Tuesday, August 23, 2011

Berbuka Puasa di Lobo dan Harris Café

TAWARAN berbuka puasa memang belum reda sebelum Ramadhan berakhir. Kafe dan restoran, termasuk yang berlokasi di hotel, ramai-ramai menawarkan berbagai paket berbuka yang unik dan istimewa.

Salah satunya adalah The Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta. Hotel berbintang lima ini mempunyai dua restoran yang berkelas, yakni Asia dan Lobo. Yang disebut terakhir ini menyiapkan tiga menu hidangan khas Italia yang dipersiapkan secara khusus untuk berbuka puasa.

Lobo menghidangkan kelezatan makanan Italia yang disajikan oleh Chef de Cuisine Mariano Liuzza kepada para tamu untuk dinikmati setelah seharian berpuasa. Para tamu bisa memilih berbagai tajil terlebih dahulu, atau juga memilih salad atau sup sebagai hidangan pembuka. Untuk salad ada pilihan Caesar Salad (croutons, beef bacon, parmesan), Romaine Vegan Salad (grilled romaine, parmesan, reduced balsamico), atau Caprese Salad (tomato, mozzarella, pesto, mixed lettuce). Sedangkan untuk sup, pilihannya adalah Minestrone (barley, parmesan), Tomato-lemongrass Soup (basil oil, fresh cream), atau Wild Mushroom Soup (white wine foam, sautéed mushrooms).

Ini memang baru permulaan, karena setelah starter petulangan kuliner sesungguhnya baru dimulai. Seperti restoran Italia pada umumnya, di sini tersedia pasta, meat, atau pizza sebagai hidangan utama yang tepat untuk berbuka puasa.

Untuk para pecinta pasta dapat menikmati beragam menu seperti Lasagna Bolognese (béchamel, artichoke), Black Ink Risotto (prawns, fresh chives), Rigatoni Carbonara (cured ham, mizuna greens), atau Gnocchi Con Porcini (cepes mushroom, lobster). Sedangkan untuk para pecinta daging atau ikan, pilihannya pun tidak kalah menakjubkan; Cajun Baby Chicken atau Red Snapper. Sedangkan untuk penggemar pizza dapat menyantap pizza khas Lobo yakni, Margherita (tomato sauce, mozzarella, basil), Diavola (spicy beef salami), atau Rustica (cured ham, rucola).

Para tamu dapat mengakhiri perjalanan kuliner mereka dengan mencicipi hidangan penutup seperti, Molten Chocolate Cak, Crème Brule, Key Lime Pie, Sabayon, atau Tiramisu untuk melengkapi perayaan berbuka puasa.

Lobo merupakan Italian dining yang terletak di lobby level, yang merupakan gabungan dua restoran pemenang penghargaan: Prime Steakhouse dan Portovenere dan terdiri dari sebuah bar & lounge, serta ruang makan kontemporer dan sebuah wine cellar yang menyediakan berbagai pilihan anggur berkualitas. Promosi Ramadan ini tersedia untuk makan malam yang berlaku sampai 29 Agustus 2011. Harga mulai dari Rp. 246,000++ per orang dan sudah termasuk tajil, es teh, dan ice lemon tea.

Tidak salah, Lobo dengan nuansa kontemporer dan mewah, pas sebagai alternatif terbaru untuk tempat bersantap, dalam hal ini berbuka puasa, di Jakarta.

Indonesia & Timur Tengah
Berbuka di Harris Hotel & Conventions Kelapa Gading sebetulnya juga tidak kalah serunya.  Hotel yang menempel dengan Mal Kelapa Gading ini menggelar beragam hidangan Indonesia dan Timur Tengah yang tersaji mulai dari tajil hingga menu penutup.

Ya, suasana yang nyaman dan akrab di Harris Café dapat menjadi alternatif yang tepat untuk berbuka puasa. Tamu dapat menikmati Tajil Buffet yang tersedia di antaranya kurma, kolak, aneka bubur, aneka kue, cemilan khas negeri Arab, teh atau kopi, dan sebagainya.

Menurut Public Relations Manager Ari Eka Putri, paket Tajil Buffet ditawarkan seharga Rp 55.000 untuk net/orang., sedangkan Ramadhan Buffet Dinner Rp 135.000net/orang. Berbagai pilihan menu utama khas Indonesia seperti gurame sambal tauco, semur tahu kentang, opor ayam, empal daging dan masih banyak lagi telah disiapkan khusus oleh Executive Chef Sayuzi dan timnya. Untuk menghibur para tamu, ada sajian musik akustik Nasyid setiap Senin dan Kamis.

Kalau sudah begini, siapa yang tidak rindu Ramadhan?

Monday, August 22, 2011

Groupon Is Teaching Us That More Is Less

IT is fascinating that in these turbulent times, there is a perceived value to a business that is burning cash hand over fist. In the first quarter of 2011, Groupon posted a loss of just short of $114 million. There have been a series of cash injections into the business since its start in 2008, including a recent one of $1 billion. How is it that it makes sense to someone who is not an investor in this ailing business to want to partake in being a shareholder of the business as it looks to raise another $750 million in order to keep the business growing? Growth is being achieved but the ability to make a profit is clearly not there!

It is natural for people to chase growth, and that is why sometimes I think growth is overrated. When you start your business though, you should first chase to be profitable and then growth can come into the equation. My partner and I, prior to our current business, started a business where we chased growth first. We sold it and while the business continues today, from a personal perspective I learnt a lot in terms of what it cost to chase the growth assuming the profit will come with the growth. A young business’ success and sustainability is dependent on chasing profitability first and foremost. Growth is something you chase once your business model works and proves to be profitable.

Groupon’s growth stats are huge: 1)  Revenue in 2009 was $30 million and in 2010 this number grew to $713 million. For the first quarter of 2011 they had already achieved revenue of $645 million. 2)  They had ±37 people employed two years ago and now are at around ±8,000 people. 3)  They have 83.1 million subscribers, of which 15.8 million have purchased a deal. This has happened in three years.

