Friday, April 29, 2011

Terpuruk Ku di Aston Marina

Setetes embun di daun lamban bergulir
Ketika jatuh ke tanah terserap musnah
Begitupun hatiku diayun bimbang jawabmu
Terhempas dan hampa tak terkira
Mentari tersaput mega enggan bersinar
Menusuk angin ke raga jiwa gemetar
Terpuruk ku di sini dipeluk bimbang sikapmu
Membeku dan lara tak terkira


LAGU KLa Project itu mengawali pertunjukan mereka di Aston Marina Jakarta, Jumat malam, 5 April lalu. Lagu Terpuruk Ku di Sini ini cukup akrab di telinga para pengujungnya. Meski sendu, tapi lagu tersebut sekaligus membuka nostalgia, terutama mereka yang tumbuh bersama grup berusia 23 tahun itu.

Pilihan Aston Marina Jakarta menghadirkan KLa Project sangat tepat, apalagi di tengah hiburan dengan musik yang hampir seragam. Menurut Public Relations Manager Gita Ayu Ashari, acara yang disponsori oleh Aqua, Bank BNI, dengan event organizer Lewi Yahya Production ini merupakan acara musik pertama yang diselenggarakan oleh Aston Marina di 2011.

KLa Project jelas nama besar di blantika musik Indonesia, dibentuk oleh Katon Bagaskara, Lilo (Romulo Radjadin), Adi Adrian, dan Ari Burhani tahun 1988. Nama KLa sendiri diperoleh dari inisial personel band ini, sementara penggunaan huruf "A" kecil bertujuan untuk menandakan adanya dua personel yang memiliki inisial huruf tersebut.

Pada mulanya tahun 1988 mereka hanya menyertakan salah satu lagunya, Tentang Kita, di album kompilasi, yang kemudian menjadi hits. Setahun kemudian mereka merilis albumnya yang pertama "KLa", dan lahirlah hits-hits berikutnya, seperti Rentang Asmara, Waktu Tersisa, dan Laguku.  Pada 1991, KLa meluncurkan album keduanya bertajuk "Kedua", dengan lagu andalannya Yogyakarta. Sementara album ketiga (Pasir Putih, 1992) mereka mencetak hits seperti Tak Bisa Ke Lain Hati dan Belahan Jiwa.

Seperti grup band pada umumnya, Kla Project sempat mengalami bongkar pasang personilnya. Ari Burhani setelah album ketiga, memilih keluar dan beralih peran sebagai manajer band. Tapi dengan formasi tiga pemain inti,  KLa tidak kehabisan kreativitas, terbukti mampu melahirkan dua album, Ungu (1994) dan V (1995).

Tahun 2001 Lilo juga sempat keluar. Tahun 2003 dengan tambahan personil baru, yaitu Erwin Prasetya, Yoel Vai dan Hari Goro, grup ini menamakan diri NuKLa – yang sempat merilis satu album pada 2004 bertajuk "New Chapter" dengan single Izinkan Ku Memuja. Pada tahun 2006 Erwin juga memutuskan keluar dari NuKLa karena perbedaan visi, dan Katon menyatakan kelompoknya kembali ke nama semula KLa Project.

Awal 2009 boleh dikatakan tonggak sejarah baru bagi KLa, sebab Lilo balik lagi, dan meluncurkan album KLa Returns. Pada 2010, mereka kembali meluncurkan album yang berjudul “Exelentia” dan menjagokan single berjudul Hidup adalah Pilihan dengan dua pemain tambahan.

Formasi inilah, yang tentu saja lebih lengkap, karena diperkuat oleh backing vocals segala, yang ditampilkan malam itu. Hampir semua lagu hits-nya dinyanyikan. Dengan kapasitas 120 kursi di Cumi-Cumi Lounge & Bar, para tamu yang membayar Rp 150.00 atau Rp 1 juta per seat (untuk empat orang, dengan bonus sebotol spirit atau wine, mixer, dan snack) itu terlihat nyaman menikmati alunan lagu-lagu KLa Project yang membawakan 16 lagu.

