Thursday, September 13, 2012

Marina Bay Sands – Asia’s Dining Destination – Part 1


SINGAPURA, meski kecil, mampu menjadi magnet dunia. Maklum, negeri yang luasnya hanya 710,3 km2 itu, tergolong kreatif, menawarkan pesonanya. Selain terus berbenah diri dengan membangun gedung-gedung yang unik, juga mengembangkan tempat pariwisata modern, berkelas global dan masa kini, sebutlah Esplanade, Singapore Flyer, Studio Universal, Marina Bay Sands, hingga Garden by The Bay.

Undangan dari Marina Bay Sands, seperti pucuk dicinta ulam tiba. Saya dan 9 orang lainnya, yang terdiri dari jurnalis dan blogger, akan mendapatkan pengalaman kuliner yang luar biasa, dalam acara yang bertema Asia’s Dining Destination selama tiga hari (03 – 05 September 2012).

Di acara ini kami setidaknya merelakan “kehilangan” Orchard Road – shopping area yang wajib dikunjungi di Singapura, karena selama tiga hari hanya berkutat di Marina Bay Sands (MBS) saja. Memang, kegiatan wisata kuliner ini hanya di MBS, tapi melihat daftar venue yang harus kami kunjungi serta kegiatan yang akan kami ikuti, rasanya tiga hari tidaklah cukup.

Setidaknya ada 10 bar dan restoran yang kami datangi, yakni Todai, Waku Ghin, Rise Lounge, Mozza, Au Chocolat, db Bistro Moderne, Sky on 57, Guy Savoy, CUT, dan Ku De Ta. Belum termasuk mengunjungi pameran Harry Potter: The Exhibition dan Andy Warhol: 15 Minutes Eternal, serta menonton teater Slava’s Snowshow.

Perjalanan yang menyenangkan tentu saja, bagi saya, juga bagi peserta lain: Arie Parikesit @arieparikesit (konsultan dan organizer penyelenggaraan event kuliner), Jed Doble @sj_knight (managing director majalah Dreams), Ellyna Tjohnardi @ellynatjohnardi (food blogger), Rian Farisa ‏@gastroficionado (food blogger), Reza Idris @rezz46 (Garuda Inflight Magazine), Bunga Sirait @siraitbunga (farragoindonesia.com), Galuh Tathya @galuhtathya (Hi-End), Muthia K. Achadiat @MuthiKa (Dewi), Graham Pearce (Viva Asia), serta Rifka Suryandari @RifAriadhi dari pihak PR, Stratcom Indonesia.

MBS, yang dibuka akhir April 2010, adalah destinasi hiburan, rehat, dan bisnis terkemuka di Asia, yang dinaungi landmark Sands SkyPark—57 lantai di atas tanah. Di lantai paling atas, yang disebut Marina Deck, ada kolam renang, yang panjangnya 150 meter, tiga kali lipat ukuran Olympic, tercatat sebagai kolam renang di alam terbuka terluas di tempat tertinggi di dunia. Pemandangan terbaik Singapura bisa dinikmati dari sini. Bukan sekali ini saja saya menginap di MBS, tapi tetap saja merupakan pengalaman yang menyenangkan tinggal di hotel mewah kelas dunia, yang menjadi ikon Asia.


Dari Sushi hingga Pizza
Petualangan rasa dimulai dari Todai, yang dikenal sebagai restoran seafood dan sushi, dan akan berakhir di Pizzeria Mozza, restoran ala Italia yang menyajikan pizza terbaiknya.

Pagi kami berangkat dari bandara Soekarno – Hatta, Jakarta, siangnya sudah sampai Changi, Singapura. Sempat terjadi "huru-hara" sejenak, karena paspor saya akan expired bulan depan, padahal menurut peraturan internasional untuk untuk bepergian ke luar negeri minimal harus berlaku 6 bulan ke depan. Syukurlah, dengan berbagai argumen, saya bisa lolos dari Imigrasi Jakarta, juga Singapura.

Selepas check in, tanpa membuang-buang waktu kami langsung mengunjungi Todai untuk makan siang. Restoran yang terletak di  B2-01A The Shoppes MBS ini menyajikan makanan premium, mulai dari hidangan dingin termasuk sushi (maki, nigiri, gunkan) hingga sajian khas seperti kaki kepiting salju, kupang, dan udang cocktail.

Sebagai yang pertama di Asia Tenggara, Todai sebetulnya tidak hanya tersedia seafood dan sushi “all you can eat”, tapi ada pula sajian lainnya, baik Asia maupun internasional. Sebutlah pasta & pizza Italia, churrasco brazil, sashimi jepang, BBQ & kimchi korea, serta makanan favorit lokal seperti laksa, kepiting cabe dan lada hitam. Sementara di The Dessert Bar banyak pilihan buah dan pastry campuran internasional. Sungguh awal yang menyenangkan.

