Thursday, March 07, 2013

@JJ_2013


BANYAK musisi asing berdatangan ke Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Setelah 50-an mereka meramaikan panggung musik Indonesia tahun lalu, tahun 2013 pun tidak kalah serunya. Diawali dengan Yeah Yeah Yeahs, Madball, The Stone Roses, Adam Lambert, Bloc Party, U-KISS – untuk menyebut beberapa, kemudian berlanjut dengan Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival (JJ) 2013, 1 – 3 Maret lalu.

Acara yang berlangsung di JIExpo Kemayoran Jakarta itu menampilkan 1.500 musisi internasional dan lokal. Termasuk nama-nama besar, sebutlah Joss Stone, Lisa Stansfield, Basia, Craig David, Jimmy Cliff, Maurice Brown, The Soul Rebels, Maliq & D’Essentials, Raisa, Oddie Agam with Twilite Orchestra, dan lain-lain.

Event tahunan yang berlangsung sejak 2005 ini selalu sukses. JJ 2013 bahkan mampu menyedot lebih dari 112.000 penonton – jauh lebih banyak dibandingkan dengan North Sea Jazz Festival (Belanda) yang cuma dikunjungi 70.000 penonton atau Monterey Jazz Festival (AS) yang dihadiri 40.000 penonton.

Yang jelas, JJ 2013 menunjukan Indonesia telah menjadi destinasi musisi dunia. Tak mengherankan, gaungnya juga terdengar di seantero dunia karena kehadiran para musisi mancanegara. « Dukungan masyarakatlah yang membuat helatan dunia itu sukses, » ujar  Peter F. Gontha, sang penyelenggara.

Menurut pengamat pemasaran Yuswohady, JJ 2013 adalah potret Indonesia masa kini, negara dengan kelas menengah yang keranjingan budaya global dari manapun datangnya.

Pengonsumsi musik jazz di Indonesia adalah kelompok masyarakat baru yang memiliki daya beli tinggi, berpendidikan, berpengetahuan luas, dan berwawasan global. Mereka adalah pelanggan TV berbayar, penggila gadget masa kini, pengguna smartphone dan tablet yang passionate. Terbukanya informasi yang mengalir ke mereka membuat jazz kini menjadi keseharian, bahkan menjadi simbol baru gaya hidup dan identitas mereka.

Fenomena tersebut agaknya tidak hanya berlaku pada jazz, kelas menengah Indonesia juga rakus mengonsumsi kebudayaan global yang menjadi gaya hidup, mulai dari bebop hingga hip hop, mulai dari Grease hingga Glee, mulai dari Gangnam Style hingga Harlem Shake. (Burhan Abe)