Monday, June 27, 2011

Melinda Dee dan Bank yang Makin Rawan

Terungkapnya pembobolan dana nasabah bank oleh Inong Melinda Dee menunjukkan bahwa kejahatan kerah putih bukan isapan jempol belaka. Bagaimana mengantisipasinya?

BINTANG iklan sebuah produk rokok, dengan tato lumayan penuh di tangan, nampak celingukan di kantor reserse kriminal Mabes Polri. Andhika Gumilang, nama bintang iklan itu, seringkali menundukkan wajahnya. Tidak seperti yang sering terlihat di layar kaca saat ia membintangi iklan atau main sinetron dengan segudang aksi yang penuh percaya diri, pria berusian 22 tahun itu sesekali menatap sesuatu dengan pandangan kosong.

Segala macam rasa, seperti sedih, menyesal, takut, juga malu, agaknya menumpuk jadi satu. Beberapa waktu sebelumnya, ketika ditanya wartawan tentang status hubungannya dengan Inong Melinda Dee, ia mengaku hanya sekadar anak angkat. Tapi siapapun tahu, bagaimana mungkin seorang ”anak angkat” menerima aliran dana yang lumayan gede, bahkan dihadiahi sebuah mobil mewah, Hummer V3.

Gara-gara Melinda Dee, 47 tahun, mantan Relation Manager Citibank yang menjadi istri sirinya itu, pemilik 6 (enam) Kartu Tanda Penduduk (KTP) – salah satunya menggunakan nama Juan Ferero – kini meringkuk di tahanan Mabes Polri, karena dijerat pasal pencucian uang dan pemalsuan identitas.

Melinda Dee memang fenomenal. Dalam posisinya, ia bisa membobol sedikitnya Rp 17 milyar dana para nasabah private banking Citibank, hanya bermodalkan keahliannya dalam melakukan komunikasi personal dan approachment (pendekatan) kepada nasabah. Bahkan, saking percayanya, para nasabah mau memberikan blanko kosong yang sudah ditandatangani kepada dirinya.

Fasilitas private banking memang biasa digunakan oleh orang-orang kaya yang tidak memiliki banyak waktu untuk datang ke bank melakukan transaksi. Peluang inilah, rupanya, yang dimanfaatkan oleh Melinda untuk memperkaya diri sendiri. Kerjasama dengan teller Citibank pun dilakukan. Bermodalkan blanko kosong yang sudah ditandatangani nasabah tadi, mulailah Melinda main ‘pat-gulipat’ mentransfer dana-dana nasabah ke beberapa rekening hasil rekayasa dirinya.

Belakangan, cerita kebobolan nasabah bank kembali berlanjut. Kini yang tengah pusing tujuh keliling adalah PT. Elnusa, salah satu anak perusahaan PT. Pertamina (persero). Bagaimana tidak. Depostio perusahaan yang bergerak di sektor energi hilir ini sebesar Rp 111 miliar di Bank Mega Cabang Jababeka, Bekasi, digasak oleh mantan Direktur Keuangannya sendiri, Santun Nainggolan, melalui pencairan deposito on call. Lho, kok bisa? 

Elnusa, sebagaimana banyak perusahaan lain, menempatkan dana cadangan mereka dalam berbagai bentuk, salah satunya deposito berjangka di Bank Mega. Elnusa menaruh dana Rp 161 miliar di bank milik Chairul Tanjung itu mulai 7 September 2009, di kantor cabang Jababeka-Cikarang, Bekasi. Total deposito terbagi menjadi lima bilyet, dengan jangka waktu beragam, mulai satu bulan hingga jangka tiga bulan. "Seluruh dana telah ditransfer Elnusa dan diterima baik oleh Bank Mega," jelas Manajemen Elnusa, dalam keterangan tertulisnya.

Dokumen penempatan deposito telah ditandatangani oleh pejabat Elnusa yang berwenang, serta Kepala Cabang Bank Mega Jababeka-Cikarang. Pada periode tersebut hingga saat ini perseroan melakukan perpanjangan penempatan, pada saat jauh tempo dari masing-masing bilyet. Bank Mega juga terus membayar bunga deposito setiap bulannya.

Terhitung sejak 5 Maret 2010, total deposito Elsa menjadi Rp 111 miliar karena ada pencairan Rp 50 miliar secara resmi atas perintah manajemen perseroan.

Masalah mulai muncul saat Selasa (19/4/2011), kepolisian bertandang ke kantor Elnusa dan menanyakan perihal penempatan dana deposito di Bank Mega. Manajemen Elnusa mengakui ada penempatan dana perseroan di Bank Mega. Pada hari itu juga, secara bersama-sama, manajemen Elnusa dan polisi melakukan mengecekan ke kantor cabang Bank Mega Jababeka Cikarang. Namun hasilnya sungguh mencengangkan. Dari keterangan lisan Kacab Bank Mega, deposito perseroan ternyata telah dicairkan!

Kacab Bank Mega Jababeka, Itman Harry Basuki, berdalih, ”Pencairan itu diminta langsung oleh Elnusa, melalui direktur keuangannya. Bahkan, dokumen pencairannya juga dibubuhi tanda tangan Direktur Utama dan Direktur Keuangan.”

