Thursday, April 25, 2013

Go Green


GELOMBANG digital memang tak terbendung lagi. Kehidupan kita semakin semakin dipenuhi oleh hal-hal yang serba digital – mulai dari pemakaian komputer, tablet, ponsel, hingga peralatan rumah tangga. Apakah media cetak juga akan punah di era digital?

Yang jelas, digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Apalagi faktanya, tingginya biaya cetak, serta sirkulasi yang kian merosot membuat para penerbit berpikir ulang untuk melanjutkan penerbitannya. Bukan hal yang mengejutkan kalau kemudian banyak penerbit mulai melirik  ke platform digital, cepat atau lambat.

Jika dikaitkan dengan gerakan go green, digitalisasi tentunya akan memberikan banyak nilai plus. Dengan mengonsumsi banyak kertas ternyata ikut mempercepat pengurangan hutan (deforestasi). Sekitar 70% bahan kertas menggunakan kayu dari hutan. Untuk memproduksi 15 rim kertas ukuran A4 saja diperlukan satu pohon. Bayangkan, setiap 7.000 eksemplar koran yang kita baca setiap hari akan menghabiskan 10-17 pohon hutan. Jika penerbit membutuhkan ratusan ribu koran (dan majalah) cetak setiap hari, ditambah kebutuhan kertas di luar penerbitan yang lebih banyak lagi, berapa pohon yang harus kita tebang?   

Hutan Indonesia menyumbang 2,5 persen dari seluruh kebutuhan kertas dunia, dan saat ini luasnya tinggal 120 juta hektare. Digitalisasi media sedikit banyak ikut menyelamatkan hutan kita. Ditambah dengan mengurangi penggunaan kertas untuk kebutuhan lain, paling tidak, kita ikut mengurangi deforestasi. Saat ini setiap 10 detik kita menghancurkan hutan seluas lapangan bola untuk memenuhi kebutuhan kertas yang tinggi.

Digitalisasi adalah pengurangan penggunaan kertas. Surat-menyurat tidak perlu pakai kertas, tapi cukup via email, atau yang lebih personal via SMS, BBM, WhatsApp, WeChat, dan aplikasi chatting yang lain di komputer dan ponsel. Orang-orang kantoran mulai membuat laporan, arsip, bahkan invoice dalam kertas digital. Anak-anak sekolah membuat catatan, mengerjakan tugas, bahkan ujian harusnya dengan medium digital.

Bukan mustahil, suatu saat koran atau majalah Indonesia kelak menghentikan edisi cetaknya – menyusul majalah Newsweek yang sejak akhir 2012 sudah menyetop edisi cetaknya dan berganti hanya edisi digital.

Kehidupan masyarakat di seluruh dunia, termasuk di kota-kota besar Indonesia, saat ini semakin dipenuhi oleh hal-hal yang serba digital. Digitalisasi bukan saja membuat hidup menjadi mudah, tapi juga mendorong gerakan paperless, yang tentu menghemat uang dan waktu. Kelak, kalau sudah full digitalized, bukan mustahil kita tidak membutuhkan kertas lagi, karena semua sudah bisa didigitalkan – kecuali kertas toilet tentu. (Burhan Abe)

Sumber: MALE 26 http://male.detik.com


Tuesday, April 09, 2013

Luxury Products in Digital Format


SEBUAH perusahaan global yang memegang merek-merek ternama saat ini sedang melakukan penelitian untuk luxury products di Indonesia. Kebetulan saya menjadi salah satu responden yang mereka wawancarai. Mereka ingin tahu, benarkah pembaca di Indonesia mulai bergeser dari medium cetak ke online atau digital – yang tentu berkaitan erat dengan strategi mereka dalam mengiklankan produknya kelak. 

Yup, di negara-negara maju, beriklan secara online telah menjadi tren saat ini. Kecenderungan itu hanya menunggu waktu untuk sampai ke negara-negara berkembang, sebutlah Indonesia. Apalagi berbagai fakta menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat, dua per tiga penduduk Indonesia sudah online. Tren iklan online atau digital pun otomatis ikut terkerek naik.

Yang tidak bisa disangkal, arus digital saat ini semakin deras. Artinya, ada pergeseran pola baca dari cetak ke digital, yang ujung-ujungnya juga mengubah peta perduitannya. Sangat mungkin para pemasang iklan mulai mulai memindahkan bujetnya dari cetak ke online.

