Wednesday, March 13, 2013

Nyepi


Selasa, 12 Maret 2013. Jalanan lengang. Tidak ada jadwal penerbangan, tidak ada orang bepergian. Tidak ada penerangan, apalagi keriaan. Tidak ada aktivitas seperti hari biasa biasa, suasana kota seperti mati.

Sayangnya itu tidak terjadi di Jakarta, tapi di Bali, yang mayoritas penduduknya merayakan Nyepi. Pada hari itu umat Hindu melaksanakan "catur brata penyepian“ yang terdiri dari amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Sebagian di antara mereka bahkan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.

Nyepi (berasal dari kata “sepi”, “sunyi”, “senyap”) adalah hari raya umat Hindu menandai tahun baru Caka 1935. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, perayaan awal tahun Saka di Bali dimulai dengan menyepi.  Tujuan utamanya adalah memohon ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan alam manusia dan alam semesta. Semua itu menjadi kewajiban bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.

Nyepi sebenarnya bukan semata kegiatan ritual umat Hindu, tapi masih relevan dengan tuntutan masa kini dan masa datang – terutama berhubungan dengan penyelamatan bumi. Kita ingat, tahun lalu pernah ada “gerakan sepi”, imbauan untuk mematikan listrik selama empat jam sehari dari dalam World Silent Day – yang artinya sangat besar bagi penghematan energi global.

Nyepi di Bali juga mengajarkan bagaimana menghemat energi, setidaknya selama satu hari penuh. Selama masa Nyepi beban listrik di Bali, misalnya, turun secara signifikan, mencapai 50 persen dari beban hari-hari biasa. Biaya yang bisa dihemat PLN pun sekitar Rp 7 miliar lebih.

Mirip dengan Car Fre Day, pada saat Nyepi tidak ada kendaraan bermotor berseliweran, dan pada hari itu Bali berhasil mengurangi sekitar 20.000 ton emisi karbon dioksida.

Menurut catatan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, jumlah emisi karbon Indonesia – yang berasal dari sektor energi, deforestrasi, dan industri, saat ini mencapai 1,4 juta ton per hari. Sayangnya, Nyepi tidak dirayakan secara merata di Indonesia dan hanya setahun sekali.

Sumber: MALE Edisi 20, 2013 http://male.detik.com