Wednesday, November 30, 2011

Loe Gue End!

















ZARA Zettira, siapa yang tak kenal. Saya sendiri memang penasaran, bukan hanya karena dia penulis kondang, tapi jauh sebelum itu, mungkin di era 1990-an sedikitnya saya mewawancarinya dua kali ketika saya bertugas sebagai reporter Majalah EDITOR. Belakangan, wanita kelahiran kelahiran Jakarta 5 Agustus 1969 ini juga sering berkeliaran di lini masa Twitter saya dengan akun @ZaraZettiraZr. 

Di BlackBerry saya sebetulnya sempat berkomunikasi, tapi tanpa pernah bertatap muka. So, ketika Yaya, demikian panggilan akrabnya, mem-broadcast undangan peluncuran buku terbarunya ke ke BB saya, saya tidak menyia-nyiakannya. 

I cordially invite you to celebrate my new novel Loe Gue End! At Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, Monday, 28 November 2011, 3-6pm. Sincerely awaiting, Zara.

Terus terang, saya ingin melihat lebih dekat penulis selebriti ini, sambil ingin membandingkan di usia yang ke 42 tahun dengan dua anak dengan ketika masih remaja belia dulu. Meski bukan pembaca setia novel-novel Yaya, saya mengagumi keseriusan wanita ini dalam bidang tulis-menulis, yang bukan hanya sudah menjadi passion-nya, tapi mungkin sudah mendarah daging dalam hidupnya.

Biodata Yaya cukup menarik. Ayahnya berdarah Minang–Jawa dan Ibu berdarah Tionghoa–Belanda. Ia dibesarkan di Menteng Jakarta, menimba ilmu sejak TK hingga SMA di Sekolah St. Theresia Haji Agus Salim serta menamatkan SMA di Ora Et Labora Pondok Indah kemudian meneruskan kuliah di Fakultas Psikologi, UI.

Menulis awalnya adalah otodidak. Pada masa yang masih belia, ia sudah rajin menulis cerpen di beberapa majalah remaja. Ia juga menulis Catatan Si Boy yang marak di era 1980-an radio Prambors Rasisonia sampai ke layar perak. Di era yang sama ia melahirkan banyak novel remaja, antara lain di diterbitkan Gramedia, seperti Mimi Elektrik, Jodoh Kelana, Jejak Jejaka, dan Rasta Bella yang ditulis bersama Hilman “Lupus” Hariwijaya.

Sempat mengikuti mengikuti short course produksi film dan penulisan skenario di Los Angeles selama delapan bulan. Sekembalinya ke Indonesia ia menulis sinetron pertamanya dengan judul Janjiku yang masuk dalam jajaran sinetron Indonesia ber-rating tertinggi pada masa itu. Selanjutnya menulis ratusan judul sinetron mengalir dari tangannya, seperti sinetron Ramadhan (di antaranya Hikmah, Ikhlas, dan Zahra) dan Legenda Malin Kundang, bahkan Dia bertahan selama tiga tahun masa penayangan atau lebih dari 150 episode.

Tahun 2008 adalah tahun kembalinya Zara ke dunia penulisan buku. Terus terang saya kurang intens mengikuti sinetronnya, juga novel-novelnya yang lahir di era 2008, setelah Yaya kembali ke dunia penulisan buku, setelah sibuk mengurus keluarganya di Toronto-Kanada. Sebutlah Every Silence Has A Story, Samsara, Kebaya Wungu, Prahara Asmara 1 dan 2, Cinta Maya, dan Menentukan Hati. Tapi tentulah, cara penulisannya pasti berbeda dengan zaman remaja, juga dengan pengalaman batin yang berbeda pula sebagai ibu dua anak, Alaya dan Zsolti Zsemba. 

Lalu, mengapa ia tiba-tiba menulis novel remaja lagi, dengan judul yang sangat alay: Loe Gue End!? “Itu adalah pengalaman fans saya, yang dikirim bertubi-tubi seperti catatan harian, satu setengah tahun yang lalu,” ujar Yaya pada saat peluncuran bukunya di Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, 28 November 2011.

Rasa penasaran saya terjawab sudah. Yaya tidak berubah, masih cantik dan sangat humble. Dan yang penting, wanita yang kini bekerja di sebuah stasiun televisi Jakarta, dan menikah dengan David Henderson seorang dosen bisnis dan marketing berkebangsaan Inggris itu masih tetap produktif. Bahkan ia sekarang tidak hanya penulis profesional, tapi juga writerpreneur, novel Loe Gue End! adalah novel pertama yang diterbitkannya secara self publishing.

Tentang Vinza Inc., perusahaan penerbitan indie yang didirikan itu, ia mempunyai alasan tersendiri. “Saya suka tantangan. Jujur, saya berterimakasih pada penerbit-penerbit yang telah membantu saya memasuki dunia buku. Dan saya yakin para penerbit itu juga bangga melihat saya, anak didikan mereka, kini bisa mandiri. Bahkan mencoba membantu penulis-penulis lain.”

Lalu, bagaimana dengan Loe Gue End! sendiri? Ini juga menerbitkan rasa penasaran yang lain lagi. Sehabis book launching saya membaca buku berukuran 14 x 21 cm setebal 352 halaman itu semalaman sampai ludes. 

Novel ini boleh jadi akan menjadi hits Zara Zettira selanjutnya sebagai pencerita kisah nyata. Setelah sempat menerbitkan kisah nyata yang terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri beberapa tahun lalu, Zara Zettira dengan cantik menuturkan kisah yang berawal dari curhat salah satu pengunjung blognya. Karena apa yang dituturkan didasarkan pada kejadian nyata, penuturan Zara dalam Loe Gue End! ini terasa begitu nyata dan dekat, mengalir, dan tak dibuat-buat.

