Tuesday, August 24, 2010

Ramadhan Food Festival


SETIAP Ramadhan tiba, entah mengapa tema-tema yang berbau Timur Tengah selalu muncul. Mal Kelapa Gading Jakarta, misalnya, setiap tahun mengadakan Arabian Night Food Festival (13 – 29 Agustus 2010).


Festival makanan yang digelar di halaman outdoor La Piazza ini, entah mengapa makanan Timur Tengah-nya minim. Memang sih ada nasi kebuli, kebab, kurma, dan lain-lain, tapi yang dominan justru makanan Indonesia dari berbagai daerah – mulai dari gudeg Yogya, lontong sayur Medan, makanan Padang, bahkan makanan Manado. Lebih unik lagi, sate Afrika – yang biasa mangkal di Tanah Abang Jakarta, justru yang paling favorit.


Tapi pengunjung memang tidak terlalu peduli dengan berbagai pilihan makanan yang melenceng dari tema tersebut. Yang penting adalah perayaannya, tradisi ngabuburit yang diwujudkan dalam budaya perkotaan – yang identik dengan keramaian di mal, plaza, dan pusat-pusat perbelanjaan.


Jangan heran, berbagai event, bahkan tradisi keagamaan di Indonesia selalu dimanfaatkan mal-mal untuk meggenjot omsetnya. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk memanfaatkan nafsu belanja masyarakat dengan mengadakan Ramadhan Sale, food festival, dan sejenisnya. Sama halnya dengan Natal dan Tahun Baru, misalnya. Yang membedakan adalah simbol-simbolnya. Untuk Ramadhan, ikon-ikon Timur Tengah banyak dipakai, paling tidak, pasar-pasar swalayan pasti menjual kurma dari berbagai negara Arab. Yang khas Indonesia mungkin sarung, kopiah, dan beduk, atau ditambah ketupat untuk Lebaran.


Juga, hotel-hotel pun menggelar acara serupa meski tidak sama persis. Hotel Melia Jakarta, misalnya, menggelar kuliner unik dan and otenstik Mesir, yang disiapkan secara eksklusif oleh Chef Bassem Ramses Mekhael Hanna yang khusus didatangkan dari Meliá Sinaí Hotel, Mesir, yang berlangsung mulai 29 Agustus hingga 2 September 2010. Sementara itu The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, misalnya, mendatangkan chef asal Maroko, Amine Adelmounaime.


The Ritz-Carlton memang tidak main-main, karena Chef Amine yang berasal dari The Ritz-Carlton, Doha di Qatar itu memang pakarnya untuk makanan Timur Tengah, dan telah mendapatkan beberapa penghargaan di dunia kulinari termasuk penghargaan “The Salon Culinaire of Qatar”. Pada tahun 1996, Chef Amine memulai kariernya di hotel “La Mamounia” yang terkenal di Maroko.“La Mamounia” adalah sebuah tempat favorit banyak selebritis seperti Winston Churchill, Franklin Roosevelt, dan Nancy Reagan. Ia kemudian bergabung dengan The Ritz-Carlton, Doha pada tahun 2002 sebagai Assistant Chef De Cuisine dan secara bertahap dipromosikan menjadi Chef De Cuisine.

Selama bulan Ramadhan ini, Chef Amine menunjukkan kemahirannya dalam menghidangkan masakan tradisional Maroko dan Timur Tengah. Beberapa hidangan spesial, di antaranya adalah the traditional Cous-cous, the seafood in fillo pastry/ Bastilla bi lhout, the spiced eggplant dip/ Zaalouk, serta berbagai hidangan lain yang terkenal marinated whole fish/ Baharatli balik izgara, dan Kofte kebabs. Makanan penutup antara lain fillo pastry with almond/ Pastilla bilhalib dan pistachio rolled fillo pastry/ Fistikli burma.

Sementara di Ritz-Carlton Jakarta yang lain, alias yang berlokasi Mega Kuningan, juga menggelar Middle East Food Festival, yang berlangsung mulai 11 Agustus hingga 9 September 2010. Chef yang dihadirkan adalah Feras Hawa dari The Ritz-Carlton, Doha, Qatar juga. Ia menyiapkan hidangan spesial nuansa Timur Tengah untuk tamu di Asia Restaurant. Sebutlah Jordanian Mansaf, Gratian Lebanese, lasagna with chicken, Syrian lamb Shakrya dan masih banyak lagi.