Setelah makan siang kami sempat melakukan property tour, dengan melihat fasilitas MBS, mulai dari Sands SkyPark, melihat Hotel Suit, fasilitas Banyan Tree Spa, serta fitness club. Kemudian kami kembali berkunjung ke restoran. Kali ini ke Waku Ghin. Nama 'Waku Ghin' diambil dari dua kata Jepang: ‘Waku’ berarti 'muncul' (seperti air yang keluar dari mata air panas) dan 'Ghin' berarti 'perak', yang merupakan warna favorit Chef Tetsuya, yang dapat ditemukan di seluruh restoran yang memesona ini.

Sentuhan dan perhatian pribadi yang tinggi pada detail terlihat di ruang makan utama yang menempatkan 25 tamu per tempat duduk, agar mereka dapat mendapatkan pemandangan langit Singapura secara eksklusif.

Waku Ghin menyajikan makan malam yang menakjubkan dengan hidangan modern Eropa dan Jepang. Restoran yang sempat menduduki peringkat 39 pada daftar '50 Restoran Terbaik di Dunia' versi S Pellegrino ini, menyajikan hidangan elegan kreasi istimewa dari kedua negara tersebut.

Chef restoran ini adalah Tetsuya, orang pertama yang ditunjuk sebagai Duta Sake di luar Jepang, yang berarti pilihannya adalah yang terbaik di dunia. Karena kami datang bukan pas waktu makan siang atau malam, kami hanya mencicipi finger food-nya saja, sebutlah tester sebagian menu yang tersedia di restoran tersebut. Marinated Botan Shrimp with Sea Urchin and Caviar, dan Australian wagyu with Wasabi and Citrus Soy.

Kendati demikian, kami mendapat kehormatan untuk merasakan berbagai cocktail yang disajikan restoran tersebut, yang kreasinya patut mendapat acungan jempol.  Kami dijamu oleh head bartender-nya, Akihiro Eguchi, yang pernah memenangkan dua kali  Singapore Champion di Diageo Reserve World Class 2011 dan 2012. Dia berbagai rahasia pembuatan cocktail ala Jepang, juga seni mencampurkan es yang tepat di minuman yang tepat pula. Tidak hanya tampilan cocktail-nya yang menarik, campuran rasanya pun terasa pas!

Cocktail hour ini berulang kembali ketika kami mengunjungi CUT, yang lokasinya tak jauh dari Waku Ghin. CUT adalah gubahan modern Chef Wolfgang Puck atas warung steak Amerika. Disanjung sebagai salah satu dari tiga restoran steak terbaik di Amerika Serikat, menu khasnya menyajikan pilihan yang cerdas dan rumit dari potongan daging sapi terbaik.

Chef Puck mengembangkan gaya memasak yang berani dan inovatif saat bekerja di beberapa restoran paling terkenal di Perancis: Mendapatkan penghargaan Maxim di Paris dan bintang 3 Michelin L'Oustau de Baumanière di Provence.

Dia membuka Spago yang legendaris pada tahun 1982, yang membuktikan bahwa sajian lezat yang diimbangi dengan anggur terbaik, layanan, dan tempat yang dinamis akan menciptakan pengalaman kuliner yang menyenangkan dan luar biasa.

Hari itu kami tidak terlalu mengeksplorasi makanannya, meski kami sempat mencicipi Confit of duck with potato puree, Cheese Platter, Tartare of smoked Tasmanian ocean trout,  Bruschetta with burata, dan Scampie in seawater with lemon scented olive oil. Tapi yang paling berkesan adalah sajian minumannya.

Dengan duduk di bar, kami mencoba berbagai cocktail kreasi CUT. Inilah beberapa cocktail andalannya: Gin Martini (Beefeater 60ml, Noilly Prat 10ml, garnish with a baby truffle peach), Gimlet (Gordon’s Gin 45ml, freshly squeezed limejuice 15 ml, sugar syrup 1 tsp), serta Moscow Mule (Ginger infused vodka 45ml, fill up with premium ginger ale, garnish with lightly roasted sprig of rosemary).

Wisata kuliner hari pertama kami akhiri dengan makan malam di Au Chocolat. Berlokasi di lantai satu The Shoppes MBS, Au Chocolat adalah gabungan konsep toko ritel yang menjual coklat dan bistro.

Mempunyai luas 4,700 m2 Au Chocolat menyajikan hidangan ala Prancis dan internasional – mulai dari salad, pasta, steaks, hingga burger. Inilah beberapa menu andalannya: Duck Confit, Roast Chicken, dan Cottage Pie, hidangan yang dimasak ala Prancis menerbitkan selera. Sesusai dengan namanya, dessert-nya sangat istimewa, karena terdiri dari coklat-coklatan – sebutlah Chocolate Cake yang berbahan dasar utama dark chocolate premium, disajikan dengan gelato vanila. Mantab!

