Saturday, April 28, 2012

Creating a Joyful Shopping Destination


WHAT do you usually do to pass time at an airport? For most travelers, the answer is undoubtedly shopping. And the most popular shop at any airport is the Duty Free Shop (DFS).

The DFS Galleria is heavenly for luxury shoppers, featuring many leading brands, including Bulgari, Burberry, Cartier, Celine, Chloe, Chopard, Coach, Dior, Dunhill, Fendi, Gucci, LOEWE, Mont Blanc, Salvatore Ferragamo, Tiffany & Co and Van Cleef & Arpels.

Of course it is not easy to manage a store that carries leading brands without offering discounts. Good management and creativity is very much required. This is what Craig McKenna believes in. He is the managing director of DFS the company for South Asia, Australia, New Zealand and Singapore.

In the region McKenna is DFS Global’s revenue leader. Almost everyone knows that DFS Galleria Singapore, for example, is a shopping destination. “Creativity is required due to tight competition among retailers,” said McKenna.

He is no stranger to the retail world. He hails from New Zealand and spent his initial years in Invercargill, Dunedin, Christchurch before joining DFS in Auckland in 1995. He started his career at New Zealand DFS as vice president of operations before moving to Singapore in 2003 to become the managing director for Okinawa development.

After completing the Galleria location and assuring airport operations were running smoothly, he took over the position of managing director for business in Singapore. In this role, he was responsible for the DFS portfolio at Changi airport, covering 46 outlets selling liquor, tobacco, food, watches and other luxury items. In addition, he was responsible for an 85,000-square-foot Galleria located in the heart of Singapore that serves foreign tourists, including many Indonesians.



According to McKenna, Singapore is one the group’s most important markets as the city-state has a modern and beautiful environment that makes it one of the most wanted residential places in the world. This modern, buzzing environment is also a capital for fashion shopping in Southeast Asia. “DFS Galleria is the main destination for tourists who want to enjoy a high-class shopping ambience where choices are almost unlimited,” said the father of four who was born in 1959.

Being duty free is only part of the way it draws customers – since its creation, DFS has become a symbol of a luxury lifestyle. It offers the Platinum Services Club (PSC) through which members can enjoy a number of privileges, such as limousine transportation and personalized shopping services. “We are proud to be able to provide the best service and make the customers’ needs our top priority,” he said.

Marketing luxury items goes beyond simply selling, said McKenna, and requires a personal touch with the customers. That is why promotional events that evoke customers’ emotions are often held. One such recent event was the “Master of Spirits II”, which ran from March 31 to April 1, 2012.

The event brought together the world’s most enthusiastic connoisseurs and collectors of spirits, wine and champagne to select the most exclusive and rare spirits in the world, creating one of the most prestigious events of its kind in Asia.



Such events are known as a type of experiential marketing, which are useful to enhance the image of a company or brand, differentiate from competitors’ products and persuade potential customers to purchase the company’s products. “The most important thing is creating loyal customers,” said McKenna, who is also responsible for the establishment of DFS in Mumbai and Abu Dhabi.

DFS Group, based in Hong Kong, is a travel retail store chain with more than 200 outlets in 15 countries throughout Asia and the Pacific, the United States and the Middle East. The majority of the company’s shares belong to LVMH Moët Hennessy-Louis Vuitton, with the rest of the shares belonging to the founder of DFS Group, Robert Miller. “Due to the tight competition and increasing number of new retailers, it is not enough to rely on a close relationship with leading brand owners, but requires innovation, creativity and the right marketing strategy,” said McKenna.

Craig McKenna, Managing Director
CRAIG is the Managing Director of DFS for Asia South - Australia, New Zealand and Singapore. He is a New Zealander, who spent his early years in Invercargill, Dunedin and Christchurch before joining DFS in Auckland in 1995. He started his DFS career in New Zealand as Vice President of Operations, before relocating to Singapore in 2003 to take up the post of Managing Director of the Okinawa development.