This is what has people excited, but with all the above, in the first quarter of 2011 they still posted a loss of $113.9 million. This is after a loss of $413 million in 2010. The phenomenal growth in revenue is not plugging the hole of the losses generated by the business. “Revenue is vanity, profit is sanity, cash flow is reality!” is a quote I heard that resonate with me. A much smaller Groupon in 2009 posted a loss of $6.9 million. Why did they not chase profits first to get to some form of sanity on their business model? That would have created a different reality in that they would know whether the model works or not. Reality now is that with their current size and scale, they are burning cash, and are appealing to the market to give them more money to burn!

Having learnt from our last experience, in our existing business we chased profits first when we started it. Growth will come later. This business (F I T) is a smaller one than the one we sold in many aspects. The business we sold (N C S) in its first year generated 2.7 times more revenue than our current business in the first year.   N C S revenue in year two was triple that in the first year (that was the forecast when we sold it in quarter three of the year). Growing by a factor of three times was huge for us given the scale of the business. F I T is forecast to double in revenue in the second year. Yet with the lower revenue, and the slower growth, over the same period of life-cycle of the businesses, we have recouped significantly more as shareholders in F I T as compared to N C S. That is our reality!

Our experience certainly taught us that less is more when starting a business. The true test of the business model is that it is profitable and thereafter you test how much it is scalable. Growth without profits is not sustainable. Prove that you have a good product and people will pay fair value for it resulting in your business being profitable. Thereafter you can invest your profits into the growth of your business. So if you are starting up a business, focus less on growth and more on profit!



Sunday, August 14, 2011

Favehotel, dan Maraknya Hotel Bujet


TIDAK ada yang menyangkal Tanah Abang adalah kawasan perniagaan yang paling sibuk di Jakarta. Sayangnya belum banyak tersedia hotel yang layak sebagai tempat persinggahan para pedagang dan pembeli yang datang dari berbagai penjuru tanah air, bahkan manca negara.

Itu sebabnya kehadiran Favehotel Wahid Hasyim, budget hotel yang masih di bawah manajemen Asto International, bak oase di padang pasir. Saya merasakan atmosfer yang nyaman di hotel tersebut dalam jamuan buka bersama, 10 Agustus lalu. Memang tidak mewah, tapi sangat woth it dengan biaya yang dikeluarkan para tamu. Opening rate-nya Rp 468.000 Nett per malam.

Favehotel Wahid Hasyim adalah hotel bintang dua yang menawarkan 70 kamar tamu yang nyaman dan bergaya trendi, serta beberapa ruang pertemuan. Dengan harga kamar yang sangat kompetitif, para tamu hotel akan menikmati standar dan pelayanan yang pada umumnya diterapkan pada hotel dengan kategori harga yang lebih tinggi, seperti tempat tidur berkualitas terbaik, sprei berbahan katun terbaik, Wi-Fi berkecepatan tinggi, serta pelayanan binatu.

Daya tarik utama Favehotel terbaru ini tentu adalah lokasinya yang sempurna tepat di jantung kota Jakarta, tidak jauh dari Jalan M. H. Thamrin, di sekitar gedung PBB dan Kedutaan Jepang. Selain itu, tempat di Jakarta yang terkenal lainnya seperti Plaza Indonesia, serta tempat hang out para ekspatriat yang cukup populer, dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Menurut Norbert Vas, Wakil Presiden Penjualan & Pemasaran, Favehotel bertujuan untuk mendefinisikan kembali bagaimana para wisatawan berpikir mengenai budget hotel. Hotel yang sesuai dengan bujet seperti Fave kami ini sedang populer dan menjadi tren saat ini. Desain yang menarik, pelayanan dari hati dan standar keamanan serta kebersihan yang yang tanpa kompromi tidaklah harus mahal. Yup, Favehotel Wahid Hasyim adalah contoh yang sangat tepat untuk filosofi ini.

Favehotel Wahid Hasyim adalah yang pertama di Jakarta, bergabung dengan Favehotel di Denpasar dan Surabaya yang telah dikenal luas, dan kabarnya akan segera diikuti pembukaan Favehotel di wilayah Bali yang trendi yaitu Seminyak, Umalas, Legian serta pulau wisata Malaysia, yaitu Langkawi.

Favehotel merupakan brand pilihan terbaru yang diluncurkan oleh Aston International, Grup Hotel terbesar di Indonesia, ditujukan untuk menawarkan pilihan menginap dengan harga terjangkau, baru, menarik dan hotel bintang dua kontemporer bagi para pelancong berbujet.

Semenjak peluncurannya Juli 2009 Favehotel telah menjadi yang terdepan bagi sektor hotel berbujet sehingga menjadikannya sebagai standar industri dalam hotel pilihan dengan desainnya yang menarik, ditujukan bagi kelas menengah yang menawarkan tempat tidur berkualitas tinggi dan televisi LCD serta mengusung tema yang berkaitan erat dengan lingkungan.

Aston memasuki pasar Indonesia pada akhir tahun 1990-an dan saat ini menjadi perusahaan di industri hospitality terdepan di Indonesia yang menawarkan jaringan hotel, kondotel, resor, apartemen servis, dan vila berkelas yang berkembang cepat dengan kantor perwakilan di Jakarta, Kuala Lumpur, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Aston International saat ini mengelola hotel bintang 5 Grand Aston, vila mewah Royal Kamuela dan Kamuela, bintang 4 Aston, bintang 3 Aston City Hotel dan Quest, hotel butik berbujet Neo serta Favehotel bergaya trendi.

Tren permintaan hotel bujet yang marak belakangan memang dirasakan oleh para pengelola hotel. Kalau Aston menawarakan Favehotel, Accor Indonesia bahkan sudah terlebh dahulu membuka dua Formule 1, hotel bujet yang berlokasi di Menteng dan Cikini, Jakarta. Yang disebut pertama memiliki 135 unit kamar dan yang kedua  memiliki 150 unit kamar.

