Wednesday, May 30, 2012

100th Anniversary Martell Cordon Bleu


MERAYAKAN usia satu abad pasti seru. Itu pula yang membuat saya datang ke pesta Anniversary 100th Martell Cordon Bleu di Golden Ballroom, Hotel Mulia Jakarta, Rabu 23 Mei lalu. 

Sebelumnya, tepatnya berlangsung dua hari 22- 23 Mei 2012 di hotel yang sama dilangsungkan pula Art Exhibtion. Berkolaborasi dengan kurator museum Amir Sidharta, acara itu dbuka oleh Edhi Sumadi, Commercial Director Of Pernod Ricard Indonesia dan Thierry Giraud sebagai The Heritage Director & Brand Ambassador Martell. 

Dari situ saja terlihat jelas bagaimana Martell Cordon Bleu diposisikan. Cognac ini adalah simbol dari French art de vivre.

Martell Cordon Bleu adalah penemuan abadi sejak 1912. Selama 100 tahun, Martell Cordon Bleu telah disuling menjadi cognac yang langka dengan keanggunan dan kehalusan yang tak tertandingi. Ketika diciptakan pada tahun 1912, Martell Cordon Bleu dengan cepat mendapat pengakuan di seluruh dunia. Cognac ini menjadi ikon dan pilihan bagi para pecinta cognac sejati yang cerdas. 

Martell Cordon Bleu dikategorikan sebagai cognac XO (extra old) yang benar-benar unik. Dengan rasa buah manisan dan kue jahe, menjadikannya sebagai cognac yang sangat menarik, dan merupakan ekspresi otentik dari kebun anggur Borderies.

Ketika Edouard Martell menciptakan Martell Cordon Bleu, ia dengan tegas memilih biru sebagai warna dari Martell. Terkait secara sistematis dengan merek ini sejak 1848, warna biru Martell adalah lambang pengakuan untuk garis keturunan pelaut dan karier awal Jean Martell. Dengan memilih menyebutnya sebagai Cordon Bleu, Edouard Martell dengan berani memberi nama yang tepat, dan melepaskan diri dari kebiasaan pada waktu itu, serta menyatukan nama Martell dengan kualitas cognac ini. 

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 100, Martell mendesain sebuah edisi terbatas. Martell mendandani botol Cordon Bleu, dengan bentuk elegan yang sesuai dengan bentuk aslinya, serta membuatnya sangat mudah untuk dikenali. Botol edisi centenary ini keseluruhannya berwarna biru untuk menghormati warna simbol dari Martell. Lambang centenary, segel, leher dan tutup botol yang berwarna perak ini memperkuat dan mempertegas warna biru dari botol ini.

Keanggunan Cordon Bleu, serta kandungan sejarahnya, malam itu seakan tertumpah. Sejak pintu masuk Golden Ballroom Hotel Mulia sudah ditandai dengan berbagai atribut spirit asal Prancis ini. Mulai dari desain ruangan, ornamen, lampu-lampu, hingga pernik-pernik pesta.

Makanan ala hotel bintang lima disajikan secara prasmanan, dan yang menarik tentu saja minumannya, Martell Gordon Bleu 100 Centenary Edition. Baik yang disajikan murni on ice hingga dicampur dengan aloe vera menjadi cocktail yang menyegarkan. Tidak cukup segelas, tapi menggoda untuk terus tambah dan tambah… 

Selesai acara makan malam, inilah momen yang tidak boleh dilewatkan, fashion show menawan yang tidak hanya menampilkan busana-busana seksi dan elegan, tapi juga menghibur mata – lengkap dengan permainan tata lampu yang menawan. Model-model semampai itu mengenakan busana hasil karya desainer terkenal: Priyo Oktaviano, Oscar Lawalata, Sapto Djojokartiko, dan Rusly Tjohnardi. Koreografi dipercayakan kepada Ari Tulang.

Acara yang dipandu Sari NIla & Ferdy Hasan itu juga menampilkan dua penyanyi papan atas, Dewi Sandra dan Dira Sugandi. Selain kemampuan vokalnya yang tentu tidak diragukan, mereka juga memakai busana panggung yang menawan – tidak kalah dibandingkan dengan Rihanna dan Lady Gaga, misalnya. Wow!

Tidak hanya sampai di situ saja, musik yang dimainkan DJ pun, di penghunjung acara, mampu menyulap ballroom yang formal seperti lantai dansa di klub-klub ternama. Sungguh sebuah pesta yang berkesan. Every drop of Martell Cordon Bleu. reveals its myriad facets. A voyage of discovery!