Once the Galleria was completed and the Airport Operation acquired, Craig took over the role of Managing Director of the Singapore business. In this role, Craig is responsible for the DFS portfolio at Changi Airport which includes some 46 individual locations across Liquor, Tobacco, Food, Luxury boutiques and Watches. It also encompasses an 85,000 sqft flagship Galleria in downtown Singapore, catering to inbound tourists of all nationalities. Craig was also responsible for the establishment of DFS in both Mumbai and Abu Dhabi.

Craig is married with 4 sons and is a keen follower of all sports, but most importantly the All Blacks. (Burhanuddin Abe)

The Jakarta Post, April 28, 2012

http://www.thejakartapost.com/news/2012/04/28/creating-a-joyful-shopping-destination.html

Monday, April 16, 2012

Master of Spirits 2012

SAYA pernah terkagum-kagum ketika menikmati perjamuan makan malam, yang ditemani dengan cognac yang harganya USD 3.500 per botol. Dengan isinya yang tidak lebih dari 700 ml, minuman premium itu hanya cukup untuk 20 gelas saja.

Minuman itu adalah L’Or de Jean Martell, merupakan produk dari seni yang unik, seni Martell tertinggi dan dikembangkan melalui kerja keras sang generasi penerus para cellar master. Botol L’Or de Jean Martell merupakan sebuah permata yang dibuat dan dihias dengan tangan adalah karya terbaik seorang master pembuat kristal di Cristal de Sevres. 

Kekaguman seperti itu ternyata berlipat-lipat ketika saya hadir di acara Master of Spirits yang diadakan oleh Duty Free Shop (DFS) di Singapura, 31 Maret – 1 April 2012.

Bayangkan di acara ini terdapat koleksi spirits yang terbaik dan paling langka. “Tahun ini, kami memilih 84 produk dari 50 merek top dunia serta sejumlah wine istimewa yang sangat langka dan indah; bernilai jutaan dolar. Ini termasuk koleksi dunia yang paling eksklusif, edisi terbatas dan pilihan bernomor seri, banyak yang diciptakan khusus untuk Master of Spirits tahun ini,” jelas Harold Brooks, presiden merchandising global untuk DFS Group.

Master of Spirits menyajikan berbagai macam pilihan wine dan spirits mewah untuk memenuhi setiap selera yang ada. Beberapa karya yang dihormati untuk eksklusivitas tertinggi mereka - Johnnie Walker Diamond Jubilee diramu oleh John Walker & Sons adalah edisi terbatas yang dikemas dalam 60 decanter kristal tersuling sesuai petunjuk dari Yang Mulia Ratu sebagai peringatan pemerintahannya yang ke-60. 

Sebuah Maha Karya lainnya yang dihargai untuk mempertahankan teknik penyulingan tradisional mereka - Luzhoulaojiao National Salute bukan hanya sebuah spirit kelas premium asal negeri China tapi merupakan salah satu permata bersejarah pertama dalam dunia liquor yang patut dihormati sebagai warisan budaya nasional. 

Beberapa karya dinilai untuk sentuhan seni mereka - Macallan 1946 dengan Platinum Printnya memadukan dua proses seni yang sangat berbeda tetapi sangat dihormati, seni fotografi dan pembuatan wiski, karena setiap Macallan 1946 menggunakan label yang dicetak dari karya fotografer terkenal Albert Watson. 

Terakhir, beberapa karya yang disajikan di Master of Spirits II adalah wine klasik yang dicintai karena kemegahan rasa mereka - Blanc Cheval 1986 adalah sebuah "pertumbuhan pertama" bintang dari Saint-Emilion yang ample-bodied, halus namun nikmat dan pasti sulit untuk dilupakan.

Spirits memang bukan sekadar minuman, tapi sebuah gaya hidup. A medium Vodka dry Martini--with a slice of lemon peel. Shaken and not stirred. Kalimat yang diucapkan James Bond, tokoh rekaan Ian Fleming menjadi karakter yang melekat bagaimana segelas Martini, salah satu cocktail yang paling paling populer di dunia, adalah juga sebuah positioning seorang jagoan masa kini. 

