Wednesday, August 03, 2011

Tradisi, Budaya, dan Alam Asri di Gunung Geulis

JAKARTA adalah rimba bangunan modern, tapi siapa nyana hanya satu jam perjalanan dengan mobil, terdapat resor alami dengan pemandangan alam yang sungguh asri. Di kawasan Gunung Geulis, menjelang Puncak, Bogor inilah saya dan beberapa teman media menemukan Amalina, nama resor ini yang sebetulnya belum sempurna, karena belum menerima tamu untuk menginap, tapi hanya untuk function tertentu saja.

Memasuki Amalina serasa back to nature, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan Metropolitan Jakarta. Bangunan tradisional, dengan fasilitas modern, membuat kami bisa berlama-lama di sini. Tidak perlu AC, karena udara sekitar sungguh sejuk alami. Ditemani dengan makanan ‘desa’ –  nasi putih, sayur asem, ikan goreng, tahu, tempe, dan sambal tentu saja, lengkap sudah kenikmatan siang itu, Kamis, 26 Juli 2011.

Amalina berasal dari kata dari bahasa Arab yang berarti “berkah yang terus menerus mengalir”. Konsep yang diterapkan di Amalina adalah pelestarian lingkungan dan budaya yang diaplikasikan dalam bentuk rumah-rumah tradisional warisan leluhur bangsa Indonesia yang akrab dan menyatu dengan alam sekitar.

Saat ini Amalina memiliki tiga rumah tradisional Indonesia, yaitu Rumah Bali, Rumah Jawa tipe Joglo dan Rumah Banjar tipe Bubungan Tinggi. Ketiga rumah tradisional ini dibangun dengan tetap mempertahankan keaslian dan karakteristik daerahnya, namun dengan mengakomodir kebutuhan kehidupan moderen.

Ketiga bangunan di Amalina dibangun tanpa merusak lingkungan. Setiap batu yang ditemukan saat pembangunan diletakkan ditempatnya atau dijadikan ornamen bangunan. Bangunan juga didirikan di lahan yang tidak ditumbuhi pohon-pohon besar agar kelestarian lingkungan dapat terjaga.

Danau yang ada di kawasan Amalina ini dahulunya adalah sawah milik pribadi yang kemudian dialihfungsikan menjadi sumber pengairan bagi penduduk sekitar karena di luar area ini sumber air tidak mudah didapat. Air yang mengisi danau berasal dari 9 mata air yang berada di kawasan sekitar Rumah Bali.

Rumah Bali – Amaputri
Kompleks rumah Bali yang diberi nama “Amaputri” adalah bangunan yang pertama kali didirikan di Amalina, yaitu tahun 2004 - 2005. Konsep arsitektur Bali sengaja pertama kali dipilih karena Bali telah dikenal luas, baik dalam skala nasional maupun internasional. Oleh karenanya dari mulai gerbang depan Amalina, konsep Bali sudah diterapkan.

Ada tiga bangunan Amaputri, yaitu “Wantilan” yang merupakan bangunan tempat berkumpul, kamar tidur dan mushalla. Semua bangunan didominasi material alami, yaitu alang-alang, bambu, rotan, kayu dan batu, yang semuanya merupakan kekayaan alam Indonesia. Atap bangunan menggunakan alang-alang dengan buluh bambu yang diikat dengan rotan. Alang-alang merupakan tanaman sejenis rumput liar yang dikeringkan dan kemudian dijalin untuk disusun menjadi atap.

Wantilan
Struktur bangunan Wantilan menggunakan kayu ulin dari Kalimantan Selatan. Pemilihan kayu ulin dikarenakan curah hujan di area Amalina sangat tinggi dan sifat kayu ulin, semakin terkena air, akan semakin kuat. Sedangkan untuk lantai, menggunakan kayu Bingkirai, juga dari Kalimantan Selatan.

Lapisan dinding Wantilan menggunakan batu paras Bali. Sedangkan ornamen Bali di belakang “gebyok” menggunakan batu candi dari Jawa Tengah dan dindingnya menggunakan batu “Krobogan” dari daerah Krobogan - Bali. Keunikan batu “Krobogan” ini adalah, batu ini ditumbuhi sejenis lumut tertentu yang tidak hidup di batu lainnya dan lumut ini akan memperindah tampilan batu tersebut hingga kelihatan antik. Pemandangan ini banyak dilihat pada bangunan-bangunan di Bali.

Area toilet menggunakan material batu terazzo, yang dikerjakan dengan cara “polished finishing” maupun “rough finishing”.

