Wednesday, November 30, 2011

Loe Gue End!

















ZARA Zettira, siapa yang tak kenal. Saya sendiri memang penasaran, bukan hanya karena dia penulis kondang, tapi jauh sebelum itu, mungkin di era 1990-an sedikitnya saya mewawancarinya dua kali ketika saya bertugas sebagai reporter Majalah EDITOR. Belakangan, wanita kelahiran kelahiran Jakarta 5 Agustus 1969 ini juga sering berkeliaran di lini masa Twitter saya dengan akun @ZaraZettiraZr. 

Di BlackBerry saya sebetulnya sempat berkomunikasi, tapi tanpa pernah bertatap muka. So, ketika Yaya, demikian panggilan akrabnya, mem-broadcast undangan peluncuran buku terbarunya ke ke BB saya, saya tidak menyia-nyiakannya. 

I cordially invite you to celebrate my new novel Loe Gue End! At Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, Monday, 28 November 2011, 3-6pm. Sincerely awaiting, Zara.

Terus terang, saya ingin melihat lebih dekat penulis selebriti ini, sambil ingin membandingkan di usia yang ke 42 tahun dengan dua anak dengan ketika masih remaja belia dulu. Meski bukan pembaca setia novel-novel Yaya, saya mengagumi keseriusan wanita ini dalam bidang tulis-menulis, yang bukan hanya sudah menjadi passion-nya, tapi mungkin sudah mendarah daging dalam hidupnya.

Biodata Yaya cukup menarik. Ayahnya berdarah Minang–Jawa dan Ibu berdarah Tionghoa–Belanda. Ia dibesarkan di Menteng Jakarta, menimba ilmu sejak TK hingga SMA di Sekolah St. Theresia Haji Agus Salim serta menamatkan SMA di Ora Et Labora Pondok Indah kemudian meneruskan kuliah di Fakultas Psikologi, UI.

Menulis awalnya adalah otodidak. Pada masa yang masih belia, ia sudah rajin menulis cerpen di beberapa majalah remaja. Ia juga menulis Catatan Si Boy yang marak di era 1980-an radio Prambors Rasisonia sampai ke layar perak. Di era yang sama ia melahirkan banyak novel remaja, antara lain di diterbitkan Gramedia, seperti Mimi Elektrik, Jodoh Kelana, Jejak Jejaka, dan Rasta Bella yang ditulis bersama Hilman “Lupus” Hariwijaya.

Sempat mengikuti mengikuti short course produksi film dan penulisan skenario di Los Angeles selama delapan bulan. Sekembalinya ke Indonesia ia menulis sinetron pertamanya dengan judul Janjiku yang masuk dalam jajaran sinetron Indonesia ber-rating tertinggi pada masa itu. Selanjutnya menulis ratusan judul sinetron mengalir dari tangannya, seperti sinetron Ramadhan (di antaranya Hikmah, Ikhlas, dan Zahra) dan Legenda Malin Kundang, bahkan Dia bertahan selama tiga tahun masa penayangan atau lebih dari 150 episode.

Tahun 2008 adalah tahun kembalinya Zara ke dunia penulisan buku. Terus terang saya kurang intens mengikuti sinetronnya, juga novel-novelnya yang lahir di era 2008, setelah Yaya kembali ke dunia penulisan buku, setelah sibuk mengurus keluarganya di Toronto-Kanada. Sebutlah Every Silence Has A Story, Samsara, Kebaya Wungu, Prahara Asmara 1 dan 2, Cinta Maya, dan Menentukan Hati. Tapi tentulah, cara penulisannya pasti berbeda dengan zaman remaja, juga dengan pengalaman batin yang berbeda pula sebagai ibu dua anak, Alaya dan Zsolti Zsemba. 

Lalu, mengapa ia tiba-tiba menulis novel remaja lagi, dengan judul yang sangat alay: Loe Gue End!? “Itu adalah pengalaman fans saya, yang dikirim bertubi-tubi seperti catatan harian, satu setengah tahun yang lalu,” ujar Yaya pada saat peluncuran bukunya di Liquid Exchange, Epicentrum Walk, Taman Rasuna Kuningan, Jakarta, 28 November 2011.

