Monday, June 27, 2011

Antara Manila dan Jakarta

SEORANG teman yang pernah mengunjungi Manila, Filipina, bercerita tentang makanan eksotis negeri tersebut, yakni balut. Balut adalah telur bebek setengah matang, tapi yang khas di dalamnya ada embrionya yang berusia 18 hari (21 hari menetas). Memakannya cukup dengan taburan garam atau merica, seperti tradisi kita saat menyantap telur setengah matang.

Tradisi makan orang Filipina itu, yang mungkin sebagian orang menganggapkan sebagai pengalaman dalam Fear Factor, bisa Anda nikmati di Millennium Hotel Sirih Jakarta (Café Sirih) 14 hingga 26 Juni 2011.

Philipina Food Festival ini diadakan dalam rangka  memperingati hari kemerdekaan yang ke-113 negara tersebut yang jatuh pada tanggal 12 Juni. Dua koki sengaja didatangkan langsung dari The Heritage Hotel Manila, Lauro Montefolka Moreno dan Karl Dorado Fortaleza, khusus untuk mengkreasikan berbagai hidangan khas Filipina.

Kedua koki tersebut menyajikan berbagai hidangan lezat dan traditional seperti: atsarang papaya (acar pepaya hijau), rellenong manok (isi ayam tanpa tulang), kilawing tanguigue (asinan king mackerel), bistik tagalog (steak sapi tagalog ), chicken adobo (ayam masak cuka), calamares fritos (cumi goreng mentega), pancit canton (mie rebus ala Filipina), guinataang langka (nangka santan), adobo rice (nasi goreng adobo), halo-halo (es buah ala Filipina), dan bilo-bilo (beras ketan dengan santan).

Penawaran spesial tersebut tidak hanya untuk warga Filipina tentu saja, tetapi bisa dinikmati oleh siapa saja yang ingin memuaskan hasrat dan rasa keigintahuan tentang pengalaman menyantap masakan Filipina, yang berasal dari perpaduan antara masakan budaya Cina dan Spanyol.


Pengunjung dapat menikmati pengalaman menarik ini selama makan siang atau makan malam hanya dengan Rp 150.000 per orang. Anak usia di bawah 12 tahun akan mendapatkan diskon sebesar 50%. Sebagai tambahan, semua pengunjung dalam acara Fiesta Filipina berkesempatan untuk memenangkan voucher menginap di The Heritage Hotel Manila, Grand Millennium Kuala Lumpur, Orchard Hotel Singapore, Copthorne Malaysia dan Millennium Hotel Sirih Jakarta.

“Bring Back Batavia”
Kalau Filipina memperingati kemerdekannnya ke 113, maka Jakarta tahun ini merayakan ulang tahunnya yang ke 484, 22 Juni lalu.  Berbagai perayaan diadakan, dan The Ritz-Carlton, Jakarta mempersembahkan Bring Back Batavia, sebuah pengalaman kulinari untuk menikmati masakan khas Jakarta tempo dulu di era Batavia, bertempat di Asia Restaurant, 16 hingga 25 Juni 2011.

Tim kulinari Asia, yang dipimpin oleh Executive Chef Rudolph Blattler dan Chef de Cuisine Syaiful Bahri telah mempersiapkan beraneka ragam hidangan untuk menikmati pengalaman bersantap dari resep tempo dulu dengan variasi yang berbeda.

Dimulai dari hidangan pembuka dengan kategori salad yang terdiri dari gado-gado, ketoprak, asinan; dilanjutkan dengan kategori sup yang terdiri dari sop buntut dan sop kaki kambing Tanah Abang; lalu pilihan hidangan utamanya adalah: pindang banding Betawi, sayur besan, gulai tikungan melawai, sayur asem betawi, pepes ikan salem mangga dua, ikan tongkol baker sunda kelapa, semur ayam betawi, gulai sotong muara karang, tumis genjer pedas, jambal goreng bumbu merah, ayam baker tanah abang, semur daging Betawi, bandeng bumbu acar pedas, udang bakar mbah priok, tongseng kambing kwitang, sayur babanci, jambal goreng petai peda dan masih banyak lagi.

Selain itu terdapat beberapa kulinari booth seperti kambing guling, ketupat sayur, lontong sayur, nasi uduk lontong cap gomeh, gabus pucung, martabak (isi kambing, ayam, daging dan ikan), nasi goreng udik dan kerak telor Bang Somad.

