Thursday, March 28, 2013

Digital Life Style


TULISAN saya “Tsunami Digital” di Editor’s Note MALE edisi 17, membuat penasaran seorang teman dengan melakukan riset kecil-kecilan. Hasilnya, penjualan beberapa produk majalah yang katanya laris-manis di beberapa lapak di lokasi strategis Jakarta ternyata rata-rata 5-8 eksemplar per edisi.

Data yang lebih mengejutkan datang dari seorang teman yang lain, salah seorang petinggi sebuah penerbitan majalah cetak yang cukup populer. Dibanding dengan masa jaya-jayanya, katanya, pendapatan dari oplah saat ini sudah terpangkas tinggal 20 persen.

Fakta di atas mungkin saja tidak mewakili sepenuhnya apa yang sedang terjadi di media penerbitan cetak saat ini. Tapi yang tidak bisa dimungkiri, digitalisasi bidang penerbitan sudah tidak terbendung lagi.

Era digital ditandai dengan adanya peralihan dari industri tradisional ke industri digital. Teknologi tinggi seperti komputer memiliki pengaruh dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hadirnya komputer ke dalam kehidupan sehari-hari, membuat kita bisa mengakses informasi secara online dengan mudah, cepat, dan murah.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2012 tercatat 63 juta orang atau 24,23 persen dari total populasi negara ini. Tahun ini, angka tersebut diprediksi naik sekitar 30 persen menjadi 82 juta pengguna dan terus tumbuh menjadi 107 juta pada 2014 dan 139 juta atau 50 persen total populasi pada 2015.

Setelah era komputer – baik desktop maupun laptop, ponsel dan tablet PC agaknya ikut meramaikan gaya hidup digital. Tablet, misalnya, pemakaiannya tidak sekadar untuk berinternet ria, melainkan sudah dioptimalkan sebagai penunjang gaya hidup. Perubahan ini tak lepas dari fungsi tablet sendiri yang memberikan kemudahan dan kenyamanan, baik dari sisi teknologi, fitur, maupun dukungan aplikasi. Mulai dari game, komik, buku online, hingga majalah digital seperti MALE.

Populasi tablet di Indonesia hingga akhir 2012 sudah menembus 1 juta pengguna. Memang masih kecil dibanding Amerika Serikat yang sudah mencapai 28 juta pemakai. Namun, seorang pengamat memperkirakan, penggunaan tablet secara global akan tumbuh 30 persen. Hal ini didukung oleh perkembangan mobile broadband, 3G dan WiFi, yang bisa memacu pertumbuhan tablet sebesar 80 persen hingga 2016. Bahkan Teguh Prasetya, penggagas Indonesian Cloud Forum bahkan yakin, “Jumlah tablet di Indonesia bakal melampaui perangkat smartphone.”

Teknologi memang membawa babak baru bagi peradaban manusia. Daya jangkaunya yang luas membuat interaksi manusia dalam dimensi ruang dan waktu semakin tak terbatas. Perubahan gaya hidup manusia dari waktu ke waktu memang sebuah keniscayaan – tak terkecuali di era dunia yang semakin digital.  (Burhan Abe)

Friday, March 22, 2013

Kong’s Cuisine dari Qufu, The Home of Confucius




PECINTA kuliner Cina pasti tidak adan melewatkan kesempatan ini. Shangri-La Hotel, Jakarta menawarkan hidangan khas Qufu yang terkenal dengan sebutan Kong Family Cuisine, 19 – 25 Maret 2013 di Shang Palace. Dengan gaya yang unik, hidangan-hidangan dari keluarga Kong menampilkan presentasi yang kreatif dari bahan makanan yang dikombinasikan dengan mahir yang mengekspresikan empat elemen penting dalam seni memasak Cina: warna, aroma, rasa dan tekstur.

