Friday, September 23, 2011

EnviroAsia 2011 (1)

Peduli Lingkungan untuk Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan di Asia

PESATNYA kemajuan ekonomi yang terjadi di Asia telah membuat negara-negara di kawasan ini mencapai kemakmuran yang dimpikannya selama puluhan tahun silam. Aneka kegiatan ekonomi yang intensif membutuhkan pasokan sumber daya yang sangat kuat, dan tentunya memang dimiliki negara-negara Asia ini dalam jumlah yang sangat besar. Gas alam dan minyak bumi, mineral, sumber daya manusia dan pemerintahan yang baik adalah beberapa faktor pendukung pertumbuhan ekonomi ini.

Populasi penduduk di kawasan Asia yang mencapai tiga milyar jiwa merupakan pendorong bagi benua ini untuk menjadi yang terdepan dalam kompetisi dunia. China, yang muncul sebagai kekuatan ekonomi baru, telah menunjukan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa setiap tahunnya, yakni mencapai 10 persen. India juga telah membuktikan akan mampu menjadi negara terdepan di dunia dalam industri berat. India merupakan salah satu dari 10 negara dengan GDP tertinggi di dunia.

Namun, harus disadari bahwa kesuksesan kerap diiringi sesuatu yang harus diperhatikan. Perkembangan ekonomi yang besar telah memberikan tekanan yang besar pula pada lingkungan dan sumber daya yang ada. Meningkatnya tekanan karbondioksida di atmosfir, polusi udara, pemanasan global, penggundulan hutan, dan pembuangan limbah; diperburuk dengan ekspansi ke perkotaan di kawasan Asia, terutama China dan India yang perlu segera dibenahi. Pada dasarnya, kota-kota yang berkembang pesat di Asia perlu meningkatkan efektifitas sumber daya untuk menciptakan pengembangan yang berkelanjutan.

Beragam bentuk limbah – limbah padat, polusi udara dan air yang terkontaminasi – telah meningkatkan ongkos yang cukup tinggi terkait kesehatan masyarakat dan efisiensi ekonomi yang mengancam kemakmuran kawasan. Perkembangan lebih lanjut yang berbasis karbon seperti batubara dan minyak bumi, perlu segera dievaluasi untuk memastikan bahwa penggunaan energi ini tidak berdampak pada peningkatan gas rumah kaca, yang berimbas pada perubahan iklim global. Sejalan dengan itu, peningkatan efisiensi sumber daya merupakan hal penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Asia-Pasifik.

China, melompati Amerika Serikat, saat ini menjadi produsen limbah terbesar di dunia, dan pemerintahnya berharap dapat mengurangi 30persen limbah tersebut melalui teknologi pengolahan limbah pada 2030 mendatang. Negara-negara di akwasan Asia Tenggara dihadapkan pada masalah tingginya biaya untuk memperbaiki sistem pengolahan limbah mereka.

Untuk mengatasi masalah ini, dan untuk memperlihatkan peralatan yang inovatif, teknologi, dan jasa dalam pengolahan limbah, air, dan polusi udara, EnviroAsia kelima akan hadir tahun ini di Suntec Singapora, dari 22 hingga 25 November 2011.

EnviroAsia2011 merupakan pergelaran penting bagi para praktisi industri, profesional, dan pemerintah. Teknologi-teknologi baru dalam pengembangan berkelanjutan, seperti pengolahan sumber daya air yang berkelnajutan, tatanan ramah lingkungan, pemilihan produk dan jasa yang tahan lama, tatanan pabrik yang berkelanjutan, model dan solusi bagi pabrik-pabrik agar memiliki tingkat konsumsi energi yang rendah, dan teknologi-teknologi baru dalam pemberdayaan energi akan ditampilkan dalam pameran ini.

Bersamaan dengan EnviroAsia2011, Pengembangan Berkelanjutan dan Konferensi pengolahan Limbah akan diadakan selama dua hari dan akan membahas beberapa isu terkait lingkungan, tantangan dan solusi dalam praktek dan inovasi efisiensi energi yang berkelanjutan.

Bisnis di Indonesia dan pihak-pihak berwenang yang berusaha mencari kesempatan dan solusi terkait industri mereka akan memperoleh manfaat luar biasa saat menghadiri acara ini karena mereka akan memperoleh kesempatan untuk melihat lebih dulu teknologi-teknologi terbaru yang akan membawa mereka pada kemajuan yang berkelanjutan, kepastian akan besarnya pertumbuhan yang akan mereka raih di masa mendatang.

Silahkan klik website EnviroAsia2011 di www.enviro-asia.com untuk mendaftar sebagai pengunjung atau delegasi yang menghadiri konferensi.

Kompas, 22 September 2011

No comments:

Post a Comment