Saya sendiri, dan juga teman-teman HAM (Himpunan Anak Media) Jakarta, yang terdiri dari Shalfi Andri (TEMPO), Hadi Suwarno (Travel Club), Tiara Maharani (Venue), Ali Rustamaji (Investor Daily), Marcell Lahea (Shang Bao), Harry Sutanto (Garuda), Michael Petit (Hang Out Jakarta), Elizabeth dan Fathur (Event Guide), tidak hanya menikmati, tapi juga hanyut dalam pertunjukan yang berdurasi hampir dua jam itu.

Penampilan musisi kawakan itu berhasil menyuguhkan suasana romansa dan nostalgia, yang menciptakan histeria penonton hingga akhir pertunjukan. Meski sempat vakum lama, penampilan KLa Project malam itu luar biasa, dan tidak sia-sia kami malam itu “terpuruk” di Aston Marina Jakarta. (Burhan Abe)


Monday, April 18, 2011

Abad 21 dan Munculnya Gen C

Indonesia di awal abad 21 adalah negeri dengan 180 juta ponsel di saku penduduknya, 50% di antaranya adalah smartphone yang bisa digunakan untuk berinternet. Nasionalis, tapi sekaligus narsis – selalu memasang foto-foto kegiatan terbaru di Facebook dan rajin mengetwit di Twitter, pendeknya akrab dengan social media. Mereka adalah penentu perekonomian masa depan, ketika akhir  2010 pendapatan per kapita mencapai 3.000 dolar AS. Bagaimana memetakan perubahan di abad 21 ini? Inilah sebagian jawabannya, yang dinukilkan dari buku Cracking Zone karya Rhenald Kasali.

CHANGE! Itulah kata-kata sakti yang selalu didengung-dengungkan oleh agen perubahan, tidak hanya di dunia politik tapi juga bisnis dan manajemen. Salah seorang penganjur perubahan di Indonesia adalah Rhenald Kasali. Guru besar Fakultas Ekonomi UI ini adalah pemikir sekaligus praktisi perubahan – ia juga pendiri Rumah Perubahan. Ia menulis untuk membedah mindset masyarakat, mengubah cara berpikir orang, memperbaiki organisasi, perusahaan berserta kepemimpinan dan sikap karyawannya.

Buku-buku Rhenald selalu menghebohkan, dan kali ini adalah Cracking Zone. Bagaimana memetakan perubahan di abad 21 dan keluar dari perangkap comfort zone? Itulah yang hendak dijawab lulusan University of Illinois at Urbana Champaign, AS, ini dalam buku terbarunya.

Buku ini merupakan sekuel karya Rhenald sebelumnya tentang perubahan.  Sekurangnya, buku setebal 356 halaman ini menbedah perubahan era digital melahirkan rekahan-rekahan peluang. Persoalannya, hanya mereka yang berjiwa cracker yang mampu membaca peluang itu.

Indonesia adalah negeri paradoks, bad news dan good news sama kuatnya. Serangkaian berita buruk kita bisa kenali dengan mudah, mulai dari rontoknya kepercayaan masyarakat terhadap aparat, perilaku pejabat yang korup, birokrasi yang lamban, lalu-lintas yang buruk, ketidakkapabelan tokoh publik, dan seterusnya.

Di sisi yang lain kita melihat bergeraknya perekonomian, penghasilan guruh yang makin meningkat, bergairahnya kewirausahaan, pendapatan per kapita yang hampir menyentuh 3.000 dolar AS, yang yang lebih penting makin terhubungnya masyarakat berkat kemajuan internet dan teknologi informasi dan telekomunikasi – yang melahirkan fenomena social media, media yang bisa saling mendekatkan antar anggota masyarakat, khususnya onliner.