Sebelumnya Hotel Santika juga memperkenalkan produk hotel bujetnya, Amaris, yang kini sudah ada di beberapa lokasi. Juga Max One Hotel berlokasi di Jl Sabang Jakarta yang juga bertarif murah, yang diresmikan 29 April 2011. Hotel yang dibangun oleh grup baru di bidang perhotelan, Milestone Pacific Hotel Group ini, menyebut dirinya sebagai sebagai design value hotel, karena berancang arstistik, serta menyediakan akomodasi bergaya metropolis sekaligus berorientasi pada nilai, dengan perhatian khusus pada kebutuhan profesional yang dinamis.

Kebutuhan hotel bujet memang terus meningkat. Jadi jangan heran kalau budget hotel Tunes, yang masih di bawah jaringan maskapai penerbangan murah Air Asia, setelah sukses di Bali, segera membuka gerainya di Jakarta. Juga Tauzia Hotel Management, yang sukses dengan Hotel Harris di Indonesia, kini siap-siap mengembangkan second line products-nya, yakni POP!

Thursday, August 11, 2011

Trending Topic

More than one billion people worldwide interlinked to the Internet contribute to the birth of Web 2.0 Era, in which data communications with their applications known as social media play a crucial role in shaping the future of e-commerce.

THE term Web 2.0 basically refers to the second generation of Internet where collaborating, interacting and sharing information are allowed in a Web 2.0 site popularly known as social media.

One of the mushrooming phenomena is the growing number of netizens (a portmanteau of internet and citizen) getting on the social media such as Facebook and Twitter.

While Facebook has turned to be the third largest country in the world with more than 500 million netizens, Twitter has become “home” to worldwide netizens with more than 100 million accounts sharing their millions of aspirations and opinions.

Facebook and Twitter are not the only choices. LinkedIn, Foursquare, Youtube, and even two Indonesian online communities Kaskus and Koprol – all contribute to ongoing revolution of social media. More interestingly, accessing to these sites can be easily done within a quick click of a button; not only from desktop equipment, but also from mobile devices such as BlackBerry, iPhone and iPad. 

The Power of Social Media
Do you know that the secret recipe behind the success story of the US President-elect Barack Obama’s campaign was his wit in utilizing the power of social media?

Obama was bolting together social networking applications to raise funds and increase supporters. The campaign was more than just a political movement, but creating millions supporters to help Obama topple the Republican John McCain.

And now Obama uses social media networks to govern. His e-mail message to supporters on the night he was inaugurated included the following line,” We have a lot of work to do to get our country back on track, and I’ll be in touch soon about what comes next.”  His administration uses Change.gov, an Internet gateway that facilitates his transition mission toward fixing the US economy.

Meanwhile, celebrities and public figures from across the world have drawn myriad followers using Twitter. Unlike Facebook that limits up to 5,000 friends, Twitter with unlimited number of followers has become a great promotion destination.

Lady Gaga is dubbed Queen of Twitter with 11.3 million followers, followed by Justin Bieber (10 millions), Britney Spears (8.3 millions), Oprah Winfrey (6.4 millions); and in Indonesia, singer Sherina Munaf has more than one million followers. 

Adrie Subono, renowned promoter and owner of Java Musikindo, has brought in an array of International musicians using social media as a means of communications for inputs or even a medium for selling the tickets. 

The trend in social media helps Google increase its income from US$ 2 billion to over US$ 20 billion in 10 years. Mark Zuckenberg, founder and CEO of Facebook, has tripled his income to US$13.5 billion since last year, earning him the no. 52 spot on the world’s richest according to Forbes.

Not only in the Northern America and Europe, the social media in Asia is growing rapidly. Singapore, Japan, Malaysia, India and Indonesia are among the top tiers in some of the leading social media. Indonesia, with more than 35 million users, is Facebook’s second largest market after the US.

Future Business
Twitter is estimated to be worth more than US$ 7.7 billion, and many investors are starting to buy shares of the company that is predicted to be the next Google, according to Sharepost, a private capital markets solution firm. 

Other social media, LinkedIn has its share jump from the initial offer of US$45 apiece to US$122.70 apiece last May 2011.

In Indonesia, there are information technology companies outdoing each other transforming their innovative ideas into the Internet-based business platform.

Literally means ‘somersault’ in English, Koprol is Indonesian version of Foursquare where we can locate friends in surrounding areas. Acquired by Yahoo! last year, the name has changed to Yahoo! Koprol. 

Kaskus, with more than 900 million page views, is the Indonesia’s biggest online community. It is the sixth most visited website in the country after facebook.com, google.co.id, google.com, blogger.com and yahoo.com.

First created in 1999, Kaskus was initially only a college project assigned to the Indonesian Andrew Darwis when he studied at Art Institute of Seattle, the US. Taken from the acronym ‘kasak kusuk’ (literally means ‘random chatting or gossiping’ in English), Kaskus was created as a community forum of Indonesian people who live in the US.

“The beginning was no easy task. Kaskus was not at all popular. With the help of Darta Media management, I started focusing on e-commerce. Members of Kaskus has drastically increased with current record of 2.75 million members; more than half have taken advantage of Kaskus’s buying-selling forum,” Andrew attests. 

The increasing number of Kaskus’s members attracts many advertisers, transforming Kaskus as a money maker with annual income of approximately US$ 1 million since 2008. “The growth is about 200 percent every year,” he adds.

Kaskus has since March 2011 expanded its business by taking Global Digital Prima (GDP), a part of Djarum Group, as partner. The injection fund of Rp600 billion or around US$ 69 million from GDP surely helps Kaskus develop its business. The hearsay is that GDP is entitled to 30 percent of share portion. But the partnership is much more lucrative compared to the offer once proposed by a foreign company to buy Kaskus for US$ 50 million or Rp430 million. Wow!