Yang menarik, untuk menghibur pengunjung di saat berbuka, ada pertujukan tarian dari Mesir, yakni Tanoura. Tarian ini sangat khas, yakni penarinya berputar-putar mengikuti irama, konon seperti tradisi para sufi yang berzikir sambil badannya bergerak-gerak. Spinning your Ramadhan! (Burhan Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=31


Saturday, August 21, 2010

Foong Wai Loong @ Xin Hwa


SIAPA yang tidak kenal Mandarin Oriental, Jakarta? Meski “jadul”, hotel berbintang lima yang berlokasi di Jalan MH Thamrin itu jauh dari kesan kuno. Bahkan kini hotel yang dibangun pada tahun 1976 itu tampil dengan wajah baru.

Itu sebabnya ketika Mardiana Budi, sang manajer komunikasi mengundang ke acara media luncheon (28 Juli 2010, sebelum bulan Ramadhan), saya sangat antusias. Apalagi, makan siang di Xin Hwa itu kami akan ditemani Chef Foong Wai Loong, asal Kuala Lumpur, Malaysia.

Xin Hwa sendiri dikenal sebagai restoran China bergengsi di Jakarta saat ini. Suasananya orientalnya sangat kental, dengan dekorasi ala emas-emasan dan batu giok. Restoran ini memiliki tiga ruang makan pribadi, yang didekorasi dengan palet warna khas kerajaan di China yang kontras dengan perabotan hitam dan abu-abu sapuan kuas yang alami.

Restoran ini memiliki spesialisasi dalam masakan Szechuan, yang dikombinasikan dengan kuliner ala Kanton dalam sentuhan modern. Xin Hwa dikenal karena otentisitas masakannya, termasuk premi pilihan dim sum yang ditawarkan setiap hari, dan seleksi yang luas dari teh China. Hasilnya adalah hidangan yang luar biasa yang disajikan dalam suasana yang ramah, dan Xin Hwa memang memperlakukan setiap tamu bak raja.

Para raja siang itu adalah para wartawan. Menu yang dipilihkan oleh sang chef tentu yang terbaik. Diawali dengan appetizer “double combination” (manggo wasabi prawns & coffee chicken). Kemudian “Szechuan hot and sour soup” (with seafood and dried scallpos). Yang disebut pertama adalah salad, dan yang terakhir tentu saja sup, keduanya cukup menggugah selera untuk course berikutnya.

Makanan berikutnya adalah “steamed gindara fish” (with chilli & yellow bean sauce), alias ikan gindara yang ditim. Agaknya ini yang menjadi jawaranya. Masih ada tambahan lagi, yakni “lemongrass Kung Pao chicken skewer”, dipresentasikan secara modern tapi tidak mengurangi esensinya sebagai makanan China. Kalau yang merasa “belum makan” kalau belum ada nasi, jangan khawatir, ada nasi goreng Sakura, yang dicampur dengan udang dan ikan salmon.

Seperti halnya ritual makan dalam pergaulan modern, siang itu kami mengakhirinya dengan dessert, yakni “chilled mango cream” (with sago and pomelo). Tidak hanya enak sebagai makanan penutup, tapi dessert tersebut dihidangkan di atas es kering yang mengeluarkan asap yang menawan. Wow!

Menu tersebut memang semacam preview hidangan yang diungulkan Xin Hwa. Untuk para pengunjung tersedia lima pilihan set menu, denga harga mulai dari Rp 288.000 – Rp 688.000.

Semuanya adalah kreasi Chef Foong Wai Loong. Pria berkebangsaan Malaysia ini memang bukan muka baru di dunia masak memasak, ia sudah 17 tahun berpepengalaman di industri hospitality.

Wai Loong memulai kariernya sejak usia 14 tahun di Kuala Lumpur. Kemudian ia pindah ke Singapura untuk bekerja dari restoran ke restoran China yang terbaik di negara tersebut. Ia juga sering mengikuti berbagai kompetisi, sebelum akhirnya bekerja untuk celebrity chefs Daniel Koh dan Eric Neo. Dan di Mandarin Oreintal Jakarta ia menduduki posisi Chinese head chef. Adventure anyone? (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=30

Thursday, August 12, 2010

All about Belgian Chocolate


You are cordially invited to Bloggers Workshop “All about Belgian Chocolate”, featuring A Renowned Chocolatier Laurent Bernard, @ Emilie Restaurant, Jakarta.

UNDANGAN yang dikirim via email itu segera menarik perhatian saya. Pertama, acara itu dituujukan untuk para blogger, yang ternyata kini mulai dihargai sebagaimana wartawan media mainstream. Kedua, memang materinya yang sungguh sayang untuk dilewatkan.