Karena bad news dan good news sama kuatnya, terjadilah “duel maut” antara keduanya. Tumbuhan dan tabrakan antar keduanya itu menimbulkan patahan, polarisasi antara kelompok “wait and see” dan kelompok crackers yang “see and do”.  Antara pesimisme-sinisme dan optimisme-positivisme. Inilah cracking zone yang bisa membuat Anda menjadi crackers atau mati ditelan zaman. Sejumlah perusahaan telah menjelma menjadi  corporate crackers, dan lihatlah apa yang mereka dapatkan dari kegigihan tersebut, dari angle melihat  Indonesia dan memimpin perubahan.

Rhenald Kasali menerangkan, seorang cracker adalah orang yang mampu membaca dan menyikapi kode-kode perubahan. Mereka memiliki fleksibilitas, dan akselerasi yang lebih baik menjalani transisi gaya hidup serba digital dengan membuka sejuta peluang.

“Bukan tanpa risiko tentunya. Justru retakan-retakan itu seperti pedang bermata dua. Jika tak mewaspadainya, peluang itu akan mengubur gerak hasil ciptaannya sendiri. Tapi yang berhasil menjinakkannya, peluang itu akan memberi benefit bagi dirinya,” ujar pria kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1960 ini.

Pilar-pilar Perubahan
Menurut Rhenald, di Indonesia sendiri fenomena cracker tak terlepas dari pilar-pilar yang menopang terjadinya perubahan yaitu, pertama saat ini pendapatan perkapita orang Indonesia rata-rata US$ 3000 artinya semakin kuat daya beli masyarakat.

Kedua, adalah populasi pengguna ponsel di Indonesia sudah lebih mencapai 180 juta orang atau mendekati populasi, bahkan setengahnya sudah terhubung dengan jejaring sosial melalui Facebook, Twitter dan lain-lain.
Ketiga, adalah menguatnya gejala freemium dalam bisnis, yaitu dari dahulu beberapa tarif yang dianggap mahal kini sudah relatif murah bahkan free misalnya dibidang telekomunikasi.

Keempat, munculnya generasi connected (Gen C), yang cepat berubah karena terhubung satu dengan lainnya dan perubahan informasi yang begitu cepat. Gen C bukanlah sebuah kohor yang dibatasi usia, tapi dibentuk oleh teknologi digital. C, menurut penelitinya – Dan Pankraz (Australia) – bisa berarati content, connected, digital creative, cocreation, customoize, curriosity, dan cyborg. C bisa juga berarti cyber, cracker, atau chameleon.

Keempat poin itulah yang berpengaruh pada perilaku konsumen dan perilaku bisnis, menghasilkan retakan yang menimbulkan volume pasar yang semakin membesar. Namun, pertambahan volume ini akan menguntungkan satu pelaku saja, yakni seorang cracker

Munculnya Gen C, misalnya, menimbulkan dampak yang sangat luas di Indonesia. Jutaan pasien yang menderita berbagai penyakit diam-diam mulai membentuk komunitas. Mereka memperbicangkan cara dokter-dokter menangani masalah yang mereka hadapi, saling bertukar pikiran, membuka wacana diskusi di situs kesehatan, “kuliah” melalui YouTube, berkomunikasi dalam sebuah milis, dan belakangan via media sosial.

Dengan demikian mereka datang ke dokter dalam kondisi yang lebih well-informed ketimbang pasien-pasien generasi C atau baby boomers, misalnya. Tapi sementara itu ribuan dokter di Indonesia tidak berubah. Itu sebabnya, Anda pasti bisa menebak, pasien-pasien kelas atas Indonesia berbondong-bondong beribah ke luar negeri – entah itu ke Singapura, Thailand, Malaysia, bahkan Australia. Jangan salahkan mereka kalau devisa Indonesia yang dengan susah payah kita kumpulkan dari berbagai sumber menguap begitu saja.

Ini baru soal kesehatan. Soal yang sama terjadi pula pada pendidikan, perbankan, asuransi, dan lain-lain. Jelas, Anda perlu bekerja keras untuk menghadapi cracking zone ini. Sebelum para crackers dari luar negeri menimbulkan crack di sini. Mereka berpesta di kebun kita. Kapan Anda mengajak kita semua berpesta di kebun tetangga?    

