Thursday, June 16, 2011

Tour de Singkarak 2011

ALAM Indonesia benar-benar mempesona! Itu yang saya saksikan sendiri ketika meliput event olah raga internasional Tour de Singkarak (TdS) 2011, yang berlangsung  6-12 Juni lalu.

Meski bersepeda tergolong olah raga berat, tapi lomba yang memperebutkan total hadiah Rp 750 juta ini menggabungkan antara olahraga dan pariwisata. Event ini melombakan 7 etape dengan jarak total 739,3 km, melewati 12 kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Ketujuh etape tersebut adalah; Etape 1: Padang, Etape 2: Padang-Sicincin-Pariaman, Etape 3: Pariaman-Bukittinggi, Etape 4: Bukittinggi-Lembah Harau, Etape 5: Payakumbuh-Sawahlunto, Etape 6A: Sawahlunto-Istana Basa Pagaruyung, Etape 6B: Istana Basa Pagaruyung-Padang Panjang, Etape 7A: Padang Panjang-Danau Kembar dan Etape 7B: Danau Kembar-Danau Singkarak.

Sebanyak 12 kabupaten dan kota yang terlibat dalam perhelatan ini adalah Pemerintah Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kota Solok, Kota Payakumbuh, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten 50 Kota. Rute yang dilewati tersebut penuh dengan obyek wisata khas masing-masing daerah. Selain itu, budaya dan kuliner Sumatera Barat juga menjadi objek wisata yang tidak bisa dilewatkan.

Event ini sudah berlangsung untuk ketiga kalinya, dan sudah menjadi agenda resmi tahunan Organisasi Balap Sepeda Dunia (Union Cycliste Internationale) bekerjasama dengan Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), pemerintah daerah, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

“Penyelenggaraan Tour de Singkarak 2011 adalah bukti bahwa citra pariwisata Indonesia bisa diterima baik oleh dunia internasional. Acara ini bukan hanya diramaikan oleh tim pebalap internasional, namun juga pelancong mancanegara yang ingin ikut menyaksikan lomba dan menikmati keindahan kekayaan alam dan budaya Sumatra Barat,” jelas Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik.

TdS 2011 menghasilkan juara umum Amir Zargari, dengan mencatat waktu total tercepat, yaitu 17 jam 52 menit 1 detik.  Sementara peringkat kedua ditempati Rahim Emami (17:52,01), disusul Golakhour Pourseyedi (17:53,43), yang ketiganya dari Iran. 

Untuk kategori pebalap nasional hasil terbaik diborong atlet pelatnas yang dipimpin Agung Alisyahbana yang memperkuat Tim Prima Utama dengan total waktu 18:04,39, disusul Hari Fitrianto (18:05,24).  Sementara Tonton Susanto, pebalap berusia 38 tahun, harus puas di urutan ketiga dengan waktu 18:07,33.
Para wartawan memang banyak mengulas tentang olah raga bersepeda tersebut. Namun tidak sedikit yang mengulas tentang sisi pariwisatanya. Ya, penamaan Singkarak memang tidak tanpa maksud, inilah ikon pariwisata Sumatera Barat.

Danau Singkarak berada di dua kabupaten di provinsi, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, memiliki luas 107,8 km². Danau vulkanik ini danau terbesar kedua di Sumatera, setelah danau Toba, mempunyai pemandangan yang sangat eksotis dan layak jadi salah satu kunjungan wajib jika kita berwisata ke alam Minangkabau tersebut.

Dua danau yang tak kalah indahnya yang dilewati para pebalap adalah Danau Maninjau dan Danau Kembar. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau, hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda setempat, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.

Puncak tertinggi di perbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau. Alam yang sungguh indah, tapi bagi pebalap, inilah “neraka” bagi sprinter dan surga bagi king of mountain atau “raja tanjakan”.

Ada pun Danau Kembar terdiri dari dua danau, yakni Danau di Atas dan Danau di Bawah,  yang terletak di kabupaten Solok, atau tepatnya di daerah Bungo Tanjung, Alahan Panjang.

Lokasi danau ini sangat strategis dan berada di atas ketinggian, tak heran jika suhu udara di kawasan itu dingin sekali. Keperawanan alam dan keaslian budaya yang masih kental di wilayah tersebut, adalah magnet kuat yang membuat orang ingin datang.

Selain danau, ada lokasi lain yang tak kalah eksotisnya yang dilewati para pebalap, yakni Lembah Harau. Dengan udara yang masih segar, kita bisa melihat keindahan alam sekitarnya. Tebing-tebing granit setinggi 80 - 300 meter, yang menjulang tinggi dengan bentuknya yang unik mengelilingi lembah, cocok bagi pemanjat tebing. Inilah finish line untuk Etape 4.

Di kawasan Lembah Harau kita akan menemukan banyak keindahan yang memukau para atlet dan krunya. Sebuah monumen peninggalan Belanda, dengan tertera tanda tangan Asisten Residen Belanda di Lima Puluh Koto saat itu, F. Rinner, dan dua pejabat Indonesia,Tuanku Laras Datuk Kuning nan Hitam dan Datuk Kodoh nan Hitam, yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta, tercatat tahun 1926. 
        
Sawahlunto, yang menjadi finish Etape 5 dan start Etape 6 juga lintasan yang tidak bisa diabaikan. Sawahlunto adalah kota pertama yang memiliki waterpark di Sumatera Barat. Sawahlunto yang merupakan kota tambang batubara sejak 120 tahun yang lalu, kini pelan-pelan berubah menjadi kota wisata.

Obyek-obyek wisata yang khas Sawahlunto adalah wisata sejarah berupa peninggalan kolonial Belanda, seperti kereta api Mak Item untuk angkut batubara jadi kereta api wisata, lalu ada museum kereta api, dan sebagainya.

Kekuatan wisata Sawahlunto lainnya adalah seni dan budaya. Kota ini multietnis, ada Jawa, Sunda, China, Bugis, Irian, Maluku, dan lain-lain, sehingga jangan heran serlain Tari Piring, kota ini mempunyai kesenian kuda kepang dan tarian Jawa.

Tour de Singkarak memang tidak fair kalau dibandingkan dengan Tour de France yang berusia seabad lebih, tapi soal rute dengan keindahalan alam Sumatera Barat, tetaplah terunik di dunia. (Text: Burhan Abe/Photos by Abe & Sanoko Tanaka)

No comments:

Post a Comment