Perjalanan menikmati kuliner a la Batavia tidak akan lengkap jika belum mencicipi Dutch Station seperti veal with red onion sauce, macaroni Dutch style, braised steak, cheese crocket with mayonnaise, mushroom crocket with mayonnaise, bitterballen with honey mustard, mushroom pie with tomato sauce; dan untuk booth minuman, para tamu diajak kembali ke masa silam dengan menikmati Bir Pletok (minuman tradisional yang terdiri dari berbagai macam bumbu singkong rebus yang manis, kentang dan kacang tanah). Para tamu dapat menikmati allyou-can-eat buffet pada malam maupun siang hari, dimulai dengan harga Rp. 208,000 per orang dengan dihibur oleh alunan lagu khas tempo dulu seperti Jali-Jali, Kicir-kicir, Keroncong Kemayoran dan Lenggang Kangkung dari Orkes Samrah, yang merupakan salah satu orkestra tradisional Jakarta yang beradaptasi dari budaya Melayu.

Pada perayaan ulang tahun Kota Jakarta kali ini, Asia Restaurant yang berkapasitas 399 kursi ini akan didekorasi dengan nuansa kota tua Batavia dengan beberapa barang antik dipajang di sepanjang area restoran, seperti mobil antik Mercedes, becak, ondel-ondel dan sepeda onthel.

Selain itu juga akan ada window display di area samping Asia Restaurant yang dibuat seperti teras, lengkap dengan kursi dan meja kayu khas Betawi, serta lemari kayu kuno dengan beberapa barang antik di atasnya (piringan hitam jaman dahulu, setrika arang, radio tua, guci kecil tua, dan lain sebagainya). Ini semua dapat dilihat di The Ritz-Carlton, Jakarta selama acara Bring Back Batavia berlangsung. (Burhan Abe)

Selamat makan!

Melinda Dee dan Bank yang Makin Rawan

Terungkapnya pembobolan dana nasabah bank oleh Inong Melinda Dee menunjukkan bahwa kejahatan kerah putih bukan isapan jempol belaka. Bagaimana mengantisipasinya?

BINTANG iklan sebuah produk rokok, dengan tato lumayan penuh di tangan, nampak celingukan di kantor reserse kriminal Mabes Polri. Andhika Gumilang, nama bintang iklan itu, seringkali menundukkan wajahnya. Tidak seperti yang sering terlihat di layar kaca saat ia membintangi iklan atau main sinetron dengan segudang aksi yang penuh percaya diri, pria berusian 22 tahun itu sesekali menatap sesuatu dengan pandangan kosong.

Segala macam rasa, seperti sedih, menyesal, takut, juga malu, agaknya menumpuk jadi satu. Beberapa waktu sebelumnya, ketika ditanya wartawan tentang status hubungannya dengan Inong Melinda Dee, ia mengaku hanya sekadar anak angkat. Tapi siapapun tahu, bagaimana mungkin seorang ”anak angkat” menerima aliran dana yang lumayan gede, bahkan dihadiahi sebuah mobil mewah, Hummer V3.

Gara-gara Melinda Dee, 47 tahun, mantan Relation Manager Citibank yang menjadi istri sirinya itu, pemilik 6 (enam) Kartu Tanda Penduduk (KTP) – salah satunya menggunakan nama Juan Ferero – kini meringkuk di tahanan Mabes Polri, karena dijerat pasal pencucian uang dan pemalsuan identitas.

Melinda Dee memang fenomenal. Dalam posisinya, ia bisa membobol sedikitnya Rp 17 milyar dana para nasabah private banking Citibank, hanya bermodalkan keahliannya dalam melakukan komunikasi personal dan approachment (pendekatan) kepada nasabah. Bahkan, saking percayanya, para nasabah mau memberikan blanko kosong yang sudah ditandatangani kepada dirinya.

Fasilitas private banking memang biasa digunakan oleh orang-orang kaya yang tidak memiliki banyak waktu untuk datang ke bank melakukan transaksi. Peluang inilah, rupanya, yang dimanfaatkan oleh Melinda untuk memperkaya diri sendiri. Kerjasama dengan teller Citibank pun dilakukan. Bermodalkan blanko kosong yang sudah ditandatangani nasabah tadi, mulailah Melinda main ‘pat-gulipat’ mentransfer dana-dana nasabah ke beberapa rekening hasil rekayasa dirinya.