Regardless of the accuracy of the figure, social media is a new trend. “It’s not  merely about social network. It’s the Web 2.0 era where effective use of social media is a powerful strategy for marketing and public relations strategies,” says Rene S. Canoneo, advisor at Contextual Digital Advertising Platform (SITTI), an Indonesia’s based search engine. (Burhan Abe)

High End Magazine August 2011 Edition

Tuesday, August 09, 2011

Seeking good health and beauty care in the Lion State


A rumor is circling that well-known singer Syahrini had plastic surgery to enhance her appearance for the stage. A source revealed that the singer of “Aku Tak Biasa” (I’m not used to it) spent millions of rupiah having surgery on various parts of her body, including the nose and buttocks.

The fact that many Indonesian celebrities have undergone plastic surgery is not unusual. Titi DJ, Becky Tumewu and Ruth Sahanaya have all admitted to having procedures, including tummy tucks and breast enhancements. Krisdayanti, another renowned singer, has also openly acknowledged having plastic surgery in Singapore.

Plastic surgery is no longer taboo for celebrities, especially for esthetic reasons. Singapore is the most frequently mentioned destination for such procedures. Indeed, the city-state, besides being a shopper’s haven, is widely known as a health tour destination. Many government officials and wealthy people from many countries visit Singapore for this purpose.

The World Health Organization (WHO) has even crowned Singapore for the quality of its healthcare in Asia and ranked it No. 6 in the world. The 707.1-square-kilometer city is widely known for its excellent hospitals and expert doctors and it has lots of international standard hospitals to serve patients from a large number of countries.

Patients not only from neighboring countries — still developing ones — travel to Singapore for treatment but those from highly developed countries also visit the country for its extensive medical services. This was previously quite unimaginable.

This is because high-tech medical equipment and professional doctors are no longer the monopoly of highly developed countries where the cost can be prohibitive. So Singapore provides quality services at a lower cost than say the United States. This has drawn a large number of patients to Singapore.

In view of the potential, it is unsurprising that Singapore strives to maintain the quality of its services. As a matter of fact, Singapore’s medical and healthcare facilities have been acknowledged as the best in Southeast Asia. In addition, both the Singapore government and private hospitals keep enhancing their service by making further breakthroughs through intensive research.

Singapore’s quality medical and health services, offered at an affordable price, lure a huge number of patients annually from many countries, especially Asian countries, including Indonesia.

Meanwhile, Malaysia should not be underestimated either as it has earned a huge amount of foreign exchange from medical services extended to patients from a number of countries. This sector has made a profitable contribution to Malaysia’s economy.

The Malaysia Hospitals Association estimates that the sector contributed as much as Rp 1.78 trillion in 2010 from about 625,000 foreign patients.  Frost & Sullivan’s Indonesian country director, Eugene van de Weerd, says that medical tourism has made a significant contribution to the economy of several Asian countries and has become an important component for the planning and development of their health and medical services.

According to a press release by Van de Weerd, the market value of medical tourism in Asia, especially Singapore, Malaysia, Thailand and India, reached US$3 billion from 2007 to 2008 and is set to increase to $4.4 billion by 2012.

However, Singapore is still considered the market leader due to its superior equipment, facilities and services, which are recognized as the best by many patients from other countries. Both its state and private hospitals have the latest and most sophisticated equipment to maintain the highest standard in medical care and services.

The majority of Singapore’s hospitals are regarded as the benchmark of quality health and medical services in the ASEAN region and thus it has built Singapore’s reputation as a leading medical and healthcare center.

Singapore strives to maintain its leading position in this sector, especially in the ASEAN region. Its sophisticated facilities and professional doctors are able to attract international patients for quality medical care at prices that are far more affordable than in their own countries.

Basically, a winning point for Singapore is its leading, high quality and extensive facilities as well as huge number of expert doctors and medical workers that are highly competent in their specialized fields, including having the latest diagnostic facilities.

This is one of the reasons renowned singer Krisdayanti had no qualms about having a number of cosmetic procedures in the Lion State. She said she was selective when choosing a doctor for her operations, but she did not fret about the cost of looking better.  “It sounded costly at first impression, but what’s important is that it was successful, satisfactory and accounted for in my case,” she commented.

Krisdayanti, who is widely known as KD, released a biography a few years ago written by Alberthiene Endah titled Catatan Hati Krisdayanti: (Krisdayanti’s Heart Notes:) My Life, My Secret, in which she revealed she’d had breast surgery in 2004. In addition, Krisdayanti, the younger sister of songstress Yuni Shara, also talked about having a tummy tuck in Singapore in 2008 as well as Botox injections.

Recently, one of Singapore’s leading newspapers reported a significant increase in the number of patients (foreign and local) having undergone or intending to undergo such procedures. Also reported by xinhua.net after cross-checking with nine plastic and esthetic surgeons in Singapore, there has been a 30 percent increase in the number of patients over the past five years. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, August 10, 2011


Monday, August 08, 2011

Remarkable Ramadhan at Four Seasons Jakarta


EXPERIENCE the holy month of Ramadhan as Four Seasons Hotel Jakarta presents special ambience and promotion for guests to enjoy. From the unique lobby centrepiece, beautiful ambience at Seasons Café, delightful breakfasting spread at both Seasons Café and Lai Ching to special room promotions for the whole family and special packages for meetings and gatherings, Four Seasons Hotel Jakarta ensures that guests’ experience will be a memorable one.

A unique lobby centerpiece is prepared to welcome the guests to the hotel. On the centre of the lobby, a beautiful five-meter tall replica of The Mosque of Muhammad Ali Pasha or Alabaster Mosque in Egypt is created by two kitchen artists, Mr. Sobari and Mr. Bahrun. This styrofoam based artwork is coated by at least 180 kg chocolate and it takes two weeks time of work to finish this beautiful mosque from the scratch.

During Ramadhan, the hotel has prepared an array of dining selections for you to break your fast in Four Seasons style. Work together with Kuwait Airways, Four Seasons Hotel Jakarta presents “Breakfasting with a Touch of Egypt” in Seasons Café from 1 - 28 August 2011.  Guests will be able to enjoy the ambience of Egypt at Seasons Café while enjoying a wide variety of authentic Egyptian Cuisines specially prepared by Guest Chef Zaghloul Tawfik from Four Seasons Resort Sharm El-Sheikh.

