Wednesday, May 09, 2012

Burhan Abe: Wine is A Lifestyle



UNTUK menegok komunitas wine yang berada di Jakarta rasanya tak begitu jelas jika tidak langsung menyapa atau bertemu dengan para penggila wine ini. Berikut petikan wawancara reporter Nonstop Suyoko dengan ketua komunitas pecinta wine yang dijumpai di Ephicure Wine Lounge, FX Senayan, Jakarta.

Ada syarat khusus untuk bergabung di komunitas wine, Vox Populi?

Nggak ada syarat untuk bergabung, yang penting saling kenal. Karena biasanya paling banyak untuk wine dinner sekitar 12 orang, untuk hasil yang lebih optimal. Hanya saja, cara minum di sini tidak kaku juga kok. Kasual saja…

Di mana saja tempat di Indonesia bisa ditemui wine ini?

Sekarang sudah banyak. Hampir semua hotel berbintang di Jakarta punya wine lounge.  Di luar itu juga banyak pilihannya, dari yang kecil spesifik hingga yang luas, di mana wine lounge menjadi bagian dari bar dan restoran.

Apakah ada kegiatan rutin di komunitas ini?

Kalau ini kan dadakan, kami biasanya punya kesibukan masing-masing. Biasanya, karena kami juga penulis kita sering diundang oleh distributor, wine lounge, atau hotel-hotel yang ingin mengenalkan produk winenya. Biasanya tidak hanya wine saja, ada juga hotel yang mengenalkan produk lainnya, F&B pada umumnya, kami juga di undang dan lain-lain. Di luar itu kami juga sering ngumpul-ngumpul di wine lounge tertentu di Jakarta.








Kesulitan untuk mengembangkan komunitas  dan prestasi apa yang sudah didapat?


Kami punya misi agar para wartawan yang menulis tentang wine itu mempunyai pengetahuan yang baik tentang baik. Kalau di Perancis, ketika produsen mengeluarkan produk baru, biasanya wartawan yang menepat kesempatan pertama – sama seperti fim-film baru, wartawan lah yang mendapat kesempatan pertama untuk membuat review-nya. Jadi keluarnya produk wine di sana yang menilai itu dari wartawan.

Kesulitan kita karena di sini penulis wine bisa dihitung dengan jari. Maka dari itu, kami sering mengadakan wine education untuk wartawan gaya hidup, khususnya kuliner,  dengan sponsor distributor wine. Tujuannya adalah mereka bisa menulis wine dengan benar, dengan terminologi yang benar pula, minimal biar tidak malu-maluin.

Sudah berburu wine ke negara mana saja?

Paling sering memang ke Singapura, di event-event internasional, seperti Wine for Asia, World Gourmet Summit, Master of Spirits, dan lain-lain. Saya juga pernah ke Australia, mencicipi  makanan dan anggur terbaiknya, dalam acara Epicurean Theme Tour bersama para wartawan dari berbagai negara.

Kenal wine dari tahun berapa?

Sekitar tahun 1990-an sudah kenal, tapi mulai menikmatinya dan menuangkannya dalam sebuah tulisan mungkin awal 2000-an. Sekarang sering diundang dinner yang mengandung wine, lama-lama juga ada acara yang memang mengkhususkan wine, seperti wine tasting atau pun wine dinner.  Semua pengalaman ini mengalir begitu saja, ini karena saya memang wartawan bisnis dan lifestyle, pernah bekerja di beberapa media, serta pernah memimpin majalah Appetite Journey, yang mengkhususkan diri pada F&B lifestyle.

Tanggapan keluarga bagaimana?

Biasa saja, apalagi saya cenderung menikmati wine sendiri, sebagai bagian dari pekerjaan, juga sebetulnya saya tidak punya tempat khusus wine cellar di rumah.

Tanggapan Anda soal anggapan minuman haram?

Orang boleh berpendapat apa saja. Tapi saya menganggap wine is a lifestyle. Wine juga bukan untuk mabuk-mabukan, ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, ada juga sebagian anggur yang mempunyai fungsi untuk kesehatan tubuh – red wine bisa mengurangi risiko penyakit jantung koroner, tujuan kita cuma ingin menikmati saja.  (YKO)

Sumber: Nonstop, 22 April 2012

No comments:

Post a Comment