Belakangan, cerita kebobolan nasabah bank kembali berlanjut. Kini yang tengah pusing tujuh keliling adalah PT. Elnusa, salah satu anak perusahaan PT. Pertamina (persero). Bagaimana tidak. Depostio perusahaan yang bergerak di sektor energi hilir ini sebesar Rp 111 miliar di Bank Mega Cabang Jababeka, Bekasi, digasak oleh mantan Direktur Keuangannya sendiri, Santun Nainggolan, melalui pencairan deposito on call. Lho, kok bisa? 

Elnusa, sebagaimana banyak perusahaan lain, menempatkan dana cadangan mereka dalam berbagai bentuk, salah satunya deposito berjangka di Bank Mega. Elnusa menaruh dana Rp 161 miliar di bank milik Chairul Tanjung itu mulai 7 September 2009, di kantor cabang Jababeka-Cikarang, Bekasi. Total deposito terbagi menjadi lima bilyet, dengan jangka waktu beragam, mulai satu bulan hingga jangka tiga bulan. "Seluruh dana telah ditransfer Elnusa dan diterima baik oleh Bank Mega," jelas Manajemen Elnusa, dalam keterangan tertulisnya.

Dokumen penempatan deposito telah ditandatangani oleh pejabat Elnusa yang berwenang, serta Kepala Cabang Bank Mega Jababeka-Cikarang. Pada periode tersebut hingga saat ini perseroan melakukan perpanjangan penempatan, pada saat jauh tempo dari masing-masing bilyet. Bank Mega juga terus membayar bunga deposito setiap bulannya.

Terhitung sejak 5 Maret 2010, total deposito Elsa menjadi Rp 111 miliar karena ada pencairan Rp 50 miliar secara resmi atas perintah manajemen perseroan.

Masalah mulai muncul saat Selasa (19/4/2011), kepolisian bertandang ke kantor Elnusa dan menanyakan perihal penempatan dana deposito di Bank Mega. Manajemen Elnusa mengakui ada penempatan dana perseroan di Bank Mega. Pada hari itu juga, secara bersama-sama, manajemen Elnusa dan polisi melakukan mengecekan ke kantor cabang Bank Mega Jababeka Cikarang. Namun hasilnya sungguh mencengangkan. Dari keterangan lisan Kacab Bank Mega, deposito perseroan ternyata telah dicairkan!

Kacab Bank Mega Jababeka, Itman Harry Basuki, berdalih, ”Pencairan itu diminta langsung oleh Elnusa, melalui direktur keuangannya. Bahkan, dokumen pencairannya juga dibubuhi tanda tangan Direktur Utama dan Direktur Keuangan.”

Bahkan, menurut pengacara Itman, Partahi Sihombing, "Klien kami tidak tahu ada pergantian direksi di Elnusa. Sampai pencairan itu terjadi, tidak pernah ada pemberitahuan secara tertulis maupun lisan pergantian direksi melalui RUPS yang dilakukan PT Elnusa."

Yang jadi soal, menurut manajemen Elnusa, tanda tangan direktur utama Elnusa saat pencairan itu palsu. Sebab, yang menandatangani pencairan deposito adalah Dirut yang sudah tak lagi menjabat yaitu Eteng A. Salam. Padahal, pada Juni 2010, RUPS PT Elnusa memutuskan pergantian direksi. Eteng A. Salam, sang dirut sebelumnya, digantikan oleh Suharyanto.

"Empat bilyet pada saat penempatan masih memakai tandatangan Pak Eteng, tapi bilyet kelima Rp 10 miliar, sudah tandatangan saya. Dan itupun sudah dicairkan pakai tanda tangan Pak Eteng. Untuk itu kami minta pertanggungjawaban Bank Mega," jelas Suharyanto, Dirut Elnusa yang baru.

Kondisi perbankan Indonesia saat ini memang tengah menjadi sorotan. Bahkan, ditengarai telah terjadi iklim yang tidak sehat, berupa KOLUSI, di kalangan bank-bank di sini. Bank Indonesia (BI) sendiri dengan tegas menyatakan, apa yang terjadi di bank besar sekelas Citibank – terkait kasus pembobolan dana nasabah oleh Melinda Dee – adalah sebuah kolusi. ”Sebaik apapun sistem private banking di Citibank, ketika terjadi kolusi maka bisa menjadi masalah besar,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, S Budi Rochadi. Dan itu terjadi saat nasabah mempercayakan segala bentuk transaksi dirinya kepada bank officer, seperti Melinda Dee.

