Wednesday, January 25, 2012

Sensasi Wine


BUKAN sekadar minuman, wine mengajak penikmatnya bersosialisasi. Setiap wine memiliki cita rasa berbeda yang bisa berbicara banyak soal sejarah, geografi, dan sebagainya. Seperti kata ahli kimia Louis Pasteur, a bottle of wine contains more philosophy than all the books in the world.

Sambil mengisap sebatang rokok dalam-dalam, Billy sesekali menyesap Sauvignon di tangan kanannya. Sore itu dia tengah menikmati wine andalannya di sebuah wine lounge di kawasan Senayan, Jakarta. Mengaku menjadi penikmat wine lantaran terdorong gengsi, pria yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini justru berani memilih winejenis full body. “Soalnya saya enggak suka wine yang manis,” kata Billy. Penikmat wine amatir seperti Billy, belakangan ini semakin merebak. Berbanding lurus dengan kemunculan wine lounge di Ibu Kota. Ya, penikmat wine saat ini memang semakin meningkat, bagaikan cendawan yang tumbuh subur di musim hujan.

Kalau dulu wine lounge atau wine storehanya disesaki kaum ekspatriat, kini mereka yang berkulit sawo matang mulai keranjingan menyambangi butik-butik wine. Tak hanya itu, penikmat sejati wine di Jakarta pun mulai membuat wine club. Dimulai dari Wines and Spirit Circle yang awalnya beranggotakan kalangan ekspatriat, Sayang Bordeaux Indonesia Wine Club, Grand Cru, Jalan Sutra yang juga sempat membuat wine club, hingga Evergreen Wine Club. Klub-klub wine ini secara berkala mengadakan wine tasting, wine dinner, serta food and wine pairing.

Pakar kuliner William Wongso mengatakan, pionir klub winedi Indonesia sebenarnya adalah Jakarta Wine Society yang berdiri pada 1993.Klub ini dia dirikan bersama rekannya, John Read. Ada pula Jakarta Wine Circle yang dimotori penggemar wineasing yang tinggal di Jakarta, beranggotakan 1.000 orang lebih. “Tapi, kemudian aktivitasnya menurun karena ketatnya peraturan impor wine. Asosiasi ini adalah cikal bakal berkembangnya penggemar winedan menjadi bagian dari lifestyle,” kata mantan Presiden International Wine& Food Society cabang Jakarta (1991–1994) itu.

Dalam setiap pertemuan, para anggotanya tak segan merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah. Kendati para penikmat wine jumlahnya masih kalah jauh ketimbang di Singapura dan Jepang, namun Indonesia telah memiliki beberapa sommelier andal. Sommelier atau ahli wine ini mendirikan Indonesia Sommelier Association tiga tahun silam. Adam, salah seorang sommelierdari Loewy Bar & Restaurant di Kuningan, Jakarta, mengatakan, saat melakukan pengujian wine dibutuhkan identifikasi sedikitnya dari tiga indera. Mata untuk membedakan warna redatau white wine, hidung bekerja membaui aroma wine, dan mulut untuk mengetahui varietas anggur.

“Sommelier bertugas membeli wine, menentukan wine yang akan dijual, memberi training kepada staf lain, dan yang paling penting merekomendasikan wine yang cocok untuk para tamu,” kata juara nasional Indonesia Best Sommelier 2010 itu. Apa sebenarnya yang membuat sebotol wine begitu mahal? Beberapa kalangan menganggap harga tidak mencirikan kualitas wine. Ada beberapa hal yang menjadikan wine mahal. Harga tanah dan tenaga kerja di mana wine tersebut berasal menjadi faktor pemicu. Australia misalnya, melakukan panen anggur menggunakan traktor dengan alasan efisiensi sehingga biaya produksi bisa ditekan lebih rendah.

Sementara Prancis mensyaratkan produksi maksimum per hektare. Dengan begitu, pihak produsen tidak bisa mengharapkan panen yang lebih banyak dan berlimpah karena over cropping justru akan membuat cita rasa wine menjadi cemplang dan tidak bisa disimpan lama. Hal ini guna menjaga kualitas wine agar tidak merosot. Adam menambahkan, merek dan tahun pembuatan wine ikut menentukan harga sebotol wine.

Misalnya wine buatan 2003 dihargai mahal karena perkebunan anggur di Prancis kala itu menghasilkan panen terbaik. Lebih jauh tentang harga, menurut penikmat sekaligus penulis wine Burhanuddin Abe, sangat subjektif. Negara yang mengeluarkan wine bisa mengatakan sebotol wine berkualitas bagus dan karenanya harganya amat tinggi. “Hal lain yang membuat wine di sini sangat mahal, terutama pajak minuman beralkohol. Belum lagi ongkos pengiriman barangnya,” lanjut Abe.