Memang, kuliner memang merupakan salah satu topik menarik, yang saya minati, saya pun pernah memimpin majalah yang berbasis kuliner – meski bungkusnya adalah “gaya hidup”. Coklat tentu tidak sekadar komoditi, sama seperti kopi dan teh, apalagi coklat Belgia yang dikenal memiliki tradisi serta kultur yang adilluhung.

Yang paling seru, tentu saja, workshop kali ini dipandu oleh orang yang benar-benar ahli dalam bidangnya, yakni chocolatier Laurent Bernard. Sebelum membuka Laurent’s Café & Chocolate Bar di Singapura beberapa tahun yang lalu, spesialis coklat ini bahkan sudah mendedikasikan hidupnya untuk menyempurnakan keahliannya dalam pastry.

Setelah lulus dari sekolah kuliner yang mengkhususkan diri pada pembuatan plated dessert, sugar work, modern pastry dan tentu saja coklat, Laurent berkeliling dunia untuk melakukan hal yang dia sukai dan melakukan yang terbaik sebagai chef pastry. Dari kota kelahirannya di Prancis, ia berkelana ke London, Bermuda, AS, bahkan Israel dan terakhir di Singapura tahun 2003, sebagai executive pastry chef di Meritus Mandarin Singapore.

Ia memiliki sejumlah karakter dan keahlian, sebuah harmoni yang sempurna. Awalnya mereka mengembangkan resep di bawah petunjuknya, kemudian mereka membawa hasilnya ke meja berupa penampilan yang artistik dan kreatif.

Begitulah, Laurent telah berpengalaman selama 20 tahun dalam bidang pastry dan coklat. Setelah lulus dari sekolah kuliner di Perancis, Laurent bekerja di beberapa hotel bintang lima yang sangat bergengsi di London, Timur Tengah dan Karibia, ia akhirnya membuka membuka kafe dan bar coklat atas namanya sendiri di Singapura.

Berbicara tentang coklat, menurut Laurent dalam workshop-nya di fine dining restaurant terbaik di Jakarta, ada beberapa jenis coklat yang kita konsumsi setiap hari. Coklat Belgia yang eksotis dapat dijumpai di gerai dan toko khusus. Coklat Belgia dianggap sebagai coklat bercita rasa tinggi karena memenuhi semua standar untuk produk gula-gula. Bahkan Swiss yang terkenal dengan coklatnya yang berkualitas tinggi, ternyata juga mengimpor resep dari ahli coklat Perancis dan Belgia.

Yang membuat coklat Belgia unik adalah kualitas bahan-bahannya dan teknik pengolahan coklat yang bisa dikatakan fanatik dengan teknik “old world”. Bahkan dalam dunia masa kini yang serba mesin dan produksi masal, coklat Belgia masih dibuat dengan tangan di toko-toko kecil dan menggunakan peralatan tradisional. Kenyataannya, gerai-gerai kecil tersebut justru menarik minat turis untuk mengunjungi Belgia saat ini. Seperti halnya wine tour, berwisata ke toko-toko coklat Belgia meliputi mencicipi coklat dan souvenir yang eksklusif, mulai populer saat ini.

Coklat Belgia populer sejak abad 18, tapi proses baru yang diciptakan oleh Jean Neuhaus tahun 1912 meningkatkan popularitas coklat hingga 10 kali lipat. Neuhaus menggunakan coklat versi khusus yang disebut couverteur, yaitu lapisan dingin yang dia sebut praline. Praline Belgia berbeda dengan isian permen yang terdapat di toko-toko permen Amerika. Praline coklat Belgia bisa diisi dengan macam-macam krim seperti kopi, kacang hazel, buah, atau coklat kental. Beberapa ahli coklat di masa Neuhaus menduplikasikan rasa yang kompleks dalam praline mereka. Banyak perusahaan praline coklat Belgia masih beroperasi hingga kini, sebutlah Leonidas, Neuhaus, Godiva, dan Nirvana, karena praline mereka yang bercita rasa tinggi.

Menikmati coklat ternyata ada seninya. Setidaknya, demikian Laurent, ada beberapa multi sensor yang harus diperhatikan. Pertama, dari sudut penghilatan, coklat biasa berbeda dengan coklat yang istimewa! Perhatikan warnanya. Tercampur sempurna, mengkilap, padat dan lembut. Cokelat batangan besar biasanya berwarna coklat mahogani, bukan hitam, sedangkan coklat susu berwarna cerah (krem), dan berwarna coklat jika kandungan bubuk coklatnya sangat banyak.

