Monday, July 30, 2012

Istanbul: Once in a lifetime World Class Experience

Berlin, Istanbul, dan New York adalah tiga destinasi yang dihadiahkan kepada pemenang program Marlboro Connections tahun lalu, yang akan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya. Intinya, program tersebut memberikan pengalaman tak terlupakan kepada pemenangnya, berkunjung ke kota-kota yang menjadi mewakili gaya hidup kelas atas, perpaduan kejayaan masa lampau dan gaya hidup modern masa kini. “One in a lifetime world class experience,” ujar Lala, salah seorang pemenang. 

Sebenarnya, apa menariknya kota-kota itu, sehingga Lala dan kawan-kawan, mendapatkan pengalaman yang luar biasa selama 13 hari? Berikut ini adalah cerita dari Istanbul. 

Istanbul adalah kota kedua yang dikunjungi ada peserta Marlboro Connections. Tidak heran, kota ini sangat unik, kota modern, terbesar di Turki, tapi masih menyisakan warisan lama – bisa dilihat dari jejak bangunan-bangunan yang berdiri di kota itu maupun tradisi yang masih dijaga oleh penduduknya.  

Hingga 1930 kota ini lebih umum dikenal dengan nama Konstantinopel oleh orang-orang Barat; beberapa orang memanggilnya Stambul, khususnya pada abad ke-19. Jauh sebelumnya, kota yang berdiri pada abad ke 7 sebelum Masehi ini juga pernah dikenal sebagai Bizantium atau Byzantion. 

Pada tahun 330, kota ini pernah menjadi ibu kota kekaisaran Romawi Timur, tapi pada 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan Kesultanan Ottoman di bawah pimpinan Sultan Muhammad II. Nama Konstantinopel kemudian diganti menjadi Istanbul yang berarti kota Islam. 

Dengan populasi sebesar sekitar 15 juta, Istanbul adalah kota yang terpadat penduduknya di Turki dan merupakan salah satu kota terbesar di Eropa. Meski modern, Istanbul adalah kota yang asri dengan pemandangan yang indah. 

Istanbul adalah kota paradoks, tua dan besejarah, sekaligus begitu modern dan dinamis. Benteng dan bangunan yang berasal dari masa lampau, bersatu dengan bangunan modern. Budaya Eropa yang menyatu indahnya dengan budaya Asia. Semuanya terlihat menjadi satu kesatuan hampir tanpa susah payah. Saling melengkapi demikian indahnya. 

Turis mana yang tidak terpesona, sepanjang jalan adalah bangunan unik dengan taman-taman yang terjaga rapih. “Jemari saya yang biasanya sibuk mengambil foto tanpa saya sadari terhenti. Saya begitu terpana melihat betapa indahnya kota ini. Langit biru musim semi dan tulip berbagai warna yang bermekaran di seluruh penjuru membuat kota tua ini tampak begitu mempesona. It took my breath away!” seru Lala tak bisa menahan kegembiraannya. 

Sebelum sampai hotel, para peserta sempat mampir ke jembatan Galata, kemudian naik ke menaranya untuk melihat pemandangan Istanbul yang indah dari atas. Pengalaman yang indah itu bahkan mereka rasakan sebelum tiba ke Hotel W, hotel ultra-trendy tempat mereka menginap selama tiga hari. Hotel W Istanbul dekat dengan Bosphorus dan Nisantasi, kawasan belanja paling fashionable. Terletak di kawasan Suleyman Seba, distrik elite yang dipenuhi berbagai restoran, kafé, dan galeri, Hotel W ini memang luar biasa. Hotel W mempunyai dua restoran, gym modern, serta spa. Tata interior hotel dan kamar yang memukau, juga tak lupa tempat tidur empuk dan nyaman, tentunya. 

Dari Suda hingga Spice Bazaar 
Malam harinya mereka bisa menikmati dinner di Suda, sebuah pulau buatan terapung di tengah selat Bosphorus. Meskipun udara dingin berhembus kencang, pemanas di antara meja para tamu restoran mampu menghangatkan tubuh. Bagaimana dengan makanannya? 

Suda menyajikan hidangan otentik Turki. Dari appetizer berupa roti-roti rangkaian salad dan yoghurt, mains berupa kebab daging sapi, kambing dan ayam, tidak lupa ditemani nasi rempah berwarna merah yang sungguh nikmat. Makan malam ditutup dengan Baklava pistachio, penganan manis dan gurih khas Turki. So, yummy! 