Throughout this Holy Month of Ramadhan the experienced Chef Zaghloul presents his specialty dishes such as Chicken Shawarma (shaved roasted marinated chicken served with Pita bread), Shish Taouk (Chicken in traditional Egyptian shish kebab) and the mouth-watering desserts including Basboosa (baked semolina cake dipped in sugar syrup), Umm Ali (Bread Pudding, Mixed Nuts Topped with Whipped Cream) and many other favourites. These Egyptian delicacies are available for lunch buffet at Rp 198.000 ++ per person; Special Breakfasting Buffet at Rp 248.000 ++ per person including tea, date juice, tajil and dates and Sunday Brunch at Rp 415.000 ++ per person including free flow of fruit juices.

Cooking classes are available on 6 and 13 August at Rp 300.000 ++ per person as Chef Zaghloul Tawfik will reveal the secrets of Egyptian cooking. All classes are inclusive of cooking materials, recipes, apron and a voucher for breakfasting buffet.

In Lai Ching restaurant, delightful breakfasting which offers spread mouth-watering Dim Sum buffet included choices of Chinese main course, live cooking fresh noodle, light dessert, tajil, Chinese tea, hot tea, ice tea or lemon tea is prepared for you to break your fast with your family and colleagues. This special offer is available at Rp 148.000 ++ per person.

During this promotion, guests will also be able to enjoy a memorable stay with Ramadhan Package starts from Rp 1.450.000++/room/night inclusive of breakfast or in-room Sahur menu and Tajil buffet at Lobby Lounge for two (valid from 1 - 25 August 2011 for Indonesian and KITAS holder with two nights minimum stay). Lebaran Package starts from Rp 1.600.000++/room/night where guests can stay longer during Idul Fitri - stay in the spacious Deluxe Room for three nights and get a complimentary fourth night including daily buffet breakfast for two (valid from 26 August - 11 September 2011 for Indonesian and KITAS holder).

To share the happiness of Idul Fitri, the Hotel presents a variety of gift selections at The Deli and The Spa. These beautiful gift selections are available from 1 August - 3 September 2011 start from Rp 995.000 net for Deli Hampers and Rp 815.000 + for Spa Hampers.

During this festive season, the Hotel’s experienced Group and Catering Sales team will assist guests for their meetings and gatherings with a special festive package. For Ramadhan and Halal Bi Halal Gathering, guests can enjoy delicious cuisine starting from Rp. 250,000++ per person for a minimum order of 30. This offer is valid from 1 August - 18 September 2011.  Ramadhan Group Offer also available starts from Rp 1.700.000 net/room/night inclusive of breakfast/sahur for single person, in-room internet access and full day meeting package. This offer is valid from 1 August – 11 September 2011 for weekdays/weekends for minimum 10 rooms of single occupancy.

Four Seasons Hotel Jakarta
Jalan H. R. Rasuna Said, Jakarta 12920
Telephone:  (62 21) 252 3456
Fax: (62-21) 252 0287


Wednesday, August 03, 2011

Tradisi, Budaya, dan Alam Asri di Gunung Geulis

JAKARTA adalah rimba bangunan modern, tapi siapa nyana hanya satu jam perjalanan dengan mobil, terdapat resor alami dengan pemandangan alam yang sungguh asri. Di kawasan Gunung Geulis, menjelang Puncak, Bogor inilah saya dan beberapa teman media menemukan Amalina, nama resor ini yang sebetulnya belum sempurna, karena belum menerima tamu untuk menginap, tapi hanya untuk function tertentu saja.

Memasuki Amalina serasa back to nature, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan Metropolitan Jakarta. Bangunan tradisional, dengan fasilitas modern, membuat kami bisa berlama-lama di sini. Tidak perlu AC, karena udara sekitar sungguh sejuk alami. Ditemani dengan makanan ‘desa’ –  nasi putih, sayur asem, ikan goreng, tahu, tempe, dan sambal tentu saja, lengkap sudah kenikmatan siang itu, Kamis, 26 Juli 2011.

Amalina berasal dari kata dari bahasa Arab yang berarti “berkah yang terus menerus mengalir”. Konsep yang diterapkan di Amalina adalah pelestarian lingkungan dan budaya yang diaplikasikan dalam bentuk rumah-rumah tradisional warisan leluhur bangsa Indonesia yang akrab dan menyatu dengan alam sekitar.

Saat ini Amalina memiliki tiga rumah tradisional Indonesia, yaitu Rumah Bali, Rumah Jawa tipe Joglo dan Rumah Banjar tipe Bubungan Tinggi. Ketiga rumah tradisional ini dibangun dengan tetap mempertahankan keaslian dan karakteristik daerahnya, namun dengan mengakomodir kebutuhan kehidupan moderen.

Ketiga bangunan di Amalina dibangun tanpa merusak lingkungan. Setiap batu yang ditemukan saat pembangunan diletakkan ditempatnya atau dijadikan ornamen bangunan. Bangunan juga didirikan di lahan yang tidak ditumbuhi pohon-pohon besar agar kelestarian lingkungan dapat terjaga.

Danau yang ada di kawasan Amalina ini dahulunya adalah sawah milik pribadi yang kemudian dialihfungsikan menjadi sumber pengairan bagi penduduk sekitar karena di luar area ini sumber air tidak mudah didapat. Air yang mengisi danau berasal dari 9 mata air yang berada di kawasan sekitar Rumah Bali.

Rumah Bali – Amaputri
Kompleks rumah Bali yang diberi nama “Amaputri” adalah bangunan yang pertama kali didirikan di Amalina, yaitu tahun 2004 - 2005. Konsep arsitektur Bali sengaja pertama kali dipilih karena Bali telah dikenal luas, baik dalam skala nasional maupun internasional. Oleh karenanya dari mulai gerbang depan Amalina, konsep Bali sudah diterapkan.