Dikisahkan seorang Alana – saya ambil dari resensinya ya –, gadis yang tumbuh dari kalangan sosialita Jakarta dengan segala kemudahan di sekelilingnya dan sahabat-sahabat dari kalangan yang sama pula. Tapi, jangan disangka tumbuh dalam lingkungan yang serba beroleh kemudahan membuat hidup Alana mudah dan mulus, lepas dari kepelikan hidup. Tumbuh di lingkungan serba punya dan kemudahan akses notabene memudahkan jangkauan Alana pada ‘barang-barang terlarang’. Alkohol, ecstasy, sampai heroin adalah benda-benda yang familiar tersebutkan dalam percakapan Alana dengan sahabat-sahabatnya. Begitu akrabnya, seakrab kita menggunakan gula dan garam dalam makanan keseharian.

Ya. Asyik memang hidup dengan berbagai kemudahan, tapi tak mudah menghindar dari godaan benda terlarang. Bagaimana mungkin hal itu dilakukan, bila orang-orang yang kita sayang dan semua yang kita erat bergaul dengan itu semua? Belum lagi ditambah dengan kurangnya pengetahuan, pengawasan keluarga, serta prinsip hidup yang tak hirau dan tak gentar akan hari esok.

Namun, semua yang semula terasa mudah buat Alana pelan tapi pasti menjadi makin pelik ketika satu demi satu tragedi menimpa sahabat-sahabatnya. Sahabat-sahabat yang buat anak muda kalangan Alana rasanya jauh lebih berarti dari hidup mereka sendiri. Sampai kejadian itu memaksa Alana untuk bertemu muka dengan orang-orang terdekatnya, yang selama ini jadi misteri. Keluarga yang tadinya tak pernah ikut andil dalam hidup Alana. Mama … dan kakak perempuannya. 

Kisah yang dituturkan Zara ini akan mengantar pembaca untuk masuk ke kehidupan muda-mudi sosialita, kalangan the have that have all access to almost everything. Percakapan dan jalan cerita yang disuguhkan begitu kaya dengan istilah anak muda dan mengalir tanpa dibuat namun tak terduga. Mengisahkan bagaimana hidup yang serba mudah bisa mengalir menuju pusaran misteri dan ketakderdugaan. Percakapannya jujur. Blak-blakan. Penuh kejutan dan juga menegangkan. 

Ah, Yaya memang masih seorang pencerita yang ulung! Untungnya novel Loe Gue End! ini belum end, karena masih ada kelanjutannya di episode 2. Terpaksa penasaran lagi. (Burhan Abe)


Friday, November 25, 2011

Apartment living, making the most of it



ONE cannot avoid traffic congestion in a major city like Jakarta. Jakarta residents living far away in its suburbs or satellite cities spend hours every day to reach their work places in the center of the city. That is why there is now a “back to the city” movement, meaning living close to the center of the city, because it is more convenient when the office and home are in one area. This means no traffic jams, plus a savings in fuel, time and energy. This is the kind of convenience sought by young couples in major cities like Jakarta. And, an apartment in the heart of the city seems to be the best solution.

Today’s young families prefer an efficient and minimalist lifestyle, so it is not surprising that they opt for apartments. Although apartments units are mostly smaller than non-apartment houses there is ample space for children as playgrounds are available in the apartment complex.

There is also a certain pride in living in an apartment, because apartment living has become a lifestyle trend and it is more comfortable for the middle and upper income groups due to its various facilities, such as swimming pools, fitness centers and so forth. It is also more practical and secure.

Based on data released by Cushman & Wakefield Indonesia the condominium market in Indonesia has always enjoyed positive growth. Although the additional supply of 3,000 new units until the end of 2011 is estimated to lower occupancy; due to higher economic growth, the stable interest rates for home loans, the strengthening purchasing power and the increasing trend of living in condominiums close to activity centers, the condominium market, especially the middle segment, still has the potential for further growth.

Sales of condominiums in the third quarter of 2011 were dominated by the middle segment, with almost 80 percent of total units sold. The total cumulative supply of Jakarta’s condominiums in the third quarter of 2011 recorded as many as 85,514 units while there are eight new projects in the same period which will add 39,123 units. Seven out of the eight projects recently launched are middle segment condominiums while one is for the upper segment. Most of the recently launched projects are located in South Jakarta and a few are in North Jakarta.

There is an upward trend in condominium prices in the third quarter of 2011. One of the factors is the increase in the price of land especially in the Central Business District (CBD) and prime residential areas.

The average price of a condominium unit in this quarter is Rp 18,750,000 per square meter, which is an increase of 3.8 percent as compared to the previous quarter while the average price in prime residential areas is Rp 17,930,000 per square meter, which is an increase of 3.7 percent as compared to the previous quarter.

Apartment design
The main reason why many people prefer to live in an apartment is its many advantages, such as its strategic heart-of-the-city location that is close to your work place, so you won’t be trapped in traffic jams for hours. This is the reason why Cinta Laura, before continuing her studies in the United States, or Kris Dayanti chose to reside in an apartment.

However, living in an apartment is not always comfortable due to its most crucial problem, its limited space. But, of course there are a number of ways to get around this and make it comfortable. There are many ways to create an image of luxury without investing a lot of money. Choose long lasting furniture that reflects your personal style. For electronic items go for the efficient and energy saving ones.

The furniture has to be arranged properly in the limited space available. While everyone’s requirements are different, there are standard items of furniture, such as a bed, something to relax on, a table and chairs, a work place and a place for storage. First make a priority list. Which room is most important for you, the bedroom, kitchen or living room? This is important especially when you have limited funds.

Do not use many partitions as partitions reduce space and affect the airflow and the lighting. If you cannot avoid partitions then use those made of glass or transparent racks.