Jika dikaitkan dengan survei di atas, saya berpendapat bahwa beralihnya media cetak ke online atau digital adalah sebuah keniscayaan. Sebab, untuk mencari informasi seputar brand atau luxury products pun sekarang sudah banyak dilakukan secara online. Selain searching via internet, mengonsumsi media dalam format digital menjadi pilihan yang menyenangkan saat ini.

Artikel “Non-News is Good News” di The Economist mengulas bagaimana industri media sedang mengalami transformasi. Para penerbit sekarang seperti sedang menghadapi badai yang siap meratakan bisnis mereka. Bukan hanya kecenderungan portal news yang berubah menjadi majalah – paling tidak portal besar harus mulai menyediakan artikel-artikel non news –,  tapi di era digital memungkinkan muncul pemain-pemain baru dalam jumlah yang lebih banyak, tidak hanya penerbit besar saja.

Kembali ke tren digital, setelah surat kabar tergusur oleh online, majalah cetak pun siap-siap berakhir di tablet. Di tablet, seperti yang bisa Anda lihat di MALE, majalah dalam format digital bisa lebih interaktif. Artikel dan luxury products  tidak hanya tampil dalam bentuk tulisan dan foto (seperti dalam format  konvensional), tapi juga memungkinkan adanya penambahan video dan interactive tools lainnya dalam berbagai kreativitas.  (Burhan Abe)

Sumber: MALE 24 http://male.detik.com

Friday, April 05, 2013

Hilton Brings Its Warm Hospitality and High Quality Design to Bandung


A Contemporary Design-Led Oasis of Comfort, Hilton Bandung offers Personalised Service to Guests in the Spectacular Capital City of West Java

Hilton Bandung has officially opened its door on March 21st, 2009. Combining a strong contemporary design and Hilton’s legacy of service excellence, the Hilton Bandung aims to set a new standard for upscale accommodation and personalised guest experiences in Bandung, the capital city of West Java in Indonesia.

Located in the vibrant and creative capital of West Java province, 180 km southeast of Jakarta, Bandung is situated 700 metres above sea level and surrounded by mountains and lakes. International tourists can fly directly to Bandung’s Hussein Sastranegara Airport or via Soekarno-Hatta International Airport, Jakarta.

The city’s illustrious past is still seen in the stunning tropical Art Deco architecture and Dutch colonial buildings, while students from all over Indonesia study at the city’s universities and colleges which are renowned for their arts and humanities based courses. The creative vibe of Bandung is reflected in bistros and home-grown fashion labels.

Scott Wilson, General Manager Hilton Bandung, commented, “We are thrilled about this stunning hotel in Indonesia, and are confident that this property will set a new standard for accommodation in Bandung, in response to the growing trend among Indonesian city dwellers to escape to this highland oasis for relaxation, time out and fantastic shopping.


Hilton Bandung’s best-in-class meeting and ballroom facilities will attract business people and leisure seekers alike”. Hilton Bandung has been built to reflect an urban resort, balancing the entertainment and practical needs of both leisure and business travellers. The hotel’s chic design features floor to ceiling glass lobby windows overlooking lush green landscaping surrounding the hotel.

The Hilton Bandung offers the largest rooms in the city with 45 square metres of absolute comfort. State of the art meeting facilities include 7 dedicated meeting rooms and a Grand Ballroom of 1000 square metres, a perfect venue for wedding banquets as well as conferences and exhibitions.

Guests can enjoy the hotel’s day spa, gym and pool facilities and choose from four innovative restaurants, all dedicated to offering a high quality food and beverage experience with an emphasis on value for money that aims to attract local diners as well as hotel guests.

The opening of Hilton’s newest hotel in Asia Pacific marks the entry of Hilton’s flagship brand into Indonesia and the second Hilton Family branded property in the archipelago, following the success of the Conrad Bali located in Tanjung Benoa on the island of Bali.


About Hilton Bandung
Hilton Bandung is the leading internationally branded deluxe hotel in Bandung, designed to cater to the needs of modern and savvy travelers who value comfort, security, prestige. The upscale property is located five minutes from Bandung rail station; 15 minutes from Bandung Airport (BDO) and a two-hour’s drive away from Jakarta (CGK). Boasting superlative features such as the city’s largest guestrooms, grandest ballroom, biggest underground parking, most spectacular rooftop lifestyle area, and of course, the warmth and hospitality of the world’s most famous hotel brand, Hilton Bandung is the ultimate place be it for business, events or leisure.