Ada tiga bangunan Amaputri, yaitu “Wantilan” yang merupakan bangunan tempat berkumpul, kamar tidur dan mushalla. Semua bangunan didominasi material alami, yaitu alang-alang, bambu, rotan, kayu dan batu, yang semuanya merupakan kekayaan alam Indonesia. Atap bangunan menggunakan alang-alang dengan buluh bambu yang diikat dengan rotan. Alang-alang merupakan tanaman sejenis rumput liar yang dikeringkan dan kemudian dijalin untuk disusun menjadi atap.

Wantilan
Struktur bangunan Wantilan menggunakan kayu ulin dari Kalimantan Selatan. Pemilihan kayu ulin dikarenakan curah hujan di area Amalina sangat tinggi dan sifat kayu ulin, semakin terkena air, akan semakin kuat. Sedangkan untuk lantai, menggunakan kayu Bingkirai, juga dari Kalimantan Selatan.

Lapisan dinding Wantilan menggunakan batu paras Bali. Sedangkan ornamen Bali di belakang “gebyok” menggunakan batu candi dari Jawa Tengah dan dindingnya menggunakan batu “Krobogan” dari daerah Krobogan - Bali. Keunikan batu “Krobogan” ini adalah, batu ini ditumbuhi sejenis lumut tertentu yang tidak hidup di batu lainnya dan lumut ini akan memperindah tampilan batu tersebut hingga kelihatan antik. Pemandangan ini banyak dilihat pada bangunan-bangunan di Bali.

Area toilet menggunakan material batu terazzo, yang dikerjakan dengan cara “polished finishing” maupun “rough finishing”.

Sebagian besar furnitur terbuat dari kayu. Topping untuk Coffee Table merupakan kayu jati tua bekas bantalan kereta api jaman Belanda yang dipadu dengan kaki pohon. Papan bangku berasal dari Timor, Nusa Tenggara; sedangkan meja lampu yang ada di Wantilan dulunya merupakan lesung untuk menumbuk padi yang diberi topping kaca.

Ada pun mushalla, keunikannya adalah paduan antara unsur budaya Bali dan Jawa. Atap bangunan tetap menggunakan atap Rumah Bali, namun dipadu dengan “Soko Guru” (main pillar) dan “Tumpang Sari” yang berasal dari bangunan Rumah Joglo. Bangunan Joglonya sendiri diletakkan di area gerbang.

“Tumpang Sari” merupakan ukiran bersusun yang ada di plafond suatu Rumah Joglo. Menurut budaya Jawa, derajad bangunan suatu rumah terlihat dari jumlah susunan ukiran “Tumpang Sari”, dan selalu berjumlah ganjil. Yang tertinggi adalah 11 susun, seperti yang terdapat di mushalla ini.

Struktur bangunan mushalla, seluruhnya menggunakan kayu jati tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Sedangkan bangunan di dekat mushalla merupakan bangunan untuk para penjaga yang didesain sama dengan bangunan lainnya.

Ada pun kamar tidur, struktur bangunannya juga menggunakan kayu ulin dari Kalimantan Selatan. Sedangkan kusenkusen jendela dibuat dari kayu jati tua ratusan tahun yang dibeli dari bekas bongkaran rumah di Jawa Tengah yang sudah tidak digunakan lagi.

Kamar tidur utama sengaja didesain dengan nuansa Oriental untuk menunjukkan bagaimana arsitektur Bali secara fleksibel dapat dipadukan dengan interior etnik negara lain seperti Cina dan Thailand.

Area bathtub merupakan area yang paling unik karena adanya batu-batuan besar yang ditemukan saat penggalian. Saat melakukan “cut and fill” untuk membangun area kamar, ditemukan batu-batuan. Batu-batu ini tidak dipindah, demikian pula dengan susunannya tidak diubah. Untuk menyatukan batu-batu ini dengan interior kamar, dibuat bathtub yang menyatu dengan batu-batuan tersebut.

Untuk menambah pencahayaan dan menyerap energi positif, dibuat skylight berbentuk piramid di atas batu. Saat yang paling indah adalah ketika berendam di bathtub sambil memandang bulan purnama yang jatuh tepat ditengah skylight.

Pilihan material untuk bathtub dan lantai sekitarnya adalah batu terazzo yang diaplikasikan mengikuti bentuk batu. Demikian pula area shower dan toilet menggunakan batu terazzo. Untuk dapat membuat bentuk sesuai keinginan, terazzo harus dibuat menjadi bubur batu terlebih dahulu, kemudian baru diaplikasikan dalam bentuk yang dikehendaki dan selanjutnya proses polish dilakukan seperti halnya proses polish marmer. Proses dilakukan berkali-kali hingga batu menjadi timbul dan mengkilat. Khusus di area shower, bubur batu terazzo dicampur dengan kulit kerang sehingga terlihat berkilat-kilat.

Wash basin dan keran yang digunakan di Amaputri, seluruhnya terbuat dari tembaga. Untuk wash basin tembaga, diperoleh dari daerah Jawa Tengah, di suatu kampung yang bernama “Tumang” di mana seluruh penduduknya merupakan pengrajin tembaga.

Seluruh air yang digunakan di Amaputri berasal dari 9 mata air yang berada di area kamar. Mata air tersebut sebagian dialirkan ke danau dan sebagian ke ground tank di area luar bathtub. Dari ground tank, air didorong ke water tank di area lahan paling atas dan kemudian dialirkan turun dengan gravitasi. Agar keberadaan water tank tidak merusak keindahan pemandangan sekitar, maka di atasnya dibangun “Bale Bengong” Bali untuk duduk-duduk melihat pemandangan dari ketinggian.

Kalau melihat konsep bangunan, juga kondisi lingkungan sekitarnya, tidak salah,  Amalina adalah tradisi dan budaya yang bersatu di alam asri di Gunung Geulis….

Amalina
Jl. Bukit Pelangi Raya, Gunung Geulis
Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Tuesday, August 02, 2011

Beach Party @ The Acacia Anyer

DULU organisasi untuk profesi wartawan hanya satu, yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang pada masa Orde Baru sangat ‘powerfull’.  Tapi setelah reformasi lahirlah berbagai organisasi tandingan yang tidak kalah bergiginya, lebih independen dan mempunyai tujuan lebih jelas.