Setelah itu ciumlah, apakah aromanya menyenangkan dan menggelitik hidung?

Selanjutnya, patahkanlah. Perhatikan, coklat yang berkualitas tinggi ketika dipatahkan, patahannya jelas dan wangi coklat keluar semakin intensif. Lalu, kunyahlah, ketika digigit apakah keras, coklat langsung patah dan pecah. Terus kunyahlah, coklat yang berkualitas teksturnya terasa lembut, berlemak tapi tak lengket, ringan dan meleleh perlahan tanpa menyisakan ampas.

Begitulah, pengetahuan tentang produk akan menambah kenikmatan saat mencicipi coklat Belgia ini. Maka, sebagiknya kita memahami apa sebenarnya coklat itu. Inilah beberapa definisi tentang coklat. Coklat adalah campuran bubuk coklat yang sejenis dan gula. Untuk coklat susu, bubuk coklat dicampur susu dengan proporsi yang bervariasi. Bahan coklat yang baik terutama dari biji kakao Amerika karena memiliki konten biji kakao yang tinggi.

Membuat coklat adalah proses yang rumit dengan banyak faktor yang akan mempengaruhi kualitas produk akhir. Coklat yang benar-benar bagus dibuat dari sejumlah varietas kakao.

Yup, seperti halnya tanaman anggur, tanaman kakao juga memiliki banyak varietas. Varietas-varietas tersebut memiliki kakateristik yang berbeda yang memainkan peran penting dalam menentukan rasa dan kualitas produk akhir coklat.

Coklat terbaik terbuat dari biji kakao Criollo. Tiga varietas kakao utama ditemukan ketika Spanyol menguasai Dunia Baru. Jika kita ingin mengerti tentang pembuatan coklat, kita perlu tahu tentang varietas-varietas kakao tersebut.

Criollo (1-5 Persen Produksi). Kata Criollo berasal dari kata Creole, yang berarti native, asli dan setempat. Crillo tumbuh dalam jumlah kecil di Meksico, Nikaragua dan Guatemala. Sama seperti 3.000 tahun yang lalu, varietas Criollo hanya 5 – 8% dari tanaman kakao yang ada di dunia.

Criollo bisa ditemukan di habitat aslinya di Venezuela, Kolumbia, dan pulau-pula Karibia, seperti Trinidad, Jamaika, dan Grenada. Criollo juga tumbuh di pulau-pulau Samudera Hindia seperti Jawa, Madagaskar, dan Comoros.

Forastero (80-90 persen produksi). Forastero berarti orang asing. Berasal dari wilayah Amazon bagian atas. Forastero tumbuh di sejumlah negara-negara Amerika selatan: Peru, Ekuador, Kolumbia, Brazil, Guyana, French Guyana dan selatan Venezuela dekat Orinoco. Forastero juga ditemukan di Afrika Barat, pantai Gading, Ghana, Kamerun dan São Tomé, juga di Asia Tenggara.

Trinitario (10-15 persen produksi). Trinitario, berasal dari pulau Trinidad, lepas pantai Venezuela. Persilangan antara Criollo dan Forastero. Dua varietas ini bersilangan di abad 18 ketika pulau Criollo dilanda bencana alam. Trinitario sekarang tumbuh di wilayah di mana Criollo ada, seperti di Trinidad dan pulau Lesser Antilles, juga di Jawa, Papua-New-Guinea dan Sri Lanka, di Samudera Hindia. Kamerun juga memproduksi Trinitario dalam jumlah besar.

Coklat dan Kehehatan

Banyak orang orang yag ketakutan ketika mengomsumsi coklat, terutama takut gemuk. Padahal, coklat ternyata sangat baik untuk kesehatan.

Secara tradional, suku Maya percaya bahwa coklat membawa pengetahuan dan penilaian yang baik. Penelitian ilmiah terakhir menunjukkan bahwa mengonsumsi coklat membuat mereka bisa melihat lebih baik. Keunikan coklat adalah satu-satunya bahan yang lumer pada suhu darah - 93° F, di bawah temperatur tubuh. Coklat adalah bahan makanan yang paling bergizi dan mudah dicerna, mengandung banyak vitamin (A1, B1, B2, C, D, dan E) dan mineral penting (kalsium, potasium, sodium, magnesium, zat besi, zinc, tembaga, krom dan fosfor).