Cracker adalah mereka yang mampu bisa melihat celah, patahan, letusan, retak, sekaligus memanfaatkannya menjadi peluang karena mampu menerobosnya. "Cracker adalah orang yang memperbarui industri bukan lagi memperbaharui perusahaan, leader kerjaanya memperbaharui perusahaan, cracker memperbaharui industri," tukas dosen yang dikukuhkan sebagai guru besar pada 4 Juli 2009 ini

Pria yang mengawali kariernya sebagai reporter majalah ekonomi dan bisnis ini menegaskan, dengan karakteristiknya itu, maka tak mengherankan bila seorang cracker akan dicemburui atau bahkan dimusuhi oleh para kompetitornya yang senang mempertahankan kondisi (comfort zone). Seoarang cracker bekerja lebih berat dari rata-rata leader karena membongkar tradisi industri dan persaingan.

Dalam dunia nyata, seorang cracker bisa dijumpai dalam wujud seperti personal cracker maupun corporate cracker. Ia mencontohkan seorang personal cracker ialah CEO Bank Jawa Barat (Jabar) Agus Ruswendi yang berhasil membawa Bank Jawa Barat dari bank daerah yang 'berwawasan' sempit menjadi bank nasional. Selain itu ditangannya, Bank Jabar menjadi bank daerah pertama yang tercatat di bursa saham.

Sosok lainnya adalah CEO Garuda Indonesia Emirsyah Satar yang berhasil mengembalikan citra Garuda Indonesia ke dunia penerbangan internasional. Pada tahun 2010, Garuda berhasil terbang ke Eropa. Masih banyak cracker-cracker lainnya termasuk CEO XL Axiata Hasnul Suhaimi yang telah membawa 'revolusi' tarif telepon seluler dengan menawarkan tarif super murahnya dan lain-lain.

Sementara itu dari sisi corporate, cracker bisa ditemukan dalam kasus PT Holcim Indonesia, sebuah perusahaan semen yang melakukan perubahan bisnis tidak hanya sebagai produsen semen, namun juga menawarkan konsep solusi rumah sebagai tempat konsultasi pembangunan rubah bagi konsumen yang sebelumnya tak pernah ditemukan.

Selain itu, ada juga PTT HM Sampoerna yang mengambil sikap agar industri rokok diperketat dan implementasi larangan anak-anak merekok. Padahal disaat yang bersamaan produsen rokok lainnya meminta proteksi pemerintah dan meminta peraturan diperlunak.

Di masa lalu, cracker juga bisa ditemukan misalnya Sosrodjojo pendiri teh botol sosro, Tirto Utomo pendiri Aqua yang menyulap minuman minuman mineral menjadi komersil sekaligus mengubah wajah industri minuman, Purnomo pendiri Bluebird menciptakan armada taksi dengan sistem agro dan melayani pemesanan online. "Terlepas  dari masalah yang dihadapinya, Ibnu Sutowo itu adalah cracker, ia membangun Pertamina dari nol, memperkenalkan bahan bakar gas seperti LNG, LPG," kata peraih gelar Ph. D. dari University of Illinois, AS.

Mengubah Kucing Menjadi Cheetah



RHENALD Kasali barangkali terbilang satu-satunya ahli bedah bisnis yang piawai di negeri ini. Ulasan-ulasan bisnisnya yang bernas, tajam, dan tak njelimet bisa disimak di sejumlah media. Apakah itu di media cetak, elektronik, seminar, atau pun di puluhan buku yang telah ditulisnya. Boleh dibilang, persoalan bisnis yang rumit bila dibedah Rhenald terasa mudah dimengerti, oleh awam sekalipun.

Buku-bukunya pun, karena selalu memberikan perspektif baru, juga mudah dipahami. Tak heran jika banyak buku yang ditulisnya menjadi best seller di pasaran. Sebutlah Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007),  Mutasi DNA Powerhouse (2008), atau Myelin: Mobilisasi Intengibles sebagai Kekuatan Perubahan (2010).