Salah satunya adalah Himpunan Anak Media (HAM), yang menghimpun para wartawan dan anak-anak yang bekerja di media. Saat ini diketuai Hadi Suwarno. Organisasi, tepatnya paguyuban ini, memiliki tujuan yang lebih praktis, menjembatani antara media dan nara sumber – yang kebanyakan bergerrak dalam bidang hotel dan hospitality. Maka, jangan heran kalau agendanya, yang terkesan di permukaan, adalah makan-makan dan jalan-jalan.

Salah satunya adalah Trial Media Gathering Beach Party @ The Acacia Anyer, 22 - 23 Juli 2011. Selain mengenal lebih jauh properti yang baru dibuka tahun ini, tentu saja pesta pantai!

Acara yang diorganisasikan oleh manajemen dan staf The Acacia Jakarta ini diawali dari di Fountain Bar The Acacia Jakarta sebagai tempat keberangkatan dan berakhir di tempat itu pula. Bis mewah White Horse membawa 27 orang dari 18 media menuju Anyer dan mengembalikannya ke Jakarta tentunya. Selain White Horse , acara ini juga didukung oleh Grand Odiseus Fitness & Spa The Acacia Jakarta, Elite Club Episentrum Rasuna.

Pesta sebetulnya sudah berlangsung di sepanjang perjalanan, karena bis yang pertama kali digunakan Zbuss buatan Eropa ini dilengkapi dengan karaoke. Para wartawan yang pekerjaannya menulis itu ternyata juga jago menyanyi – tidak penting suaranya merdu atau fals. Yang penting fun! Keceriaan itu berlanjut sampai ke resor, mulai dari BBQ party, nyanyi-nyanyi, hingga water sport.

The Acacia Anyer adalah salah satu properti baru The Acacia Hotels & Resorts yang berlokasi di Jalan Raya Anyer – Carita KM 28, Serang, Banten. Berkonsep resort & lounge properti ini memiliki 30 kamar berbagai tipe, mulai dari deluxe, executive, junior executive hingga family suite. Desain interiornya adalah paduan seni dan kemewahan ala Eropa dengan pelayanan keramahan khas Asia, khususnya Indonesia. Kenyamanan, kesejukan suasana pantai, dan indahnya panorama alam menambah daya pikat dan keistimewaan hotel ini.

Untuk mendukung sebagai hotel pilihan untuk bisnis maupun liburan, The Acacia Anyer menyediakan fasilitas ruang pertemuan royal jasmine yang berkapasitas hingga 30 orang serta ruang terbuka upper room serba guna yang cocok untuk berbagai pesta dapat mengakomodasi hingga 300 orang. Di lantai ini pula terdapat ruang executive karaoke. Riverside Fountain Bar adalah bar utama untuk bersantai atau berbisnis sambil menikmati berbagai varian minuman dan makanan ringan. Promenade Café menyuguhkan hidangan tradisional, western, dan international. Kapasitas tempat duduknya mencukupi hingga 80 tempat duduk.  

Kolam renang untuk berbagai generasi dari anak – anak, remaja hingga dewasa. Serta menyediakan berbagai fasilitas olah raga hingga arena bermain anak atau play ground ala pantai.

Yang menginginkan layanan pribadi,  hotel ini juga menawarkan lima private room yang disediakan bagi tamu yang menginginkan layanan ekslusif. Di dalamnya terdapat fasilitas private, seperti lounge, bar,  ada ruang  yang berfungsi sebagai ruang makan juga bisa berfungsi sebagai ruang rapat, dan private karaoke.

Menurut  PR Manager The Acacia Jakarta, Sidik Kadarsyah,  Acacia Anyer  mengupayakan melayani dan menyesuaikan layanan standar hotel bintang empat. Lokasinya berada dekat dengan beberapa objek wisata favorit di Anyer, kawasan industri Krakatau Steel, serta tak jauh dari pintu keluar tol Merak.

Sampai saat ini The Acacia Hotels & Resorts mengoperasikan sejumlah properti di berbagai kota besar beberapa provinsi di  Indonesia antara lain: The Acacia Jakarta, The Acacia Batam, Batam Hill Golf & Resort, Bukit Darmo Golf (Surabaya), dan tentu saja The Acacia Anyer. Dalam waktu dekat Acacia juga akan memperluas ekpansinya ke Solo, Jawa Barat, dan Bali.

Artinya, media gathering party agaknya tidak berhenti sampai di sini. Yeaaaahh…

Cosmo Launches iPad-Only Magazine for Men


Cosmopolitan, long the resident authority on heterosexual dating and mating for teenage and adult women alike, has launched its first magazine for men, CFG: Cosmo for Guys.

Men won’t find this guide to women by women on newsstands, however. Instead, CFG is launching solely on the iPad, available via the App Store [iTunes link] for $1.99 per issue, $3.99 per month or $19.99 per year.

Cosmo Editor-in-Chief Kate White believes there is a demand for the product. Approximately 7.4% of Cosmo‘s readership is male, according to data from MRI. And more than one-third of visitors to cosmo.com every month are men, White says.

Since White arrived at the magazine in 1998, she says she has received hundreds of letters and emails from men who confessed that they were stealing their girlfriends’ or their wives’ copies when they weren’t around. “They said it was like having the other team’s playbook,” she recalls. “And a fair number of those emails said I ought to do something for guys.”

White says she mocked up a cover for a men’s Cosmo years ago, but couldn’t imagine men actually purchasing it. But when the iPad came along, she realized that it would allow men to read privately, in a way that was more interactive and engaging than what a website could offer.

Furthermore, the iPad has enabled Cosmo to test out, in a cost-efficient manner, what is still an arguably volatile market for magazines. With the exception of one “special projects” hire, White was able to leverage Cosmo‘s existing editorial and design resources to produce the magazine, which is scheduled to publish 12 issues over the next year.