Shangri-La Hotels and Resorts menampilkan Kong Family Cuisine di enam hotel pada Januari hingga Maret untuk merayakan pembukaan Shangri-La Hotel, Qufu di bulan Maret. Qufu, yang berlokasi di propinsi Shandong di daratan Cina, merupakan tempat kelahiran filsuf ternama Cina yaitu Confucius. Filosofi dari Confucius telah tersebar dari waktu ke waktu, dan melalui keturunannya, keluarga Kong, hidangan khas Qufu juga berkembang. Hidangan yang merupakan kombinasi dari metode Lu di daerah Shandong dan hidangan Su dari Cina Selatan disiapkan dengan perhatian ekstra terhadap bahan, penampilan, rasa dan bentuk. 

Menu dari Kong Family Cuisine di Shangri-La Hotel, Jakarta akan menampilkan 25 menu à la carte termasuk serangkaian hidangan yang disajikan dingin dan hangat, sup dan hidangan pencuci mulut. Set menu banquet tersedia dengan pilihan enam, delapan atau sepuluh orang dalam satu meja. Untuk menyiapkan hidangan-hidangan istimewa ini, lima chef dari Lu dan tim penyaji dari Shangri-La Hotel, Qufu akan datang ke Jakarta sebelum pembukaan hotel. 

Menu Kong Family Cuisine mencakup tradisi dengan beragam masakan seperti Kong Mansion’s “Six Art” Cold Appetisers (spiced beef shanks; sea whelk jelly salad; scallops and lettuce salad; jelly fish salad; spiced duck tongues; and baby celery with sesame and olive oil), Lu Wall’s Hidden Collection (prawn roll wrapped in crispy vermicelli) dan hidangan-hidangan yang diberi nama dengan penuh harapan, seperti Wisdom Frees Perplexity (braised pork ribs stuffed with spring onion stalk) dan Confucius “Four Supreme Bowls” – Fortune, Prosperity, Longevity and Happiness (braised chicken, braised fish, braised pork and meat roll of minced chicken breast and prawns wrapped with seaweed).

Shangri-La Hotel, Qufu akan dibuka pada awal tahun 2013 di kota kelahiran Confucius yang penuh sejarah dan budaya. Hotel ini memiliki lokasi yang dekat dengan Temple of Confucius – sebuah warisan budaya dunia yang telah diakui oleh UNESCO – yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dan juga stasiun kereta dengan kecepatan tinggi Qufu yang dapat dicapai dengan 20 menit berkendara. 

Kamar hotel memiliki pemandangan yang menghadap ke taman yang memiliki gaya Cina tradisional dan juga menghadap ke kota tua. Shangri-La Hotel, Qufu memiliki kamar dengan ukuran terbesar di kota tersebut. Untuk pilihan kuliner dan hiburan, Shangri-La Hotel, Qufu memiliki Café Kong yang menghidangkan hidangan internasional, Shang Palace yang menyajikan hidangan otentik khas Canton dan hidangan keluarga Kong, the Lobby Lounge dan juga sebuah bar. Propertiyang luas ini juga memiliki spa, kolam renang, fasilitas kebugaran dan juga menawarkan area meeting terbesar di kota, termasuk sebuah Grand Ballroom yang tidak memiliki pilar seluas 1,600 meter persegi dan sebuah Confucius Cultural Centre.

Untuk menikmati hidangan Kong Family Cuisine dari Qufu di Shangri-La Hotel, Jakarta silahkan hubungi (62 21) 2939 9562 atau akses di www.platinumclubjakarta.com.

Wednesday, March 13, 2013

Nyepi


Selasa, 12 Maret 2013. Jalanan lengang. Tidak ada jadwal penerbangan, tidak ada orang bepergian. Tidak ada penerangan, apalagi keriaan. Tidak ada aktivitas seperti hari biasa biasa, suasana kota seperti mati.

Sayangnya itu tidak terjadi di Jakarta, tapi di Bali, yang mayoritas penduduknya merayakan Nyepi. Pada hari itu umat Hindu melaksanakan "catur brata penyepian“ yang terdiri dari amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Sebagian di antara mereka bahkan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Nyepi (berasal dari kata “sepi”, “sunyi”, “senyap”) adalah hari raya umat Hindu menandai tahun baru Caka 1935. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, perayaan awal tahun Saka di Bali dimulai dengan menyepi.  Tujuan utamanya adalah memohon ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan alam manusia dan alam semesta. Semua itu menjadi kewajiban bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.