Coklat mengandung anti oksidan dan flavonoid yang berguna dalam mencegah radikal bebas yang menjadi penyebab kanker dan anti koagulan. Keduanya merupakan bahan penting bagi aspirin dan mencegah penggumpalan darah. Lemak coklat berfungsi sama seperti minyak zaitun dan mengandung mineral esensial yang baik untuk memperkuat tulang, rambut, kuku dan juga kulit. Hal ini juga berguna untukmencegah penuaan.

Coklat juga mengandung molekul psikoaktif yang membuat pemakan coklat merasa nyaman –- caffeine, theobromine, methyl-xanthine, dan phenylethylalanine. Zat-zat ini memperbaiki mood, mengurangi kelelahan sehingga bisa digunakan sebagai obat anti depresi.

Jadi, tunggu apa lagi? Coklat yang diolah dengan proses yang benar, dilakukan dengan sabar, perhatian atas detil dan cinta, akan menghasilkan coklat yang bercita rasa tinggi (gourmet chocolate). (Burhan Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=29

Wednesday, August 11, 2010

The Ramadan tradition in Indonesia


THE FASTING month of Ramadan is a month full of blessings for Muslims, who eagerly anticipate its arrival. Muslims believe that Ramadan is a month full of God’s mercy, gifts and forgiveness when all of one’s good deeds and prayers will be rewarded by God and all one’s sins will be forgiven.

In Indonesia, where the majority of the population is Muslim, there are various traditions in a number of areas in which people welcome the holy month of Ramadan. Although traditions may differ, the spirit remains the same, which is joyful and gratefulness in welcoming the holy month.

Andre Moller, in his dissertation “Ramadan in Java, the Joy and Jihad of Ritual” Fasting, wrote about the varied traditions of Indonesian Muslims. While believing in one and the same God, Muslims across the world have different traditions, so it is not surprising to find the differences according to historical background or geographical location. Therefore, Ramadan in Yogyakarta is not the same as Ramadan in Aceh, for instance, and Ramadan in Indonesia is also different from Ramadan in Palestine and so on.

Many non-Muslims, especially Westerners, think that fasting during Ramadan is ultimate suffering for those who fast. One can understand this misconception because they do not really understand the concept of fasting during the holy month. Not eating, drinking or smoking, and refraining from sexual relations and gossiping, etc. for a whole month is indeed a heavy burden for some, especially in a tropical country like Indonesia.

Muslims here have a unique enthusiasm in welcoming the holy month as they are joyful and highly excited about it. A month earlier, in the month called Syakban, they hold various programs and rituals. Kindergarten and school students go around the city in procession, malls offer special discounts and promos, special religious rituals called ruwahan are held at home and many visit cemeteries to pay their respects to deceased parents or relatives.

The following are examples of traditions during Ramadan in a number of areas as described in kabarinews.com. Dugderan takes place in Semarang, Central Java. “Dug” is the sound of a mosque drum to indicate the arrival of Ramadan, while “Der” is the sound of a cannon that is fired simultaneously with the sound of the mosque drum.

Muslims in Klaten, Boyolali, Salatiga and Yogyakarta in Central Java have a different ritual, Padusa, as they submerge themselves in water believed to be holy or bathe in holy wells or springs to cleanse themselves spiritually and physically prior to the holy month.

Meugang is practiced in Nangroe Aceh Darussalam (NAD) and Muslims over there slaughter goats, sheep or buffalos. This tradition has existed in the province since the year 1400 when the province was ruled by kings.

Balimau belongs to Muslims in Padang, West Sumatra. It is similar to Padusa. Nyorog for the Betawi people in Jakarta means distributing food to elderly family members. Although the terminology Nyorog has almost disappeared the tradition still remains. The food varies, such as buffalo meat or beef, fish, packaged noodles, coffee, milk, sugar, syrup and so forth.

It is about welcoming the holy month of Ramadan, while during the whole fasting month the rhythm of life also changes. In the wee hours of the morning before sunrise one has sahur, which is the morning meal, usually together with one’s family and normally one then goes to worship at the mosque and recites the Koran.

Many restaurants and food stalls are not open for business during Ramadan, but some are open in the evening until before sunrise. Before breaking the fast at maghrib or after sunset there is a tradition called ngabuburit, which means chanting and praying prior to it. Today in many major cities in Indonesia there is also a tradition called buka bersama, which means breaking the fast together with relatives, friends or colleagues at restaurants or cafes that have special promotional offers during the holy month.

Salat tarawih, which are non-obligatory evening prayers during the fasting month, are quite popular in Indonesia. Therefore, one often finds numerous neat rows of worshippers in mosques in the evenings of Ramadan praying for almost one hour after breaking the fast. Some do this only at the beginning and end of the fasting month.