"Kalau nasabah sudah percaya sama MD ya siapa bisa melarang? Dan prosedur berikutnya, si teller yang harusnya melakukan pengecekan, juga tidak melakukannya. Di sini terjadi kolusi antara teller dengan MD. Semestinya, kan ada kodenya disitu: nasabahnya datang sendiri atau tidak. Kalau datang sendiri selesai, tetapi kalau tidak datang, harus cek dan konfirmasi," papar Budi.

Pasal apa kemudian yang akan dikenakan pada Melinda Dee dan mantan Direktur Keuangan PT. Elnusa, Santun Nainggolan? Apakah delik pidana perbankan, penggelapan, atau pencucian uang (money laundry)? 

Jika delik Pencucian Uang yang dikenakan, berarti kejahatannya adalah menggunakan uang hasil kejahatan sehingga menjadi ”seolah-olah” halal. Dari keterangan resmi kepolisian, Melinda membobol rekening nasabah dengan cara memindahkan rekening nasabah secara tidak sah (tanpa persetujuan nasabah pemilik rekening) ke beberapa rekening (sementara ditemukan ada delapan rekening), hingga akhirnya masuk kepada rekening pribadi dan rekening perusahaan milik Melinda.

Sama halnya dengan seorang pencuri memasuki toko tertutup di tengah malam, memecahkan etalase took, selanjutnya mengambil barang berharga di dalamnya. Dalam kasus seperti ini si pencuri tidak bisa dikenakan pasal-pasal kumulatif : 1) memasuki rumah tanpa ijin, 2) merusak barang milik orang lain, serta 3) pasal pidana pencurian. Delik yang semestinya dikenakan adalah pidana pencurian dengan pemberatan.

Yang pasti, memindahkan isi rekening tanpa sepengetahuan pemilik rekening telah merupakan tindak pidana perbankan, dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda 10 milyar rupiah. 

Waspadalah… Waspadalah…
Bagaimana mengantisipasi kejahatan perbankan seperti itu? Sudah saatnya, pihak perbankan lebih berbenah, terutama dalam hal dana nasabah. Bank yang sudah baik sistemnya diminta tidak terlena, dan bank yang masih kurang diminta segera berbenah.

Perbankan, bahkan, masih perlu membangun sistem yang rumit, yang tidak mudah ditembus oleh siapa pun. Sistem itu juga harus diperbarui setiap waktu. Dengan cara ini, oknum yang punya niat tidak baik akan sulit melakukan kejahatan perbankan. Bank tidak saja harus mengenali nasabahnya sesuai prinsip ”know your customer”, tetapi juga harus mengenal karyawannya sesuai prinsip ”know your employee”. Artinya, bank harus serius memperhatikan tindakan karyawannya, sekaligus sebagai antisipasi terjadinya penyimpangan. 

Yang paling penting bagi pihak bank adalah menunjukkan tanggung jawabnya dengan mengganti kerugian nasabah, sehingga tidak akan memberi dampak pada meluasnya kasus tersebut bagi dunia perbankan. 

Bank Indonesia, sebagai bank sentral, semestinya melakukan pemeriksaan langsung secara berkala, dalam rangka mencari tahu apakah bank-bank yang ada di bawahnya sudah taat terhadap ketentuan atau tidak. 

Last but not least, sistem hukum perbankan juga perlu diperketat. Jika penegakan hukum di bidang kejahatan perbankan masih lemah, bukan tidak mungkin kejahatan perbankan akan terus menerus terjadi. Anda setuju? (M. Fadhilah Zaidie)

Majalah ME, No 119, 2011

Thursday, June 23, 2011

CSR and a company’s brand image

WE often hear of disputes between private companies and the public. Indeed, as a profit center, a company carries the burden of making as much profit as possible, but on the other hand, the public perceives the company is selfishly paying attention to its own business interests without caring about the difficulties experienced by the public caused by its activities such as contamination, pollution, damaged roads and so forth.

Such disputes between a company and the public are a threat to the company’s production activities. To protect the existence of companies and to create a harmonious relationship with the public, the government has issued a related policy that makes it compulsory for a company to conduct corporate social responsibility (CSR) activities.