Generally, the interior design of an apartment depends on the selected theme as explained by interior designer Kartini Sjarif. The design theme will influence the layout, material used and color scheme. This theme will also apply to the lighting of the entire unit as well as the design and color of furniture and other related accessories. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, November 25, 2011

Adventure and fun in the Lion State


SINGAPORE is only a stone’s throw away from Indonesia, being a mere two hours from Jakarta. This explains why many Indonesians visit the city-state which has an area of only 710.3 square kilometers.

Singapore is a lively cosmopolitan city full of skyscrapers and large parks, where the quality of life rivals any other city in the developed world. Known as “the little red dot” its presence now looms much larger than its name. One interesting aspect about Singapore is its diverse culture, various ethnicities and religions that coexist in peaceful harmony.

Many people are amazed with Singapore’s beauty and dynamic progress. Not too long ago it was just a simple fishermen’s kampong, while today Singapore has transformed into a modern cosmopolitan city. Currently Singapore has a population of about five million with English as the main language while the other three languages are the mother tongue of the three major ethnicities. Singapore takes pride in its ethnic harmony between the Chinese, who are the majority, the Malay and Indian communities.

As a multiracial nation Singapore is a reflection of diversity and unity. There are so many things to see and to do here, so it is better if you get to know the local people. You can also explore its historical places or take historical tour. Explore the ethnic enclaves like Chinatown, Little India and Kampong Glam.

If you prefer the bright lights and the city crowds there are so many malls, museums, restaurants and entertainment centers. Just visit Orchard Road which is famous for its malls or party all night long at Clarke Quay or Boat Quay.

Yes, when the sun sets Singapore takes on a different face with its dynamic nightlife and entertainment. Indeed Orchard Road and Clarke Quay draw the largest number of visitors, while Orchard Road is one of the world’s most popular shopping destinations. However, Marina Bay Sands (MBS) has also become one of the hottest destinations here. MBS is one of the two integrated resorts officially opened at the end of April 2010. MBS is in Marina Bay, close to other famous Singapore icons like the Merlion statue, Esplanade and Singapore Flyer.  

MBS is truly an integrated resort with a mall, hotel, a grand convention and exhibition hall, art and science museum as well as a theater. club, and restaurants plus a casino that draws many local and international visitors. This casino complements the existing one on Sentosa Island. The MBS casino is owned and managed by Las Vegas Sands Corp, a company specializing in casino business and also the owner of Sands Macau Casino in Macau, China. MBS also has shopping centers or malls, so you can shop till you drop and enjoy yourself by sampling delicious fare at its many restaurants. Or treat yourself to a relaxing spa here.

Singapore also has many attractions for families, the newest being Universal Studios Singapore. The Resort World Sentosa is another Integrated Resort officially opened in April 2010. Universal Studios Singapore is divided into seven zones, each with a different theme: Madagascar, Far Far Away, from the world of Shrek is the first of its kind in the world, The Lost World where you can find Dinosaurs and Waterworld, Ancient Egypt that is full of mummies, Sci-Fi which is a futuristic city. The other two zones depict Hollywood and New York.

Meanwhile if you are business tourist Singapore can offer you and your partners’ world class facilities, such as an exclusive golf course, first class restaurants, latest malls and lively night entertainment. Singapore is indeed the center of various attractions to entertain your business partner. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, November 25, 2011

Tuesday, November 22, 2011

Spa Party @ FS Spa

Dear Burhan Abe,

It's our pleasure to invite you to be part of Four Seasons Global Spa Week!  This week we are hosting events at our Spas around the world as well as global online Twitter chats, hosted by the Four Seasons Curators of Calm.

As part of this week, we'd like to invite you to an intimate afternoon of pampering and treats at The Spa, that are bound to transform the way you look and feel.

Thursday, 17 November 2011, from 2 - 5 pm. Javanese Massage treatment & Gentlemen's Facial treatment  at The Spa, Four Seasons Hotel Jakarta.

Following your complimentary spa services, we invite you to join our Spa Manager, Sanju Upadhyay  for a tea gathering to enjoy spa cuisine where she will share wellness advise that will not only benefit you, but will also do so for your Twitter followers.

We look forward to welcome you, so please feel free to contact us to arrange your visit to The Spa.

Tweet soon and Warm Regards,
T. Marlene Danusutedjo
@marlenedns

UNDANGAN itu dikirim via email oleh Marlene Danusutedjo, Director of Public Relations Four Seasons Hotel Jakarta. Banyak undangan yang mampir ke saya beberapa minggu belakangan, tapi yang ini sangat menarik.

Wow! SPArty #FSspa at @FSJakarta @marlenedns

Itu reaksi spontan saya, yang saya posting di Twitter. Bayangkan, saya akan dijamu dengan pelayanan spa nomer satu dari hotel tersebut: pijat ala Jawa dan perawatan wajah untuk pria. Saya hanya disuruh menikmati pelayanan spa tersebut, sambil twitteran, dua aktivitas yang sama-sama menyenangkan.

Good morning @dian_noeh @DayuWijanto @vivaasia @BurhanAbe see you soon #FSspa @SanjuFSJ @marlenedns

Itu sapaan Four Seasons Jakarta yang mempunyai akun @FSJakarta, beberapa hari sebelum acara berlangsung. Saya memang tidak sendiri, di acara itu kami akan hadir berempat, selain saya ada Dian Noeh Abubakar (PR Consultant) yang mempunyai akun @dian_noeh, Dayu Wijanto (F&B) @DayuWijanto, dan Jim Weston (magazine publisher) @vivaasia. Oh ya, @SanjuFSJ adalah Sanju Upadhyay, Spa Manager Four Seasons Jakarta.