Berperahu di Singapore River adalah hiburan menarik yang tidak boleh dilewatkan. Wisata kuliner malam itu ditutup dengan berperahu ria, mengarungi satu-satunya sungai di Negeri Singa tersebut. Dengan naik boat selama 30 menit kami menikmati pemandangan sekitar Marina Bay di waktu malam, melewati tempat-tempat menarik, mulai dari Esplanade, Merlion Park, Fullerton Hotel, hingga tempat makan dan dugem Boat Quay dan Clarke Quay. (Burhan Abe @BurhanAbe) 

Marina Bay Sands – Asia’s Dining Destination – Part 2


Kuliner, Pameran, Teater

10 wartawan dan blogger asal Indonesia mendapat undangan dari Marina Bay Sands untuk mengikuti Asia’s Dining Destination selama tiga hari (03 – 05 September 2012). Berikut pengalaman salah satu pesertanya, Burhan Abe @BurhanAbe


HARI kedua kami awali dari Rise Lounge. Sarapan ala hotel pada umumnya. Terletak di atrium hotel yang ramai, venue yang menjadi episenter sosial di hotel ini tidak hanya menawarkan serangkaian pilihan makanan lezat, tapi juga menjadi tempat pertemuan sosial dan ideal untuk menyaksikan lalu-lalang manusia dari berbagai negara.

Acara berikutnya, yang masih “nyambung” dengan acara pokok wisata kuliner adalah mengunjungi dapur Marina Bay Sands (MBS). Di situlah kami tahu bagaimana makanan diproses, mulai dari bahan mentah hingga bisa dihidangkan kepada para tamu. Tidak sekadar urusan masak-memasak, tapi lebih dari itu adalah manajemen sebuah dapur raksasa, yang menyangkut pengaturan makanan, pengorganisasian orang, serta perhitungan biaya.

Siang itu kami melupakan sejenak wisata kuliner, kami mengunjungi pameran Andy Warhol: 15 Minutes Eternal (yang berlangsung 17 Maret - 21 Oktober 2012)  dan Harry Potter: The Exhibition (2 Juni - 30 September 2012).

Andy Warhol adalah seniman pop legendaris, yang karyanya bisa dinikmati di pameran tersebut. Mencakup berbagai tahap keseniannya mulai 1940-an hingga 1980-an, pameran ini menyajikan lebih dari 260 lukisan, sketsa, patung, film, dan video. Sementara Harry Potter, tokoh rekaan masa kini, yang lekat dengan dunia sihir. Di pameran itu terpajang ratusan kostum dan properti otentik dari delapan film Harry Potter.


Makan siang di Sky on 57 boleh dikatakan adalah yang paling berkesan. Bukan hanya karena tempatnya di lantai tertinggi MBS, tapi kami dijamu langsung oleh chefnya langsung, Justin Quek.

Terletak di puncak tertinggi di MBS di Sands Sky Park yang menawan, Sky on 57 menawarkan cara modern dalam menghidangkan masakan lokal dan Asia – menggunakan bahan-bahan premium, teknik yang halus, dan disajikan dengan dosis hangat keramahtamahan Asia.


Keandalan Justin Quek tidak diragukan lagi, ia sudah dilatih dengan cara klasik kembali ke akar Asianya di mana seleranya telah terbentuk dari kecil dengan rasa pedas, asam, asin, dan manis keunggulan dari masakan lokal.  Di Sky on 57, Chef Quek mempersembahkan makanan modern Asia yang terbaik karena dia memberikan interpretasi baru dari beberapa masakan tradisional, sebutlah Nordic Crab Vermicelli, Maine Lobster Hokkien Mee, dan Wagyu Beef  “Cheek” Rendang.

Restoran berukuran 12.000 kaki persegi ini mempunyai bar and lounge yang akan menyambut tamu saat mereka datang, dengan ruang makan utama dan empat sudut pribadi untuk makan siang dan makan malam yang tertutup serta teras di luar dengan pemandangan panorama Singapura yang tidak terlupakan.

Pengalaman menikmati hidangan dari chef kelas dunia berlanjut ketika berkunjung ke Guy Savoy. Hanya menggunakan bahan terbaik, Guy Savoy menyiapkan dan menyajikan hidangan dengan kesadaran teguh akan apa yang dianggap sebagai pengalaman makan yang benar-benar istimewa.