Di acara Master of Spirits tidak hanya pameran spirits terbaik di masing-masing kategori, para connoisseurs dan kolektor spirit, wine dan champagne dari seluruh dunia berkumpul. Bersama-sama mereka menemukan spirits paling langka dan eksklusif di dunia. Master of Spirits, kali ini yang kedua, di Singapura menandakan dimulainya Master Series DFS Group untuk tahun 2012. DFS dikenal sebagai pemimpn pasar global dalam ritel produk mewah, mulai dari produk-produk kecantikan, jam tangan & perhiasan, fashion mewah serta wine & spirits.

“Acara ini adalah pertemuan impian bagi para connoisseurs dan kolektor untuk membangkitkan imajinasi mereka dan berbagi waktu sejenak lewat maha karya spirits, wine dan champagne terbaik,” ujar Philippe Schaus, presiden merchandising dan pemasaran DFS Group.

Tidak hanya produk-produk yang ditampilkan dan ditawarkan, para tamu dapat mengikuti master class, pameran eksklusif dan pertemuan gala yang elegan, serta mendapatkan kesempatan sekali seumur hidup untuk berbagi sejenak dengan para maestro yang dihormati, brand ambassador, connoisseurs dan pembicara tamu. 

Master of Spirits II di Singapura adalah perhentian pertama pada tahun 2012 untuk Master Series dari DFS Group - program khas yang belum pernah diadakan sebelumnya termasuk “Masterpieces of Time”. Master Series diadakan kembali ke Singapura untuk melanjutkan pertemuan legendaris spirits, wine dan champagne terbaik, membawa eksklusivitas dan kemewahannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Half a Century of Glory
DFS memang identik dengan kemewahan. Itulah yang ingin ditampilkan dalam Master of Spirits II. Memang, DFS tidak hanya spirits saja, DFS Galleria adalah surga belanja untuk barang-barang mewah, yang menampilkan portofolio merek-merek yang paling dicari di dunia, termasuk Bulgari, Burberry, Cartier, Celine, Chloe, Chopard, Coach, Dior, Dunhill, Fendi, Gucci, LOEWE, Mont Blanc, Salvatore Ferragamo, Tiffany & Co dan Van Cleef & Arpels.

Berkat jaringan global yang kuat serta kemitraan merek yang strategis, DFS mampu menyediakan kepada para pelanggannya produk produk berkualitas tinggi dalam suasana belanja yang menggoda. Di dalam DFS Gallerias Anda akan menemukan sentuhan klasik bermacam merek mewah maupun berbagai produk terbaru musim ini. Selain itu, banyak merek terkemuka yang menawarkan bermacam produk eksklusif edisi terbatas yang diciptakan khusus untuk DFS. Setiap DFS Galleria memiliki rangkaian lengkap berbagai kategori produk termasuk: Fashion, Kecantikan, Jam & Perhiasan, Spirits & Wine, dan Produk Spesialisasi Lokal. Dengan bermacam produk unggulan dari seluruh dunia, DFS menyuguhkan suasana ritel yang menarik dan mewah bagi para pelanggannya.

Secara global, DFS Group telah mempertahankan posisinya sebagai peritel produk mewah terkemuka di dunia sejak didirikan pada tahun 1960. Selama lebih dari setengah abad DFS Grup telah berkomitmen untuk menyediakan produk-produk istimewa dari merek merek terkenal dunia dan memberikan pelayanan sepenuhnya bagi para wisatawan internasional.

Pada tahun 1997, LVMH, salah satu merek mewah terkemuka di dunia, menjadi pemegang saham terbesar dari Grup DFS. Sejak itu, DFS Gallerias terus berkembang pesat mencakup lebih banyak lagi merek yang diakui secara internasional. DFS Grup saat ini dihormati di seluruh dunia untuk sejarah panjangnya, kualitas serta layanannya yang istimewa.