Pada hari H saya datang dengan semangat, di penerimaan tamu The Spa sudah ada reserve atas nama saya. Di meja tamunya saya juga melihat  welcoming card dengan nama @BurhanAbe (ini akun saya di Twitter). Ambience The Spa yang menyejukkan suasana, serta suguhan ginger tea hangat alias wedang jahe cukup membuat saya rileks. Peraturannya hari itu adalah saya hanya disuruh rileks dan menikmati spa yang diberikan. Sambil menikmati treatment, saya boleh membagi pengalaman tersebut tersebut di Twitter, juga memposting foto di social media (Twitter dan Facebook) jika perlu.

Semua twit di-mention ke @FSJakarta dan diberi tagar (tanda pagar) #FSspa. Mudah bukan? Kecuali jika tertidur tentu saja, karena keenakan dipijat.

Ketika spa dimulai, @FSJakarta memposting: Our male SPArty participants @vivaasia and @BurhanAbe are now enjoying their Javanese massage #Fsspa. Ada pun kepada peserta wanita sang tuan rumah mentwit: The ladies @DayuWijanto and @dian_noeh are having their relaxing SPArty moment with the improved Reflex treatment #FSspa.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi para peserta SPArty tersebut, saya sendiri hanya menulis di Twitter: “Zzz… “ sebelum berkelana ke alam mimpi.

Tidak hanya kami di Jakarta sebenarnya yang berkicau di Twitter, karena Four Seasons di seluruh dunia, meski tidak dalam waktu yang persis sama, menyelenggarakan SPArty atau menikmati spa sambil twitteran, aktivitas media sosial yang lagi hits di seluruh dunia belakangan ini. Inilah pertama kalinya hotel ini mengadakan Global Spa Week, yang diberi nama Four Seasons Spa Week (#FSspa), 14 hingga 18 November 2011.

Sebagai bagian dari kegiatan spa yang menyenangkan ini, Four Seasons menyediakan akses ke jaringan global profesional spa melalui sebuah expert panel yang tergabung dalam “Curators of Calm.” Mereka membagi pengalaman serta pengetahuan tentang industri spa yang paling mutakhir, melalui platform media sosial, seperti Twitter, Facebook dan Foursquare.

“We are thrilled to share the passion and expertise from our spa experts from around the world with spa enthusiasts in new and engaging ways this fall,” kata Christopher Norton, Regional Vice President dan GM Four Seasons Hotel George V Paris. “Evolution is essential in spas, and our extensive specialised network provides a truly global perspective on the latest trends and innovations that shape the industry.”
 
Sebagai salah satu penyedia pelayanan spa kelas satu di dunia lebih dari 25 tahun, tidak berlebihan kalau Four Seasons memperhatikan pelayanannya, dan memperkenalkan peralatan mutakhir, serta metode terbarunya. Spa-spa di Four Seasons dirancang secara nyaman dan mengadopsi kearifan lokal yang merefleksikan ciri khas tempat di mana hotel ini berlokasi.

Spa-spa yang mendapat prioritas penambahan properti baru serta akan dibuka atau reopening tahun depan adalah yang berlokasi di Toronto, Guangzhou, Shanghai Pudong, St. Petersburg dan Baku, sementara Azerbaijan dan Baltimore bersamaan dibuka pada 14 November tahun. Keseriusan pengelola yang membuat Four Seasons Spas seluruh dunia secara konsisten memenangkan berbagai penghargaan dari lembaga-lembaga prestisus, termasuk menyabet beberapa kategori penghargaan di tahun 2011 oleh majalah Travel + Leisure, Condé Nast Traveler, SpaFinder dan majalah Spa.

Di Jakarta sendiri, tentu, tidak kalah serunya. The Spa Four Seasons Hotel Jakarta dirancang untuk para pengusaha dan profesional yang membutuhkan treatments dan terapi, untuk mendapatkan rileksasi dan mencapai gaya hidup sehat.

Dengan enam ruang treatment, dua jacuzzi, dua sauna dan salon, The Spa menawarkan pelayanan spa, mulai dari pijat tradisional Jawa hingga permintaan khusus, yang didesain untuk para tamu yang menginginkan rileks, untu memenuhi keseimbangan antara pikiran, jiwa, dan raga. Dan tujuan itu tercapai setelah saya merasakan dua perawatan: Javanese Massage dan Gentlemen's Facial treatment.

Setelah merasakan sensasi spa ala The Spa, kami berempat menikmati evening tea. Semua makanan dan minuman yang disajikan sangat sehat dan berkalori rendah. Sebut saja Multi grain tzatziki sandwich, Chilled grape tomato gazpacho shooters, dan Pacific snapper ceviche. Ada lagi yang manis-manis, tapi masih dalam takaran moderat, yakni Japanese tofu cheese cake, Natural grain granola bar cookie, dan Petit carrot + all bran, yogurt cream. Dan paling penting adalah minumannya, yang sayang kalau tidak ditwit: Calamansi ice tea!



Sunday, November 20, 2011

Museum of Modern Pop Art in Pullman Jakarta


SEBUAH lukisan kontemporer tergantung di sebuah dinding, menggambarkan sepeda motor dengan roda depan memanjang ke depan yang dekonstruktif sekaligus futuritik. Di sudut yang lain adalah lukisan seorang bocah berkaus Superman, dilukis secara surealistik.

Lukisan-lukisan bergaya pop art itu hampir memenuhi setiap dinding. Patung-patung dan hiasan layaknya seni instalasi juga bertebaran di sana-sini. Ditambah dengan interior ruang yang berani, bahkan meja dan kursi yang tidak sekadar fungsional tapi juga artistik, menjadi pemandangan yang menawan mata. Museumkah? 

Bukan. Ini adalah sebuah hotel baru, yang berlokasi Podomoro City Super Block, Jakarta. Pullman, nama hotel berbintang lima ini, tidak hanya artistik, tapi hampir menyerupai museum seni modern. Lukisan dan instalasi ala Andy Warhol mewarnai hampir semua sudut. Di lounge-nya, yang dinamai BUNK, misalnya, kita menemui gaya tersebut, termasuk cover buku menu bergambar Marilyn Monroe.
 