Keriaan belum berakhir, karena peserta harus mengunjungi lagi sebuah venue, yakni Reina Night Club. Inilah salat pusat kehidupan malam di Istanbul. Pada waktu musim panas, klub ini mempunyai area terbuka dengan atmosfer yang stylish dan elegan. Musik yang dinamis, dengan aneka cocktail yang menyegarkan cukup membuat fun, membuat lupa bahwa waktu sudah menunjukkan nyaris pagi. Mereka harus pulang ke hotel untuk merebahkan tubuh, membawa kenangan dalam buaian mimpi. 

Mengawali pagi belum lengkap kalau tidak mengunjungi pasar, pilihanya adalah Spice and Grand Bazaar, yang dalam bahasa lokal disebut Misir Carsisi ini adalah pasar tertua kedua di Istanbul. Di bangunan berbentul L inilah transaksi jual-beli rempah biasa dilakukan, yang konon tradisinya sudah ada sejak silam. 

Pasar ini didirikan pada tahun 1660 oleh Hatice Sultan, dan keberadaannya sampai sekarang masih terjaga. Di lorong-lorong pasar inilah aroma rempah, seperti lada, cabai, pala, dan lain-lain menyeruak di udara. Selain rempah terdaoat pula buah-buahan dan kacang-kacangan, juga jajaran teh herbal. Hanya yang pandai menawarlah yang bisa mendapatkan barang bagus dan murah. 

Sehabis berbelanja kini saatnya makan siang, dan pilihannya adalah Giritli Restaurant. Berlokasi di kota tua, restoran ini menyajikan makanan khas Turki, hidangan ala oriental mediterania yang lezat. Sungguh pengalaman yang luar biasa. 

Ke Istanbul belum lengkap kalau tidak mampir ke haga Sophia dan Topkapi Palace. Hagia Sophia semula adalah gereja yang dibangun tahun 537 oleh Justinian, kaisar Byzantine, menjadi gereja yang termegah dan terbesar di dunia pada zamannya, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi mesjid pada 1453 oleh Sultan Mehmet, yang ketika itu berhasil menaklukkan Constantinople. Pada masa rezim Mustafa Kemal Ataturk, tokoh sekuler pendiri Republik Turki kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum pada tahun 1935. 

Ada pun Topkapı Palace terletak di atas bukit dengan pemandangan bebas ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara. Dibangun pada tahun 1478 oleh Sultan Mehmet II, digunakan sebagai hunian dari para sultan Ottoman selama hampir 400 tahun, Topkapı Palace kini termasuk warisan dunia UNESCO sebagai Kota Tua Istanbul. 

Belly Dance, Yacht Cruise, Night Life 
Istanbul adalah kota paradoks, selain kehidupan masa lalu yang rekam jejaknya masih terada, kehidupan modern kota ini tidak beda jauh dengan kota-kota besar lainnya. Di Nomads Restaurant bahkan berpadu dengan sempuran antara yang tradisional maupun modern. Makanan ala Barat pasti gampang ditemukan di restoran ini, tapi tidak susah menemukan makanan ala Turki yang tidak asing dengan lidah orang-orang Timur bahkan Barat sekalipun. 

Malam itu, selain makan, para peserta mendapat suguhan tari perut khas Timur Tengah, yang tidak hanya dimainkan oleh wanita tapi juga pria. Yang menarik, para penari tidak hanya menari sendirian tapi menyeret pengunjung ke panggung bahkan mengagari tari nan eksotik itu. Tidak terasa jam pun menunjukkan jam 02.00 pagi. 

Hari terakhir di Istanbul seakan tak hendak terlewatkan sedikit pun. Setelah beristirahat sejenak pada pagi hari, siang hari saatnya adalah saat yang tepat untuk mencoba pengalaman naik kapal pesiar eksklusif Bosphorus Exclusive Yacht Cruise. 

Di kapal pesiar tidak hanya pemandangan laut dan pantainya yang indah, tapi di dalam kapal sendiri tidak kalah serunya. Tidak hanya makanan, dan minuman tentu saja, yang tersedia cukup dan semuanya enak, tapi ada hiburan DJ yang memainkan musik masa kini. Siang bukan berarti tabu untuk party! 

Bukan sekadar DJ, tapi DJ Ilkay Talu cukup dikenal di kalangan pecinta “dugem” (dunia gemerlap) malam. Kariernya sebagai DJ profesional dimulai sejak tahun 1994, ia bermain di sejumlah klub terkenal di dunia, sebutlah LAILA, Club Hydromel, Club Ctynites, Ares Club,Vanessa dan NuovaRossa. 

Ilkay juga membangun reputasinya sebagai DJ di sejumlah private party di hotel-hotel bintang lima seperti di Hilton Istanbul. Salah satu yang membanggakan adalah ia pernah diikutsertakan dalam acara Miss Globe World Contest yang pesertanya berasal dari 125 negara. Suatu kehormatan bagai para peserta kalau malam itu “dijamu” Ilkay dengan musik masa kini, juga musik perpaduan antara oriental tunes dan modern beats. 

