Saturday, July 31, 2010

Dining Experience with SQ



SINGAPURA bukan negara yang asing, tapi tetap saja undangan untuk menghadiri event dari negeri tetangga tersebut selalu menarik perhatian. Pengundangnya adalah Singapore Airlines (SIA), acaranya bertajuk Singapore Airlines World Gourmet Forum, 8 - 10 Juli lalu.

Acara itu sebatulnya bagian dari peluncuran sebuah buku kuliner yang diterbitkan SIA, Above and Beyond: A Collection of Recipes from the Singapore Airlines International Culinary Panel, yang dikemas dalam sebuah acara gala dinner.

Perlakukan kepada undangan media agak sedikit berbeda. Selain mendapat kesempatan mengikuti wine dinner tersebut, sebelumnya mendapat kesempatan menengok dapur yang menyediakan makanan bagi penumpang SQ. Saya satu-satunya wartawan Indonesia yang diundang, selebihn

ya adalah 18 wartawan lainnya yang datang dari berbagai negara. Patut dicatat, separuh dari wartawan tersebut adalah freelancer atau bergagung dengan sindikat – seperti yang saya lakukan saat ini.

Siapa yang tidak ingin tahu rahasia SIA, yang sampai saat dikenal sebagai maskapai dengan pelayanan terbaik di dunia, bagaimana menyajikan menu-menu terbaiknya kepada para penumpang. Buku tersebut berisi 50 delectable recipes, yang dipersembahkan oleh sepuluh chef kelas global, yang bisa biasa berkreasi dengan menu-menu andalannya. Mereka adalah Georges Blanc (Prancis), Sanjeev Kapoor (India), Sam Leong (Singapura), Matt Moran (Australia), Yoshihiro Murata (Jepang), Alfred Portale (USA), Gordon Ramsay (Inggris), Zhu Jun (China), Nancy Oakes (USA), dan Yeung Koon Yat (Hong Kong).

Cookbook yang dikemas mewah itu memang bukan sekadar buku, tapi merupakan sumbangan SIA untuk masyarakat. Peluncurannya yang dikemas mewah diadakan di Shangri-La Hotel, Singapura, 9 Juli 2010. Hasil penjualan buku, dan beberapa barang lelang, yang terkumpul S$1,418 juta, semuanya disumbangkan untuk organisasi nirlaba Singapore’s Community Chest, yang merupakan bagian dari Straits Times Pocket Money Fund dan Business Times Budding Artists Fund.

Setelah peluncuran yang dihadiri oleh Presiden Singapura Nathan dan Mrs. Nathan, buku tersebut dijual juga di toko-toko buku, sebutlah Borders, Times Newslink, Times Travel, juga Relay di Changi Airport, Singapura. Sementara di luar Singapura, orang bisa memesan via pembelian online di www.krisshop.com, yang jika memesannya sebelum 31 Desember 2010 akan terbebas dari ongkos kirim (disponsori UPS), atau di katalog KrisShop yag ada di SQ.

Penerbitan buku tersebut, demikian Yap Kim Wah, Senior Vice President Product & Services SIA, bukanlah bagian dari bisnis SIA, tapi merupakan SIA untuk masyarakat. “Penumpang yang biasanya terbang bersama SQ, dan mendapatkan pelayanan F&B ala SQ, dapat mencobanya di rumah,” ujar Yap yang juga Chairman of Tradewinds Tours & Travel, a Board Member of the Singapore Land Authority, a Board Director of Virgin Holidays and a Member of the Quality Service Advisory Committee chaired by the Minister State for Trade and Industry.

Menurut Yap, SIA sampai saat ini memang dikenal sebagai maskapai yang mempertahankan kualitas pelayanannya. Tidak sia-sia, nyaris setiap bulan selalu ada lembaga yang memberikan award kepada ikon Singapura ini.

Memang, tidak bisa dimungkiri, dengan maraknya penerbangan model low cost carrier (LCC) yang bertiket murah, sedikit banyak ikut mengganggu pasar penerbangan berservis. Tapi untuk itu Grup SIA sudah lama menyiapkan ‘second brand’nya, SilkAir dan Tiger, sedangkan untuk SQ (sebutan lain untuk SIA) tetap mempertahankan layanan nomer satu. “Constantly redefine the travel experience and continue the pace of innovation that is a hallmark of SIA,” ujar Yap yang bergabung dengan SIA sejak 1975.

Menurut Yap, tahun 1970-an, SIA dikenal sebagai maskapai yang menawarkan headset gratis, minum gratis dan pilihan makanan di kelas ekonomi. Selanjutnya SIA juga tercatat sebagai trendsetter dalam berbagai pelayanan, yang tonggak-tonggaknya sebagai berikut; 1984 (first to fly non-stop London-Singapore), 1991 (first with inflight telephones), 2001 (first to launch inflight trial of e-mail), 2001 (first to launch audio & video on demand in all classes), dan 2004 (world’s longest non-stop flights), dan 2007 (launch customer for the A380).

Kalau di kelas ekonomi saja para penumpang mendapatkan pelayanan yang terbaik, lebih-lebih kalau kelas bisnis atau kelas utama. Untuk penyediaan makanan, misalnya, sejak September 1998, SIA memanfaatkan para chef-chef kelas dunia, yang Singapore Airlines’ International Culinary Panel (ICP). Mereka menciptakan menu-menu otentik yang dihidangkan di atas pesawat. “Makanan di atas pesawat kulaitasnya minimal setingkat di atas hidangan di darat,” ujar peraih gelar Mechanical Engineering dari National University of Singapore itu.

Good food and wines, itulah prinsip yang ingin ia diterapkan SIA. Tidak hanya makanannya yang terjaga, wine yang disajikan pun yang terbaik, bahkan untuk suit class dan firs class, wine yang dhidangkan adalah wine asal Bordeaux, Prancis, salah satu wine terbaik di dunia. “Dining experience in SIA is exquisite, elegant, and exclusive,” ujar Yap, yang mempunyai hobi scuba diving dan golf itu.

Jadi bukan tanpa alasan kalau SIA akhirnya menerbitkan buku masak memasak. Justru dengan menerbitkan buku – yang hasil penjualannya untuk disumbangkan untuk amal, bukan berarti tanpa perhitungan bisnis. Inilah salah satu cara SIA membentuk citra positif sebagai maskapai penerbangan kelas satu di dunia. (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=27


No comments:

Post a Comment