Monday, May 28, 2012

Martell Cordon Bleu 100 Centenary Party @ Sun City


DUNIA gemerlap (dugem) malam di Jakarta selalu seru! Buktinya, di Sun City, 25 Mei lalu, Jakarta seakan kagak ada matinye! Acara party dalam rangka merayakan 100 tahun Martell Cordon Bleu seperti magma yang menarik minat patygoers Jakarta.

Martell Cordon Bleu adalah penemuan abadi sejak 1912. Selama 100 tahun, Martell Cordon Bleu telah disuling menjadi cognac yang langka dengan keanggunan dan kehalusan yang tak tertandingi. Ketika diciptakan pada tahun 1912, Martell Cordon Bleu dengan cepat mendapat pengakuan di seluruh dunia. Cognac ini menjadi ikon dan pilihan bagi para pecinta cognac sejati yang cerdas.

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 100, Martell mendesain sebuah edisi terbatas. Martell mendandani botol Cordon Bleu, dengan bentuk elegan yang sesuai dengan bentuk aslinya, serta membuatnya sangat mudah untuk dikenali. Botol edisi centenary ini keseluruhannya berwarna biru untuk menghormati warna simbol dari Martell. Lambang centenary, segel, leher dan tutup botol yang berwarna perak ini memperkuat dan mempertegas warna biru dari botol ini.

Malam itu pengunjung dihibur oleh penampilan live home band Sun City, serta parade DJ, mulai dari  DJ Milinka, DJ Meichan, DJ Poppy, DJ Donny BTQ, & DJ Audry, serta Sun City Dancers. Juga penampilan istimewa Aura Kasih dan Katon Bagaskara.

Penampilan Aura Kasih memang salah satu yang ditunggu, dan benar saja penyanyi cantik itu mampu memukau pengunjung dengan lagu Mari Bercinta. Sambil menikmati cognac terbaik di dunia, para pengunjung pun ikut bercinta eh bernyanyi.

Semakin malam pengujung mulai menari seiring penampilan DJ Milinka dan DJ-DJ lain. Katon Bagaskara,  tentu, membawa suasana tersendiri, dari lagu sendu hingga dance music khas vokalis pemimpin KLA Project itu.

Di pesta itu terlihat juga Mr. Thierry Giraud sebagai The Heritage Director & Brand Ambassador Martell ikut bersulang dan bernyanyi  bersama pengunjung. Yup, acara ini memang khusus dipersembahkan Martell Gordon Bleu, sensasi baru, yang mengungkapkan aroma baru serta cerita baru…

Cheers!

Wednesday, May 09, 2012

Vox Populi Wine Community


Dari Iseng Hingga Berburu Wine ke Berbagai Negara

MINUM wine di kalangan orang Indonesia kian ngetren. Selain menjadi bagian dari gaya hidup urban, wine merupakan pasar yang sangat potensial untuk terus digarap. Berbagai komunitas pencinta  wine pun bermunculan, salah satunya Vox Populi Wine Community.

Vox Populi Wine Community adalah komunitas pecinta wine, kumpulan orang-orang penyuka wine, minuman yang berasal dari fermentasi dari buah anggur. Minuman ini bisa dibilang minuman khusus orang-orang kelas atas, sebab selain mahal harganya juga tak gampang menemukan barang ini.

Demi mendapat rasa dan kualitas anggur terbaik, para penggila minuman ini rela merogoh koceh hingga puluhan juta. Bahkan mereka juga rela berburu ke berbagai negara lain seperti Eropa hingga Timur Tengah. Seperti yang dilakukan oleh para anggota komunitas wine yang dipelopori oleh Burhanuddin Abe ini. Mereka mengaku awalnya tidak sengaja membentuk komunitas wine ini. Dari iseng-iseng karena sering meliput dan menulis masalah wine, hingga mencari sendiri minuman tersebut, membuat wartawan senior lifestyle ini terus selalu berburu minuman itu hingga ke manca negara  – beberapa di antaranya memang ada kaitannya dengan liputan.

“Terbentuknya komunitas pecinta wine ini sebetulnya tidak sengaja, pada awalnya kami hanya kumpul-kumpul di suatu tempat, karena pekerjaan sebagai wartawan, lama-kelamaan jadi keseringan sehingga kami rutin minum-minum wine, maka terbentuklah komunitas ini,” kata Burhanuddin Abe, ketua Vox Populi Wine Community. Di luar wine, Vox Populi sendiri sebetulnya adalah sebuah creative syndicate, yang di dalamnya terdiri dari para penulis dan wartawan freelance, yang terbentuk sekitar enam tahun yang lalu.