The app itself is strong. In fact, with its moving flowcharts, resizable video and compactly designed features, it’s much more interactive and engaging than the bonus issue Cosmo released for the iPad this spring.

Working in conjunction with Hearst’s digital team, Cosmo‘s design department has departed from the magazine format a little, especially from a navigation standpoint. Instead of a traditionally crowded table of contents, for instance, the app’s home screen features five pairs of section titles and thumbnails to choose between. Users can hold down one of the thumbnails to display all of the stories in that section.
I was particularly impressed with the “Will She Like It?” and “Read Her Mind” features, which pull in live poll data from cosmo.com to help men understand what fashion trends women find appealing, and what movie they are going to want to see this weekend, among other things.

Whether the app itself succeeds, White intends to build out the CFG franchise. This fall, the team is launching both a CFG radio show on SiriusXM (channel 109) and a book bearing the CFG label.

As for the original Cosmo? White says it’s coming to the iPad soon. Meanwhile, it’s enjoying strong sales on Barnes & Noble’s Nook ereader alongside many other women’s magazines on the device. (Lauren Indvik)

Monday, August 01, 2011

Turkish Flavors


SUASANA Ramadhan di Indonesia selalu identik dengan Timur Tengah. Memang tidak tepat, tapi ini adalah salah satu cara umat Muslim di dunia mengidentifikasi dirinya – tentu saja di beberapa negara berbaur dengan kebudayaan setempat.  Maka jangan heran kalau masuk Ramadhan banyak restoran-restoran di Indonesia yang menghias diri dengan pernak-pernik yang berbau Timur Tengah, bahkan menu-menu yang dipilih pun berasal dari khasnah dunia Islam.

The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, adalah salah satu contohnya. Ramadhan tahun ini, hotel yang berlokasi di Sudirman Central Business District (SCBD) ini telah mempersiapkan serangkaian acara berbuka puasa dimulai dari Pacific Restaurant & Lounge yang menghadirkan Turkish Chef Ismail Donmez dari The Ritz-Carlton, Istanbul dan beberapa paket berbuka puasa untuk perusahaan ataupun corporate iftar di meeting room dan ballroom dengan total luas 7.800m2.

Seperti biasa, saya dan teman-teman wartawan mendapat kesempatan untuk mendapatkan preview, alias icip-icip makanan, 29 Juli lalu, yang nantinya akan dihidangkan sepanjang Ramadhan. Bersama Chef Ismail Donmez kami dapat pelajaran memasak ala Turki, dan tentu saja mencicipi hidangannya. Di antaranya mantarli biorek- fillo pastry isi, kasarli kofte- domba atau ayam cincang dengan campuran bumbu rempah, chicken yayla kebab, dolmasi disertai dengan hidangan penutup istimewa baklava dan sultan lokmasi- buah ara kering Turki yang direndam.

Hidangan itulah, dalam acara yang disebut Turkish Flavors, mulai tersedia sejak 31 Juli hingga 29 Agustus 2011 di restoran, yang berlokasi di lantai 6 hotel. Berbagai hidangan Turki, Timur Tengah dan Indonesia siap menyambut para tamu berbuka puasa bersama dengan keluarga, kerabat ataupun rekan bisnis. Harga paketnya Rp 258.000++ per orang termasuk free flow jus, sedangkan anak-anak berusia 5-12 tahun dapat menikmatinya dengan harga Rp 158.000++ per anak.

Bagi para tamu yang memilih berbuka puasa dalam suasana yang lebih santai di area terbuka, Turkish Chef Ismail juga mempersiapkan hidangan panggang spesial Timur Tengah, antara lain Shawarmas, Arabic grilled fish, Egyptian beef kebab di 8 Lounge, yang berlokasi di lantai 8 hotel dengan setting taman dengan minimum pemesanan untuk 30 orang. Harganya dimulai dari Rp  288.000++.

Untuk corporate iftar, departemen Catering & Conference Services dan tim culinary yang dipimpin oleh Executive Chef Sean MacDougall telah mempersiapkan sejumlah pilihan hidangan menu Indonesia, Chinese dan Timur Tengah untuk disajikan pada waktu berbuka puasa pada saat ataupun sesudah corporate gathering. Harga dimulai dari Rp 228.000++ per orang.

Ramadhan pun ternyata bisa dilalui dengan ceria, apalagi kalau di sebuah venue yang berkelas.  Pacific Restaurant & Lounge merupakan kombinasi dari restoran dengan lounge dan bar yang nyaman dengan pemandangan kesibukan kota Jakarta yang dinamis. Desain dengan dekorasi suasana nyaman oleh Hirsch dan Bedner Singapore, restoran ini terbagi menjadi tiga area yaitu area lounge, bar serta area restoran termasuk empat ruangan privat untuk bersantap. Desain restoran merupakan gabungan elemen marmer dan perabotan kayu dengan warna tanah dengan jendela kaca yang besar, memberikan keleluasaan tamu untuk menikmati pemandangan terbaik dari Jakarta.

Pacific Restaurant & Lounge yang elegan dapat mengakomodasi lebih dari 100 tamu untuk bersantap dengan area lounge yang akan menjadi tempat untuk berkumpul yang eksklusif dan elegan untuk acara formal maupun informal.

Restoran dengan konsep a la carte buffet, yaitu prasmanan namun dengan presentasi porsi personal yang ditata dengan detil oleh tim kulinari di bawah pimpinan Executive Chef Sean Macdougall dan Chef de Cuisine Reuben Winantyo, menawarkan pula berbagai menu yang special dengan menonjolkan premium grills dengan memperlihatkan kelezatan dari Asian dan Mediterranean dipadukan dengan tapas style.

Area lounge merupakan tempat yang cocok untuk menikmati acara minum teh sore ala tradisional inggris dengan berbagai pilihan makanan ringan, resepsi koktail, dengan beragam koleksi cerutu serta berbagai racikan cocktails untuk dinikmati dengan mitra bisnis, teman atau keluarga.

Marhaban Ya Ramadhan!