Minuman beralkohol yang terbuat dari sari anggur jenis vitis vinifera yang dibuat melalui fermentasi gula yang ada dalam buah anggur ini, masuk ke Indonesia sekitar 1980-an. Pada saat itu, wineyang dijual di sebuah supermarket ini harganya relatif lebih murah dibandingkan sekarang dan pembelinya kebanyakan orang asing. Wine memang ribuan jenisnya, tapi tidak perlu dihafal kok. Yang penting Anda tahu jenis wine yang Anda nikmati. Jenis anggur merah yang terkenal di kalangan peminum wine di Indonesia antara lain Merlot, Cabernet Sauvignon, Shiraz, dan Pinot Noir.

Sementara white wine atau anggur putih yang populer seperti Chardonnay, Sauvignon Blanc, Semillon, Riesling, dan Chenin Blanc. Rose wine, wine berwarna merah muda dibuat dari anggur merah namun dengan proses ekstraksi warna yang lebih singkat dibandingkan dengan proses pembuatan red wine. Sementara sparkling wine adalah wine yang mengandung cukup banyak gelembung karbondioksida di dalamnya.

Sparkling wineyang paling terkenal adalah Champagne dari Prancis. Ada pula sweet winedan fortified wine. Sudah menemukan winepilihan? Let’s toast! (Sri Noviarni)

Seputar Indonesia, 24 Januari 2012

Wine Pairing


Memadukan keju dengan wine memang sudah pakemnya. Termasuk memadukan wine dengan steak ataupun main course lain. Lantas, bisakah memadankan wine dengan makanan lokal?

WINE and cheese is a good marriage, while beer is the mistress. Begitulah pernyataan yang dilontarkan maestro keju Neil Willman dalam kunjungannya ke Jakarta tahun lalu. Dikatakan Neil, hal yang perlu diperhatikan saat memadankaan wine dengan keju, jangan memilih keju berkarakter strong dengan segelas wine yang full body. “Sebab, karakter keduanya berbeda, perlu perpaduan yang harmonis,” kata Neil.

Sebagai contoh keju cheddar, cocoknya dengan Chardonnay atau Semillon. Bisa juga dengan Cabernet Sauvignon. Di sisi lain, blue cheeseakan terasa pas disantap dengan Riesling atau Gewurztraminer. Pada dasarnya, ide menyerasikan wine dengan keju ini semata-mata untuk keseimbangan rasa dan tekstur. “Kuncinya adalah bereksperimen sendiri untuk mencari pilihan winedan keju yang sesuai dengan selera,” kata Neil. Bukan hanya aturan dalam memadukan keju dengan wine, rupanya untuk menikmati berbagai jenis keju pun ada rambu-rambunya. Semakin “kuat”r asa atau karakter keju,maka sebaiknya Anda memilih wineyang lebih manis.

Dengan begitu, karakter asli keju ataupun wineyang dipilih sama-sama bisa tetap terasa. Taruhlah di hadapan Anda ada camembert, cheddar, blue cheese, dan parmesan. Mana yang akan dinikmati dulu? Menurut Neil, jika ada beberapa pilihan keju di depan Anda, mulailah dengan keju yang berkarakter lebih lembut dahulu, kemudian meningkat ke keju yang lebih strong. Jadi, sebaiknya Anda memilih camembert, parmesan, cheddar, dan terakhir blue cheese. Ya, keju dan wine memang sudah pakemnya.

Termasuk memadukan wine dengan steak ataupun main course lain. Pertanyaannya sekarang, bisakah memadankan wine dengan makanan lokal? Bisa. Beberapa penikmat wine melakukan padu-padan makanan ini atau dikenal dengan wine pairing,sebagai pengalaman tersendiri. Burhanuddin Abe misalnya, mencoba menyandingkan masakan khas Padang seperti gulai kambing dengan jenis yang light seperti riestling.

“Rasanya yang segar matching dengan karakter gulai yang kaya bumbu,”kata penikmat wine itu. Dia bahkan berani mengatakan, semua makanan pada dasarnya bisa dipadankan dengan segelas wine selama makanan tersebut tidak terlalu strong karakternya. Benang merahnya adalah daging merah disantap bersama red wine, sementara daging putih seperti ikan dan ayam dengan anggur putih.