Kembali ke soal wine, “minuman ini sejarahnya sudah ada lebih dari 1.000 tahun sebelum Masehi, berawal dari Iran itu penghasil wine, akhirnya tersebar ke banyak negara, ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya.

Menurut Burhan Abe banyak negara sudah memiliki kebun anggur dan pengolahan wine, termasuk di Indonesia, “Kalau bicara soal wine, dan wineries, sejarahnya memang sudah lama banget. Prancis dikenal sebagai salah satu penghasil wine terlama dan terbaik di dunia. Kalau di Australia, yang anggurnya dikenal sebagai new world wine, juga tidak kalah serunya, bahkan kini menjadi salah satu negera penghasil wine terbesar. Hampir semua negara mempunyai produk wine, minimal penduduknya mengonsumsi wine. Indonesia juga punya wine, yang diproduksi di Bali, mereknya Hatten,“ katanya.

Permintaan wine dan tradisi minum wine di Indonesia, khususnya di Jakarta dan beberapa kota besar, memang mulai tinggi, bahkan sejak tahun 2000-an banyak bermunculan komunitas-komunitas dan klub-klub pecinta wine – yang sebelumnya hanya monopoli para ekspat. “Apalagi banyak distributor wine yang bermunculan, juga wine lounge yang banyak dibuka di Jakarta,” jelasnya.

Tujuan membentuk komunitas wine lanjut Burhan, bukan sekadar untuk mabuk-mabukan pastinya. “Sebagian orang kalau mendengar anggur itu kesannya adalah minuman memabukkan. Padahal wine ini beda dengan minuman keras pada umumnya, cara minumnya ada seni tersendiri. Wine itu adalah social drink, ada ritualnya, dan dinikmati rame-rame dalam sebuah perjamuan, misalnya wine dinner. Sambil berkumpul, menikmati makanan dan minuman, mereka bisa saling bertukar pikiran, minimal networking,”  tandasnya. (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Mengenal Jenis Wine


SOAL harga memang relatif. Tapi tidak bisa dipungkiri, wine di Indonesia, menurut Burhan Abe, tergolong mahal – bahkan lebih mahal dibandingkan di negara asalnya. “Hal lain yang membuat wine di sini sangat mahal, terutama ada pajak minuman beralkohol yang dikategorikan sebagai barang mewah. Belum lagi ongkos pengiriman barangnya,” tuturnya.

Wine atau minuman beralkohol yang terbuat dari sari anggur jenis vitis vinifera ini masuk ke Indonesia sekitar tahun 1980-an. Soal jenisnya, minuman yang dibuat melalui fermentasi gula di dalam anggur itu memang banyak. “Wine memang ribuan jenisnya, tapi tidak perlu dihapal kok, yang penting kita bisa menikmatinya,” katanya.

Memang, ada beberapa jenis anggur yang populer. Jenis anggur merah yang terkenal di kalangan peminum wine di Indonesia antara lain Merlot, Cabernet Sauvignon, Shiraz, dan Pinot Noir. Sementara untuk anggur putih yang populer seperti Chardonnay, Sauvignon Blanc, Semillon, Riesling, dan Chenin Blanc.

Secara garis besar, anggur terbagi menjadi dua, merah dan putih. Tapi di luar itu ada rose wine, wine berwarna merah muda dibuat dari anggur merah namun dengan proses ekstraksi warna yang lebih singkat dibandingkan dengan proses pembuatan red wine. Sementara sparkling wine adalah wine yang mengandung cukup banyak gelembung karbondioksida di dalamnya. Champagne adalah sparkling wine, tapi dihasilkan di wilayah yang sama di Prancis, yakni Champagne. Ada pula sweet wine dan fortified wine.  Sudah menemukan wine pilihan? Let’s toast! (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Burhan Abe: Wine is A Lifestyle



UNTUK menegok komunitas wine yang berada di Jakarta rasanya tak begitu jelas jika tidak langsung menyapa atau bertemu dengan para penggila wine ini. Berikut petikan wawancara reporter Nonstop Suyoko dengan ketua komunitas pecinta wine yang dijumpai di Ephicure Wine Lounge, FX Senayan, Jakarta.

Ada syarat khusus untuk bergabung di komunitas wine, Vox Populi?

