sepanjang area restoran, seperti delman, becak dengan berbagai buah dan sayur mayur di dalamnya -- ada kelapa, salak, pepaya, terong, dan lain-lain. Di sebelah restoran juga ada window display rumah ala Betawi, kursi kayu, lemari kuno dengan barang-barang antik di atasnya, seperti piringan hitam zaman dahulu, setrika arang, radio tua, dan lain sebagainya. Untuk melengkapi atmosfer “tempo doeloe” tersebut, mobil antik Mercedes-Benz SL dan Pagoda ikut nongkrong di situ.

Sungguh sebuah pengalaman bersantap yang tak terlupakan! (Burhan Abe)