Bahkan, menurut pengacara Itman, Partahi Sihombing, "Klien kami tidak tahu ada pergantian direksi di Elnusa. Sampai pencairan itu terjadi, tidak pernah ada pemberitahuan secara tertulis maupun lisan pergantian direksi melalui RUPS yang dilakukan PT Elnusa."

Yang jadi soal, menurut manajemen Elnusa, tanda tangan direktur utama Elnusa saat pencairan itu palsu. Sebab, yang menandatangani pencairan deposito adalah Dirut yang sudah tak lagi menjabat yaitu Eteng A. Salam. Padahal, pada Juni 2010, RUPS PT Elnusa memutuskan pergantian direksi. Eteng A. Salam, sang dirut sebelumnya, digantikan oleh Suharyanto.

"Empat bilyet pada saat penempatan masih memakai tandatangan Pak Eteng, tapi bilyet kelima Rp 10 miliar, sudah tandatangan saya. Dan itupun sudah dicairkan pakai tanda tangan Pak Eteng. Untuk itu kami minta pertanggungjawaban Bank Mega," jelas Suharyanto, Dirut Elnusa yang baru.

Kondisi perbankan Indonesia saat ini memang tengah menjadi sorotan. Bahkan, ditengarai telah terjadi iklim yang tidak sehat, berupa KOLUSI, di kalangan bank-bank di sini. Bank Indonesia (BI) sendiri dengan tegas menyatakan, apa yang terjadi di bank besar sekelas Citibank – terkait kasus pembobolan dana nasabah oleh Melinda Dee – adalah sebuah kolusi. ”Sebaik apapun sistem private banking di Citibank, ketika terjadi kolusi maka bisa menjadi masalah besar,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, S Budi Rochadi. Dan itu terjadi saat nasabah mempercayakan segala bentuk transaksi dirinya kepada bank officer, seperti Melinda Dee.

"Kalau nasabah sudah percaya sama MD ya siapa bisa melarang? Dan prosedur berikutnya, si teller yang harusnya melakukan pengecekan, juga tidak melakukannya. Di sini terjadi kolusi antara teller dengan MD. Semestinya, kan ada kodenya disitu: nasabahnya datang sendiri atau tidak. Kalau datang sendiri selesai, tetapi kalau tidak datang, harus cek dan konfirmasi," papar Budi.

Pasal apa kemudian yang akan dikenakan pada Melinda Dee dan mantan Direktur Keuangan PT. Elnusa, Santun Nainggolan? Apakah delik pidana perbankan, penggelapan, atau pencucian uang (money laundry)? 

Jika delik Pencucian Uang yang dikenakan, berarti kejahatannya adalah menggunakan uang hasil kejahatan sehingga menjadi ”seolah-olah” halal. Dari keterangan resmi kepolisian, Melinda membobol rekening nasabah dengan cara memindahkan rekening nasabah secara tidak sah (tanpa persetujuan nasabah pemilik rekening) ke beberapa rekening (sementara ditemukan ada delapan rekening), hingga akhirnya masuk kepada rekening pribadi dan rekening perusahaan milik Melinda.

Sama halnya dengan seorang pencuri memasuki toko tertutup di tengah malam, memecahkan etalase took, selanjutnya mengambil barang berharga di dalamnya. Dalam kasus seperti ini si pencuri tidak bisa dikenakan pasal-pasal kumulatif : 1) memasuki rumah tanpa ijin, 2) merusak barang milik orang lain, serta 3) pasal pidana pencurian. Delik yang semestinya dikenakan adalah pidana pencurian dengan pemberatan.

Yang pasti, memindahkan isi rekening tanpa sepengetahuan pemilik rekening telah merupakan tindak pidana perbankan, dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda 10 milyar rupiah. 

Waspadalah… Waspadalah…
Bagaimana mengantisipasi kejahatan perbankan seperti itu? Sudah saatnya, pihak perbankan lebih berbenah, terutama dalam hal dana nasabah. Bank yang sudah baik sistemnya diminta tidak terlena, dan bank yang masih kurang diminta segera berbenah.

Perbankan, bahkan, masih perlu membangun sistem yang rumit, yang tidak mudah ditembus oleh siapa pun. Sistem itu juga harus diperbarui setiap waktu. Dengan cara ini, oknum yang punya niat tidak baik akan sulit melakukan kejahatan perbankan. Bank tidak saja harus mengenali nasabahnya sesuai prinsip ”know your customer”, tetapi juga harus mengenal karyawannya sesuai prinsip ”know your employee”. Artinya, bank harus serius memperhatikan tindakan karyawannya, sekaligus sebagai antisipasi terjadinya penyimpangan. 

Yang paling penting bagi pihak bank adalah menunjukkan tanggung jawabnya dengan mengganti kerugian nasabah, sehingga tidak akan memberi dampak pada meluasnya kasus tersebut bagi dunia perbankan. 

Bank Indonesia, sebagai bank sentral, semestinya melakukan pemeriksaan langsung secara berkala, dalam rangka mencari tahu apakah bank-bank yang ada di bawahnya sudah taat terhadap ketentuan atau tidak. 

Last but not least, sistem hukum perbankan juga perlu diperketat. Jika penegakan hukum di bidang kejahatan perbankan masih lemah, bukan tidak mungkin kejahatan perbankan akan terus menerus terjadi. Anda setuju? (M. Fadhilah Zaidie)

Majalah ME, No 119, 2011

No comments:

Post a Comment