Sebagian besar furnitur terbuat dari kayu. Topping untuk Coffee Table merupakan kayu jati tua bekas bantalan kereta api jaman Belanda yang dipadu dengan kaki pohon. Papan bangku berasal dari Timor, Nusa Tenggara; sedangkan meja lampu yang ada di Wantilan dulunya merupakan lesung untuk menumbuk padi yang diberi topping kaca.

Ada pun mushalla, keunikannya adalah paduan antara unsur budaya Bali dan Jawa. Atap bangunan tetap menggunakan atap Rumah Bali, namun dipadu dengan “Soko Guru” (main pillar) dan “Tumpang Sari” yang berasal dari bangunan Rumah Joglo. Bangunan Joglonya sendiri diletakkan di area gerbang.

“Tumpang Sari” merupakan ukiran bersusun yang ada di plafond suatu Rumah Joglo. Menurut budaya Jawa, derajad bangunan suatu rumah terlihat dari jumlah susunan ukiran “Tumpang Sari”, dan selalu berjumlah ganjil. Yang tertinggi adalah 11 susun, seperti yang terdapat di mushalla ini.

Struktur bangunan mushalla, seluruhnya menggunakan kayu jati tua yang umurnya sudah ratusan tahun. Sedangkan bangunan di dekat mushalla merupakan bangunan untuk para penjaga yang didesain sama dengan bangunan lainnya.

Ada pun kamar tidur, struktur bangunannya juga menggunakan kayu ulin dari Kalimantan Selatan. Sedangkan kusenkusen jendela dibuat dari kayu jati tua ratusan tahun yang dibeli dari bekas bongkaran rumah di Jawa Tengah yang sudah tidak digunakan lagi.

Kamar tidur utama sengaja didesain dengan nuansa Oriental untuk menunjukkan bagaimana arsitektur Bali secara fleksibel dapat dipadukan dengan interior etnik negara lain seperti Cina dan Thailand.

Area bathtub merupakan area yang paling unik karena adanya batu-batuan besar yang ditemukan saat penggalian. Saat melakukan “cut and fill” untuk membangun area kamar, ditemukan batu-batuan. Batu-batu ini tidak dipindah, demikian pula dengan susunannya tidak diubah. Untuk menyatukan batu-batu ini dengan interior kamar, dibuat bathtub yang menyatu dengan batu-batuan tersebut.

Untuk menambah pencahayaan dan menyerap energi positif, dibuat skylight berbentuk piramid di atas batu. Saat yang paling indah adalah ketika berendam di bathtub sambil memandang bulan purnama yang jatuh tepat ditengah skylight.

Pilihan material untuk bathtub dan lantai sekitarnya adalah batu terazzo yang diaplikasikan mengikuti bentuk batu. Demikian pula area shower dan toilet menggunakan batu terazzo. Untuk dapat membuat bentuk sesuai keinginan, terazzo harus dibuat menjadi bubur batu terlebih dahulu, kemudian baru diaplikasikan dalam bentuk yang dikehendaki dan selanjutnya proses polish dilakukan seperti halnya proses polish marmer. Proses dilakukan berkali-kali hingga batu menjadi timbul dan mengkilat. Khusus di area shower, bubur batu terazzo dicampur dengan kulit kerang sehingga terlihat berkilat-kilat.

Wash basin dan keran yang digunakan di Amaputri, seluruhnya terbuat dari tembaga. Untuk wash basin tembaga, diperoleh dari daerah Jawa Tengah, di suatu kampung yang bernama “Tumang” di mana seluruh penduduknya merupakan pengrajin tembaga.

Seluruh air yang digunakan di Amaputri berasal dari 9 mata air yang berada di area kamar. Mata air tersebut sebagian dialirkan ke danau dan sebagian ke ground tank di area luar bathtub. Dari ground tank, air didorong ke water tank di area lahan paling atas dan kemudian dialirkan turun dengan gravitasi. Agar keberadaan water tank tidak merusak keindahan pemandangan sekitar, maka di atasnya dibangun “Bale Bengong” Bali untuk duduk-duduk melihat pemandangan dari ketinggian.

Kalau melihat konsep bangunan, juga kondisi lingkungan sekitarnya, tidak salah,  Amalina adalah tradisi dan budaya yang bersatu di alam asri di Gunung Geulis….

Amalina
Jl. Bukit Pelangi Raya, Gunung Geulis
Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

No comments:

Post a Comment