Sebagai seorang doktor ilmu bisnis, Rhenald mempunyai sebuah obsesi. “Saya ingin mengubah cara berpikir masyarakat Indonesia yang masih sangat birokratis menjadi entrepreneurship dan leadership,” kata peraih Louise A. Young Award (1994) dan  Alice & Charlotte Biester Award (1995), University of Illinois itu.

Di buku terbaru Cracking Zone, benang merah tersebut juga tergambar. “Indonesia telah berubah, bagi yang sudah untung pada 2010 jangan terlena karena mungkin saja ada cracker menimbulkan retakan pada bisnis Anda. Perubahan mental dari karakter kucing ke karakter cheetah mutlak diperlukan,” jelas bapak dua anak ini.

Friday, April 01, 2011

Apartments, a modern lifestyle choice

WITH traffic congestion in Jakarta worsening day by day, it is not surprising that many dream of having an office close to their homes or even better having a home and office in one integrated area.

This would be an ideal arrangement for many, resulting in a saving of precious time, energy and fuel. Ideally, the location would be in the heart of the city with complete facilities such as supermarket, children’s playground, swimming pool, fitness center, tennis court and so forth.

It is this kind of comfort that young upwardly mobile people and young couples in major cities like Jakarta now seek. And the solution may well be an apartment that is located in the heart of the city.

Nowadays apartment living seems to be the lifestyle of city residents, especially Jakartans.  The increasing price of land has necessitated the efficient use of available land mostly via development of apartments.

Apartment units are designed by developers in such a way to accommodate every need of its residents but with more efficient and functional space or rooms. This can be clearly seen in the show units made available by developers.

Living in apartments also reflects the sophisticated yet practical lifestyle of the residents.  Practical here means being close to the center of the city, being able to come home almost at any time and not requiring a lot of time for housework and so forth. What makes living here more comfortable is the complete facilities available and many now have spacious green areas.

As in many major cities in the world apartment living has become more than a trend, rather it is a lifestyle and indeed a necessity especially in cities like Jakarta and other major cities in Indonesia. This is clearly indicated by the increase in the sales of condominiums for both the upper and middle segments.

Based on research data compiled by property consultant Procon the supply of condominiums in Jakarta at the end of 2010 was 76,600 units and there was an additional new supply in the same year of 4,800 units and the sales went up to 96.5 percent.  However, the sale percentage of those currently under construction has gone down to 68.5 percent.

The supply is estimated to grow at an approximate rate of seven percent per year for the period 2011- 2012. Obviously condominiums with a strategic location and good facilities will enjoy a reasonable increase in rates. And that is the perspective on the development and marketing of new properties. More and more apartment units are being leased in line with the country’s improved political and economic stability, said Utami Prastiana, head of Strategic Advisory of Procon.

In terms of macro economic indicators the country’s economy has become more solid as can be seen from an increase in domestic investment. According to Utami Prastiana the stable economy here had a positive impact on economic growth as much as six percent in 2010 while the rupiah has also strengthened.

Meanwhile undeniably there was inflation mostly caused by the increased price of volatile foods and other food commodities here and globally. Bank Indonesia or the Central Bank has predicted an accelerated economic growth consistent with global economic recovery. The prediction is between 6 and 6.5 percent for 2011 and 6.1 and 6.6 percent for 2012. “Nevertheless we have to be cautious about some uncertainties related to global economic recovery, the rising prices of commodities internationally and the excessive capital inflow that can trigger an unstable rupiah,” she added.

Based on the increased sales of apartments in 2010 compared with the previous year many observers estimate that the growing demand will continue in 2011 while the large volume of supply will create stiff competition especially in leasing rates. More local customers will up the demand especially for condominiums close to work places and campuses.

The positive economic growth in 2011 is also predicted to have a positive impact as well on the increased number of foreign employees coming and staying in the country. Maximum demand will be created by oil, mining, telecommunications, banking and finance companies. There will be more short term leases, such as weekly or even daily with flexible rates.