What is unique about Ramadan in Indonesia is that it does not belong to adults alone but also to children. During other months children are usually not allowed to play or run about during maghrib or the evening prayer time, but during Ramadan they are not forbidden to do so by their parents so long as they break their fast or have their meal first. In Indonesia, Ramadan is a family ritual and male dominated as in some Islamic countries.

Another Indonesian characteristic of Ramadan is the celebration of Nuzulul Quran (the day commemorating the advent of Koran) and Lailatul Qadar (the night of the Koran’s revelation). In Indonesia, Nuzulul Quran is celebrated on 17th Ramadan while Lailatul Qadar is on the 27th of the same month. According to the late Nurcholish Majid, both celebrations are uniquely Indonesian traditions.

Although fasting is mandatory for Muslims, traditions can indeed vary. Welcome holy month, welcome Ramadan! (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, Auguts 11, 2010

http://www.thejakartapost.com/news/2010/08/11/the-ramadan-tradition-indonesia.html

Wednesday, August 04, 2010

Overlapping CSR programs not uncommon


EVEN though Corporate Social Responsibility (CSR) has become compulsory for limited liability companies, many businesses still have an inadequate understanding of what CSR is all about.

On the other side, many CSR programs run by companies are similar or overlap with programs held by other companies. "There should be multi-sector collaboration between the government, private companies and NGOs for a better direction of corporate social responsibility programs so that they do not overlap but support each other," said Noke Kiroyan, Chairman of the Board of Patrons of Indonesia Business Links (IBL), a non-profit organization established in 2001 to further the development of CSR in Indonesia.

Apart from overlapping CSR programs, there is also a misconception that CSR programs are always costly, although in reality it is not so. "CSR activities are more than charity because they include good and healthy business practices, which is called Good Corporate Governance," said Noke.

What is clear is that one should not underestimate CSR programs or activities because they are more than charity or merely the act of distributing foodstuff to the poor. "CSR is based on an entirely different concept, which means that it makes a real and sustainable contribution to society and the environment," Noke pointed out.

CSR should also include all types of relationships, that is, not only with the public but also with customers, employees, stakeholders, the government, suppliers and even with competitors, he continued.

According to the World Bank, CSR consists of the following main components: environmental protection, job guarantee, human rights, corporate involvement in public activities, business standards, further development of the economy, health protection, education and aid during natural disasters.

Clearly, a company's image has a great impact on its products. Currently, almost anyone can access information about any company in the world. "So if a company is not socially committed in some part of the world, the news spreads fast and the impact is a negative image, while if the company is fully committed to its CSR programs, such as in the preservation of the environment, public health, education, real action during and after natural disasters and so forth, the company's image will be positive," he emphasized.

Noke said that companies doing business in accordance with the law make a real contribution to the sustainable development of the country's economy.

According to Noke, IBL also promotes the implementation of CSR by companies here along with ethical business practices for the nation's development. One example of IBL's activities that is related to ethical business practices and law compliance is its role as the coordinator of the Community of Anti-Bribery Businesspeople (Komunitas Pengusaha Anti Suap or KUPAS) since 2009. IBL believes that companies have an important role to play in reducing bribery.

During the seventh coordination meeting of KUPAS on July 17, 2010 in Jakarta with the theme "Consolidating National Anti-Bribery Activities 2010-2015 (Konsolidasi Gerakan Nasional Antisuap 2010-2015), an anti-bribery pact was signed by PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), PT Satu Solusi Intermedia Utama and PT Dupont Indonesia.

Being a signatory to the pact is compulsory before a company can join KUPAS. "So this way, we strive to prevent bribery," explained Noke.

He added that if a member company were later proven to have paid a bribe, it would be expelled from KUPAS. "By not paying bribes, I believe the current rate of bribery, which is high, can be reduced," he said.

Noke further explained that since 2001, IBL had gone all out to promote good business ethics and had held 44 related workshops in 16 cities (15 provinces) from Banda Aceh to Manokwari, collaborated with the Corruption Eradication Commission (Komisi Pemberantasan Korupsi or KPK), participated in radio and television talk shows, placed public service advertisements on corruption and published books on preventing corruption.

IBL holds International Conferences on CSR on a regular basis, with the theme "the importance of multi-sector collaboration". This year's International Conference on CSR will be held in Jakarta and run from Sept. 29 to 30, 2010.

"Through the conference, we expect all sectors, such as the government, private companies and non-profit organizations to meet and discuss and understand each other's views and roles in relation to CSR programs," said Noke.