Acara hari itu, yang berlangsung siang hingga sore, diakhiri dengan makan malam di 360 Restaurant, lengkap dengan night life-nya. Inilah klub paling glamor di Istanbul, yang berkali-kali memenangkan penghargaan – baik makanannya maupun atmosfernya. A glass-walled rooftop extravaganza with a popular bar and a circular view of the metropolis. Wow!

Monday, July 23, 2012

Baju Koko SBY, Kaftan Syahrini, dan Kopiah Said Aqil



”Di bulan Ramadhan, yang naik tidak hanya harga, tapi juga kejahatan, pengemis jalanan, uang palsu.” Inilah olok-olok seorang remaja putri sambil sibuk browsing serba-serbi fashion Ramadhan, mencarikan untuk orangtuanya tren baru motif bordir baju koko ala SBY. Ia sendiri mencari motif baru kaftan Syahrini, yang serba ”blink” di aksen leher, dada, hingga perut.

Ramadhan memang serba ”blink”. Diperkirakan uang yang berputar senilai Rp 64 triliun. Bahkan, mal-mal menaikkan jumlah penjualan produk mereka hingga 40 persen. Hal ini mencerminkan hasrat-hasrat konsumerisme yang dilegitimasi oleh kebutuhan rohani dan dikapitalisasi oleh industri. Inilah ”industrialisasi puasa”.

Sesungguhnya, puasa bukanlah sekadar tidak makan dan minum selama sebulan penuh, tetapi merujuk perilaku manusia ”muttagin”, yakni nilai keutamaan manusia, seperti tidak tamak, toleran, sabar, berbagi, dan lain-lain. Dengan kata lain, puasa adalah sebuah perlawanan terhadap hasrat-hasrat konsumerisme.

Hasrat konsumerisme adalah cermin sebuah perilaku fashion, layaknya mengonsumsi kaftan Syahrini, tidak lagi sekadar berkehendak, tetapi mengalami, memiliki, serta mengejar, yang tidak pernah berhenti mengikuti tren, sebuah nihilisme yang terus dibarukan dan diremajakan. Inilah kerja kapitalisasi. Celakanya, kapitalisasi sering mengambil jalan pintas, serba vulgar, dan tidak esensial yang menjadi daya hidup era ini.

”NU mengajarkan bahwa kita harus mewarisi tradisi, tetapi terbuka pada inovasi. Sesungguhnya kita banyak mengalami lompatan yang luar biasa, tetapi juga kehilangan yang luar biasa.” Demikian KH Said Aqil, Ketua NU sekaligus Ketua Majelis Wali Amanah UI, menyambut berdirinya Abdurrahman Wahid Center di Universitas Indonesia. Kiai ini mengenakan kopiah ala kiai desa, meski tentu saja kopiahnya tidak sepopuler fashion ala Ustaz Jefry.

Memang benar, negeri ini telah banyak mengalami kehilangan luar biasa. Termasuk kehilangan sebuah kerisauan Gus Dur, yakni hilangnya ruang komunikasi bagi keteladanan kiai-kiai kampung, justru di tengah industrialisasi pesan-pesan agama. Kiai kampung dengan sarung dan kopiah sederhana, yang menghidupi desa-desa dengan bekerja bersama rakyat, mengajar dan menemani daya hidup desa yang beragam. Merekalah yang menghidupi sejarah toleransi Islam serta kebangsaan di sudut-sudut Indonesia.

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan yang serba ”blink” ini, saya memilih mendengarkan tembang-tembang santi suaran, tembang Islami dengan iringan gamelan, yang dalam sejarah Islam menghidupi masjid-masjid sebagai bagian dari Islam kultural.

Simaklah cuplikan tembang ”Ilir-ilir” yang digunakan Sunan Kalijogo untuk menumbuhkan Islam di tanah Jawa (terjemahan bebas):

Lir-ilir tandure wis sumilir
Bangunlah, saatnya menanam benih pikiran dengan kejernihan
Tak ijo royo-royo tak senggah temanten anyar
Suburkanlah nilai manfaat, inilah nilai membawa kegembiraan baru
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi ....
Gembalakan hati kamu, hidupkan dirimu dengan rukun Islam
(Catatan: belimbing dengan lima sisi adalah simbol rukun Islam)

(Oleh Garin Nugroho - Kompas, 23 Juli 2012)

http://ramadhan.kompas.com/read/xml/2012/07/23/15452815/Baju.Koko.SBY.Kaftan.Syahrini.dan.Kopiah.Said.Aqil

Wednesday, July 04, 2012

Hidangan Berkelas ala Michelin-Starred Chef


WISATA kuliner kini menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sebab, makanan tidak lagi hanya sebagai kebutuhan dasar untuk hidup, tapi sebuah karya, dan hasil olah makanan oleh Michelin-starred chef boleh dikatakan sebuah maha karya di bidang makanan.