Saat ini DFS Group memiliki lebih dari 200 toko di seluruh dunia, termasuk lebih dari selusin DFS Gallerias— yang berlokasi di berbagai kota kosmopolitan dan resor bergengsi di wilayah Amerika Utara dan Asia Pasifik. Termasuk 2 di Hong Kong (Cina), 2 di Makao (Cina), Singapura, Sydney (Australia), Cairns (Australia), Auckland (Selandia Baru), Saipan (AS), Guam (AS), Hawaii (AS), Bali (Indonesia), dan Okinawa (Jepang). Operasi tambahan DFS termasuk toko bebas bea di sejumlah bandara internasional utama, hotel dan resort, termasuk Bandara Haikou Meilan, Bandara Changi Singapura, Bandara Hong Kong, Bandara International Abu Dhabi, Bandara International Al Ain, Bandara Sydney, Bandara Auckland, Bandara New York JFK, Bandara San Francisco, Bandara Los Angeles, Bandara Guam, Bandara Palau, Bandara Okinawa dan Bandara Saipan, Bandara Honolulu, Bandara Kahului, Bandara La Tontouta, Bandara Chhatrapati Shivaji, Bandara Jakarta dan Bandara Ngurah Rai Internasional.

Selama setengah abad, DFS Group telah menjadi standar untuk operasi ritel produk mewah internasional. Upaya untuk mencapai keanggunan dan kesempurnaan merupakan nilai-nilai inti dari DFS Group. Ke depan, DFS berada pada posisi yang baik untuk sebuah perjalanan kemewahan tak terbatas dan 50 tahun keunggulannya akan menjadi bukti keberhasilan dari nilai-nilai progresif di DFS.

Sejarah lebih dari setengah abad itulah yang ikut mewarnai acara Master of Spirits II, dengan kesan yang mendalam tentunya. Cheers! (Burhan Abe)

Thursday, April 12, 2012

Berburu Diskon Sampai Mati


NONTON di bioskop Rp10.000, makan sepuasnya diskon 50%, bahkan dengan Rp700.000 BlackBerry Gemini bisa dibawa pulang. Inilah bentuk baru belanja online yang mengubah perilaku konsumen.

Sejak beberapa bulan terakhir, Zila Safira memiliki hobi baru.Dia rajin berselancar di dunia maya. Namun, browsing yang satu ini berbeda. Alih-alih membuka situs belanja online, dia justru mengecek situs layanan gratis favoritnya yang menawarkan berbagai diskon menarik dengan harga yang amat miring. ”Wah, lagi ada paket perawatan tubuh seharga Rp150.000 cuma dengan harga Rp50.000. Ada voucher makan juga di restoran favorit cuma Rp20.000, beli ah,” sorak Zila gembira di hadapan layar komputernya.

Diakui Zila, program voucher diskon ini seakan menjadi candu bagi dirinya. Zila, yang sebelumnya kurang suka berbelanja atau makan-makan di restoran, sekarang malah keranjingan berburu barang atau jasa di situs-situs diskon. Sebelum mulai bekerja di pagi hari, dia pasti membuka situs diskon untuk melihat penawaran menarik yang diberikan pada hari itu.Saat jam makan siang, daripada ngobrol dengan teman-temannya, dia lebih suka melanjutkan berburu diskon lagi di situs-situs diskon.

Bahkan, sebelum berangkat tidur pun dia pasti berkutat dengan ponsel pintarnya guna membandingkan harga yang ditawarkan masing-masing penyedia layanan diskon ini. Tren situs voucher diskon berkonsep daily deals yang kini digandrungi konsumen Indonesia awalnya bermula di Amerika Serikat, sekitar 5 tahun silam. Groupon adalah pencetusnya. ”Situs tersebut banyak membuat orang tertarik hingga akhirnya memiliki lebih dari 15 juta member,” kata Head of Content Diskon Gokil, Burhanuddin Abe.