“Yang penting, antara makanan dan winerasanya tidak saling bertentangan,” kata Abe lagi. Sebaliknya, William Wongso malah berpendapat wine tidak diciptakan sebagai padanan masakan Asia, apalagi Indonesia.  Bila masakan Indonesia dipadankan dengan wine mahal, rasanya amat mubazir, kecuali mengejar gengsi. “Tapi, karena selama ini wine sudah menjadi bagian dari gaya hidup, ada keinginan dari penikmat wine kalau makan harus dengan wine,” kata pakar kuliner Indonesia itu.

Alhasil, terjadilah eksperimen memadankan wine dengan masakan tradisional. Dia mencontohkan, white wine yang tidak terlalu dry cocok untuk menemani bersantap gulai, kari, atau makanan lain yang tidak terlalu pedas. Sementara Champagne cocok untuk makanan yang digoreng karena gelembung gasnya seolah menyapu residu minyak. Adapun red wine yang juga tidak terlalu pekat, bisa dinikmati dengan aneka jenis sate.

Tapi,  yang pasti jenis pepesan tidak bisa masuk dengan semua karakter wine. Lantas, apa sebenarnya kunci wine pairing ini? Antara logika dan dipaksakan. Contohnya, apakah kalau makan fine dining sebanyak lima masakan utama juga harus memesan lima jenis botol wine yang berbeda? “Yang ada ya sang chef menyajikan wine and food pairing. Jadi, hanya satu wine untuk semua masakan,” tutup William. (Sri Noviarni)

Seputar Indonesia, 24 Januari 2012


Minuman yang Perlu Diapresiasi


DIKENAL di Indonesia pada sekitar 1980-an, keberadaan wine kini semakin populer di semua kalangan, mulai anak muda, eksekutif, sosialita, hingga komunitas wine di Jakarta.

Mendengar kata wine, yang tebersit di benak adalah sebuah minuman berkelas. Kenyataan ini memang tak bisa dipungkiri. Selain karena harganya yang tak dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, wine pun tidak bisa dinikmati sembarangan. Ada teknik menikmati segelas wine hingga cara memadupadankannya dengan makanan. Ini karena penikmat wine tidak sekadar mencicipi wine, lebih dari itu juga harus mengapresiasi wine dengan benar.

Misalkan melalui wine dinner atau wine tasting di mana para peserta bisa saling membandingkan rasa wine yang mereka cicipi. Teknik yang harus dikuasai mulai dari penggunaan gelas khusus, cara membuka botol, hingga menuangkan wine. Dan seperti disebutkan sebelumnya, untuk menikmati wine ada teknik tersendiri. Ketika wine  sudah dituang ke dalam gelas, hal pertama yang harus dilakukan adalah memutar-mutar gelas tersebut agar alkohol yang terdapat dalam wine menguap. Nah, udara yang mendorong penguapan itulah yang akan membawa aroma wine ke hidung kita dan selanjutnya hidung membiarkan kita menikmati cita rasa wine.

Lalu, dekatkan hidung kita ke ujung gelas dan mulailah menghirup aromanya. Kita akan dapat mengidentifikasi lebih spesifik aroma wine tersebut dengan mengira-ngira dari jenis buah anggur apakah wine itu dibuat. Misalkan dari jenis cabernet sauvignon atau chardonnay dengan hanya menghirupnya beberapa kali. Apabila menemukan aroma lain yang kita rasakan, hal itu sangat baik untuk menjadikan poin referensi guna ditambahkan lagi sebagai informasi dari jenis wine tersebut.

Tapi, jangan khawatir apabila kita tidak bisa persis mengidentifikasinya karena wine bukanlah sesuatu hal yang dapat didikte. Orang lain mengatakan jenis chardonnay memiliki rasa lemon, sedangkan kita bisa saja mengatakan memiliki rasa buah apel. Sekarang mulailah mencicipi wine. Reguk wine hingga memenuhi rongga mulut, kemudian lakukan seperti orang yang sedang berkumur-kumur, tahan sekejap, lalu telan, maka indera kita bakal menemukan tekstur, cita rasa, keseimbangan, dan kualitas pada wine tersebut.

Tapi kenyataannya, masih ada segelintir orang yang kurang memberi apresiasi pada minuman premium ini. Satu contoh ketika ada sebuah wine lounge yang mengadakan promosi wine free-flow selama dua jam dengan membayar jumlah tertentu. Pengunjung datang dan menikmati wine seperti layaknya meminum air putih. Menikmatinya tanpa jeda demi waktu yang dibatasi hanya sampai dua jam. Istilahnya, tidak mau rugi karena telah membayar ratusan ribu, maka sebisa mungkin mereka menikmati wine sebanyak-banyaknya dalam waktu dua jam tersebut.