Untuk hidangan khasnya, Côte de Gros Turbot, ikan dikukus dengan bayam dan sebutir telur rebus tanpa kulit disajikan di atas piring besar di atas mangkuk sup yang berisi kaldu ikan, menciptakan rangkaian aroma yang sempurna.


Guy Savoy Singapura juga memperkenalkan konsep yang sangat populer dari restoran unggulannya di Paris, ‘Bites and Bubbles’, yakni konsep bar dining yang memungkinkan tamu menikmati porsi kecil item-item khas dari restoran Perancis ini.

Hari kedua itu petualangan rasa diakhiri dengan makan malam di db Bistro Moderne. Resto ini adalah interpretasi ulang Chef Daniel Boulud yang terkenal terhadap hidangan klasik Paris. Di antara berbagai prestasinya, Chef Boulud dikenal karena telah mengangkat burger yang sederhana menjadi sebentuk seni--adaptasi unik baru terhadap makanan klasik lawas.

Walaupun berasal dari Lyon, Perancis, di New York-lah nama Chef Daniel Boulud diidentikkan dengan fine dining. Restoran 'Daniel' di Manhattan dianggap sebagai salah satu dari 10 terbaik di dunia.

Chef Boulud sendiri telah menerbitkan enam buku, memiliki serial televisi yang sukses ‘After Hours with Daniel’, dan telah menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan James Beard Foundation sebagai ‘Outstanding Restaurateur’ dan ‘Best Chef of New York City’. Tidak salah, di db Bistro Moderne inilah hidangan Perancis tradisional berpadu dengan cita rasa Amerika.

Malam kedua kami akhiri dengan menonton Slava’s Snowshow di Sands Theater. Slava’s Snowshow adalah perpaduan seni melawak teatrikal tradisional dan kontemporer. Pertunjukan ini dengan cerdas menciptakan dunia keajaiban dan fantasi yang kadang-kadang mampu membawa audiens ke masa kanak-kanak.  

Sebagai bagian dari Cirque du Soleil’s Alegria, Slava menciptakan Slava’s Snowshow yang menjadi sensasi internasional pemenang banyak penghargaan, yang menghibur dan menggetarkan audiens di lebih dari 80 kota di seluruh dunia, mulai West End London hingga Sydney dan Moskwa.

Slava’s Snowshow adalah tontonan yang cantik, sekaligus  mendebarkan, melibatkan audiens ke dalam pertunjukan. Bagian akhirnya yang menakjubkan memperlihatkan sepucuk surat yang berubah menjadi kepingan salju, dan kepingan salju berubah menjadi badai salju yang memenuhi auditorium. Wah!


Berakhir di Pizzeria Mozza
Hari ketiga adalah  kesempatan menemui Tamir Shanel, Vice President of Food & Beverage MBS. Sambil sarapan di The Club yang berlokasi di Sands SkyPark, Menara 2, para jurnalis dan blogger mewawancarai orang yang bertanggung jawab pada F & B di MBS.  

Berikutnya adalah kami ikut cooking class bersama Chef Ryan Witcher, Executive Pastry Chef MBS.  Di sini kami bergabung dengan rombongan serupa, yang terdiri dari wartawan dan blogger, dari Malaysia dan Australia. Di sini pula beberapa resep rahasia pastry dibagikan.

Dalam urusan F & B, MBS memang tidak main-main, karena itulah salah satu daya tarik utama bagi para traveler dan wisatawan bisnis mengunjungi venue tersebut. “Marina Bay Sands telah membuat sebuah cara makan masa kini lebih dapat diakses oleh komunitas bisnis dan hiburan Singapura. Kami berharap bisa menyambut lebih banyak pengunjung sekitar, terutama pada jam makan  dan akhir pekan,” ujar Tamir Shanel.


Wisata kuliner bertema Asia’s Dining Destination berakhir di Pizzeria Mozza, yang digawangi Mario Batali, salah satu chef andal dari Amerika. Dengan 18 restoran, delapan buku masak, dan berbagai acara televisi, termasuk Iron Chef America yang sangat terkenal itu, Mario Batali merupakan salah satu chef yang paling dikenal dan disegani saat ini.

Mozza yang berlokasi di MBS ini hampir sama persis dengan yang ada di California. Ada pizza dan salumi, dengan tambahan seafood dan sayuran lokal yang lezat. Selain pizza yang terkenal di seluruh dunia, menu khas Mozza lainnya meliputi kaki bebek renyah dengan lentil, Lasagna al forno, serta Salad Cincang Nancy yang legendaris.

Tidak hanya makanan tentu, restoran ini juga mempunyai wine bar dengan koleksi anggurnya yang cukup lengkap. Ada juga ruang makan pribadi yang intim juga tersedia untuk acara kelompok dan pesta.

Sungguh, sebuah petualangan rasa yang menyenangkan!