Menurut Fabrice Mini, General Manager Pullman Jakarta, gaya unik Pullman itu memang dari sono-nya. Artinya, prinsipal mempunyai grand design soal artistik, yang kemudian diterjemahkan di masing-masing negara. “Desain Pullman Jakarta adalah ultra contemporary, tapi pengerjaannya oleh seniman lokal yang debutnya memang tidak kalah di tingkat global, sekitar 15 seniman,” ungkapnya.

Pullman Jakarta mengadopsi desain bergaya urban kontemporer sebagai ciri khasnya di kamar-kamar hotel untuk menciptakan suasana yang tenang. Satu-satunya upscale hotel di Jakarta Barat ini menawarkan konsep keramahtamahan yang unik melalui pusat perbelanjaan, perkantoran dan wisata hiburan yang terintegrasi.

Yup, Accor, operator hotel terbesar di Asia Pasifik, mengukir sejarah baru dengan membuka Pullman kedua di Indonenesia, tepatnya di Jakarta Central Park, setelah sebelumnya di Bali, Februari 2011. Hotel ini menargetkan pelancong bisnis, serta lokasi Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat bisnis Indonesia sejalan dengan visi brand Pullman untuk berkembang di kota-kota besar.

Menurut Accor Asia Pacific Business Traveller Research 2011 yang melakukan survei terhadap lebih dari 10.000 responden yang melakukan perjalanan bisnis di semester pertama 2011, Jakarta dan Bali adalah dua tujuan di Indonesia yang paling sering dikunjungi para pelancong bisnis dari Asia Pasifik dengan 73% dan 32% responden. Untuk perjalanan bisnis domestik, hampir tiga perempat dari perjalanan bisnis di dalam negeri bertujuan ke Jakarta.

“Pembukaan Pullman Jakarta Central Park sangat penting bagi kami karena brand Pullman adalah inti dari portofolio brand upscale Accor sekaligus brand yang tumbuh paling cepat di Asia Pasifik,” ujar Gerard Guillouet, Vice President Accor Malaysia, Indonesia, Singapore, pada pembukaan Pullman Jakarta, 16 November 2011.

Terletak di lokasi strategis, hanya 25 menit dari Bandara Soekarno-Hatta, hotel ini terintegrasi dengan pusat perbelanjaan Central Park (Pemenang Highly Commended Award untuk kategori Best Retail Development dalam Asia Pacific Property Awards 2011, yang merupakan The International Property Awards 2011 tingkat regional, salah satu ajang penghargaan properti paling bergengsi di dunia) dan dengan akses yang mudah dari Sudirman Central Business District, hotel ini ideal bagi para pelancong bisnis internasional dan domestik serta wisatawan.

Pullman Jakarta juga memiliki fasilitas lengkap dan cocok bagi para pelancong wisata maupun pelancong bisnis. Untuk memanjakan selera para tamu hotel, restoran Collage menyediakan beragam hidangan internasional yang komprehensif, baik hidangan prasmanan ataupun hidangan a la carte. Dengan konsep dapur terbuka dan suasana yang didesain dengan baik, tim kuliner Pullman yang handal akan menyajikan berbagai hidangan Timur dan Barat yang menggugah selera.

Fasilitas F&B lainnya, BUNK, yang disebut di depan, merupakan sebuah lounge dan kafe trendi berlantai dua dan menawarkan canapé dan signature cocktails serta menjadi tempat berkumpul para pelancong bisnis sekaligus menjadi tempat hang out yang keren.


Bagi pelancong wisata, kolam renang outdoor hotel ini dan teras berjemur menawarkan pemandangan kaki langit kota Jakarta. Fit & Spa Lounge menyediakan gymnasium modern, dan Sky Terrace Garden yang terletak di roof top adalah taman yang indah, dan fasilitas ini merupakan pilihan lain bagi para tamu hotel untuk menikmati pemandangan kota.

Pullman Jakarta terdiri dari 45 Superior Room, 150 Deluxe Room, 13 Executive Superior, 54 Executive Deluxe, 53 Executive Suite dan 2 Presidential Suite yang menawarkan pengalaman berkelas yang berkesan. Seluruh 317 kamar hotel ini dihiasi ornamen bergaya urban kontemporer, furniture mewah, rain shower, TV LCD, iPod docking station, akses internet/Wi-Fi berkecepatan tinggi serta jendela dari lantai hingga ke langit-langit yang menyuguhkan pemandangan kota yang spektakuler.

Untuk memenuhi kebutuhan rapat, seminar, dan penyelenggaraan acara, Pullman menawarkan fasilitas konferensi dan banquet yang modern dan luas dengan ruangan serbaguna tanpa pilar seluas lebih dari 5.700 meter persegi yang dirancang untuk memfasilitasi beragam acara korporat dan sosial. Ballroom Pullman adalah yang terluas kedua di Jakarta dan mampu mengakomodasi beragam acara seperti konser, pameran dan penikahan. Selain itu, tawaran Innovative Pullman Co-meeting dengan area Chill-out dan "A-la-carte Coaches" menjadikan Pullman tempat yang tepat untuk penyelenggaraan berbagai acara.


Nama Pullman adalah jaminan. Terletak di kota-kota penting di tingkat regional dan internasional, hotel-hotel Pullman menyediakan beragam layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan para tamu, akses terhadap teknologi canggih dan "co-meeting", sebuah pendekatan baru untuk penyelenggaraan pertemuan, seminar dan high-end incentive

Pada akhir 2011, jaringan hotel Pullman akan meliputi 70 hotel di Eropa, Afrika, Timur Tengah, Asia Pasifik dan Amerika Latin. “Kami memperkirakan bahwa jaringan hotel Pullman akan berkembang hingga lebih dari 150 hotel di seluruh dunia,” ujar pejabat yang mewakili Accor.