Alhasil, ketika pulang ada seorang pengunjung yang jatuh tersungkur setelah muntah dan harus dibopong oleh kawan-kawannya!

Dari namanya, red wine, sudah pasti dibuat dari anggur merah. Di kalangan peminum wine Indonesia, jenis-jenis red wine yang terkenal adalah Merlot, Cabernet Sauvignon, Shiraz, dan Pinot Noir.

Sementara untuk white wine yang dibuat dari anggur putih/hijau, yang paling dikenal di Indonesia adalah Chardonnay, Sauvignon Blanc, Semillon, dan Riesling. Ada juga rose wine, yaitu minuman anggur berwarna merah muda yang dibuat dari anggur merah, namun dengan proses ekstraksi warna yang lebih singkat dibandingkan proses pembuatan red wine. Berbeda dengan sweet wine. Minuman ini masih banyak mengandung gula sisa hasil fermentasi sehingga membuat rasanya menjadi manis.

Yang lain adalah sparkling wine, yaitu minuman anggur yang mengandung cukup banyak gelembung karbondioksida di dalamnya. Hanya, sparkling wine yang dibuat dari anggur yang tumbuh di Desa Champagne dan diproduksi di Desa Champagne-lah yang boleh disebut champagne. Terakhir, fortified wine,adalah wine yang mengandung kadar alkohol lebih banyak. Memang, butuh pemahaman lebih terhadap wine sebelum seseorang bisa fasih berbicara dan memberikan penilaian terhadap wine. (Adriantomo, Penikmat Wine)

Seputar Indonesia, 24 Januari 2012

Friday, January 13, 2012

Diskon Gokil, Menjanjikan Segudang Produk Harga 'Gokil'


DISKON selalu menjadi hal yang menarik bagi semua orang. Setiap kali menggelar program diskon, omset sebuah toko selalu meningkat. Bahkan, demi mendapatkan diskon, orang rela untuk menunggu hingga larut malam. Ini bisa dilihat dari membludaknya pengunjung sebuah pusat perbelanjaan, setiap melakukan promo midnight sale.

Karena alasan itu, maka pada kuartal keempat tahun 2011, Falcon meluncurkan situs www.diskongokil.com, sebuah web yang memberikan informasi seputar diskon, serta bergerak di bidang e-commerce dengan menawarkan berbagai produk dengan harga diskon yang “gokil” alias sangat murah.

Situs-situs pemberi diskon belanja memang bukan yang pertama kali eksis. Setidaknya di Indonesia sudah ada sekitar 30-an situs sejenis. Namun Burhanuddin Abe, Head of Diskon Gokil, tetap optimis bahwa  Diskon Gokil dapat menjadi salah satu pemain utama dalam bidang ini.

“Kelebihan Diskon Gokil adalah memberikan informasi seputar diskon yang cepat, tepat, lengkap dan akurat. Selain memberikan info, Diskon Gokil juga melakukan Twitter live report di event-event yang berkaitan dengan diskon. Ke depannya, kami tidak hanya menjual kupon diskon, tapi akan menjadi direktori informasi diskon yang ada di Indonesia," ujarnya di sela konferensi pers yang dilangsungkan di Aperitivo, Jumat (16/12) lalu. (Agung Rachmadi)

POPULAR, December 21, 2011

Wednesday, January 11, 2012

Angin Baru Dunia Fotografi Bernama Instagram


TAHU kan Anda tentang kamera Polaroid SX-70, Polaroid 600 atau kamera Holga dan sederatan kamera jadul-jadul tersebut? Jenis-jenis kamera tersebut bukanlah kamera DSLR canggih masa kini atau SLR analog, melainkan kamera instan yang begitu rana kita tekan kertas foto langsung keluar dan gambar dapat dilihat setelah dikeringkan beberapa menit. Seringkali saat saya kecil menjumpai kamera-kamera tersebut di tempat2 wisata seperti Candi Prambanan, Klaten karena menonjolkan keinstanan waktu proses dalam menghasilkan foto tersebut.

Lantas pada era saat ini, pernahkah anda membayangkan memotret memakai kamera-kamera tersebut dengan film Polaroid 600 yang sudah expired untuk mendapatkan efek yang sekarang sangat dikenal dengan Earlybird Filter. Memotret menggunakan kamera Holga dengan film Ektachrome yang kemudian dilakukan Cross-Processed saat memproses film untuk mendapatkan efek Lomo-Fi Filter. Menggunakan Holgaroid dengan film Polaroid 80 Chocolate untuk mendapat efek Sutro Filter. Atau Lomo LC-A+ dengan film Velvia 50 untuk mendapatkan efek X-Pro II Filter.