Basically, the substance of CSR is to strengthen the existence of the company by developing collaboration among stakeholders facilitated by the company’s community development programs. The aim of CSR is crystal clear, that is, the company, which makes use of natural resources, should also be concerned about the impact on the environment as well as the public or communities in its area of operations. It is also quite clear that the exploitation of natural resources without sufficient attention toward the environment will certainly damage the ecosystem which in turn will threaten the communities’ economic activities.

This is one of the reasons why the company is required to develop environmental programs as well as community development programs that are directly in line with the communities’ interests and benefit, such as hospitals, health centers, schools, scholarships and capital for small- and medium-sized enterprises to reduce the social gap between the company’s employees’ income and the local people.

The use of CSR funds for social activities and environmental preservation is mandated in Law No. 40 issued in 2007 about Limited Companies and Law No. 25 issued in 2007 on Capital Investment as well as Law No. 19 issued in 2003 on State-Owned Enterprises (BUMN) that states that companies /BUMN/ investors must participate in the development of a sustainable economy to enhance the quality of life and environment. Therefore, the use of CSR funds can be directed toward various social and environmental activities.

Based on a number of examples from various regions in the country, it is obvious that some companies have implemented appropriate CSR activities, such as the planting trees and other environmental preservation activities. However, some activities are not well coordinated and have not had a significant impact on environmental preservation.

At least, what is clear now is that many people are paying great attention to environmental issues and most organizations have made it part of their work program. Many companies have included environmental preservation in their CSR programs. Of course, unfortunately to date, many are only focusing on reforestation or planting of trees.

Indeed, forests with their various trees are capable of absorbing carbon dioxide. The forests provides oxygen to humans without asking whether they have planted trees or not, because it is simply the duty of the trees to absorb carbon dioxide and release oxygen that is essential for humans and animals alike. “A forest has a vital function for the lives of humans and other living species, so planting trees is a very efficient way to preserve the environment,” said an expert at the Environment Ministry, Yanuardi Rasudin, recently.

But actually, CSR programs should go further than merely planting trees, such as the inclusion of other “go green” programs: making biopore holes, compost, reducing the use of plastic bags, reducing the use of fuel that creates carbon dioxide.

Everyone agrees that the lives of human beings are inseparable from their environment, both the natural as well as social environment as all of us need clean air to breathe and all other activities — eating, drinking, taking care of our health and so on — require a clean and healthy environment.

Preserving the environment is one of the most vital activities to maintain balance in the life of humans as well as other living species on the planet. Such concerns were declared by the United Nations on April 22, 1970, and every year we commemorate this important date.

Yes, the environment around us is not a legacy from our forefathers that we can use indiscriminatingly. It is in fact a deposit for the future generation, so we must maintain and conserve the environment for their use as well. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, June 23, 2011

Saturday, June 18, 2011

Bring the comfort zone to your home


YOUR home is in fact your private palace, so make sure it is as comfortable as possible to live in. A large room may not always be comfortable, and likewise, a small room may not always be tight in space. A spacious room, therefore, does not guarantee a comfortable home, so even in the case of a small house if everything is set out correctly it will result in a spacious home.

Ideally, before living in your home, the house should go through several design processes considering both internal and external factors. Both have an influence on our approach to the design and building. Our approach can be interpreted into the design orientation, both for the material selected, the building as well as our related daily activities.

Today, especially in major cities, generally speaking one seldom finds large houses. So, the solution is to arrange the available space in the house, with the help of a designer or do this by yourself.

One of the ways to ‘cheat’ a small room and make it appear larger is by using light or bright colors. Furniture also has an impact on small rooms, so avoid large pieces of furniture in this case. Nowadays rooms in small homes look more like studio apartments where partitions are not clearly defined and where furniture defines the function of each room.

If you feel that your living room is too large or too spacious then you can divide it into several zones for different activities, such as for reading, listening to music or just for chatting. On the other hand if your living room is small you can rearrange it and turn it into a multifunctional space for a number of activities.

There are several ways to make your room feel spacious without reducing its beauty, such as the appropriate choice of furniture and accessories, correct arrangement of furniture, partitions, creation of a focal point on one of the walls, carpeting, color choice for walls and furniture as well as lighting effects.