Accor sendiri adalah operator hotel terkemuka di dunia sekaligus pemimpin pasar di Eropa, berada di 90 negara dengan 4.200 hotel dan lebih dari 500.000 kamar. Portofolio Accor yang beragam - Sofitel, Pullman, MGallery, Novotel, Suite Novotel, Mercure, Adagio, Ibis, Etap Hotel (Ibis budget), F1 dan Motel 6 – menyediakan penawaran yang beragam mulai dari yang eksklusif hingga yang terjangkau. Dengan 145.000 karyawan di seluruh dunia, Group Accor menghadirkan pengalaman dan keahlian hampir selama 45 tahun bagi para klien dan mitranya.

Produk Accor memang dekat dengan masyarakat, karena ada di semua level, tapi berkunjung ke Pullman Jakarta tetap saja merupakan pengalaman yang tak terlupakan.


Tuesday, November 15, 2011

Ephicure, A Person with Great Taste


Dear Mas Abe,

You are cordially invited  to attend the soft opening of Ephicure Wine Lounge (at fX lifestyle X-nter F2 #2, Jl. Jendral Sudirman, Pintu Satu Senayan, Jakarta) on Thursday, November 10th, 2011 and enjoy our free flow wines from 7 to 9pm.

Regards,
Adriantomo
Marketing Coordinator
Ephicure Wine Lounge

UNDANGAN tersebut  tentu tidak saya sia-siakan. Pertama, karena saya kenal secara pribadi dengan pengundangnya, yang memang sudah lama bergerak di bidang hospitality. Kedua, nama “Ephicure” mengundang keingintahuan saya, yang dalam ejaan aslinya “epicurean”, berarti “the enjoyment of good food and drink”.

Menurut pengundangnya sendiri, “ephicure” berasal dari kata "epicurus" yang artinya “a person with great taste, especially in food and wine”. Ya, sebelas dua belas, ungkapan yang menunjuk kepada gaya hidup seseorang yang mempunyai selera tinggi dan kemewahan hidup.

Wine saat ini memang diposisikan sebagai minuman untuk kalangan atas – paling tidak di Jakarta harganya masih tinggi, bahkan digolongkan sebagai barang mewah, sehingga untuk mengimpornya pun terkena PPn BM.

Begitulah, tapi orang-orang Jakarta kini sudah tidak asing dengan wine. Kendati bukan tradisi asli Indonesia, nyatanya kini wine sudah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup warganya. Yup, kalangan elite di perkotaan makin banyak yang mengonsumsi wine, baik diminum tersendiri maupun melengkapi hidangan makan. Mulai dari pengusaha, profesional, politikus partai, bahkan pasangan anak muda.

Lounge-lounge yang khusus menyediakan wine juga makin banyak. Di luar lounge khusus wine, banyak kafe, restoran, maupun hotel yang menyediakan wine, dan tempat-tempat itu tak pernah sepi pengunjung. Ini indikasi bahwa wine adalah bagian dari gaya hidup pergaulan kelas menengah ke atas kota-kota besar, yang apa boleh buat, diadopsi dari budaya Barat, terutama Amerika dan Eropa.

Berbeda dengan minuman berlkohol lainnya, wine memang lebih ditekankan sebagai pendamping makan, yang katanya akan menambah kelezatan rasa saus dari makanan-makanan tersebut. Tidak heran kalau sejumlah hotel, bar, dan restoran pun kini kerap menyajikan wine. Bahkan mereka mempunyai agenda khusus menggelar wine dinner untuk pelanggan mereka.

Itu memang aturan utamanya yang tidak tertulis. Tapi belakangan, menjadi aturan yang tak tertulis juga, wine pun tidak harus dipandang sakral, yang semata-mata untuk menemani makan malam yang romantis saja. Tapi wine bisa juga dinikmati di lounge atau bar dengan ditemani dengan canape, bahkan hanya sepiring kentang goreng atau tortila chips. Setidaknya, itulah pengalaman kami di Ephicure Wine Lounge @ fX, Senayan pada saat soft opening lalu.

Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari sari anggur jenis Vitis vinifera yang biasanya tumbuh di area 30 hingga 50 derajat lintang utara dan selatan. Berdasarkan penelitian, manusia telah membuat minuman anggur sejak sekitar 5.000 tahun yang lalu.

Laporan terbaru bahkan menunjukkan kemungkinan bahwa anggur yang digunakan bersama-sama dengan beras untuk menghasilkan minuman fermentasi campuran sudah ada di Cina sejak 7.000 SM. Bukti tertua produksi anggur di Eropa adalah tanggal untuk 4.500 SM dan berasal dari situs arkeologi di Yunani.

Yang jelas, anggur kini dibuat di banyak negara. Negara-negara yang membuat anggur terbanyak antara lain: Perancis, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Argentina, Jerman, Australia, Afrika Selatan, Portugal, dan Chili. Di Ephicure kita mendapatkan wine dari berbagai negara tersebut, bahkan terdapat lebih dari 200 label wine dari seluruh dunia.

Dengan kapasitas 27 tempat duduk, termasuk private room, serta outdoor di teras yang menghadap Jalan Sudirman, lounge ini cukup nyaman dipakai untuk hang out sore-sore atau makan malam yang elegan. Keramahtamahan sommelier (ahli wine) dan staf yang mengerti tentang seluk-beluk wine tentu menjadi kelebihan tersendiri.

Lounge yang buka setiap hari selama tujuh hari seminggu, mulai jam 10:00 hingga jam 23:00 WIB ini mempunyai motto: “At Ephicure we believe the great life is all about enjoying fine wine and food in an iconic and memorable setting.” 


