Tuesday, February 08, 2011

Winter Black Truffle Wine Dinner





BLACKBERRY saya berbunyi, ada broadcast dari Desiree Merlina, Public Relations Director The Park Lane Hotel Jakarta. Isinya, undangan ke acara Winter Black Truffle Wine Dinner, 27 Januari 2011. Saya tidak diundang sendirian, karena ada teman saya yang lain dari Vox Populi, Ollie Sungkar. Wow! Siapa takut?

Truffle dan wine adalah paduan makan malam yang sempurna, paling tidak untuk lidah orang-orang Eropa. Truffle adalah bahan sejenis jamur yang tumbuh 5 cm-40 cm di bawah tanah dan hanya ada di tempat-tempat tertentu.

Truffle, yang putih disebut Tuber magnatum, dan yang hitam disebut Tuber melanosporum, adalah makanan yang sejak beratus tahun telah dikenal sebagai makanan lezat di Prancis, kemudian keterkenalannya menyebar ke berbagai tempat di dunia – tak terkecuali Australia, AS, dan Spanyol.




Black winter truffle sangat populer di Prancis, yang masa tumbuhnya bulan November hingga Maret, tapi setelah dipanen dan disimpan, kita bisa menikmati kapan saja. Di Prancis jamur hitam ini terdapat di wilayah barat daya negara tersebut.


Untuk indra pengecap, jamur hitan yang biasa juga disebut “black diamonds” ini, terasa agak menggigit. Aromanya yang amat tajam terus menemani setiap suapan. Kalau dalam bentuk serbuk, jika ditaburkan ke makanan, rasanya bisa meningkat dua kali lipat. Dan inilah yang luar biasa, meskipun belum terbukti secara ilmiah, ada yang memercayai truffle memiliki khasiat afrodisiak alias membangkitkan gairah seks. "Efeknya mungkin seperti viagra," tukas seorang chef.

Menu makan malam di Riva, restoran Prancis yang terlatak di lantai dasar hotel itu, terbagi menjadi lima course, dan diakhiri dengan teh atau kopi tentu saja. Menu pertama adalah starter, yakni Kabocha Squash Soup, Fourme d’Ambert, Shaved Black Truffle. Menu kedua adalah Roasted Sea Scallop, Escargot-Mushrom “Nem”, Mache Salad, Truffle-Chive Aioli.

Benar saja, kedua makanan tersebut, yang dicampur dengan bahan truffle, memberikan sensasi rasa yang luar biasa. Dan kedua makanan tersebut semakin pas dipadankan dengan wine. Kali ini paduannya adalah Louis Latour, Macon Villages Chameroy, 2007.

Menu ketiga adalah Foie Gras Ravioli, Green Apple, Parsley Salad, Port Truffle Sauce. Paduannya adalah Hautes-Cotes de Nuits Rouge, Le Prieure, 2007. Selanjutnya adalah Pan-Seared Dover Sole, Truffle Parsley Beurre Meuniere. Padanannya E. Gical, Crozes Hermitage Blanc, 2007. Kami harus akui kelihaian Chef de Cuisine Riva, Renaud Le Rasle, yang tidak hanya mempunyai skill memasak yang mumpuni, tapi juga pandai memadupadankan dengan wine yang pas.

Hidangan penutup adalah Truffle Ceme Brulee, Warm Chocolate Madeleine. Padanannya adalah white wine yang sedikit manis, Hugel, Riesling Vendange Tardive, 1988.

Ini bukan sekadar wisata kuliner biasa, tapi pengalamanan mengeksplorasi makanan ala Prancis yang mengesankan, bersama teman-teman yang menyenangkan, serta di tempat yang menyenangkan pula. Sejak dibuka tahun 1988, Riva memiliki reputasi yang baik sebagai restoran Prancis di Jakarta, terbukti dengan berbagai penghargaan yang diterima atas kualitas dan konsistensi, baik makanan maupun pelayanannya.

Bahkan restoran dengan konsep dapur terbuka itu pada tahun 2010 menerima "Award of Excellence 2010" dari sebuah majalah bergengsi yang berbasis di New York, Wine Spectator. Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan positioning Riva sebagai restoran berkelas dengan koleksi wine yang lengkap, yang dibuktikan dengan award untuk itu dalam Wine Spectator's Restaurant Wine List Awards Program. (Burhanuddin Abe)

No comments:

Post a Comment