Nyepi sebenarnya bukan semata kegiatan ritual umat Hindu, tapi masih relevan dengan tuntutan masa kini dan masa datang – terutama berhubungan dengan penyelamatan bumi. Kita ingat, tahun lalu pernah ada “gerakan sepi”, imbauan untuk mematikan listrik selama empat jam sehari dari dalam World Silent Day – yang artinya sangat besar bagi penghematan energi global.

Nyepi di Bali juga mengajarkan bagaimana menghemat energi, setidaknya selama satu hari penuh. Selama masa Nyepi beban listrik di Bali, misalnya, turun secara signifikan, mencapai 50 persen dari beban hari-hari biasa. Biaya yang bisa dihemat PLN pun sekitar Rp 7 miliar lebih.

Mirip dengan Car Fre Day, pada saat Nyepi tidak ada kendaraan bermotor berseliweran, dan pada hari itu Bali berhasil mengurangi sekitar 20.000 ton emisi karbon dioksida.

Menurut catatan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, jumlah emisi karbon Indonesia – yang berasal dari sektor energi, deforestrasi, dan industri, saat ini mencapai 1,4 juta ton per hari. Sayangnya, Nyepi tidak dirayakan secara merata di Indonesia dan hanya setahun sekali.

Sumber: MALE Edisi 20, 2013 http://male.detik.com


Thursday, March 07, 2013

@JJ_2013


BANYAK musisi asing berdatangan ke Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Setelah 50-an mereka meramaikan panggung musik Indonesia tahun lalu, tahun 2013 pun tidak kalah serunya. Diawali dengan Yeah Yeah Yeahs, Madball, The Stone Roses, Adam Lambert, Bloc Party, U-KISS – untuk menyebut beberapa, kemudian berlanjut dengan Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival (JJ) 2013, 1 – 3 Maret lalu.

Acara yang berlangsung di JIExpo Kemayoran Jakarta itu menampilkan 1.500 musisi internasional dan lokal. Termasuk nama-nama besar, sebutlah Joss Stone, Lisa Stansfield, Basia, Craig David, Jimmy Cliff, Maurice Brown, The Soul Rebels, Maliq & D’Essentials, Raisa, Oddie Agam with Twilite Orchestra, dan lain-lain.

Event tahunan yang berlangsung sejak 2005 ini selalu sukses. JJ 2013 bahkan mampu menyedot lebih dari 112.000 penonton – jauh lebih banyak dibandingkan dengan North Sea Jazz Festival (Belanda) yang cuma dikunjungi 70.000 penonton atau Monterey Jazz Festival (AS) yang dihadiri 40.000 penonton.

Yang jelas, JJ 2013 menunjukan Indonesia telah menjadi destinasi musisi dunia. Tak mengherankan, gaungnya juga terdengar di seantero dunia karena kehadiran para musisi mancanegara. « Dukungan masyarakatlah yang membuat helatan dunia itu sukses, » ujar  Peter F. Gontha, sang penyelenggara.

Menurut pengamat pemasaran Yuswohady, JJ 2013 adalah potret Indonesia masa kini, negara dengan kelas menengah yang keranjingan budaya global dari manapun datangnya.

Pengonsumsi musik jazz di Indonesia adalah kelompok masyarakat baru yang memiliki daya beli tinggi, berpendidikan, berpengetahuan luas, dan berwawasan global. Mereka adalah pelanggan TV berbayar, penggila gadget masa kini, pengguna smartphone dan tablet yang passionate. Terbukanya informasi yang mengalir ke mereka membuat jazz kini menjadi keseharian, bahkan menjadi simbol baru gaya hidup dan identitas mereka.

Fenomena tersebut agaknya tidak hanya berlaku pada jazz, kelas menengah Indonesia juga rakus mengonsumsi kebudayaan global yang menjadi gaya hidup, mulai dari bebop hingga hip hop, mulai dari Grease hingga Glee, mulai dari Gangnam Style hingga Harlem Shake. (Burhan Abe)