"Eventually, we also expect that via this forum, an awareness will be created for multi-sector cooperation for the sustainable implementation of CSR programs," he added. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, August 04, 2010

http://www.thejakartapost.com/news/2010/08/04/overlapping-csr-programs-not-uncommon.html

Canton and Szechuan at Table8


TABLE8, inilah restoran baru yang berlokasi di Hotel Mulia Senayan Jakarta. Bukan berarti hanya untuk berdelapan, tapi karena ini chinese restaurant, yang percaya pada keberuntungan angka 8.

Saya memang tidak sempat menghadiri pembukaannya, tapi undangan dari Adeza Hamzah, Asisstant Director of Communication Hotel Mulia, tidak mengurangi nilai apreasi saya terhadap restoran ini.

Resto ini menggantikan Samudra Shark's Fin di lantai dasar, tapi tentu dengan konsep baru, yakni menghadirkan masakan China ala Kanton dan Szechuan. Memasuki pintu resto ini kita seperti diajak untuk bersiap-siap memasuki pengalaman bertualang rasa. Suasananya eksklusif, modern, dan stylish bergaya Chinoiserie yang mendominasi venue ini.

Di dekat pintu masuk terdapat gerai chinese tea yang eksklusif, tersedia berbagai jenis teh, mulai dari black tea, green tea, oolong tea, flower tea, herbal tea hingga teh premium dari China. Yang menarik, jika kita memilihteh sebagai minuman, seorang pramusaji akan menghidangkannya dengan cara yang unik – menuang tehnya dari teko kaca memanjang seperti memperagakan salah satu jurus kungfu.

Yang menjadi pusat perhatian restoran ini terletak di ruang tengah, yakni sebuah meja makan panjang terletak di tengah dengan hiasan 23 pagoda di ketinggian yang berbeda (sampai 6 kaki). Di atasnya terdapat lampu-lampu kristal berbentuk naga yang

menjuntai indah. semuanya dirancang secara eksklusif dan custom made. Dengan demikian tamu tak hanya menikmati kelezatan hidangan tetapi suasana nyaman dan bisa “cuci mata” selama bersantap.

Yang menarik, semua pramusaji yang ramah itu berbaju seragam hitam ala gadis-gadis China yang cool. Rambutnya hitam lurus berponi (semua pakai wig), bibirnya berlipstik merah menyala.

Pilihan hidangannya sangat beragam, mulai dari hidangan Szechuan yang pedas hingga masakan Kanton yang lembut, juga aneka jajanan khas China yang mungkin jarang kita jumpai di sini. Chef-nya yang berasal dari China dan Hong Kong, meracik semua hidangan dengan penampilan yang indah, sehingga bercita rasa prima. Hmmm…

Hidangan andalannya? Ada Braised Superiors Shark's Fin with Black Truffle - sirip ikan hiu premium disajikan dengan jamur truffle dari Prancis. Sajian kerang-kerangannya juga istimewa, cobalah Dried Scallop Server in Stone Pot, atau Scallop Cake with Asparagus and Shimeji Mushroom in Ebara Sauce.

Kebanyakan orang Indonesia suka pedas, dan di restoran ini kita dimanjakan dengan hidangan ala Szechuan. Tersedia Szechuan Stirfried Chicken Cubes with Dried Chili and Peppercorn. Dari kuliner Hong Kong pun tersedia Table8 Fresh Steamed Bun yang tak lain adalah bakpao dengan beragam pilihan isi, dan Wok Fried Fragnant Rice with Foiegras and Seafood atau nasi goreng dengan hati angsa dan seafood.

Jangan lupa, selain hidangan yang populer ala street food, restoran ini juga menyajikan hidangan China klasik populer seperti Beggar's Chicken - ayam pengemis atau 'Buddha Jump Over the Wall' Soup yang bercitarasa alami. Sederetan pilihan dessert pun tersedia dan khusus penggemar cokelat, tersedia Table8 Chocolate Fondue.

Dengan konsepnya yang matang tidak heran jika restoran ini meraih penghargaan “Winner on the Fine Dining Restaurant Category in the 2010 Hospitality Design (HD) Awards for Creative Achievement”, New York City.