Adalah Mandarin Oriental Hotel Jakarta (MOHJ) yang rajin memanjakan lidah para tamunya dengan menghadirkan berbagai chef yang memiliki predikat Michelin star untuk restorannya. Pencapaian predikat itu sendiri merupakan salah satu aspirasi tertinggi para chef karena persyaratan untuk mencapainya begitu ketat, dan membutuhkan modal, ketekunan, serta keterampilan tingkat tinggi.

Terhitung sejak tahun lalu, MOHJ telah mengundang beberapa chef handal asal Perancis yang telah mendapatkan Michelin star seperti Chef Nicolas Isnard, Chef Fabien Lefebvre, dan Chef Jerome Laurent. Berikutnya yang mendapat giliran adalah Lionel Lévy, yang hadir di restoran ala Prancis yang berlokasi di hotel tersebut, Lyon, 28 - 30 Juni 2012

Orang Prancis dikenal bangga dengan kuliner mereka, sehingga dianggap istimewa jika ada seorang chef Prancis muda yang ambisius mulai mengabaikan dan keluar dari pakem kuliner Prancis.

Chef Lionel Lévy, pemilik restoran Une Table au Sud yang meraih bintang Michelin beberapa tahun yang lalu adalah salah satunya. Berasal dari Vieux Port of Marseille, Chef Lionel Lévy memadukan kecanggihan dan ketajaman dalam kreasinya untuk menciptakan rasa yang super istimewa dan memberi kejutan baik bagi indra penglihatan maupun pengecap Anda.

Sosok yang penuh rasa keingintahuan, dengan segala risiko senang bereksplorasi, Chef Lévy menghabiskan masa mudanya di dapur tetangga, yaitu sebuah restoran Maroko di mana pemiliknya mengingatkannya pada neneknya. Pengalaman masa kecil tersebut mengispirasinya untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah perhotelan di Toulouse.

Akan tetapi yang membuatnya berhasil meraih chef berbintang adalah ketika ia mengembangkan keahliannya dan menimba pengalaman menjadi anak buah beberapa koki ternama. Mulai dari Chef Gérard Garrigues di mana ia belajar untuk selalu memberi yang terbaik. Dari Chef Yves Camdeborde ia menemukan cara mengolah sesuatu yang tidak berarti menjadi hasil yang hebat. Sedang dari Chef Eric D’frechon ia belajar memaksimalkan efisiensi; hingga Chef Alain Ducasse dimana ia belajar menemukan rasa sempurna. Chef Lévy tidak pernah berhenti belajar.

Terinspirasi dari laut Mediterania, warna, bumbu dan produknya, Chef Lévy mengombinasikan bahan-bahan dengan tekstur lembut dan renyah untuk memastikan bahwa setiap piring terisi oleh perpaduan harmonis dengan rasa isitimewa untuk membangkitkan nafsu makan. Beberapa makanan yang akan ia hadirkan antara lain: Revisited Classic Anchoïade with vegetable ratatouille, anchovy espuma and fennel chick pea flour shortbread; Lobster with osso bucco, bisque broth and seasonal carrots; dan Crème Brûlée pastis with perserved black olives and green anise biscuit.

Hidangan istimewa dari Chef Lévy dalam two-course set menu seharga Rp 638.000, three-course set menu dengan harga Rp 788.000, atau six-course menu dengan harga Rp 1.588.000. Untuk pengalaman yang menyeluruh, tersedia pilihan di  Chef’s Table dengan harga Rp 2.588.000 (untuk minimum empat orang dan maksimum enam orang) atau untuk mendapatkan pengalaman dalam dapur bintang Michelin bisa mengikuti cooking demo seharga Rp 899.000, termasuk two-course lunch dan sertifikat.

Begitulah cara Lyon di Mandarin Oriental Hotel Jakarta memanjakan tamunya, sekaligus menunjukkan kelasnya. Tidak heran, karena Mandarin Oriental Hotel Grup adalah pemenang berbagai penghargaan antar hotel dan resor paling bergengsi di dunia. Mandarin Oriental saat ini mengoperasikan, atau telah mengembangkan 41 hotel dengan lebih dari 10.000 kamar di 27 negara, dengan 18 hotel di Asia, 12 di Amerika dan 12 di Eropa dan Timur Tengah. Bon appetit!