Regarding the color for the walls white and cream are the most neutral especially for your living room as such colors can respond to the colors of furniture and accessories.  These colors are especially suitable for old houses. For contemporary style houses secondary and tertiary colors will make them look more attractive.

Lighting is also quite important to make the room comfortable. Spot-lighting can be used to focus on certain accessories in the room. Lighting can also give a different meaning or interpretation to certain parts of the room.

Apart from the exterior and interior factors there are other important requirements in the house including air conditioners washing machine, refrigerator, water heater and so forth.

There are many kinds of water heaters available on the market, so do not go and just buy any brand or model, but make sure it is suited to your requirements.

Based on the energy source there are three types of water heaters: electric, gas and solar panels. The electric and gas heaters are relatively less costly in comparison to the solar panels. However, once installed, the solar heaters require no energy source.

The water heater should also match the location of the house, because for tropical countries the solar panel heater is more suitable while the gas one is more appropriate for cold or subtropical regions.

To choose the right capacity of water heater you must have a good estimate of your daily requirements for hot water. While a large capacity water heater gives more hot water it also needs more electricity. So you must consider the power available in your home. If your power is limited it is advisable to buy a water heater with low wattage. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, June 17, 2011

Thursday, June 16, 2011

Tour de Singkarak 2011

ALAM Indonesia benar-benar mempesona! Itu yang saya saksikan sendiri ketika meliput event olah raga internasional Tour de Singkarak (TdS) 2011, yang berlangsung  6-12 Juni lalu.

Meski bersepeda tergolong olah raga berat, tapi lomba yang memperebutkan total hadiah Rp 750 juta ini menggabungkan antara olahraga dan pariwisata. Event ini melombakan 7 etape dengan jarak total 739,3 km, melewati 12 kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Ketujuh etape tersebut adalah; Etape 1: Padang, Etape 2: Padang-Sicincin-Pariaman, Etape 3: Pariaman-Bukittinggi, Etape 4: Bukittinggi-Lembah Harau, Etape 5: Payakumbuh-Sawahlunto, Etape 6A: Sawahlunto-Istana Basa Pagaruyung, Etape 6B: Istana Basa Pagaruyung-Padang Panjang, Etape 7A: Padang Panjang-Danau Kembar dan Etape 7B: Danau Kembar-Danau Singkarak.

Sebanyak 12 kabupaten dan kota yang terlibat dalam perhelatan ini adalah Pemerintah Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kota Payakumbuh, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten 50 Kota. Rute yang dilewati tersebut penuh dengan obyek wisata khas masing-masing daerah. Selain itu, budaya dan kuliner Sumatera Barat juga menjadi objek wisata yang tidak bisa dilewatkan.

Event ini sudah berlangsung untuk ketiga kalinya, dan sudah menjadi agenda resmi tahunan Organisasi Balap Sepeda Dunia (Union Cycliste Internationale) bekerjasama dengan Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), pemerintah daerah, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

“Penyelenggaraan Tour de Singkarak 2011 adalah bukti bahwa citra pariwisata Indonesia bisa diterima baik oleh dunia internasional. Acara ini bukan hanya diramaikan oleh tim pebalap internasional, namun juga pelancong mancanegara yang ingin ikut menyaksikan lomba dan menikmati keindahan kekayaan alam dan budaya Sumatra Barat,” jelas Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik.

TdS 2011 menghasilkan juara umum Amir Zargari, dengan mencatat waktu total tercepat, yaitu 17 jam 52 menit 1 detik.  Sementara peringkat kedua ditempati Rahim Emami (17:52,01), disusul Golakhour Pourseyedi (17:53,43), yang ketiganya dari Iran. 

Untuk kategori pebalap nasional hasil terbaik diborong atlet pelatnas yang dipimpin Agung Alisyahbana yang memperkuat Tim Prima Utama dengan total waktu 18:04,39, disusul Hari Fitrianto (18:05,24).  Sementara Tonton Susanto, pebalap berusia 38 tahun, harus puas di urutan ketiga dengan waktu 18:07,33.
Para wartawan memang banyak mengulas tentang olah raga bersepeda tersebut. Namun tidak sedikit yang mengulas tentang sisi pariwisatanya. Ya, penamaan Singkarak memang tidak tanpa maksud, inilah ikon pariwisata Sumatera Barat.