Siang itu suasana memang agak lengang, tapi saya lihat ada beberapa grup profesional berbaju kantoran yang datang. Bahkan di ruang VIP ada ibu-ibu sosialita yang mungkin sedang berbincang tentang bisnis atau sekadar arisan rutin. Di meja yang lain ada saya, Adeza Hamzah, dan fotografer Daddy Tjeuw yang kekenyangan karena mencoba semua hidangan unggulan Table8. Sungguh, sebuah pengalaman kuliner yang menyenangkan. (Burhanuddin Abe)

http://www.perempuan.com/index.php?comp=myday&do=index&id=28

http://burhanabe.blogspot.com/2010/08/canton-and-szechuan-at-table8.html

The magnetic lure of malls


MALLS have become almost inseparable from daily activities. The majority of city residents fill their spare time at the mall, either to shop or just to window shop.

Just visit any mall on the weekend and you will find many people there. Malls are no longer just for shopping but also for recreation. Often parents with children in town can be seen going in and out of mall stores followed by nannies pushing strollers.

Malls have indeed turned into magnets that entice city residents to enjoy many things, such as shopping, food and drinks or simply to find relief from daily stress. Socializing also takes place here as well as rendezvous with friends or business partners. So, many people have become addicted to malls as they feel they have to make time to visit one.

People are particularly drawn to malls during the Idul Fitri, Christmas and New Year holidays when many marketing events are held, such as sales and the offer of prizes, bonuses and so forth. Stores often lure customers by holding mid-year sales, great sales and the like.

The wheels of economy turn fast at malls. Various strategies are used to reach sales targets. A seller receives money and customers receive products, so the economy continues to turn. Not only neighboring country Singapore has a great sale but also Jakarta. This year, the Jakarta Great Sale was conducted simultaneously at 33 malls in Jakarta.

There has been rapid growth of malls in Indonesia’s major cities, especially in Jakarta. Malls in Jakarta include Emporium Pluit, Pluit Village, Mall of Indonesia, Plaza Senayan, Senayan City, Central Park, Gajah Mada Plaza, Menteng Plaza, Plaza Indonesia, EX Plaza Indonesia, Grand Indonesia Shopping Town, Plaza Atrium, Lifestyle X’nter, MGK Kemayoran, Mal Kelapa Gading, La Piazza, Mal Artha Gading, Sports Mall Kelapa Gading, Arion Mall, Mal Ciputra, Mal Daan Mogot, Mal Puri Indah, Mal Taman Anggrek, Blok M Plaza, Blok M Mall, Blok M Square, Mal Ambassador, Mal Pondok Indah, Pacific Place, Plaza Semanggi and many more.

Grand Indonesia Shopping Town was officially opened by President Susilo Bambang Yudhoyono in 2008 and is the largest mall in Jakarta. Standing on 250,000 square meters of land, the mall is a family venue as it provides everything a family could need under one roof.

In this area, there is the legendary Hotel Indonesia, which is now managed by the Kempinski Group. The multifunction area consists of offices, apartments and of course malls, which have popular tenants such as Blitz Megaplex cinemas, Seibu department store and Ranch Market.

Besides Grand Indonesia, other new malls have cropped up, namely Pacific Place, Senayan City, Mall of Indonesia and Central Park. Older ones keep upgrading themselves.

One of the old shopping areas in Jakarta is Blok M located in Kebayoran Baru, South Jakarta. Some of the legendary shopping centers here are Blok M Plaza, Blok M Mall, Pasaraya and the latest one, Blok M Square.

Blok M Plaza is a first generation modern mall in Jakarta and was constructed in 1990. It has seven shopping floors and 13 parking floors for about 700 cars and 300 motorbikes. The plaza, which was officially inaugurated by the late Tien Soeharto on May 30, 1991 still gets crowded. Meanwhile, Blok M Mall, located underground with a bus terminal above it, is also crowded, with its target market being the middle- to low-income segments.

The Blok M area was indeed popular in the 1980s and a film was made titled Blok M. The area’s Jl. Melawai was once a meeting point for teenagers and was filled with crowds in the evenings. Hence, one developer has availed of the area’s convenient location and built a mall there called Blok M Square.

The plot on which Blok M Square stands previously housed Melawai Market and Aldiron Plaza — two well-known names — that were always crowded. It has now been transformed into a top-rate mall that has everything. Blok M Square, with 80,326 square meters of floor space on 21,226 square meters of land, has first-class facilities and is one of the most convenient malls for both the store owners and customers.

It has seven floors of shops and parking space for about 1,600 cars and a capsule lift from which people can view the activities in the mall. The area used to hold a mish-mash of vendors crowding the pavements and parking space, but today it has been transformed into a modern and beautiful mall. Happy shopping! (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, July 30, 2010

http://www.thejakartapost.com/news/2010/07/30/the-magnetic-lure-malls.html