Rasa penasaran saya terjawab sudah. Yaya tidak berubah, masih cantik dan sangat humble. Dan yang penting, wanita yang kini bekerja di sebuah stasiun televisi Jakarta, dan menikah dengan David Henderson seorang dosen bisnis dan marketing berkebangsaan Inggris itu masih tetap produktif. Bahkan ia sekarang tidak hanya penulis profesional, tapi juga writerpreneur, novel Loe Gue End! adalah novel pertama yang diterbitkannya secara self publishing.

Tentang Vinza Inc., perusahaan penerbitan indie yang didirikan itu, ia mempunyai alasan tersendiri. “Saya suka tantangan. Jujur, saya berterimakasih pada penerbit-penerbit yang telah membantu saya memasuki dunia buku. Dan saya yakin para penerbit itu juga bangga melihat saya, anak didikan mereka, kini bisa mandiri. Bahkan mencoba membantu penulis-penulis lain.”

Lalu, bagaimana dengan Loe Gue End! sendiri? Ini juga menerbitkan rasa penasaran yang lain lagi. Sehabis book launching saya membaca buku berukuran 14 x 21 cm setebal 352 halaman itu semalaman sampai ludes. 

Novel ini boleh jadi akan menjadi hits Zara Zettira selanjutnya sebagai pencerita kisah nyata. Setelah sempat menerbitkan kisah nyata yang terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri beberapa tahun lalu, Zara Zettira dengan cantik menuturkan kisah yang berawal dari curhat salah satu pengunjung blognya. Karena apa yang dituturkan didasarkan pada kejadian nyata, penuturan Zara dalam Loe Gue End! ini terasa begitu nyata dan dekat, mengalir, dan tak dibuat-buat.

Dikisahkan seorang Alana – saya ambil dari resensinya ya –, gadis yang tumbuh dari kalangan sosialita Jakarta dengan segala kemudahan di sekelilingnya dan sahabat-sahabat dari kalangan yang sama pula. Tapi, jangan disangka tumbuh dalam lingkungan yang serba beroleh kemudahan membuat hidup Alana mudah dan mulus, lepas dari kepelikan hidup. Tumbuh di lingkungan serba punya dan kemudahan akses notabene memudahkan jangkauan Alana pada ‘barang-barang terlarang’. Alkohol, ecstasy, sampai heroin adalah benda-benda yang familiar tersebutkan dalam percakapan Alana dengan sahabat-sahabatnya. Begitu akrabnya, seakrab kita menggunakan gula dan garam dalam makanan keseharian.

Ya. Asyik memang hidup dengan berbagai kemudahan, tapi tak mudah menghindar dari godaan benda terlarang. Bagaimana mungkin hal itu dilakukan, bila orang-orang yang kita sayang dan semua yang kita erat bergaul dengan itu semua? Belum lagi ditambah dengan kurangnya pengetahuan, pengawasan keluarga, serta prinsip hidup yang tak hirau dan tak gentar akan hari esok.

Namun, semua yang semula terasa mudah buat Alana pelan tapi pasti menjadi makin pelik ketika satu demi satu tragedi menimpa sahabat-sahabatnya. Sahabat-sahabat yang buat anak muda kalangan Alana rasanya jauh lebih berarti dari hidup mereka sendiri. Sampai kejadian itu memaksa Alana untuk bertemu muka dengan orang-orang terdekatnya, yang selama ini jadi misteri. Keluarga yang tadinya tak pernah ikut andil dalam hidup Alana. Mama … dan kakak perempuannya. 

Kisah yang dituturkan Zara ini akan mengantar pembaca untuk masuk ke kehidupan muda-mudi sosialita, kalangan the have that have all access to almost everything. Percakapan dan jalan cerita yang disuguhkan begitu kaya dengan istilah anak muda dan mengalir tanpa dibuat namun tak terduga. Mengisahkan bagaimana hidup yang serba mudah bisa mengalir menuju pusaran misteri dan ketakderdugaan. Percakapannya jujur. Blak-blakan. Penuh kejutan dan juga menegangkan. 

Ah, Yaya memang masih seorang pencerita yang ulung! Untungnya novel Loe Gue End! ini belum end, karena masih ada kelanjutannya di episode 2. Terpaksa penasaran lagi. (Burhan Abe)


No comments:

Post a Comment