Nggak ada syarat untuk bergabung, yang penting saling kenal. Karena biasanya paling banyak untuk wine dinner sekitar 12 orang, untuk hasil yang lebih optimal. Hanya saja, cara minum di sini tidak kaku juga kok. Kasual saja…

Di mana saja tempat di Indonesia bisa ditemui wine ini?

Sekarang sudah banyak. Hampir semua hotel berbintang di Jakarta punya wine lounge.  Di luar itu juga banyak pilihannya, dari yang kecil spesifik hingga yang luas, di mana wine lounge menjadi bagian dari bar dan restoran.

Apakah ada kegiatan rutin di komunitas ini?

Kalau ini kan dadakan, kami biasanya punya kesibukan masing-masing. Biasanya, karena kami juga penulis kita sering diundang oleh distributor, wine lounge, atau hotel-hotel yang ingin mengenalkan produk winenya. Biasanya tidak hanya wine saja, ada juga hotel yang mengenalkan produk lainnya, F&B pada umumnya, kami juga di undang dan lain-lain. Di luar itu kami juga sering ngumpul-ngumpul di wine lounge tertentu di Jakarta.








Kesulitan untuk mengembangkan komunitas  dan prestasi apa yang sudah didapat?


Kami punya misi agar para wartawan yang menulis tentang wine itu mempunyai pengetahuan yang baik tentang baik. Kalau di Perancis, ketika produsen mengeluarkan produk baru, biasanya wartawan yang menepat kesempatan pertama – sama seperti fim-film baru, wartawan lah yang mendapat kesempatan pertama untuk membuat review-nya. Jadi keluarnya produk wine di sana yang menilai itu dari wartawan.

Kesulitan kita karena di sini penulis wine bisa dihitung dengan jari. Maka dari itu, kami sering mengadakan wine education untuk wartawan gaya hidup, khususnya kuliner,  dengan sponsor distributor wine. Tujuannya adalah mereka bisa menulis wine dengan benar, dengan terminologi yang benar pula, minimal biar tidak malu-maluin.

Sudah berburu wine ke negara mana saja?

Paling sering memang ke Singapura, di event-event internasional, seperti Wine for Asia, World Gourmet Summit, Master of Spirits, dan lain-lain. Saya juga pernah ke Australia, mencicipi  makanan dan anggur terbaiknya, dalam acara Epicurean Theme Tour bersama para wartawan dari berbagai negara.

Kenal wine dari tahun berapa?

Sekitar tahun 1990-an sudah kenal, tapi mulai menikmatinya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan mungkin awal 2000-an. Sekarang sering diundang dinner yang mengandung wine, lama-lama juga ada acara yang memang mengkhususkan wine, seperti wine tasting atau pun wine dinner.  Semua pengalaman ini mengalir begitu saja, ini karena saya memang wartawan bisnis dan lifestyle, pernah bekerja di beberapa media, serta pernah memimpin majalah Appetite Journey, yang mengkhususkan diri pada F&B lifestyle.

Tanggapan keluarga bagaimana?

Biasa saja, apalagi saya cenderung menikmati wine sendiri, sebagai bagian dari pekerjaan, juga sebetulnya saya tidak punya tempat khusus wine cellar di rumah.

Tanggapan Anda soal anggapan minuman haram?

Orang boleh berpendapat apa saja. Tapi saya menganggap wine is a lifestyle. Wine juga bukan untuk mabuk-mabukan, ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, ada juga sebagian anggur yang mempunyai fungsi untuk kesehatan tubuh – red wine bisa mengurangi risiko penyakit jantung koroner, tujuan kita cuma ingin menikmati saja.  (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

Mengulik Wine di Dunia



WINE Spanyol memang sangat populer di dunia. Sejak tahun 1877 beberapa kota yang ada di Spanyol sudah mampu memproduksi wine yang menyebar di berbagai negara. Faktanya, negara tersebut juga tercatat sebagai penghasil wine terbesar di dunia, dibandingkan Perancis yang memiliki Champagne, yang menghasilkan sparkling wine dengan nama wilayah tersebut.

Wine Spanyol adalah wine yang diproduksi di Spanyol tentu saja. Terletak di Semenanjung Iberia, Spanyol memiliki lebih dari 2.900.000 hektar lahan anggur dengan 600 lebih varietas, yang mampu menghasilkan wine terbaiknya.

Anggur – yang diminum manusia sejak 5.000-an tahun yang lalu, adalah minuman yang populer di banyak negara. Negara-negara yang penduduknya meminum anggur paling banyak adalah Perancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Britania Raya, Republik Rakyat Cina, Rusia, dan Rumania. (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012