Danau Singkarak berada di dua kabupaten di provinsi, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, memiliki luas 107,8 km². Danau vulkanik ini danau terbesar kedua di Sumatera, setelah danau Toba, mempunyai pemandangan yang sangat eksotis dan layak jadi salah satu kunjungan wajib jika kita berwisata ke alam Minangkabau tersebut.

Dua danau yang tak kalah indahnya yang dilewati para pebalap adalah Danau Maninjau dan Danau Kembar. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau, hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda setempat, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.

Puncak tertinggi di perbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau. Alam yang sungguh indah, tapi bagi pebalap, inilah “neraka” bagi sprinter dan surga bagi king of mountain atau “raja tanjakan”.

Ada pun Danau Kembar terdiri dari dua danau, yakni Danau di Atas dan Danau di Bawah,  yang terletak di kabupaten Solok, atau tepatnya di daerah Bungo Tanjung, Alahan Panjang.

Lokasi danau ini sangat strategis dan berada di atas ketinggian, tak heran jika suhu udara di kawasan itu dingin sekali. Keperawanan alam dan keaslian budaya yang masih kental di wilayah tersebut, adalah magnet kuat yang membuat orang ingin datang.

Selain danau, ada lokasi lain yang tak kalah eksotisnya yang dilewati para pebalap, yakni Lembah Harau. Dengan udara yang masih segar, kita bisa melihat keindahan alam sekitarnya. Tebing-tebing granit setinggi 80 - 300 meter, yang menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah, cocok bagi pemanjat tebing. Inilah finish line untuk Etape 4.

Di kawasan Lembah Harau kita akan menemukan banyak keindahan yang memukau para atlet dan krunya. Sebuah monumen peninggalan Belanda, dengan tertera tanda tangan Asisten Residen Belanda di Lima Puluh Koto saat itu, F. Rinner, dan dua pejabat Indonesia,Tuanku Laras Datuk Kuning nan Hitam dan Datuk Kodoh nan Hitam, yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta, tercatat tahun 1926. 
        
Sawahlunto, yang menjadi finish Etape 5 dan start Etape 6 juga lintasan yang tidak bisa diabaikan. Sawahlunto adalah kota pertama yang memiliki waterpark di Sumatera Barat. Sawahlunto yang merupakan kota tambang batubara sejak 120 tahun yang lalu, kini pelan-pelan berubah menjadi kota wisata.

Obyek-obyek wisata yang khas Sawahlunto adalah wisata sejarah berupa peninggalan kolonial Belanda, seperti kereta api Mak Item untuk angkut batubara jadi kereta api wisata, lalu ada museum kereta api, dan sebagainya.

Kekuatan wisata Sawahlunto lainnya adalah seni dan budaya. Kota ini multietnis, ada Jawa, Sunda, China, Bugis, Irian, Maluku, dan lain-lain, sehingga jangan heran serlain Tari Piring, kota ini mempunyai kesenian kuda kepang dan tarian Jawa.

Tour de Singkarak memang tidak fair kalau dibandingkan dengan Tour de France yang berusia seabad lebih, tapi soal rute dengan keindahalan alam Sumatera Barat, tetaplah terunik di dunia. (Text: Burhan Abe/Photos by Abe & Sanoko Tanaka)

Monday, June 06, 2011

Minister Jero Wacik Inaugurates Tour de Singkarak 2011



Minister of Culture and Tourism (Menbudpar) Jero Wacik; together with West Sumatra Governor Irwan Prayitno, Director General of Marketing at the Ministry of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia Sapta Nirwandar, and PB ISSI Chairman Phanny Tanjung; officially inaugurates the giant event of Tour de Singkarak 2011 in a cultural art ceremony in Taman Budaya Padang (literally means “Padang’s Garden of Culture”). This spectacular ceremonial opening is marked by drumming the Gendang Tasa, and is slated to be attended by Deputy West Sumatra Governor Muslim Kasim, Padang Meyer Fauzi Bahar, public figure Minang Azwar and Regional Head of Police Brigadier General Wahyu Indra Pramugari. This ceremonial opening also features various cultural attractions such as Rantak Sadagam dance, Barongsai, along with the singing performances of Elly Kasim, Young Patapayan, and other various performances of local singers, ranging from dancing to singing.    