Sementara di Jakarta sendiri, meski tren voucher ini baru masuk dua tahun lalu, tapi telah berhasil menarik animo masyarakat yang cukup besar. Hal ini dibenarkan oleh CEO Groupon Disdus Indonesia Jason Lamunda. Dia melihat masyarakat sangat terbuka dengan konsep semacam ini dan setiap harinya tak sabar menunggu penawaran menarik. Buktinya, sejak dirilis pada Agustus 2010, Disdus sejauh ini sudah memiliki 1 juta pelanggan dengan rentang usia 18–35 tahun.

Setali tiga uang dengan diskongokil.com yang sejak diresmikan pada September tahun lalu, berhasil menjaring 6.500 anggota. Situs ini juga mencatat, terjadi transaksi belanja kupon 300–600 transaksi per minggunya, dengan pertumbuhan 30% hingga peluncuran Diskon Gokil pada Desember. ”Siapa sih yang tidak suka diskon? Masyarakat kelas atas sekalipun juga menyukai diskon. Artinya, tren ini tidak memandang usia dan golongan ekonomi,” urai Abe.

Masing-masing situs penyedia layanan voucher ini sendiri pun memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya. Diskon Gokil misalnya, akan mengembangkan sistem e-voucher. Jika sebelumnya member masih mencetak voucher untuk ditukarkan ke merchant, ke depan giliran voucher elektronik yang akan menggantikan voucher cetak ini dan dapat diaplikasikan melalui semua ponsel. Jangkauan layanan pun akan diperluas tidak hanya di Jabodetabek, namun juga di beberapa kota besar lainnya.

Sementara disdus.com selain menawarkan pilihan berbelanja di merchant yang menarik, juga memberikan diskon untuk aktivitas unik sebut saja pengalaman menaiki wahana hot air balloon, kelas membuat cake dan pastry, kelas perpajakan, belajar menjahit, scuba diving, dan sebagainya. Yang membuat daily deals diburu memang karena dianggap menjadi jalan untuk membeli barang-barang atau paket impian tanpa harus khawatir kantong jebol.

Menurut Chief Executive MarkPlus Consulting Iwan Setiawan dalam sebuah seminar bertajuk Customer Insight Tools, Practical Way to Get Creative Product, Services, and Branding Ideas, pada Februari lalu, hal pertama yang sangat menonjol dari konsumen di Indonesia ialah mereka senang berburu diskon. Menurut Iwan, hal ini berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang melakukan justifikasi.

Salah satunya adalah diskon yang mendorong orang melakukan justifikasi. Ini tampaknya yang bisa menjelaskan mengapa seorang mahasiswa, seperti Intan Anisa Latifah, begitu terbantu dengan adanya daily deals. Sebagai seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri, berbelanja, dan nongkrong bersama teman-teman adalah kegiatan yang jarang dilakukan. Kalaupun ada keinginan kuat untuk melakukannya, harus ditahan sedemikian rupa karena bujet bulanan yang tidak mendukung.

Namun,setelah menjadi pelanggan daily deals, hasrat bersenang-senang itu tak perlu ditahan lagi. ”Diskonnya keren-keren. Cocoklah buat mahasiswa seperti aku,” ujar mahasiswi fakultas psikologi salah satu universitas beken ini. Menurut dia, sejak ada penawaran voucher ini, dirinya bisa merasakan pengalaman seru bersama kawan-kawannya menikmati hiburan, makan, sampai belanja produk dengan harga yang amat terjangkau.

”Penting banget tuh bagi mahasiswa. Kalau dipikir-pikir, kayaknya enggak mungkin mahasiswa bisa hampir setiap minggu hang out atau ke tempat makan baru. Makanya diskon ini ngebantu banget buat aku untuk ngegaul bareng teman,” tutur pelanggan disdus.com ini. Zila pun mengakui, berburu diskon di daily deals adalah cara terbaik untuk bisa menyenangkan diri dan keluarganya jika ingin liburan.