Bisa Anda bayangkan dengan membawa kamera-kamera lama itu semua ditambah dengan film-film ‘lawas’ dan melakukan hunting foto? Sungguh bukan main repotnya. Namun saat ini hal itu dapat teratasi dengan adanya teknologi yang bernama Instagram. Sesuatu yang sangat sulit kita bayangkan akan terjadi pada satu dasawarsa yang lalu. Berbagai macam jenis kamera dan film dalam satu device kecil nan ringan bernama iPhone dengan aplikasi Instagram.

Instagram adalah sebuah aplikasi ponsel iPhone (juga di iPad dan iPod touch) yang bisa melakukan banyak model pemfilteran terhadap foto-foto anda dengan sangat mudah, hanya dengan satu sentuhan jari, sekaligus bisa membaginya kepada teman-teman yang sekarang bernama followers. Begitu menariknya aplikasi yang mampu menghasilkan nostalgia dari foto-foto yang kita punya ini, sehingga dalam 13 bulan saja lebih dari 13 juta orang di dunia menggunakannya dan siap berbagi kehidupannya, lewat gambar, kepada dunia. Sebuah kegairahan yang luar biasa dengan lebih dari 150 juta foto telah di upload dari sejak diluncurkannya aplikasi ini pada 6 Oktober 2010. Barangkali sensasinya hampir sama ketika Eastman Kodak menghadirkan Brownie di tahun 1900-an, yang begitu diminati dan membuat orang awam seketika jatuh cinta dengan fotografi, karena  mudah dioperasikan dan tidaklah “terlalu mahal”.

Di Indonesia sendiri, komunitas pecinta instagram ini mencapai ribuan. Sebagian besar dari mereka sangat aktif dan bergabung ke dalam milis iPhonesia, sebuah nama yang diambil dari (I)device (PHO)tographer indo(NESIA). Ada sekitar 1600 lebih anggota yang tercatat. Selain berbagi informasi, sebagian mereka juga aktif melakukan instameet, sebuah istilah ‘temu darat’ bagi pecinta instagram ini baik sekedar ‘nongkrong-nongkrong’ atau melakukan hunting foto dan juga instatweet atau mempublish Instagramnya melalui twitter. Lebih dari itu iPhonesia juga sangat dikenal oleh ‘intagramers‘ dunia karena keaktifan juga kekompakan mereka.

Instagram bersama iPhone serasa memberikan suasana baru akan kecintaan terhadap dunia fotografi praktis. Tengok saja, mereka yang amatir, bahkan tidak mengerti banyak akan fotografi bisa membuat karya yang cukup artistik. Mereka juga begitu produktif dalam menghasilkan foto. Menjadikan memotret dan foto sebagai sesuatu yang menyenangkan sekaligus menghibur. Tampaknya, dunia fotografi saat ini bukan hanya milik sebagian kalangan terutama yang punay kamera saja, melainkan utnuk semua orang termasuk para iPhonners atau para pengguna iPhone.

Bagi mereka yang faham fotografi lebih banyak, kamera ponsel ini benar-benar menjadikan pepatah fotografi lama, ‘The best camera is the one you have with you’ menjadi nyata. Mudah dibawa, mudah dalam pengoperasiannya, dan secara “real time” bisa dipamerkan ke ribuan pemirsa di dunia, baik dengan aplikasi ini atau lewat jejaring sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter. Beberapa diantara mereka bahkan membuat project khusus untuk membuat photo story yang kemudian dipamerkan dalam sebum pameran tunggal atau bersama-sama. Jauh dari istilah ‘main-main’.

Begitulah, bagi anda pecinta kamera Lomo/Polaroid  sejati atau bagi anda yang merasa belajar fotografi dengan ‘susah-payah’ mungkin akan sedikit mencibir. “Cepat dan pasti”, suka atau tidak, sebuah dunia baru bernama iPhoneography telah lahir. Meramaikan jagad foto digital. Sebuah dunia yang mencakup semua genre fotografi, dari street photography hingga landscape, dimana spontanitas dan pengolahan artistik lewat instagram (atau aplikasi lain) memberikan gaya tersendiri. Nuansa massa lalu, yang mampu dihadirkan kembali dalam keseharian kini.

Semoga gegap gempita ini bukanlah merupakan euforia sesaat semata, akan tetapi benar-benar menjadi angin baru dunia fotografi. Bagian dari gelombang kreatifitas yang terus mencari “batas”. (REZ)