Tuesday, July 06, 2010

Eksotisme Hidangan Sang Nyonya


KULINER Singapura tidak jauh dengan Indonesia. Itu sebabnya, ketika berkunjung ke Negeri Singa tersebut, lidah sudah tidak asing lagi dengan makanan setempat. Nasi lemak, roti canai, laksa, itulah beberapa nama makanan yang populer. Agaknya makanan Malaysia tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terutama dari gagrak masakan Melayu yang sama-sama makanan pokoknya nasi.

Secara garis besar masakan Singapura terdiri atas tiga jenis utama, yakni masakan China, Melayu, dan India. Masing-masing punya ciri khas dan rasa istimewa. Selain itu, juga ada masakan pembauran budaya dari masyarakat Nonya (keturunan) dan India Islam. Sedang menu-menu internasional, sebutlah makanan Eropa dan Mediterania tersedia pula. Apa saja kayaknya tersedia di negara pulau itu.

Pada suatu kesempatan ke Singapura saya ingin mencoba makanan Nonya -- suatu istilah dalam bahasa Melayu lama yang digunakan sebagai tanda hormat kepada wanita dengan kedudukan sosial yang tinggi --, agaknya tidak salah kalau saya (dan gang media) memilih True Blue di Armenian Street. Inilah restoran per

anakan yang mengusung nuansa kemewahan klasik, yang tercermi mulai dari dekorasi cantik hingga barang-barang pernik lainnya.

True Blue Cuisine yang berlokasi di sebelah Museum Peranakan itu berdiri pada November 2003. Ini memang bukan sekadar restoran, karena interiornya juga dirancang sesuai dengan sejarah kebudayaan peranakanan.

Di sini saya terkesan dengan perabotan antik, mulai dari lemari, meja, kursi, dan lain-lain. Beberapa perabot ternyata dijual, juga ada beberapa kebaya antik ala Nyonya tradisional, yang juga dijual di situ.

Dengan suasana yang sempurna untuk menikmati citarasa unik budaya Nyonya ini, saya mencoba berbagai masakan tradisional peranakan, seperti otak-otak, ayam buah keluak, yaitu hidangan ayam yang dimasak dengan saus kacang yang kental, serta itek tim, sup klasik yang dibuat dengan bebek, tomat, paprika, sayuran asin dan plum asam awetan yang dididihkan perlahan. Sedangkan dessert khas Nonya adalah kue dengan rasa kelapa dan aneka kue manis.

“Kami yakin, cara terbaik untuk menikmati makanan ala peranakan adalah makan di restoran ini, di mana atmosfer kebudayaan peranakan masih terjaga. It’s a living heritage,” ujar pemilik dan chef True Blue Cuisine, Benjamin Seck.

Beruntung saya dapat kesempatan mencicipi makanan peranakan di restoran yang tepat. Makanan Nonya memang berbeda dengan makanan Melayu atau pun China, meski unsur keduanya sangat kental mempengaruhi citarasa makanan ini.

Mengutip YourSingapore.com, citarasa makanan Nonya datang dari kaum peranakan, keturunan para imigran China awal yang menetap di Penang, Malaka, Indonesia, dan Singapura, untuk kemudian menikah dengan kaum Melayu setempat.

Rahasia kelezatan masakan peranakan ini adalah “rempah” yang terkandung di dalamnya, yaitu kombinasi bumbu dengan ukuran dan tekstur yang sangat spesifik, yang kemudian ditumbuk dalam lumpang atau cobek, yang menghasilkan menjadi pasta.

Makanan Nonya juga banyak menggunakan cabai, terasi, dan santan sebagai bahan penting saat memasak. Cara memasak mereka mencampurkan bahan-bahan dengan teknik memasak di wajan ala China, ditambah bumbu-bumbu yang digunakan oleh komunitas Melayu dan Indonesia untuk menciptakan hidangan yang memiliki rasa kuat, aromatik dan pedas. Hmmm… (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=24

No comments:

Post a Comment