Dia dapat mengajak keluarganya liburan tanpa harus khawatir kantong jebol. ”Tiket Dufan atau Waterboom itu kan enggak murah, tapi dengan diskon yang dikasih aku bisa bawa suami dan anak-anakku tuh. Puas deh pokoknya,” kata member Diskon Gokil ini. Diyakini Jason, prospek ecommerce dan diskon online semacam ini pasti akan terus berkembang. ”Apalagi melihat belanja online sudah semakin gampang dan aman,” katanya.

Terbukti menurut Jason, dalam sehari situsnya memberikan 5–8 promo terbaru dengan jumlah 1.000–3.000 voucher terjual laris manis per promo. Sementara Diskon Gokil mencatat persentase penjualan hingga 60% bahkan 100% untuk komoditas seperti gadget. Bagaimana tidak jika diskon yang ditawarkan mulai dari 50%–90%. Berminat? (Sri Noviarni)

Seputar Indonesia, 09 April 2012

Monday, April 09, 2012

Mengapa Facebook Beli Instagram?


NILAI pembelian Instagram oleh Facebook yang sangat fantastis, Rp 9 triliun, menimbulkan banyak pertanyaan. Salah satunya adalah untuk apa Facebook membeli Instagram.

Instagram adalah aplikasi untuk mengedit foto dengan beragam pilihan filter dan efek kemudian hasilnya dibagikan dalam jejaring sosial sangat populer di kalangan pengguna smartphone saat ini.

Sejak dirilis Januari 2011, Instagram yang awalnya hanya tersedia untuk platform iOS, iPhone, telah berhasil menarik minat sekitar 50 juta pengguna. Jumlah pengguna terus berlipat sejak Instagram juga tersedia untuk platform Android minggu lalu dengan pertambahan pengguna mencapai 1 juta pengguna setiap 24 jam.

Inilah alasan Facebook mau menggelontorkan dana yang sangat besar untuk membeli Instagram:

1. User
Instagram saat ini telah memiliki lebih dari 30 juta pengguna dan bertambah terus sejak versi untuk Android dirilis.  Meski sudah memiliki 850 juta pengguna, Facebook tetap melihat Instagram sangat berpotensi menambah jumlah pengguna Facebook.

2. Mobile
Alasan nomor dua ini bisa jadi adalah alasan utama Facebook membeli Instagram. Meski hanya berkutat di mobile, pengguna Instagram bisa disebut sangat banyak.  Facebook pun sebenarnya memiliki basis pengguna mobile yang sangat besar. Tapi ada satu yang tak dimiliki oleh Facebook, yaitu kemudahan meng-upload foto atau mobile uploading.

Di Instagram, orang bisa dengan sangat gampang, hanya 6 langkah, untuk meng-upload sebuah foto beserta filter-filternya. Bandingkan dengan di Facebook yang perlu 10 langkah untuk meng-upload foto, itu tanpa ada langkah penambahan filter dan editing di foto.

3. Bersaing dengan Google dan Twitter
Alasan lain yang membuat Facebook mengakuisisi Instagram adalah demi mendahului gerak dua pesaingnya, yaitu Google dan Twitter. Twitter adalah pesaing kuat Facebook di bisnis jejaring sosial. Meski hanya mengandalkan teks, Twitter memiliki basis pengguna yang sangat kuat.

Sedangkan Google, meski belum bertaring dengan Google+, tetap dipandang Facebook sebagai pesaing utama karena produk-produk hebat lainnya, seperti mesin pencari, Gmail, YouTube, dan lainnya. Google yang memiliki dana yang tak terbatas disebut tertarik membeli Instagram. Inilah yang membuat Facebook buru-buru mengambilalih Instagram.

4. Data
Instagram telah memiliki 30 juta pengguna yang telah meng-upload lebih dari 100 juta foto yang berisi data geotagging dan bisa juga data personal. Inilah sepertinya yang juga diincar oleh Facebook. Facebook memang memerlukan data tersebut untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk kepentingan pengiklan. (KOMPAS.com)