Thursday, November 10, 2011

Michelin Starlight @ Mandarin Oriental Jakarta


JAKARTA sebagai destinasi kuliner kelas dunia bukan isapan jempol.  Sebut saja, makanan ala Prancis, sangat mudah kita temukan di ibu kota ini. Beruntung saya selalu mendapat kesempatan untuk mencicipi makanan terbaik ala Prancis dengan chef terbaik pula, Michelin-starred Chef, Jarome Laurent.

Chef Jarome adalah pemilik restoran “Le Cilantro”, yang merupakan sebuah restoran terkemuka di kota Arles di barat daya Perancis, dan menawarkan hasil racikannya untuk pengunjung Lyon, Mandarin Oriental, 10 – 12 November 2011.

Preview untuk wartawan diadakan di dapur hotel berbintang lima yang berlokasi di Jl MH Thamrin Jakarta. Chef Jarome sendiri, bersama timnya tentu saja, yang melayani kami.

Di industri kuliner Jarome memang bukan nama baru. Bakatnya yang bersinar membawanya untuk meraih bintang Michelin pada 2007, dengan menonjolkan menu sehat  Mediterania dengan sentuhan Asia. Menghadirkan kembali resep tradisional untuk menciptakan hidangan modern, ia menjadikan restorannya sebagai destinasi utama bagi tamu lokal maupun internasional yang berkunjung ke Arles. Restorannya menjadi pilihan penulis buku paduan travel Lonely Planet Provence & the Côte d’Azur dan ia juga telah menerima ulasan yang baik di The New York Times.

Dengan pengalaman memasak hampir di setiap benua, Chef Jerome telah berkerjasama dengan beberapa chef terbaik di dunia, di antaranya yaitu Alain Ducasse, seorang chef terkenal yang memiliki restoran di Paris, Monaco, London dan New York dengan tiga Michelin star di setiap restorannya.

Di Lyon, kami beruntung bisa menikmati karyanya, menikmati berbagai hidangan nikmat Chef Jerome, mulai dari “Roasted Lobster with Mauve Flower-Flavoured Broth, Salicorne Seaweed and Celery-Braised Quinoa”; hingga “Wagyu Beef with Aromatics and Purple Potato Purée, Syrah Wine Jus”; serta berbagai pilihan dessert yang menggugah selera, seperti “Chocolate and Peanut Millefeuille with Sweet Pepper Ice-Cream”. Hmmm…

“Chef Jarome mempunyai bakat yang luar biasa, dengan menampilkan seni dan masakan kreatif untuk menciptakan hidangan mewah dan tidak terlupakan, tanpa mengabaikan segi kesehatan pada masakannya. Kami semua sangat menantikan kedatangannya di restoran Lyon,” ujar Thierry Le Queau, Executive chef di Mandarin Oriental, Jakarta.

Kalau Anda ingin menikmati karya Chef Jarome, silakan saja datant ke Mandarin Hotel, hidangan lezat two-course harganya Rp. 580,000++, three-course menu seharga Rp. 720,000++, atau six-course menu seharga Rp. 1,300,000++. Selain itu, Anda juga dapat menikmati menu makan siang istimewa dengan harga Rp.  350,000++.

Hidangan eksklusif itu sangat layak untuk dinikmati di hotel yang juga berkelas. Mandarin Oriental Hotel Grup adalah pemenang penghargaan pemilik dan operator dari beberapa hotel dan resort paling bergengsi di dunia. Mandarin Oriental saat ini mengoperasikan, atau telah mengembangkan 41 hotel dengan lebih dari 10.000 kamar di 26 negara, dengan 18 hotel di Asia, 12 di Amerika dan 11 di Eropa dan Timur Tengah. Selain itu, Group Mandarin Oriental mengoperasikan atau telah mengembangkan 12 Residences di Mandarin Oriental yang berada dalam propertinya.

Bon appetit!


Wednesday, November 09, 2011

Leila Lopes and national asset

WHEN Leila Lopes, Miss Universe 2011, visited Indonesia she acknowledged that she was impressed with Indonesian culture. She expressed her admiration when she visited Living World Alam Sutera in North Serpong district, South Tangerang some time ago. Here the beautiful lady from Angola learned to make batik. “Indonesian batik is very beautiful,” she said.

Leila also tried her hand at making the ancient batik design called Ceplok Gondo Madu originating from Central Java. Accompanied by Putri Indonesia 2011 (Indonesia Lady 2011), Maria Selena, Leila visibly enjoyed making batik although it was the first time she had tried her hand at it.

After trying out her artistic skills, Maria and Leila were shown batik from various regions, such as Cirebon, Garut, Yogyakarta, Surakarta, Lase, Sidoarjo, Madura, Surabaya, Pemalang, Medan, Pekalongan and Bali. Each of them received a batik bolero from Surakarta.

Batik has traveled a long way in Indonesia, starting from ornamental motifs on the walls of ancient temples up to modern designs that have put batik on a par with foreign made haute couture. Batik is a method of making cloth for garments. First, it is a coloring technique that uses wax to prevent the color from spreading on the entire piece of cloth and this technique is called wax-resist dyeing. Second, batik can also be described as a piece of cloth or a dress that is made using the technique mentioned earlier, including the use of specific motifs.

Indonesian batik, embracing its techniques, technology, motifs and the culture of the art, was designated as a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity by UNESCO on Oct. 2, 2009.

But of course Indonesia has more to offer than just batik. Indonesia is the largest archipelagic country in the world with 17,508 islands. And, with 1,128 ethnic groups indeed Indonesia is a nation rich in varied cultures, art and crafts.

Each region has its own craft industry, while some regions, such as Yogyakarta and Bali, are virtual handicraft hubs. Here you can easily explore thousands of handicraft and furniture collections.

Indonesian handicrafts are generally made from natural materials, such as wood, rattan, batik, leather and metal that are made into souvenirs or home decorations.

In Indonesia you can find handicrafts throughout the entire archipelago from east to west. In East Nusa Tenggara, for example, besides watching the giant Komodo lizards you can find a rich heritage of traditional woven cloth.