Minister of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia Jero Wacik says during his remarks, “Tour de Singkarak 2011 is an attractive synergism of internationally standard bicycle racing event and tourism promotion activities in Indonesia, especially in West Sumatra Province. In addition, this event is done with a means to succeed the Indonesia tourism 2011 with the theme Wonderful Indonesia.” Tour de Singkarak 2011 involves Europsort as the international media partner, Garuda Indonesia as the official airline and a number of national media as the main media partner, as well as Daihatsu as the official team car.

The ceremonial opening of Tour de Singkarak 2011 is directly followed by the Padang Circuit Race Stage I, the competition in which all participants of Tour de Singkarak 2011 from 13 international teams from 17 countries and 11 national teams, will compete in the 61-km Stage I in 5 laps. The Stage I starts from Taman Budaya on Jalan Samudera through Jalan Hayam Wuruk, Jalan Diponegoro, Jalan Damar, Jalan Sudirman, Jalan Veteran and back to Taman Budaya as the finish line.    

Sunday, June 05, 2011

Save our world!

IT seems that people are genuinely starting to care about the environment. This is reflected in the recent activities of several companies in Jakarta, including Astra World. Supported by Auto2000, the Jakarta Environmental Management Agency and PT Citra Marga Nusaphala Persada, AstraWorld conducted a free emission test at the Rest Area of the Tanjung Priok 1 Toll Gate, in Plumpang, North Jakarta, on May 30 and 31.
The free emission test was conducted in observance of the World Environment Day which fell on June 5, 2011, with the theme “Save Our World--Free Emission Test”. It helped car owners to find out the emission level of their cars. Vehicles with emission levels below the benchmark received certificates and stickers indicating that they had passed the test. “This activity is Astra’s commitment to protecting the environment as well as our support for motorists,” Bambang Gunawan, Head of Customer Channels Management AstraWorld, said.
PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) demonstrated a similar commitment to saving the environment. The company joined the planting of mangrove trees in Angke-Kapuk Forest and in the Ecotourism Park off Sedyatmo toll road, in Jakarta recently. The activity was conducted in cooperation with the Jakarta Green Monster and the Marine Affairs and Agriculture Agency. The type of mangrove tree planted was Rhizopora mucronata. The company has so far planted more than 5,000 trees all over Indonesia.
While companies like Astra and SEID are going green, urban households actually play an important role in preserving and sustaining plant life. They can grow trees in the front yards. Urban forests have an important role to play in reducing noise and air pollution.
Basically a forest can be defined as a group of trees which can create its own micro climate, different from those in its surroundings.  “A group of trees growing in a 0.25 hectare area could create its own micro climate. Therefore forests could be planted in urban areas or even in the gardens of private homes,” said Sampe Paembonan, a professor at the Faculty of Forestry, Hasanuddin University in a public dialog in Makassar.
He said that one ton of trees would absorb 1.5 ton of CO2 and 1.6 ton of H2O and release 1,066 ton of oxygen into the atmosphere. “This means forests play an important role in preserving the environment,” he said.
Damage to forest areas has reached 1.5 million hectares annually, while reforestation only covers an area of 0.5 million hectares annually.  “Forests have an important function for the balance of human life and the life of other living creatures. Therefore tree plantations are an efficient program to preserve the environment,” an expert staff of the environment minister Yanuardi Rasudin said recently.
That is why the efforts to protect the environment should involve all parties, including industries. They should go green, save energy and adopt environmentally friendly operations. The fact that the climate change threat is apparent should encourage us to immediately adopt a green lifestyle.
World Environmental Day was first launched in 1972. It was part of a series of environmental activities two years before, when American Senator Gaylord Nelson observed how this earth had been severely polluted by human activities. Along with several NGOs, he took an initiative to devote a day for efforts to save the earth.
In April 22, 1970 Gaylord Nelson proclaimed the day as Earth Day and since then the date has been annually observed as the Earth Day. The UN Conference on the Environment was held on June 5, 1972 in Stockholm and the date was observed as the World Environment Day. Indonesia took part in the conference by sending Prof. Emil Salim, who was then head of the National Development Planning Agency. We should preserve this tradition because we do not want to inherit a “damaged earth” to our children.
The environment is not inheritance from our ancestors, which could be treated as we like. It is the legacy for our future generations. Preserving the environment is an urgent need that has become our collective responsibility. Everyone needs to join hands to help save the earth. Every little contribution counts toward protecting the environment so that future generations can live in a world that is worth living. (Burhanuddin Abe)
The Jakarta Post, June 05, 2011