Procon’s research also reveals that there was an increased supply of apartments in Jakarta in 2010, that is an increase of 5.1 percent totaling 35,600 units contributed by four middle segment condominiums of 1,000 units each. There was also an increase of seven percent in leases compared to 2009 while the occupancy rate also went up to 71.3 percent.

A new supply of apartments of as many as 4,700 units is estimated to be available for the period 2011-2012. Regarding the leasing rate in 2011, Utami estimates it will be mostly quite stable except for those located in the CBD area because the demand and occupancy rate here is quite high.

The apartment market in Indonesia has clearly opened up new opportunities in property investment. However, investors, lessees and tenants alike must carefully examine the characteristics of the unit that they wish to purchase whether as an investment or for their own use. 

The Jakarta Post, April 01, 2011

Living comfortably in luxurious apartment


DEVELOPERS are going all out to build first class apartment, complete with all facilities to complement the active modern lifestyle. Luxuries apartment such as these are generally in the central business district (CBD) or Menteng and Kebayoran Baru. However the premium location is just one plus point as there is another factor that is more vital, and that is the exclusivity.

Cushman & Wakefield  reports that based on location the percentage of apartments available in CBD area is 13.4 percent, while in primary recidential such  as Kebayoran Baru, Senayan, Menteng, Pondok Indah, Permata Hijau and Kemang the percentage of apartements available is 10.9 percent. The remaining 75.7 percent are spread out in secondary recidentila areas in the city.

For the past decade there has been a significant growth in the middle class, consistent with the improved economy. This has created an increased demand for new residences, especially apartments.

According to economist Faisal Basri, the lower middle segment has increased from 37 million to 69 million. The middle segment has exeprienced an almost three-fold incease from 7.5 million to 22 million. The upper middle segment has experienced a five-fold increase from 0.4 million to  2.23 million, while the higher income segment has risen by 0.1 million to become 0.37 million.
The significant growth in Indonesia’s upper middle the attention of Frasers Hospitality from Singapura. This company which owns and managers a number of five-star hotels and residences has four brands: Fraser Suites, Fraser Place, Fraser Residence, dan Modena – a Boutique Hotel Residence by Fraser

Fraser’s properties are located in many of the world’s major cities and the group now manages serviced apartments in Indonesia called Fraser Residences Sudirman Jakarta, the soft opening of which took place in Februari 2011.

“Here you'll find every comfort and convenience to make your stay in Jakarta better than you ever dared imagine,” ujar Christopher Bong, General Manager Fraser Residence Jakarta Sudirman.

Located in the prime vicinity of the capital city of Indonesia, this is part of a mega project undertaken by PT Ciputra Adigraha to transform the 1.6km street in the heart of Jakarta's golden triangle into a prime commercial and leisure centre. Here one can only find the most prestigious office buildings and key government offices (including the Presidential Palace) but also the shopping and entertainment opportunities that define city living at its best.

Fraser Suites Jakarta consists of 200 units of apartments and penthouse outfitted with i-house recreational, leisure and fitness facilities including a luxurious swimming pool, tennis courts as well as indoor and outdoor playgrounds.

Fraser Residence Sudirman Jakarta offers 108 Golden-Standard serviced apartments, including 1-bedroom, and 2-bedroom options. The contemporary, modernist ambience offers the ideal setting to unwind, catch up on a little work, or spend time with family and friends. Full length windows in the living room create a light, airy atmosphere, while the full-equipped open concept kitchen lends an open, spacious feel. While internet access is standard, residents have a choice of wireless or cabled access.

“Every Fraser Residence is a home-away-from, designed to complement the lifestyles of its guest with the highest levels of personalised, intuitive service from dedicates Fraser staff,” said Christopher Bong.

With such premium service Christopher Bong is optimistic that Fraser Residence will win the the hearts of astute potential customers here in Jakarta. Apart from Fraser Residence Sudirman the singapore company is already preparing two other serviced apartment in Menteng and Mega Kuningan, Jakarta, in collaboration with different developers to be launched in 2012 and 2013. “It is highly possible that we will also soon focus on Medan and Surabaya,” he said. (Burhan Abe)

The Jakarta Post, April 01, 2011