The woven cloth of each tribe in East Nusa Tenggara is passed on from generation to generation to preserve the art. The motif denotes the tribe or the originating island and everyone is proud to wear the woven cloth indicating his or her tribe.

Some tribes, like the East Sumbanese, use animal or human motifs, such as horses, deer, shrimp, dragons, lions, scarecrows, trees and so on while in Central South Timor you will find motifs such as birds, lizards, crocodiles and kaif (hooked diamond). Other areas have flowers and leaves for their motifs while animals are additional.

Unique to Aceh is the nepa, a kind of earthenware vessels or pottery, which are popular among foreign tourists. The word nepa in Gayo language means flattening the clay. You can find most of this type of pottery in Central Aceh regency. The nepa is used by the Gayo people for daily utensils, such as a rice and vegetable cooking pot plus its lid, dishes, cups, jars and so forth.

Also available are chairs and tables made from grupel wood. Grupel wood is unique because it has a wavy design and it is very hard and is said to be available only in Morocco and Central Aceh. Here it grows in the Gayo Highlands and has a sweet smell and a flower-like shape. Many foreign furniture importers seek these new products rather than the usual rattan or teak.

Fortunately, foreign tourists do not have to go to such remote areas to purchase these products. In Jakarta one can find stores that market a wide range of handicrafts, including batik, items made from various kinds of wood while in many major cities there are showrooms managed by the local governments and in Jakarta there is the Sarinah department store.

Since its establishment Sarinah has been known as a shopping center that participates in the preservation of Indonesian traditional arts and here you can find a large variety of items that reflect the handiwork of many ethnicities from throughout the country.Indeed Indonesian handicrafts are one of the nation’s most valuable assets. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, November 10, 2011

Thursday, November 03, 2011

EnviroAsia 2011 (3)


Menyorot Proses Optimalisasi Pola Kerja dan Keselamatan serta Penerapan Pembangunan Berkelanjutan Terbaik dalam Konferensi Industri

MENYEDERHANAKAN pola kerja dan meningkatkan proses otomatisasi untuk mencapai hasil yang optimal sudah sangat mendesak beberapa tahun belakangan. Perusahaan-perusahaan lepas pantai dan sektor energi, pabrik kimia dan sektor lainnya terus berusaha mencapai hasil yang lebih besar, meminimalisir OPEX dan mengurangi penggunaan energi guna tetap siap bersaing ke depannya. Upaya untuk meningkatkan kinerja dengan produktivitas tinggi dan pemeliharaan dan biaya operasional yang minim mendorong mereka untuk mencari aplikasi baru dan solusi inovatif untuk mencapai pola kerja berkelanjutan dan handal, serta hasil proses otomatisasi yang lebih baik.

Konferensi Proses dan Keamanan Instalasi  akan berlangsung pada 22-23 November 2011 di Suntec Singapura, bertujuan untuk menggali tantangan dan menawarkan pandangan para ahli pada para profesional di bidang industri melalui berbagai studi kasus dan presentasi yang disajikan para praktisi dan ahli industri.

Konferensi dua-hari ini terdiri atas tiga sesi penting - Pola Kerja berkelanjutan dan handal, Proses Otomatisasi, dan Keamanan Instalasi. Peserta konferensi dapat mempelajari studi kasus yang menyeluruh tentang bagaimana mengoptimalkan biaya operasi (OPEX) untuk menghasilkan penghematan yang signifikan, dan isu-isu penting terkait solusi, proses rekayasa dan sistem pengawasan.

Konferensi ini juga akan menyajikan strategi inovatif untuk penerapan  keselamatan instalasi, mengatasi keamanan yang belum maksimal dan menghindari kerugian serta menjaga reputasi perusahaan. Para pembicara juga akan membahas isu-isu manajemen risiko, mitigasi risiko dan keamanan terkait kinerja profitabilitas perusahaan.

Mengoptimalkan Penggunaan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Meskipun terjadi pengurangan emisi di negara maju antara 1990 dan 2010, emisi karbon dioksida (CO2) global tetap meningkat 45 persen selama periode yang sama, mencapai rekor 33 juta ton pada 2010. Pertumbuhan yang berkelanjutan di negara-negara berkembang akan merangsang konsumsi energi dan sumber daya yang lebih besar, konsekuensinya adalah bertambahnya masalah terkait lingkungan yang harus dihadapi dunia.

Meskipun bukan konsep baru, pembangunan berkelanjutan melalui efisiensi energi sesuai dengan momentum dunia yang sedang mengalami perubahan iklim yang cepat, penipisan cadangan sumber daya dan menumpuknya limbah. Adopsi terkait energi ramah lingkungan, pendekatan hemat energi dan penggunaan energi rendah karbon dianggap sebagai solusi jangka panjang dan berkelanjutan bagi para pebisnis.

Konferensi Pembangunan Berkelanjutan melalui Manajemen Energi pada 24 November 2011 menghadirkan perspektif profesional tentang bagaimana bisnis bisa menguntungkan melalui penggunaan sumber daya untuk pembangunan berkelanjutan dan penerapan hemat energi. Konferensi satu-hari ini akan menyajikan studi kasus dari para pemimpin industri seperti Ricoh dan Mantech, dan juga topik-topik membangun lainnya seperti pandangan Life Cycle Assessment (LCA) dan menelisik jejak karbon lewat produk dan jasa serta desain berkelanjutan untuk pabrik.

Konferensi itu akan diselenggarakan bersamaan dengan acara teknologi ilmiah, lingkungan dan analitis terkemuka di Asia, CIA2011, EnviroAsia2011 dan AnaLabAsia2011 di Suntec Singapore dari 22 – 25 November 2011.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.CIA-Asia.com, www.AnaLab-Asia.com dan www.Enviro-Asia.com

Kompas, 04 November 2011